2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kunci Rahasia Waktu | Cerpen Anggun Vedania

Anggun Vedania by Anggun Vedania
November 9, 2025
in Cerpen
Kunci Rahasia Waktu | Cerpen Anggun Vedania

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DI dalam ruang kelas yang sepi, Nara duduk sendiri sambil menatap jam dinding yang terus berputar. Nara adalah gadis yang cerdas dan pendiam, ia selalu memiliki beribu pertanyaan di benaknya yang mungkin tidak akan pernah bisa ia sampaikan. Ia tak suka berbaur, terlebih lagi dia selalu merasa sendiri setelah kehilangan orang tuanya dan hanya ditemani oleh Nenek yang selalu menyayanginya.

Di saat teman-temannya bermain di waktu istirahat, ia memilih menemani bayangannya yang masuk lewat celah jendela bersama teriknya sinar matahari. Ketika jam pembelajaran dimulai pun, mata dan pikirannya hanya terfokus pada tulisan-tulisan di bukunya itu. Teman-temannya enggan untuk memulai pembicaraan dengannya, karena mereka tahu Nara hanya akan menjawab secukupnya.

Setelah bel pulang berbunyi, Nara bergegas pergi dan menyempatkan waktu untuk singgah ke perpustakaan di alun-alun kota. Ia teringat akan pesan Nenek yang memintanya untuk meminjamkan buku di perpustakaan kota tersebut.

Nenek Nara yang biasa dipanggil Nek Sari, adalah orang yang sangat menyayangi Nara. Ia selalu ada untuk Nara, terlebih setelah Nara ditinggal oleh orang tuanya. Nek Sari selalu melantunkan dongeng-dongeng legenda kepada Nara. Dongeng yang paling sering diceritakan adalah dongeng Jayaprana dan Layonsari. Hal itu membuat Nara menjadi tahu semua hal mengenai cerita tersebut, bahkan terkadang Nara merasa bosan dengan cerita itu.

Namun, kini Nek Sari jatuh sakit dan sudah tak bisa beraktivitas seperti biasanya. Nara yang kini hanya mempunyai Nek Sari sebagai keluarganya, berusaha untuk selalu memenuhi kehendak neneknya itu. Walaupun terkadang ia merasa tanggung jawabnya berat, Nara tetap berusaha setegar mungkin.

Di perjalanan Nara berusaha mengingat judul buku yang diminta oleh Nenek, tetapi tak sedikit pun terbesit di pikirannya. Langkah demi langkah ia lalui. Pikirannya yang tadi fokus mengingat judul buku itu, kini terpecah setelah mendengar suara dalang dan keramaian. Nara menghampiri titik keramaian itu. Hingga ia melihat pameran wayang yang ada di depan perpustakaan.

“Oh iya, aku baru ingat nenek kan meminta buku cerita wayang di Nusantara,” ujar Nara ketika teringat.

Ia menghela napas lega dan langsung masuk ke dalam perpustakaan. Baru saja masuk, Nara sudah merasa udara dalam perpustakaan yang pengap karena dipenuhi buku–buku berdebu. Tumpukan buku-buku itu tersusun di dalam rak yang menjulang tinggi dan memenuhi setiap sudut ruangan seperti labirin.

Dengan kondisi seperti itu, Nara merasa sangat kesusahan menemukan buku yang dipinta sang nenek. Setelah menghabiskan waktu setengah jam di dalam sana, Nara akhirnya menemukan buku itu. Bukunya tertutup debu yang sangat tebal, tetapi hanya dengan sedikit goresan kemoceng, tampak asli buku kembali terlihat. Buku itu terlihat sangat tua dengan kertas yang sudah hilang di beberapa bagian karena digerogoti rayap. Walaupun begitu, Nara senang karena dapat menemukan buku itu.

Namun di saat ia akan beranjak dari tempat itu ia melihat ada sepercik cahaya yang muncul di balik tumpukan buku-buku tersebut. Cahaya itu seakan-akan meminta Nara untuk mendekat dan memunculkan rasa penasaran Nara. Nara yang tak kuat dengan pengaruh cahaya itu pun mengambil salah satu buku yang sangat bercahaya dengan judul Jayaprana dan Layonsari, lalu ia mencari tempat yang nyaman untuk membaca isi buku tersebut.

“Wah buku ini sangatlah bercahaya, padahal tampak kulitnya seperti buku antik, aku harus membacanya.”

Waktu terus berjalan, Nara yang kelelahan membaca buku itu pun tertidur. Di saat Nara sadar dari tidurnya, ia terbangun di tempat yang asing dan mengenakan kain kemben yang melilit tubuhnya layaknya gadis Bali pada zaman dulu. Nara yang merasa hal tersebut aneh mencoba mengingat apa yang terjadi, hingga ada suara yang memanggilnya.

 “Hai Nara, selamat datang di kisah Jayaprana dan Layonsari. Di sini kamu akan mendapatkan misi, jadi bersiaplah!”

 “Siapa kamu? Lalu apa maksudmu dengan misi itu? Kenapa harus  aku?” tanya Nara.

Suara itu pun kembali terdengar.

 “Kamu bisa memanggilku Ibu Peri. Akulah yang akan menemanimu selama menjalankan misi di sini. Jika kamu bisa menjalankan misi ini dengan baik, maka kamu akan menerima hadiah yang besar. Hanya kamulah orang yang terpilih oleh pemegang kunci waktu di semesta ini.”

Meski pun Nara belum sepenuhnya paham, ia berusaha untuk menerima situasinya saat ini. Mau bagaimana pun ia sudah terjebak ke dalam alur waktu sang semesta.

Nara bertanya dengan rasa penasaran yang besar.

 “Apa misiku di sini, Ibu Peri?”

 Ibu Peri merasa senang dengan ketertarikan Nara, ia pun menjawab pertanyaan tersebut.

“Misimu di sini adalah menjadi Layonsari, kamu harus bisa menghentikan hal kelam yang terjadi pada Jayaprana, Layonsari, dan menyelamatkan kerajaan.”

Rasa penasaran Nara belum sepenuhnya terjawab, tetapi suara ibu peri sudah menghilang. Nara yang saat itu sudah menyadari kondisinya, langsung berusaha beradaptasi. Dengan ingatan yang samar-samar, Nara merasa tidak asing dengan kamar yang menjadi tempatnya berada sekarang, terlebih setelah ia mencium aroma dupa yang sangat khas di ingatannya.

Tanpa ia sadari ingatan Layonsari muncul di benaknya. Nara merapikan kemben yang ia pakai, lalu menambah perhiasan seperti yang Layonsari biasa lakukan. Hingga ia menyadari bahwa ia tak merasa asing dengan apa yang ia lakukan pada raga Layonsari, padahal hal tersebut tidak pernah ia lakukan sebelumnya.  Nara sadar jiwanya dan Layonsari sudah menyatu.

Pintu kamar Layonsari berbunyi.

“Tok.. tok.. tok…” Suara itu diiringi suara laki-laki tua yang parau.

“Nak, Ajik masuk ya…”

Nara segera membalas suara itu, karena di pikirannya itu adalah ayah Layonsari.

“Nggih, Jik, silahkan. ”

Dari luar kamar Layonsari, datanglah Jero Bendesa, ayah Layonsari dari Banjar Sekar. Ayahnya menyampaikan kabar bahwa beliau mendapat titah dari Sang Raja untuk menikahkan Layonsari dengan putra angkat sang raja, Jayaprana. Nara sebagai Layonsari menerima titah tersebut bukan karena ia lupa dengan misinya untuk menyelamatkan Jayaprana, tetapi ia sudah memikirkan cara yang tepat untuk menghadapi misi ini. Namun, Layonsari akan memberikan syarat setelah menikah dengan Jayaprana. Jayaprana dan Sang Raja pun menyetujui hal tersebut.

Hari berganti dalam bisikan waktu, hingga tiba akhirnya di hari pernikahan Jayaprana dan Layonsari. Nara tahu bahwa Sang Raja menyukai paras Layonsari yang bak rembulan. Kulitnya yang sangatlah lembut, matanya yang selalu berbinar dan rambutnya yang hitam berkilau bisa membuat siapa saja yang melihatnya terpukau. Dari situlah Nara memulai rencananya untuk tampil dengan sangat sederhana agar tidak memikat perhatian Sang Raja sejak awal. Ia membuat kulitnya terlihat kering, rambutnya terlihat kusut dan ia menggunakan kain untuk menutupi bagian bawah wajahnya.

Nara sudah mengerti dirinya kini sudah bukan lagi seorang Nara tetapi Layonsari yang akan merasakan lautan duka apabila ia tak berusaha merubah jalan takdir. Dengan cahaya tekadnya, Nara berseru.

“Sudah saatnya aku sebagai Layonsari menjalankan misi ini.”

Setelah menjalin ikatan suci, Layonsari menetap bersama Jayaprana di kerajaan. Mereka menyulam hari di Bale Puri Dangin yang terletak jauh dari singgasana dan Bale Sang Raja. Namun di balik senyum lembutnya, Layonsari menyimpan syarat yang akan ia berikan kepada Jayaprana. Syarat itu masih ia pendam, karena dengan pengabdian Jayaprana yang begitu besar kepada kerajaan, ia tentu tahu Jayaprana tidak akan semudah itu menerima syarat yang diberikannya.

Dari sanalah bermula taktik Layonsari. Dengan bantuan dayang kepercayaannya, ia membiarkan kabar tentang keelokan parasnya mengalir bagaikan desir angin ke seluruh kerajaan, hingga ke telinga Sang Raja. Raja yang mendengar hal itu ingin mengabaikannya saja, tetapi kabar tersebut semakin marak di kerajaan. Sang Raja yang hanya mengingat sedikit rupa pujaan hati putranya itu pun menggetarkan rasa ingin tahunya. Hasratnya menuntun langkah dan seribu siasat untuk bisa menemui Layonsari tanpa kecurigaan. Begitu pertemuan terjadi, nyata sudah Sang Raja terhanyut dalam pesona Layonsari.

Sejak hari itu, Sang Raja kian kerap menyapa Layonsari, melantunkan pujiannya akan paras Layonsari, yang bahkan di hadapan Jayaprana yang hanya mampu menyimpan resah di dada. Sang Raja sering memuji Layonsari dengan kata manisnya.

“Layonsari, bagaimana bisa aku tidak tahu menantuku ini sangatlah berparas cantik, wajahmu itu bisa saja membuat ku ingin datang ke sini setiap hari untuk memandangimu hahaha…”

Dengan tawa Sang Raja, Jayaprana hanya bisa menganggap sebagai hiburan semata. Di sinilah misi Layonsari sudah berjalan perlahan dengan sempurna, ia sudah memikirkan hal apa yang seharusnya ia lakukan selanjutnya. Namun, Layonsari masih merasa ada hal yang harus ia tahu dari Ibu Peri. Ia pun memanggil Ibu Peri di kala sepinya.

“Ibu Peri, bisakah kau datang?”

 Tak lama kemudian suara Ibu Peri muncul di telinga Layonsari.

“Hai Nara, bagaimana rasanya menjadi Layonsari?”

 Nara dengan raga Layonsari itu menghembuskan napas yang berat dan berkata.

 “Rasanya sangat berat berada di balik topeng ini, jadi aku memanggilmu sekarang ingin menanyakan sesuatu, Ibu Peri…”

 “Katakanlah, Nak!” balas Ibu Peri.

Nara menyampaikan sesuatu yang membuat dadanya sesak dan meneteskan air mata.

“Apakah aku bisa kembali ke dunia asalku? Aku sangat rindu dengan Nenek. Aku takut sesuatu terjadi padanya, Ibu Peri.”

“Tenanglah, Nak, nenekmu baik-baik saja. Asal kamu tahu, alasan kamu berdiri di sini sekarang adalah nenekmu. Dialah yang meminta sang semesta untuk memberikan kesempatan kepadamu,” ucap Ibu Peri sembari tersenyum.

Nara tercengang dan merasa sangat terkejut akan hal tersebut. Ibu Peri yang melihat ekspresi Nara, langsung menambahkan ucapannya tadi.

“Mungkin ini saatnya aku menceritakan kepadamu. Nenekmu adalah pencipta permainan ini, ia membuat permainan ini untuk menyelamatkan leluhurnya di masa lalu, yaitu Layonsari. Dengan bantuan sang semesta, Nek Sari memasuki permainan ini dan berusaha mengubah jalan takdir. Namun naas, ia gagal dan terpaksa merelakan orang tuamu untuk terjebak di dalam cerita ini.”

“Lalu di mana mereka sekarang, Ibu Peri? Tolong pertemukan aku dengan mereka,” ujar Nara dengan tergesa-gesa.

“Kamu tidak bisa bertemu mereka tanpa menyelesaikan misi ini, Nara,” balas ibu peri.

Nara yang merasa energinya terkuras, hanya meminta pelita harapan untuk misinya ini. Ia merasa ibu peri tidak akan memberi tahunya tentang orang tuanya lagi, dan hal itu bisa mengurangi waktu Nara dalam menjalankan misi. Mereka pun merajut pembicaraan hingga sang baskara tenggelam diantara hamparan laut.

Di kala rembulan mengisi gelapnya malam, Layonsari memberikan perjanjian sunyinya kepada Jayaprana. Layonsari berusaha setenang mungkin karena ia tidak tahu reaksi Jayaprana nantinya, mau bagaimana pun yang berhadapan dengan Jayaprana sekarang adalah gadis kecil dari belahan waktu yang lain.

 “Sebelumnya mohon maaf atas kelancanganku Bli, aku di sini hanya ingin menyampaikan syarat dari perjanjian kita sebelumnya,” ucap Layonsari.

 Jayaprana mengangguk dan membalas ucapan Layonsari.

 “Apa syarat itu Layonsari?”

 Layonsari menyampaikan syaratnya dengan penuh kehati-hatian. Ia menjadikan sikap Sang Raja sebagai pijakan, yang diam-diam ia gunakan untuk menuntut syaratnya. Syarat itu adalah ia hanya ingin berpindah kediaman karena ia merasa risih. Jayaprana yang mendengar syarat itu, tentu saja awalnya tidak setuju, tetapi pada akhirnya ia juga yakin hubungan rumah tangganya akan menghantarkan badai apabila terus menetap di kediaman.

Dengan pemikiran serta persiapan yang matang, akhirnya Jayaprana memutuskan untuk menyampaikan hal tersebut dengan dalih ingin hidup mandiri bersama kekasih hatinya kepada Sang Raja. Ketika suara permintaan Jayaprana itu terdengar oleh Sang Raja, ia murka karena ia sudah mencintai Layonsari dan tak mau mereka meninggalkan istana. Sang Raja mencari cara agar tidak menimbulkan kecurigaan di mata orang-orang di istana. Ia memberikan syarat yang mustahil kepada Jayaprana yaitu menjalankan misi untuk mencari mata-mata musuh ke dalam hutan bersama mahapatihnya agar ia tak bisa keluar dari istana maupun kembali hidup-hidup. Jayaprana menerima titah tersebut dan langsung menyampaikannya kepada Layonsari.

Tanpa diketahui, Sang Raja menemui Patih Saunggaling. Ia memerintahkan Sang Patih untuk mengakhiri hidup Jayaprana ketika sampai di tengah hutan. Sang Patih sempat ingin menolak perintah tersebut karena ia sangat menyayangi Jayaprana. Tetapi Sang Raja marah dan hanya ingin mendengar kabar kematian Jayaprana.

 Gundah di hati Layonsari muncul, ia tak mau kehilangan suaminya itu. Layonsari menyatukan pikirannya dengan Jayaprana dan berkehendak untuk menjalankan misi itu bersama, lalu meninggalkan istana. Mereka pun menata segala persiapan dengan penuh cermat, seolah setiap langkah telah ditimbang oleh hati dan pikiran.

Hingga di hari keberangkatan Jayaprana, Layonsari pun sudah siap untuk menjalankan misinya. Ketika Jayaprana sampai di tengah hutan, Patih Saunggaling meneteskan air mata dan langsung menyerahkan pisau kepada Jayaprana dengan berlutut, lalu berkata:

“Mohon maaf, Tuan Jayaprana, saya tidak mampu menjalankan misi dari Sang Raja. Saya sudah menganggapmu sebagai putra sendiri, jadi tolong bunuh saya karena sudah berpikir akan membunuhmu di sini”.

Jayaprana sudah menduga hal itu akan terjadi. Ia meminta Sang Patih untuk membantunya keluar dari istana. Sang Patih diperintahkan untuk bersandiwara bahwa ia sudah membunuh Jayaprana saat kembali ke istana. Layonsari yang sudah mengikuti jejak mereka pun mendekat secara perlahan dan kembali ke sisi Jayaprana. Sang Patih yang melihat hal tersebut pun paham dengan maksud Jayaprana, lalu segera kembali untuk menyampaikan kabar pada sang raja.

Sesampainya di istana, Sang Patih langsung menyampaikan kabar yang membuat hati Sang Raja cukup puas. Setelah berita tersebut tersebar di kerajaan, Sang Raja berkehendak membuai hati Layonsari agar tidak tertalu berbalut kesedihan. Namun sesampainya di Bale Puri Dangin, Raja tidak menemukan Layonsari di sana. Ia langsung memerintahkan para kesatria untuk mencari Layonsari, tetapi kabar tentang Layonsari tak kunjung datang.

Hingga lima purnama terlewati, Sang Raja merasa sangat terpukul, ia menjadi sering berjudi, setiap hari ia selalu meminum minuman keras. Ia yang sudah linglung itu pun didera depresi. Semakin hari depresinya semakin keras hingga beliau menjadi gila. Ia sering melakukan perilaku yang tidak senonoh, kondisinya pun sudah tubuhnya pun tidak terurus. Tubuhnya yang sudah lemah itu pun jatuh sakit. Langkahnya tertatih-tatih, matanya sudah tak bisa menangkap cahaya dengan baik, bahkan ucapannya saja tidak selaras dengan pikirannya. Pada akhirnya maut memeluknya.

 Kini, kerajaan pun sudah di ambang kehancuran. Keharmonisan rakyat perlahan merapuh diiringi hilangnya pemimpin yang bijaksana. Ekonomi kerajaan pun semakin parah akibat sering di jarah oleh para  bandit. Grubug itu seakan-akan tak akan hilang apabila tidak ada pemimpin baru. Rakyat dengan dada yang resah, mendambakan pemimpin baru yang penuh akan tanggung jawab dan kebijaksanaan.

Sang Patih berusaha mencari Jayaprana dan Layonsari ke seluruh penjuru kerajaan. Pada akhirnya mereka bertemu di ketidaksengajaan. Dengan gemuruh mendung yang menandakan akan turunnya hujan, sang patih melihat sepasang sejoli yang tidak asing di tengah keramaian pasar. Ia menghampiri pasangan itu, dan memang benar mereka adalah Jayaprana dan Layonsari.

Sang Patih, dengan hati penuh harap, memohon Jayaprana dan Layonsari meneruskan tahkta, agar kerajaan yang runtuh dilanda duka, pulih kembali. Jayaprana dan Layonsari tidak menghendaki permintaan itu secara langsung. Mereka membutuhkan waktu untuk memikirkan hal tersebut dengan jernih. Sang Patih pun bersedia menanti jawaban mereka.

Pada ujung penantian Sang Patih, Jayaprana dan Layonsari setuju menduduki singgasana untuk mengemban dharma demi sejahtera kehidupan rakyat. Dengan ketulusan dan keikhlasan hati yang suci, mereka mengemban tugas mereka dengan baik, hingga wajah kebahagiaan di kerajaan kembali hadir.

Hidup rakyat-rakyat menjadi sejahtera. Perekonomian pun kembali pulih dan membaik. Dengan pimpinan Jayaprana dan Layonsari kerajaan terbebas dari grubug.

Dengan lamanya waktu yang telah dilalui, Nara merasa misinya kini telah berhasil. Ia merasa sangat senang karena bisa menyelamatkan Jayaprana dan membawa kehidupan rakyat menjadi lebih baik. Ia merasa sudah saatnya untuk bertemu dengan orang tuanya. Nara yang merasa misinya sudah berhasil pun memanggil ibu peri.

“Ibu Peri, bisakah kau datang ke sini?”

Tak lama setelahnya, suara Ibu Peri muncul.

“Hai Nara, selamat aku ucapkan kepadamu. Kau telah berhasil menjalankan misi ini dengan baik. Sekarang kau bisa kembali ke tempat asalmu.”

Belum sempat Nara menjawab, tiba-tiba cahaya yang sangat terang menyorot Nara dan membuatnya terlupa sejenak dengan keadaannya dan tidak sadarkan diri.

Cahaya senja yang masuk lewat celah pintu membuat mata Nara silau. Nara pun terbangun kembali di tempat yang sama saat ia tertidur. Yang ia sadari, itu semua hanyalah bunga tidurnya, ia pun bergegas kembali ke rumah karena senja sudah mulai menampakkan dirinya.

Di perjalanan, perasaan Nara terasa bimbang. Di satu sisi ia merasa senang karena akan bertemu neneknya setelah bunga tidur yang terasa nyata dan sangat lama itu, tetapi di sisi lain ia merasa sedih karena ada sesuatu yang sempat hilang dan datang kembali. Sesuatu itu adalah kesepian yang pernah diisi oleh Jayaprana dan keluarga Layonsari dalam mimpinya itu. Nara berharap jika itu memang hanya sebatas bunga tidurnya, ia ingin kembali masuk untuk merasakan kasih sayang keluarga.

 Sesampainya ia di rumah, Nara langsung menghampiri dari belakang dan memeluk erat Sang Nenek yang sudah sangat ia rindukan. Nenek yang sedang mengolah adonan kue untuk camilan pun tertawa tipis dan mengucapkan kalimat yang tersirat perhatian untuk Nara.

“Hahaha, sepertinya kamu sangat merindukan Nenek setelah perjalanan yang panjang, Nak. Cepatlah mandi dan beristirahatlah!”

Nara yang sudah selesai mengobati rindunya pun menuruti perkataan sang nenek dan pergi beranjak ke kamarnya. Ketika rembulan mulai memancarkan sinarnya, Nara bergegas mengambil alat tulisnya dan mempelajari buku yang akan menemaninya saat bersekolah di esok hari. Hingga sunyi melarutkan malam, Nara pun ikut terlarut dalam hangat bunga tidur yang menghantarkannya untuk terbangun bersama sang mentari.

Bel istirahat pun berbunyi. Nara kembali menemani kesendiriannya di dalam ruang kelas yang sepi itu. Namun, pikiran Nara masih dipenuhi oleh ribuan pertanyaan tentang mimpinya kemarin yang terasa sangat nyata. Pikirannya terasa penuh akan keramaian tetapi tak satu pun dapat ia sampaikan kepada orang-orang. Hingga ia terfokus pada bunyi detak jarum jam dinding yang beriringan dengan suara langkah kaki yang sangat serasi. Nara pun menatap pintu ruang kelasnya yang selalu terbuka itu sembari menanti siapa gerangan yang akan muncul di sana.

Beberapa saat kemudian, penantian Nara pun terjawab. Dengan rasa tak percaya, Nara berusaha menyadarkan diri. Hingga ibu guru yang berdiri bersama dua orang asing di sampingnya berkata.

“Nara kemarilah, orang tuamu menanti dari tadi.”

Ucapan itu memberikan kepastian kepada Nara. Derai air matanya tak kuasa ia bendung, suaranya yang bergetar itu pun ia lantunkan sembari berlari ke arah orang-orang itu.

“Ayah, Ibu…”

Dengan rasa sesak di dada, Nara memeluk kedua orang tuanya dengan sangat erat, seolah-olah ia tak kan membiarkan orang tuanya pergi darinya lagi. Air matanya terus mengalir dalam dekapan hangat ayah dan ibunya itu. Bahkan matanya tak sanggup menatap kedua orang tuanya. Tanpa rasa ragu, Nara yakin bahwa yang ia rasakan sekarang adalah hadiah yang diberikan oleh sang semesta kepadanya.

Ketika Nara membuka mata, ia sudah berada di ruang hampa. Di hadapannya sudah ada sosok yang ia sebut sang semesta. Dengan langkah yang pelan, Nara mendekat dan mengembalikan kunci waktu yang dipinjamnya kepada sang semesta. Nara merasa dirinya sudah cukup tenang setelah mengulang kehidupan demi bertemu orang tua yang tak ia temui hingga akhir nyawanya di kehidupan sebelumnya.

Sepercik cahaya muncul dan menutup penglihatan Nara sampai ia benar-benar hilang. Ia tak meninggalkan sedikit apa pun tentang dirinya. Raganya, jiwanya, bahkan suaranya, sudah tak ada lagi di sana.

Bel istirahat sekolah pun berbunyi. Kini ruang kelas itu benar-benar kosong tanpa bayangan seorang pun. Nara benar-benar hilang. [T]

Penulis: Anggun Vedania
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Heski Dewabrata | Yang Ditulis dari Ruang Hampa

Next Post

Pesan, Surat, Paket dan Perantara

Anggun Vedania

Anggun Vedania

Nama panjangnya Made Anggun Vedania Karna Anjasmara. Siswa kelas 9 SMPN 5 Singaraja

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Pesan, Surat, Paket dan Perantara

Pesan, Surat, Paket dan Perantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co