6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tugas Terakhir | Cerpen Yuditeha

Yuditeha by Yuditeha
November 8, 2025
in Cerpen
Tugas Terakhir | Cerpen Yuditeha

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

KERAJAAN Rantawulung dikenal sebagai negeri yang makmur, namun di dalam istana, benih pengkhianatan tumbuh di hati Raja Bhre Manendra. Ia tidak pernah melupakan penghinaan yang dirasakannya beberapa tahun silam. Kala itu, ia menginginkan Liris, anak perempuan Patih Garjita, menjadi selirnya. Namun, jawaban patih setia itu membuatnya murka.

“Ampun, Gusti. Hamba harus bertanya kepada Liris terlebih dahulu. Kehormatan keluarga kami juga kehendaknya,” ucap Garjita dengan wajah tunduk.

Raja merasa diremehkan karena Garjita berani menunda kehendak raja. Meski akhirnya Liris tetap menjadi selir setelah dibujuk Garjita, Raja Manendra tak pernah melupakan penghinaan itu. Ia merancang balas dendam yang tak hanya ingin menghukum Garjita, tetapi juga menghancurkan keluarganya.

Hari itu, di balairung istana, Raja Bhre Manendra memanggil Patih Garjita untuk tugas besar. “Garjita, aku memilihmu untuk tugas paling mulia yang pernah diberikan kepada seorang patih,” ujar Raja, suaranya penuh kepalsuan. “Di perbatasan utara, ada pemberontakan dari para pengikut sekte Bathara Murti. Aku ingin kau memimpin pasukan untuk menumpas mereka. Namun, ada satu syarat.”

Patih Garjita menunduk. “Hamba siap menjalankan titah, Gusti.”

“Ini bukan hanya tentang pedang dan strategi. Para pemberontak menyembunyikan pemimpin mereka di sebuah kuil keramat di Bukit Tandra. Kau harus membawa api suci dari kuil itu ke istana untuk membuktikan bahwa Bathara Murti tidak lebih kuat dari kehendak para dewa yang kita anut,” ujar Raja sambil menyeringai.

Tugas itu terdengar mustahil. Bukit Tandra dikenal angker, penuh jebakan alam, dijaga dengan sihir hitam, konon tak ada yang kembali hidup setelah memasuki wilayah itu. Tapi Patih Garjita, dengan setia buta, menerima tugas itu tanpa keluh.

Di malam terakhir sebelum keberangkatan, Liris memohon kepada ayahnya untuk tidak pergi.  “Ayah, bukankah tugas ini terlalu berbahaya? Apakah Ayah tidak merasa ada yang aneh dengan titah raja?” tanya Liris, matanya berkaca-kaca

Garjita menggenggam tangan putrinya. “Liris, kita hidup di bawah bayangan raja. Kesetiaanku adalah kehormatanku. Jangan khawatir, doa dan restumu adalah pelindung terbaikku.” Garjita pantang mengingkari kesepakatan dengan raja, hingga ia berangkat bersama pasukannya.

Liris hanya bisa menahan tangis.

Di perjalanan menuju Bukit Tandra, Garjita mulai melihat keanehan. Ketika malam tiba, mereka dihantui oleh suara angin yang membawa bisikan-bisikan aneh. Salah satu prajurit melaporkan bahwa jejak kaki mereka selalu kembali ke tempat yang sama, seperti berjalan dalam lingkaran. Para prajurit yang ikut bersamanya ketakutan.

Namun, Garjita tetap teguh. Ia memimpin mereka hingga tiba di kuil keramat Bathara Murti. Bangunan itu tampak seperti gumpalan batu hitam yang mencakar langit, dihiasi patung-patung dewa dengan mata kosong dan senyum menyeramkan.

Ketika mereka memasuki kuil, jebakan pertama langsung membunuh beberapa prajurit. Panah-panah meluncur dari dinding, dan lantai runtuh menjadi lubang berisi tombak-tombak tajam. Tapi Garjita terus maju. Baginya, kehormatan lebih penting dari hidupnya.

Di tengah kuil, ia menemukan api suci yang dimaksudkan oleh Raja Manendra. Api itu menyala biru, tidak mengeluarkan panas, namun terasa seperti membakar jiwa. Ketika Garjita mencoba mengambilnya, suara gaib menggema.

“Patih Garjita, apakah kau tahu apa yang kau bawa? Api ini bukan untuk manusia sepertimu,” ujar suara itu.

Garjita, meski gemetar, menjawab, “Aku membawanya untuk menghancurkan pemberontakan dan membuktikan kehendak para dewa.”

Suara itu tertawa. “Ataukah ini hanya kehendak seorang raja yang ingin memusnahkanmu?”

Garjita terdiam. Kata-kata itu menusuk hatinya. Namun, ia tetap mengambil api suci itu dan melangkah keluar dari kuil. Berhasil membawa api suci, bukan lantas perjalanan setelahnya berjalan mulus. Bahkan perjalanan menuju ke Rantawulung menjadi lebih berat. Satu per satu prajurit tewas oleh jebakan dan serangan makhluk-makhluk gaib yang muncul di malam hari. Garjita mampu kembali ke istana, ia sendirian, tubuhnya penuh luka, matanya merah karena kurang tidur. Di balairung, Raja Manendra menyambutnya dengan senyuman dingin. “Patih yang setia, kau benar-benar luar biasa. Kau membawa api suci dari kuil Bathara Murti,” ujar Raja.

Namun, senyum itu segera berubah menjadi sesuatu yang jahat. “Tapi, aku harus memberitahumu sesuatu, Garjita. Api itu sebenarnya tidak ada artinya. Aku hanya ingin menguji sejauh mana kesetiaanmu setelah penghinaan yang kau lakukan kepadaku bertahun-tahun lalu.”

Patih Garjita tertegun. “Ampun, Gusti. Hamba tidak mengerti.”

Raja berdiri dari tahtanya, menatap Garjita dengan penuh kebencian. “Kau menolak kehendakku dulu, Garjita. Kau membuatku tampak lemah di hadapan dewan istana. Jadi, aku ingin memastikan kau mati dengan cara yang lebih menyakitkan. Api yang kau bawa itu membawa kutukan. Siapa pun yang menyentuhnya akan kehilangan jiwa dan akalnya.”

Garjita gemetar. Tangannya yang memegang wadah api biru mulai terbakar. Namun, yang terbakar bukanlah tubuhnya, melainkan kenangan-kenangannya. Ia melihat wajah istrinya, Liris, dan masa mudanya lenyap seperti asap.

Raja Manendra tersenyum puas, yakin bahwa Garjita akan hancur di hadapannya. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Api biru itu meledak, menyelimuti tubuh Garjita, tetapi tidak membunuhnya. Sebaliknya, api itu tampak menyatu dengan jiwa sang patih.

Ketika Garjita membuka mata, bola matanya bersinar biru. Ia kini terlihat seperti makhluk lain, lebih kuat, dan mengerikan.

Raja Manendra mundur ketakutan. “Apa yang terjadi padamu?”

Garjita menatapnya dengan senyum tipis. “Terima kasih, Gusti, karena telah mengirimku ke kuil itu. Aku kini memahami arti sebenarnya dari kesetiaan.”

Dengan satu gerakan cepat, Garjita mengangkat tangan, dan api biru itu menyelimuti tubuh Raja Manendra. Sang raja menjerit, tubuhnya terbakar hingga tak tersisa, sementara Garjita berdiri dengan tenang.

Ketika pagi tiba, Garjita memanggil dewan istana. Dengan nada tegas, ia berkata, “Raja Bhre Manendra telah dihukum oleh para dewa karena kesombongannya. Semoga setelah ini, tahta kerajaan akan dipegang oleh seorang pemimpin yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.”

Para bangsawan terdiam. Aura baru Garjita, yang kini tampak seperti utusan para dewa, membuat mereka tunduk tanpa perlawanan. Sementara Liris, di tempat yang jauh dari balairung, merasa angin pagi membawa pesan dari ayahnya. [T]

Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Agusta Mario B. Nanga | Malioboro dan Sederet Kursiyang Tak Jelas Siapa Penghuni

Next Post

Putu Bela Inggrid Cahyanti, Juara 1 Lomba Menulis ‘Feature’ : Awalnya Tak Suka Baca, Kini Ketagihan Menulis

Yuditeha

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Putu Bela Inggrid Cahyanti, Juara 1 Lomba Menulis ‘Feature’ : Awalnya Tak Suka Baca, Kini Ketagihan Menulis

Putu Bela Inggrid Cahyanti, Juara 1 Lomba Menulis 'Feature' : Awalnya Tak Suka Baca, Kini Ketagihan Menulis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co