3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah-Kisah dari yang Datang dan Menetap: Bali dari Kacamata Pendatang

Jaswanto by Jaswanto
November 16, 2025
in Khas
Kisah-Kisah dari yang Datang dan Menetap: Bali dari Kacamata Pendatang

Suasana sesi “Bali yang Dilihat: Kisah-Kisah dari yang Datang dan Menetap” di B-PART 2025 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

DI Masa Masa R. Amir, Ketewel, Gianyar, di bawah rindang pohon, orang-orang duduk melingkar. Mereka tidak sedang berbincang omong kosong, melainkan fokus mengikuti sesi “Silang Bincang” dengan tajuk “Bali yang Dilihat: Kisah-Kisah dari yang Datang dan Menetap”, salah satu mata acara Bali Performing Arts Meeting (B-PART) 2025.

Ni Luh Dian Suryantini, sebagai moderator, memulai acara sesaat setelah kursi terakhir diduduki seorang turis berkulit pucat. Dalam sesi ini, B-PART mendatangkan Diane Butler, Ph.D., dan Syafiudin Vifick sebagai narasumber.

Diane Butler, Ph.D., adalah seniman tari-gerak, pendidik, dan direktur program budaya asal Amerika Serikat yang telah berkolaborasi dengan seniman tradisional dan kontemporer dari beragam budaya dan agama di Amerika Utara dan Selatan, Eropa dan Asia selama empat dekade dan sejak tahun 2001 menetap di Desa Bedulu dan Desa Tejakula, Bali, Indonesia.

Sedangkan Syafiudin Vifick adalah seorang visual storyteller profesional dari Malang, Jawa Timur, yang menggunakan fotografi sebagai medium. Ia memfokuskan karyanya pada isu-isu kemanusiaan, sosial budaya, lingkungan, antropologi, dan isu kontemporer. Karyanya telah dimuat di banyak media, termasuk National Geographic Indonesia, Majalah Sriwijaya, Epicure, dan berbagai media lainnya. Selain aktif berpameran, beberapa tahun terakhir Vifick juga menekuni fotografi komersial, dokumentasi NGO, dan dokumentasi event.

Melalui kisah seorang fotografer yang merekam keseharian Bali dari jarak yang terus dinegosiasikan, serta seorang seniman tari-gerak yang mengembangkan pendekatan eksperiensial dan kinestetik terhadap ruang dan lingkungan, diskusi ini menelusuri bagaimana pengalaman menjadi “tamu” dapat membuka cara lain untuk memahami Bali—bukan sebagai destinasi, melainkan sebagai ruang hidup bersama yang terus berubah dan dinegosiasikan dari waktu ke waktu.

Diskusi ini merupakan bagian dari proyek jangka panjang Mulawali Institute (2025–2031) bertajuk Dekolonial Expo & Bali, yang berupaya membaca kenyataan dan perubahan sosial kewargaan melalui dua kata kunci utama: intrakolonialitas dan spektakularitas, dengan pendekatan mikroskopik.

Dalam konteks B-PART, riset ini mengundang percakapan publik dalam tiga spektrum: Bali sebagai ruang pertemuan (arrival), Bali sebagai ruang keberangkatan (departure), dan Bali sebagai ruang yang terus dibentuk melalui mobilitas, ingatan, dan keterikatan yang saling berkelindan (return).

Kisah Vifick yang Memilih Tinggal

“Awalnya saya hanya ingin singgah sebentar di Bali, barang dua atau tiga tahun. Eh, nggak tahunya betah sampai sekarang,” ujar Vifick memulai sesi, Rabu (25/11/2025) sore.

Sesi ini memang berangkat dari—sebagaimana telah disinggung dalam sinopsis program—sebuah renungan tentang bagaimana Bali bukan sekadar objek untuk dilihat, melainkan ruang yang juga menatap kembali.

Syafiudin Vifick, seorang visual storyteller profesional, saat menjadi narasumber di B-PART 2025 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Melalui pengalaman mereka yang datang dan memilih menetap, sesi ini menelusuri batas-batas yang terus bergeser antara melihat dan dilihat, antara menjadi bagian dan sedang menjadi. Di sini, “kedatangan” bukan momen penemuan, melainkan sebuah pembuka—tempat di mana gerak sehari-hari dan ruang bersama secara perlahan membentuk cara baru untuk memahami tempat, identitas, dan hidup berdampingan.

Vifick melanjutkan cerita. Saat mendaki Gunung Batur di Kintamani dan melihat sebuah upacara agama di sana, ia mulai berpikir bahwa Bali rupanya bukan sekadar tentang keindahan semata, ada hal lain di balik itu. Apalagi saat ia berkunjung ke Karangasem, tepatnya di Desa Selat, dan mengikuti sebuah upacara adat yang hanya diselenggarakan 10 tahun sekali.

“Itu bener-bener besar dan menakjubkan. Upacaranya H-1 Nyepi. Aku nginap di rumah temanku. Yang menarik, keluarganya tidak memasak babi selama beberapa hari aku di sana. Padahal lagi upacara besar. Itu sikap toleransi yang berkesan sekali bagiku. Dan ajaibnya, di malam Nyepi, aku sempat dengar adzan. Padahal (kata bapaknya temanku), masjid cukup jauh dari sana,” Vifick berkisah.

Dan sejak saat itulah, tepatnya 2008, ia mulai memandang Bali sebagai tempat yang layak untuk ditinggali. “Kata orang, bukan kita yang memilih tinggal di Bali, melainkan Bali yang memilih kita,” Vifick menyampaikan teori yang sering disebut orang-orang. Ia menganggap Bali sebagai rumah.

Meski begitu, Vifick tak menutupi alasan klasik kenapa memilih tinggal di Bali. “Selain itu, di Bali aku banyak teman; juga banyak tempat bagus yang bisa dikunjungi; banyak objek/subjek yang potensial untuk dijadikan photo story. Peluang kerja juga bagus, bisa menjadi ‘pintu ke mana saja’”, sambung pendiri Indonesianpinhole.org itu.

Suasana sesi “Bali yang Dilihat: Kisah-Kisah dari yang Datang dan Menetap” di B-PART 2025 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sejak tinggal di Bali, Vifick bercerita, ia mulai aktif berkomunitas, berjejaring, dan menginisiasi program-program. Vifick membentuk Indonesianpinhole.org, sebuah proyek kolektif yang berfokus pada pengarsipan aktivitas seni fotografi lubang jarum (pinhole) di Indonesia.

Pada tahun 2023, ia menggagas program #RekamMatahari untuk merekam lintasan matahari secara serentak di 500 lokasi di 34 provinsi di Indonesia menggunakan kamera pinhole dengan teknik suryagrafi, dan program ini masih berjalan hingga kini. Ia juga menggagas program fotografi #SayaBercerita, sebuah gerakan bercerita melalui medium fotografi.

Tahun 2025, bersama I Komang Adiartha, Vifick membuat program HERBALOVA, yang mengajak anak-anak Desa Guwang, Gianyar, Bali, untuk mendokumentasikan tanaman herbal di lingkungan sekitar menggunakan medium seni scanografi. Hasil karya tersebut dipresentasikan dalam sebuah pameran dan buku. “Karena aku sudah menganggap Bali sebagai rumah, maka aku harus memperjuangkan semuanya di sini,” ujar Vifick.

Soal apakah saat ini Bali masih nyaman sebagai tempat tinggal atau justru sebaliknya, menurut Vifick, kenyaman itu bersifat relatif, sesuatu yang harus diperjuangkan atau diupayakan, bukan bergantung pada keadaan suatu tempat. “Ada banyak persoalan lingkungan di Bali, seperti banjir, air bersih, sampah dan lain-lain. Sebagai warga, apa pun keadaan lingkungan sekitarnya ya harus diterima, tapi juga harus diupayakan bersama apa solusinya. Agar kenyamanan itu terwujud,” lanjutnya.

Di media sosial banyak netizen yang berkomentar :“Enak kamu nak Jawa (orang Jawa), kalau di Bali ada apa-apa, tinggal balik aja ke asalmu”. Menanggapi komentar seperti itu, Vifick berpikir tidak sesederhana itu. Menurutnya, ketika seseorang sudah memutuskan untuk tinggal di suatu daerah, “ya akhirnya di situlah rumahnya”. Apalagi yang sudah bertahun-tahun.

“Tempat asal bukan lagi menjadi rumah untuk pulang, tapi ‘hanya’ sebagai tempat asal. Ini bukan soal suku atau identitas, tapi soal ‘rumah’. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung—dan di situ air dan udara dirawat bersama,” pungkasnya.

Kisah Diane Butler yang Memilih Tinggal

Tak jauh berbeda dengan apa yang dikisahkan Vifick, Diane Butler juga merasa Bali memilhnya untuk tinggal. Sejak tahun 2001, Diane menetap di Desa Bedulu, Gianyar, dan Desa Tejakula, Buleleng, Bali. Kedua desa ini, kata Diane, terkenal akan kearifan lokalnya, kesenian dan adat istiadatnya, sehingga keanekaragaman ekspresi budaya bersifat dinamis dan dialogis.

“Pada tahun 2001, bersama Suprapto Suryodarmo, saya mendirikan Dharma Nature Time, yayasan internasional yang bersifat kooperatif dengan anggota di delapan negara yang melakukan aktivitas ‘sharing’ dalam kesenian, ketuhanan, dan alam untuk mendukung antarbudaya yang pada tahun 2009 diberi roster konsultatif status oleh Economic and Social Council PBB,” terang Diane.

Jauh sebelum memutuskan tinggal di Bali, pada 1980-an, Diane tinggal di kota New York dan bekerja sebagai asisten dan penari dalam karya situs-spesifik dengan koreografer Ruby Shang bersama seniman dari Amerika, Asia, dan Eropa di situs-situs sejarah dan berbagai festival seni di Amerika Serikat, Prancis, Jepang, dan Inggris.

Diane Butler, Ph.D., seniman tari-gerak, pendidik, dan direktur program budaya, saat menjadi narasumber di B-PART 2025 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dekade 1990-an, ia ikut serta mengembangkan pendidikan kontemplatif saat menjadi Lektor Kepala, Ketua Pendiri InterArts Studies, dan Direktur Dance/Movement Studies di Naropa University, Colorado. Sampai tahun 2000, saat menjadi Asisten Direktur dan 2001 menjadi Direktur Naropa Study Abroad di Bali, Diane masih pendidikan kontemplatif.

“Saya meraih BFA bidang tari dari The Juilliard School, MALS bidang Tari & Budaya dari Wesleyan University (USA), dan merupakan karyasiswa asing pertama yang meraih Ph.D., di Program Studi Kajian Budaya Universitas Udayana, Bali,” Diane mengisahkan dirinya.   Tahun 2014, Rektor Unud mengangkat Diane sebagai Lektor Kepala sukarela pada program studi tersebut. “Sejak tahun 1997, saya membina lokakarya Awakening InterArts dan menjadi pengajar tamu di berbagai negara lain,” sambungnya.

Di Bali, Diane dekat dengan sosok almarhum Suprapto Suryodarmo (1945–2019) pendiri Padepokan Lemah Putih, Solo. Baginya, salah satu tokoh penyiram benih supaya ia masuk Prodi Doktor Kajian Budaya Unud itu adalah Suprapto Suryodarmo.

“Pada akhir Januari 2002, kami—Diane dan Suprapto—ke Jakarta untuk memperkenalkan visi dan aktivitas Dharma Nature Time serta ide pembentukkan suatu internasional intercultural school kepada beberapa pejabat Depdikbud RI dan UNESCO Office Jakarta,” kenang Diane.

Lambat laun sejak tahun 2001, Bali dan bahasa Indonesia telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari—walaupun ia belajar otodidak dan masih beraksen Amerika. “Setelah wisuda, untuk lebih percaya diri, saya pergi ke Balai Bahasa di Denpasar pada Desember 2016 untuk Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Syukurlah, UKBI memberi saya sertifikat hasil skor tingkat Madya Atas,” Diane berkisah saat ia belajar bahasa Indonesia untuk menunjang pilihannya tinggal di Bali.

Sejak Agustus 2003, Diane sudah berharap menjadi bagian dari Bali. Dan sebagaimana Vifick, bagi Diane, Bali sudah menjadi rumahnya sekarang. Bali bukan hanya sekadar objek untuk dilihat, melainkan ruang yang juga menatap kembali. Hinggal 2011 saat ia diwisuda sebagai Doktor Kajian Budaya Unud, dalam hati Diane berkata, “ Astungkara, harapanku terkabul, telah menjadi bagian.”

Pada akhirnya, bagi Vifick dan Diane, Bali tidak hanya tentang pariwisata, tetapi juga sebagai tempat di mana banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia—bahkan dari luar negeri—memilih untuk menetap. Pulau ini menawarkan lebih dari sekadar keindahan alam. Ada suasana yang tenang, kehidupan sosial yang hangat, serta budaya yang kaya akan nilai spiritual dan keseimbangan hidup.

Barangkali, bagi banyak pendatang, tinggal di Bali seperti menemukan rumah kedua—bahkan orang seperti Vifick dan Diane sudah menganggapnya sebagai satu-satunya rumah. Mereka merasakan kenyamanan dalam keseharian yang sederhana, di antara masyarakat yang terbuka dan saling menghormati.

Di beberapa daerah seperti Ubud, Canggu, atau Buleleng, banyak orang dari luar daerah yang kini hidup berdampingan dengan masyarakat lokal. Ada yang membuka usaha kecil, bekerja di bidang seni dan pariwisata, atau sekadar mencari ketenangan dari hiruk-pikuk kota besar. Di sanalah, banyak orang akhirnya menemukan arti “pulang” yang sesungguhnya. [T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: B-Partbali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Putri Ayu Suarni, Diam-diam Jadi Puteri Bali Persahabatan 2025

Next Post

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co