6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anggara Kasih Julungwangi | Cerpen Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi by Ni Kadek Putri Santiadi
November 2, 2025
in Cerpen
Anggara Kasih Julungwangi | Cerpen Putri Santiadi

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

AKU berdiam diri di rumah ketika seluruh sanak saudara sibuk di Sanggah, menyiapkan banten dan perlengkapan upacara. Aku sudah menawarkan diri untuk membantu, tapi tak seorang pun mengizinkan aku. Katanya, aku harus beristirahat saja. Mereka takut aku kelelahan. Tidak bisa bicara banyak, hanya menurut sebelum semuanya meninggikan suara. Meski dalam hati ada rasa ingin ikut menata janur dan menyiapkan sesajen seperti dulu.

Sudah dua setengah tahun, aku hanya bisa terbaring lemah di kamar. Darah keluar dari mulut, tubuhku dingin dengan aroma menyengat, dan pucat seperti aspal di bawah hujan. Dokter bilang aku mengidap kanker paru-paru. Kabar itu membuat semua orang di rumah terdiam lama, seolah kata “kanker” lebih mengerikan dari apa pun. Suamiku berusaha tabah, tapi aku tahu dari matanya ia takut kehilangan. Sementara iparku tidak pernah setuju ketika dokter menyarankan pengobatan intensif. Meskipun tak pernah mempelajari hal-hal medis, ia tahu betul jika operasi paru-paru akan menimbulkan beberapa resiko besar, antara hidup dengan keterbatasan atau perlahan meninggal. Bukan karena keterbatasan biaya, tapi ia percaya aku bisa sembuh dengan cara lain, cara yang lebih dekat dengan Tuhan.

…

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Perasaanku semakin tak terkendali. Hari itu tubuhku nyaris tak bisa digerakkan. Dengan sisa tenaga, aku berbisik padanya agar menjaga anak dan suamiku kalau aku tak kuat lagi. Ia tidak menjawab, hanya menggenggam tanganku erat, lalu berkata lirih bahwa aku harus ikut dengannya. Kami berangkat dengan mobil kol menuju tempat pengobatan di kecamatan, melewati jalan yang berkelok-kelok sebab rumah kami di daerah pegunungan. Kami menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit dengan hati yang berdebar.

Sesampainya di sana, seorang pria berpakaian serba putih menyambut kami. Katanya, ia bukan dokter, tapi utusan Tuhan. Dengan lembut ia mengucap mantra, lalu memintaku membuka mulut. Aku menuruti tanpa banyak pikir. Beberapa menit kami menunggu, tapi tak kunjung ada sesuatu terjadi. Sampai pada mantra “Om Santih, Santih, Santih Om”,  aku menyadari mantranya telah selesai. Semua masih terdiam kaku, tetapi aku sibuk dengan tenggorokan yang begitu gatal. Pikirku dalam hening, apa darah akan menyembur wajah pemangku ini?

Beberapa detik kemudian, benar saja sesuatu keluar dari tenggorokanku: dua makhluk kecil bersayap dengan tubuh berbalut darah kental. Samar-samar aku melihat  bentuknya seperti yuyu kecil yang siap mencapit mangsanya.

“Ini yang membuatmu terus mengeluarkan darah,” ucapnya tenang. “Kalau tidak segera dikeluarkan, ia akan membesar.”

Aku tertegun. Bagaimana mungkin makhluk itu bisa masuk ke tubuhku? Dari makanan? Dari udara? Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah menemukan jawaban. Yang kutahu, ada makhluk lain yang hidup di dalam tubuhku, selain diriku sendiri. Sekilas terdengar mustahil dan aku pun tak percaya. Kupikir aku telah berpindah ke alam lain, sembuh di sana, lalu kembali.

Nyatanya, hidup masih berjalan. Aku masih bisa menggenggam erat tangan Falguni (anakku), suamiku, dan saudara-saudaraku. Harapan yang dulu terasa lebur kini menjadi nyata, bahkan menjadi sesuatu yang bisa dideteksi dan diakui keberadaannya. Sebelum kami pulang, beliau berkata akan memelihara makhluk itu dan memintaku datang lagi ketika sudah mampu berjalan. Namun, Tuhan berkehendak lain. Beliau meninggal sebelum aku sembuh sepenuhnya. Aku pun tak pernah melihat makhluk itu lagi.

Sejak hari itu, aku merasa Tuhan memberiku kesempatan kedua untuk hidup.

…

Empat tahun berlalu. Waktu berjalan pelan dan tubuhku perlahan pulih. Lalu keajaiban lain datang, aku hamil anak kedua. Rasanya tak percaya, seolah kehidupan benar-benar ingin tinggal di tubuhku lagi. Ketakutan akan penyakitku yang lalu membuat semua orang menjagaku dengan penuh kasih, seperti tuan putri.

Tepat di hari Anggara Kasih Julungwangi, kandunganku memasuki usia delapan bulan dua minggu. Hari itu keluarga bersiap untuk piodalan besar di Sanggah Merajan. Aku ingin sekali ikut sembahyang, tapi iparku melarang.

“Diam saja di kamar, kalau ada apa-apa segera panggil aku,” katanya tegas.

Mertuaku menambahkan, “Ibu juga sebentar saja ke Sanggah, kamu istirahat, ya.”

Aku hanya mengangguk patuh, menahan keinginan untuk sekadar mencium harum dupa dan bunga di pelataran. Padahal aku merasa jauh lebih baik jika bisa bertemu dengan para saudara, daripada berbaring terus di kasur. Namun Ibu sudah mengingatkanku untuk tetap di rumah selama kandungan membesar.

Kata Ibu, ketika usia kandungan menginjak tujuh bulan, tubuh ibu hamil menjadi lebih rentan terhadap niat buruk orang yang tidak suka. Begitulah kepercayaan para tetua dulu, selalu meyakini hal-hal yang tak kasatmata. Mau tak mau, aku pun ikut percaya dan mematuhi, takut dianggap melawan.

Aku masih mengelus perutku sambil mendengarkan sayup-sayup suara gong dari kejauhan. Suamiku dan Falguni, sudah sejak pagi berada di sanggah untuk menghaturkan banten atas permintaanku. Hanya aku dan anakku, yang masih hangat bersemayam di dalam rahimku tetap tinggal di rumah. Suara lembut iringan tari dan kidung membuatku hanyut dalam beberapa waktu. Aku mengikuti bait demi bait nya seperti berucap syukur kepada Tuhan atas keajaibannya. Belum selesai kidung itu aku lantunkan, rasa nyeri tiba-tiba menusuk perutku. Air ketuban mengalir di kakiku dan aku tahu waktunya telah tiba.

Dengan kesadaran penuh, aku berjalan keluar lewat pintu belakang agar keluargaku tidak heboh. Jalan menuju rumah bidan hanya satu kilometer, tapi terasa seperti menempuh jarak yang tak berujung. Setiap langkah disertai rasa sakit dan napas yang tertahan. Aku menggenggam perutku, berdoa agar bayi di dalamnya tetap kuat.

Ketika sampai di rumah bidan, semua orang menatapku kaget sebelum akhirnya bergegas menyiapkan alat. “Ibu mau saya panggilkan suami?” tanya bidan sambil membantuku ke ranjang. Aku hanya menggeleng pelan. Jika menunggu suamiku datang, mungkin tak sempat. Aku hanya ingin anakku segera lahir dengan selamat.

…

“Tarik napas panjang, Bu. Satu, dua, tiga… dorong.” Suara bidan terdengar menuntunku dalam ruang yang terasa asing. Setiap tarikan nafas adalah perjuangan, setiap dorongan adalah doa. Setelah tiga puluh menit, tangisan bayi memecah keheningan. Suara itu membuat dadaku sesak oleh haru. Bayi perempuan, sehat, mungil, dan suaranya kuat sekali.

Dalam keadaan lemas, aku berbisik, “Tolong panggil suamiku, dia pasti di Sanggah.”

Tak lama, keluarga berdatangan dengan wajah cemas dan mata sembab. “Kami pikir kamu menghilang! Untung bidan memberi kabar, mengapa tidak teriak?” Isak iparku. Suamiku mendekat, menatapku lama. “kamu kuat sekali,” katanya pelan sambil menggenggam tanganku. Aku hanya menatap mereka tanpa bisa bicara banyak, tubuhku masih lemas dan harus dirawat dalam beberapa hari. Nafasku juga masih terengah-engah karena persalinan dilakukan secara normal. Sebenarnya dokter tidak menyarankan tindakan itu, tapi semua itu atas permintaanku.

Kamar bidan itu penuh dengan sanak saudara yang bersyukur. Aku menatap bayiku lama-lama. Di dalam hati aku berjanji akan selalu menjaga hidupnya seperti Tuhan menjaga hidupku dulu. Ia lahir di hari Anggara Kasih Julungwangi, bersamaan dengan piodalan keluarga kami. Dalam perjalanan sepuluh menit itu, aku sempat berjanji pada Tuhan: jika anakku lahir tanpa kurang satu hal, aku akan menghaturkan seratus mentimun sebagai tanda terima kasih. Kini janjiku itu harus kutepati.

Sore itu, aku memandangi langit dari jendela rumah bidan. Matahari hampir tenggelam dan angin membawa harum bunga canang dari arah Sanggah. Aku tersenyum pelan. Dalam hatiku, aku menitipkan doa pada namanya, agar ia tumbuh menjadi anak yang penuh kedamaian, seperti hari kelahirannya yang suci — hari Anggara Kasih Julungwangi, saat hidup dan keajaiban bertemu dalam satu waktu. [T]

Penulis: Putri Santiadi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Taman Mekar, Belajar Konservasi Air ala SDN 4 Munduk

Next Post

Jurnalisme Pelan ala Menot Sukadana

Ni Kadek Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Jurnalisme Pelan ala Menot Sukadana

Jurnalisme Pelan ala Menot Sukadana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co