14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Napak Tilas Jalan Anyer–Panarukan: Ziarah Waktu di Tanah Jawa

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
October 21, 2025
in Tualang
Napak Tilas Jalan Anyer–Panarukan: Ziarah Waktu di Tanah Jawa

Napak Tilas Jalan Anyer–Panarukan: Ziarah Waktu di Tanah Jawa

BEBERAPA waktu yang lalu, saya bersama istri memulai sebuah perjalanan yang kami sebut sebagai ziarah waktu. Bukan hanya perjalanan wisata, melainkan perjalanan batin—sebuah upaya napak tilas sejarah panjang Pulau Jawa melalui jalur legendaris Jalan Raya Pos Anyer–Panarukan, karya monumental Daendels di masa kolonial. Jalur sepanjang lebih dari seribu kilometer ini pernah menjadi urat nadi perdagangan dan mobilitas di masa lalu. Kini, sebagian besar telah berubah menjadi jalur tol modern yang menghubungkan barat hingga timur Jawa.

Kami memulai perjalanan dari Kota Serang, tempat kami bermukim. Dua sahabat lama—teman masa SMP—ikut bergabung. Kami sepakat untuk tidak melakukan perjalanan di musim liburan agar lalu lintas lebih lengang. Tepat pukul 05.30 pagi, kendaraan kami melaju meninggalkan Serang.

Tidak ada target waktu, tidak ada kejaran agenda. Kami hanya ingin menikmati perjalanan, seperti orang-orang yang telah melewati banyak musim dalam hidupnya. Kami menyebutnya: perjalanan orang-orang tua yang ingin menikmati makna perjalanan itu sendiri.

Dari Nasi Jamblang ke Ziarah Wali

Sekitar pukul sembilan lewat tiga puluh menit, kami sampai di Cirebon. Di kota yang kental dengan sejarah penyebaran Islam ini, kami menikmati sarapan sederhana namun legendaris: nasi jamblang dengan lauk sambal goreng, tahu, dan cumi hitam. Sambil menyuap, kami bercanda mengenang masa lalu—tentang sekolah, keluarga, dan kehidupan yang terus berjalan tanpa terasa.

Bersama istri di Masjid Menara Kudus | Foto.Dok Penulis

Perjalanan berlanjut ke arah timur. Di wilayah Kendal, kami beristirahat untuk melaksanakan salat Duhur dan Asar dengan cara jama’. Setelah tubuh dan hati segar kembali, kami melanjutkan perjalanan menuju Demak. Di sinilah langkah kami terasa lebih khidmat.

Kami berziarah ke makam Sunan Kalijaga, seorang wali yang dikenal sebagai penyebar Islam dengan pendekatan budaya dan seni. Di pelataran makam itu, suasana sore begitu damai. Udara sejuk, aroma dupa samar-samar, dan lantunan doa pengunjung lain berpadu menciptakan suasana yang menenangkan hati.

Kami menunaikan salat Magrib dan Isya di sana, lalu meneruskan perjalanan menuju Kudus, tempat kami menginap malam itu. Penginapan sederhana, namun cukup nyaman untuk melepas lelah. Pagi harinya, kami mengunjungi Masjid Menara Kudus, simbol indah akulturasi Islam dan budaya Jawa. Menara bata merahnya seolah bercerita tentang pertemuan masa lalu—antara keyakinan dan kebijaksanaan lokal.

Bersama istri dan sahabat di Masjid Agung Demak | Foto Dok.Penulis

Setelah itu, kami berkeliling menikmati kuliner khas Kudus: soto kudus yang gurih dan jenang Kudus yang manis legit. Di sela perjalanan kuliner, kami juga berziarah ke makam Sunan Kudus. Ada rasa haru ketika berdiri di depan makam itu; seakan waktu berhenti sejenak, memberi ruang bagi setiap peziarah untuk bercermin tentang hidup dan kematian.

Menziarahi Sang Guru Bangsa

Dari Kudus, kami berbalik arah sedikit ke selatan, menuju Jombang. Kota ini kami anggap sebagai salah satu titik penting dalam perjalanan spiritual kami. Di sanalah terbaring KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)—seorang ulama besar, negarawan, sekaligus guru bangsa yang senantiasa memperjuangkan kemanusiaan dan kebinekaan.

Berziarah ke makam Gus Dur bukan sekadar ritual, tapi seperti menziarahi nilai-nilai yang pernah beliau ajarkan: kejujuran, keterbukaan, dan cinta kepada sesama. Di bawah rindangnya pepohonan di kawasan Tebuireng itu, kami berdoa dengan hati yang lapang. Mungkin di usia senja ini, kami mulai memahami bahwa perjalanan spiritual bukan hanya tentang menempuh jarak, tapi juga tentang mendekatkan diri pada makna kehidupan.

Menjelajah Alam Timur Jawa

Menjelang sore kami melanjutkan perjalanan menuju Probolinggo. Rasa lelah membuat kami memutuskan bermalam di kota itu. Probolinggo terkenal dengan mangga harum manisnya, meski sayang saat itu bukan musim panen. Kami hanya menikmati sarapan pagi sambil membeli sedikit bekal. Jalan tol kini membawa kami semakin ke timur, mendekati ujung perjalanan: Banyuwangi.

Gerbang Taman Wisata Alam Kawah Ijen | Foto Dok.Penulis

Dalam perjalanan kami sempat berhenti di Masjid Agung Situbondo untuk salat Jumat, kemudian singgah di Taman Nasional Baluran. Hamparan savana yang luas, rusa dan kerbau liar yang melintas, serta pepohonan kering yang anggun membuat kami serasa berada di Afrika. Alam Baluran mengingatkan kami akan betapa kayanya negeri ini, dan betapa sering manusia lupa mensyukurinya.

Tiba di Banyuwangi, kami mengunjungi Taman Hutan Jawatan Benculuk, tempat pepohonan trembesi tua tumbuh dengan akar-akar menjuntai seperti tirai waktu. Sore hari kami duduk di bawah naungannya, menatap sinar matahari yang menembus sela daun. Di sana, kami seperti berdamai dengan waktu. Tak perlu terburu-buru; setiap perjalanan memiliki ritmenya sendiri.

Kembali ke Barat

Dalam perjalanan pulang, kami menyempatkan diri menuju kawasan Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Kami berhenti di gerbang kawasan, menikmati kopi panas di udara sejuk pegunungan. Pemandangan indah tersaji di depan mata, namun kami tak lagi berambisi untuk mendaki hingga ke kawah demi melihat “Api Biru”. Tenaga sudah tidak sekuat dulu, dan itu tidak mengapa. Di usia ini, kami belajar menerima batas diri dengan rasa syukur.

Gerbang Taman Wisata Alam Kawah Ijen | Foto Dok.Penulis

Rute pulang kami ambil melalui Bondowoso, kota yang tenang dengan udara pegunungan yang sejuk. Kami beristirahat di sana, membeli oleh-oleh khas seperti tape dan kopi. Akhirnya, setelah ribuan kilometer dan puluhan jam perjalanan, kami tiba kembali di Serang dengan selamat.

Makna Perjalanan

Ketika roda kendaraan berhenti di halaman rumah, kami saling tersenyum. Ada rasa lega, ada juga rasa haru. Perjalanan ini bukan sekadar menelusuri jalan panjang dari Anyer ke Panarukan, tetapi juga perjalanan menelusuri usia, kenangan, dan makna hidup. Kami sadar, setiap kilometer yang kami tempuh adalah pengingat akan waktu yang berjalan, akan sahabat yang setia, dan akan Tuhan yang memberi kesempatan untuk menikmati semuanya.

Perjalanan ini mengajarkan bahwa ziarah tidak selalu menuju makam, tapi bisa juga menjadi ziarah menuju diri sendiri—mengenang masa lalu, mensyukuri masa kini, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan dengan hati yang tenang.

De-Djawatan, Banyuwangi | Foto Dok.Penulis

Alhamdulillah, kami pulang dengan hati penuh syukur dan jiwa yang lebih damai. Jalan raya yang dulu dibangun dengan kerja paksa dan penderitaan, kini menjadi jalan penghubung antarhati, antargenerasi, dan antarwaktu. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Jalan Anyer PenarukanjawaPantura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warna Daun, Jiwa Subak: ISI Bali Bawa Napas Baru untuk Jatiluwih lewat Botanical Print

Next Post

Transformasi Jejaring Jalan Bali dari Kosmologi menjadi Koridor Kapital

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post
Transformasi Jejaring Jalan Bali dari Kosmologi menjadi Koridor Kapital

Transformasi Jejaring Jalan Bali dari Kosmologi menjadi Koridor Kapital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co