2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Napak Tilas Jalan Anyer–Panarukan: Ziarah Waktu di Tanah Jawa

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
October 21, 2025
in Tualang
Napak Tilas Jalan Anyer–Panarukan: Ziarah Waktu di Tanah Jawa

Napak Tilas Jalan Anyer–Panarukan: Ziarah Waktu di Tanah Jawa

BEBERAPA waktu yang lalu, saya bersama istri memulai sebuah perjalanan yang kami sebut sebagai ziarah waktu. Bukan hanya perjalanan wisata, melainkan perjalanan batin—sebuah upaya napak tilas sejarah panjang Pulau Jawa melalui jalur legendaris Jalan Raya Pos Anyer–Panarukan, karya monumental Daendels di masa kolonial. Jalur sepanjang lebih dari seribu kilometer ini pernah menjadi urat nadi perdagangan dan mobilitas di masa lalu. Kini, sebagian besar telah berubah menjadi jalur tol modern yang menghubungkan barat hingga timur Jawa.

Kami memulai perjalanan dari Kota Serang, tempat kami bermukim. Dua sahabat lama—teman masa SMP—ikut bergabung. Kami sepakat untuk tidak melakukan perjalanan di musim liburan agar lalu lintas lebih lengang. Tepat pukul 05.30 pagi, kendaraan kami melaju meninggalkan Serang.

Tidak ada target waktu, tidak ada kejaran agenda. Kami hanya ingin menikmati perjalanan, seperti orang-orang yang telah melewati banyak musim dalam hidupnya. Kami menyebutnya: perjalanan orang-orang tua yang ingin menikmati makna perjalanan itu sendiri.

Dari Nasi Jamblang ke Ziarah Wali

Sekitar pukul sembilan lewat tiga puluh menit, kami sampai di Cirebon. Di kota yang kental dengan sejarah penyebaran Islam ini, kami menikmati sarapan sederhana namun legendaris: nasi jamblang dengan lauk sambal goreng, tahu, dan cumi hitam. Sambil menyuap, kami bercanda mengenang masa lalu—tentang sekolah, keluarga, dan kehidupan yang terus berjalan tanpa terasa.

Bersama istri di Masjid Menara Kudus | Foto.Dok Penulis

Perjalanan berlanjut ke arah timur. Di wilayah Kendal, kami beristirahat untuk melaksanakan salat Duhur dan Asar dengan cara jama’. Setelah tubuh dan hati segar kembali, kami melanjutkan perjalanan menuju Demak. Di sinilah langkah kami terasa lebih khidmat.

Kami berziarah ke makam Sunan Kalijaga, seorang wali yang dikenal sebagai penyebar Islam dengan pendekatan budaya dan seni. Di pelataran makam itu, suasana sore begitu damai. Udara sejuk, aroma dupa samar-samar, dan lantunan doa pengunjung lain berpadu menciptakan suasana yang menenangkan hati.

Kami menunaikan salat Magrib dan Isya di sana, lalu meneruskan perjalanan menuju Kudus, tempat kami menginap malam itu. Penginapan sederhana, namun cukup nyaman untuk melepas lelah. Pagi harinya, kami mengunjungi Masjid Menara Kudus, simbol indah akulturasi Islam dan budaya Jawa. Menara bata merahnya seolah bercerita tentang pertemuan masa lalu—antara keyakinan dan kebijaksanaan lokal.

Bersama istri dan sahabat di Masjid Agung Demak | Foto Dok.Penulis

Setelah itu, kami berkeliling menikmati kuliner khas Kudus: soto kudus yang gurih dan jenang Kudus yang manis legit. Di sela perjalanan kuliner, kami juga berziarah ke makam Sunan Kudus. Ada rasa haru ketika berdiri di depan makam itu; seakan waktu berhenti sejenak, memberi ruang bagi setiap peziarah untuk bercermin tentang hidup dan kematian.

Menziarahi Sang Guru Bangsa

Dari Kudus, kami berbalik arah sedikit ke selatan, menuju Jombang. Kota ini kami anggap sebagai salah satu titik penting dalam perjalanan spiritual kami. Di sanalah terbaring KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)—seorang ulama besar, negarawan, sekaligus guru bangsa yang senantiasa memperjuangkan kemanusiaan dan kebinekaan.

Berziarah ke makam Gus Dur bukan sekadar ritual, tapi seperti menziarahi nilai-nilai yang pernah beliau ajarkan: kejujuran, keterbukaan, dan cinta kepada sesama. Di bawah rindangnya pepohonan di kawasan Tebuireng itu, kami berdoa dengan hati yang lapang. Mungkin di usia senja ini, kami mulai memahami bahwa perjalanan spiritual bukan hanya tentang menempuh jarak, tapi juga tentang mendekatkan diri pada makna kehidupan.

Menjelajah Alam Timur Jawa

Menjelang sore kami melanjutkan perjalanan menuju Probolinggo. Rasa lelah membuat kami memutuskan bermalam di kota itu. Probolinggo terkenal dengan mangga harum manisnya, meski sayang saat itu bukan musim panen. Kami hanya menikmati sarapan pagi sambil membeli sedikit bekal. Jalan tol kini membawa kami semakin ke timur, mendekati ujung perjalanan: Banyuwangi.

Gerbang Taman Wisata Alam Kawah Ijen | Foto Dok.Penulis

Dalam perjalanan kami sempat berhenti di Masjid Agung Situbondo untuk salat Jumat, kemudian singgah di Taman Nasional Baluran. Hamparan savana yang luas, rusa dan kerbau liar yang melintas, serta pepohonan kering yang anggun membuat kami serasa berada di Afrika. Alam Baluran mengingatkan kami akan betapa kayanya negeri ini, dan betapa sering manusia lupa mensyukurinya.

Tiba di Banyuwangi, kami mengunjungi Taman Hutan Jawatan Benculuk, tempat pepohonan trembesi tua tumbuh dengan akar-akar menjuntai seperti tirai waktu. Sore hari kami duduk di bawah naungannya, menatap sinar matahari yang menembus sela daun. Di sana, kami seperti berdamai dengan waktu. Tak perlu terburu-buru; setiap perjalanan memiliki ritmenya sendiri.

Kembali ke Barat

Dalam perjalanan pulang, kami menyempatkan diri menuju kawasan Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Kami berhenti di gerbang kawasan, menikmati kopi panas di udara sejuk pegunungan. Pemandangan indah tersaji di depan mata, namun kami tak lagi berambisi untuk mendaki hingga ke kawah demi melihat “Api Biru”. Tenaga sudah tidak sekuat dulu, dan itu tidak mengapa. Di usia ini, kami belajar menerima batas diri dengan rasa syukur.

Gerbang Taman Wisata Alam Kawah Ijen | Foto Dok.Penulis

Rute pulang kami ambil melalui Bondowoso, kota yang tenang dengan udara pegunungan yang sejuk. Kami beristirahat di sana, membeli oleh-oleh khas seperti tape dan kopi. Akhirnya, setelah ribuan kilometer dan puluhan jam perjalanan, kami tiba kembali di Serang dengan selamat.

Makna Perjalanan

Ketika roda kendaraan berhenti di halaman rumah, kami saling tersenyum. Ada rasa lega, ada juga rasa haru. Perjalanan ini bukan sekadar menelusuri jalan panjang dari Anyer ke Panarukan, tetapi juga perjalanan menelusuri usia, kenangan, dan makna hidup. Kami sadar, setiap kilometer yang kami tempuh adalah pengingat akan waktu yang berjalan, akan sahabat yang setia, dan akan Tuhan yang memberi kesempatan untuk menikmati semuanya.

Perjalanan ini mengajarkan bahwa ziarah tidak selalu menuju makam, tapi bisa juga menjadi ziarah menuju diri sendiri—mengenang masa lalu, mensyukuri masa kini, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan dengan hati yang tenang.

De-Djawatan, Banyuwangi | Foto Dok.Penulis

Alhamdulillah, kami pulang dengan hati penuh syukur dan jiwa yang lebih damai. Jalan raya yang dulu dibangun dengan kerja paksa dan penderitaan, kini menjadi jalan penghubung antarhati, antargenerasi, dan antarwaktu. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Jalan Anyer PenarukanjawaPantura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warna Daun, Jiwa Subak: ISI Bali Bawa Napas Baru untuk Jatiluwih lewat Botanical Print

Next Post

Transformasi Jejaring Jalan Bali dari Kosmologi menjadi Koridor Kapital

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails
Next Post
Transformasi Jejaring Jalan Bali dari Kosmologi menjadi Koridor Kapital

Transformasi Jejaring Jalan Bali dari Kosmologi menjadi Koridor Kapital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co