23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Napak Tilas Jalan Anyer–Panarukan: Ziarah Waktu di Tanah Jawa

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
October 21, 2025
in Tualang
Napak Tilas Jalan Anyer–Panarukan: Ziarah Waktu di Tanah Jawa

Napak Tilas Jalan Anyer–Panarukan: Ziarah Waktu di Tanah Jawa

BEBERAPA waktu yang lalu, saya bersama istri memulai sebuah perjalanan yang kami sebut sebagai ziarah waktu. Bukan hanya perjalanan wisata, melainkan perjalanan batin—sebuah upaya napak tilas sejarah panjang Pulau Jawa melalui jalur legendaris Jalan Raya Pos Anyer–Panarukan, karya monumental Daendels di masa kolonial. Jalur sepanjang lebih dari seribu kilometer ini pernah menjadi urat nadi perdagangan dan mobilitas di masa lalu. Kini, sebagian besar telah berubah menjadi jalur tol modern yang menghubungkan barat hingga timur Jawa.

Kami memulai perjalanan dari Kota Serang, tempat kami bermukim. Dua sahabat lama—teman masa SMP—ikut bergabung. Kami sepakat untuk tidak melakukan perjalanan di musim liburan agar lalu lintas lebih lengang. Tepat pukul 05.30 pagi, kendaraan kami melaju meninggalkan Serang.

Tidak ada target waktu, tidak ada kejaran agenda. Kami hanya ingin menikmati perjalanan, seperti orang-orang yang telah melewati banyak musim dalam hidupnya. Kami menyebutnya: perjalanan orang-orang tua yang ingin menikmati makna perjalanan itu sendiri.

Dari Nasi Jamblang ke Ziarah Wali

Sekitar pukul sembilan lewat tiga puluh menit, kami sampai di Cirebon. Di kota yang kental dengan sejarah penyebaran Islam ini, kami menikmati sarapan sederhana namun legendaris: nasi jamblang dengan lauk sambal goreng, tahu, dan cumi hitam. Sambil menyuap, kami bercanda mengenang masa lalu—tentang sekolah, keluarga, dan kehidupan yang terus berjalan tanpa terasa.

Bersama istri di Masjid Menara Kudus | Foto.Dok Penulis

Perjalanan berlanjut ke arah timur. Di wilayah Kendal, kami beristirahat untuk melaksanakan salat Duhur dan Asar dengan cara jama’. Setelah tubuh dan hati segar kembali, kami melanjutkan perjalanan menuju Demak. Di sinilah langkah kami terasa lebih khidmat.

Kami berziarah ke makam Sunan Kalijaga, seorang wali yang dikenal sebagai penyebar Islam dengan pendekatan budaya dan seni. Di pelataran makam itu, suasana sore begitu damai. Udara sejuk, aroma dupa samar-samar, dan lantunan doa pengunjung lain berpadu menciptakan suasana yang menenangkan hati.

Kami menunaikan salat Magrib dan Isya di sana, lalu meneruskan perjalanan menuju Kudus, tempat kami menginap malam itu. Penginapan sederhana, namun cukup nyaman untuk melepas lelah. Pagi harinya, kami mengunjungi Masjid Menara Kudus, simbol indah akulturasi Islam dan budaya Jawa. Menara bata merahnya seolah bercerita tentang pertemuan masa lalu—antara keyakinan dan kebijaksanaan lokal.

Bersama istri dan sahabat di Masjid Agung Demak | Foto Dok.Penulis

Setelah itu, kami berkeliling menikmati kuliner khas Kudus: soto kudus yang gurih dan jenang Kudus yang manis legit. Di sela perjalanan kuliner, kami juga berziarah ke makam Sunan Kudus. Ada rasa haru ketika berdiri di depan makam itu; seakan waktu berhenti sejenak, memberi ruang bagi setiap peziarah untuk bercermin tentang hidup dan kematian.

Menziarahi Sang Guru Bangsa

Dari Kudus, kami berbalik arah sedikit ke selatan, menuju Jombang. Kota ini kami anggap sebagai salah satu titik penting dalam perjalanan spiritual kami. Di sanalah terbaring KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)—seorang ulama besar, negarawan, sekaligus guru bangsa yang senantiasa memperjuangkan kemanusiaan dan kebinekaan.

Berziarah ke makam Gus Dur bukan sekadar ritual, tapi seperti menziarahi nilai-nilai yang pernah beliau ajarkan: kejujuran, keterbukaan, dan cinta kepada sesama. Di bawah rindangnya pepohonan di kawasan Tebuireng itu, kami berdoa dengan hati yang lapang. Mungkin di usia senja ini, kami mulai memahami bahwa perjalanan spiritual bukan hanya tentang menempuh jarak, tapi juga tentang mendekatkan diri pada makna kehidupan.

Menjelajah Alam Timur Jawa

Menjelang sore kami melanjutkan perjalanan menuju Probolinggo. Rasa lelah membuat kami memutuskan bermalam di kota itu. Probolinggo terkenal dengan mangga harum manisnya, meski sayang saat itu bukan musim panen. Kami hanya menikmati sarapan pagi sambil membeli sedikit bekal. Jalan tol kini membawa kami semakin ke timur, mendekati ujung perjalanan: Banyuwangi.

Gerbang Taman Wisata Alam Kawah Ijen | Foto Dok.Penulis

Dalam perjalanan kami sempat berhenti di Masjid Agung Situbondo untuk salat Jumat, kemudian singgah di Taman Nasional Baluran. Hamparan savana yang luas, rusa dan kerbau liar yang melintas, serta pepohonan kering yang anggun membuat kami serasa berada di Afrika. Alam Baluran mengingatkan kami akan betapa kayanya negeri ini, dan betapa sering manusia lupa mensyukurinya.

Tiba di Banyuwangi, kami mengunjungi Taman Hutan Jawatan Benculuk, tempat pepohonan trembesi tua tumbuh dengan akar-akar menjuntai seperti tirai waktu. Sore hari kami duduk di bawah naungannya, menatap sinar matahari yang menembus sela daun. Di sana, kami seperti berdamai dengan waktu. Tak perlu terburu-buru; setiap perjalanan memiliki ritmenya sendiri.

Kembali ke Barat

Dalam perjalanan pulang, kami menyempatkan diri menuju kawasan Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Kami berhenti di gerbang kawasan, menikmati kopi panas di udara sejuk pegunungan. Pemandangan indah tersaji di depan mata, namun kami tak lagi berambisi untuk mendaki hingga ke kawah demi melihat “Api Biru”. Tenaga sudah tidak sekuat dulu, dan itu tidak mengapa. Di usia ini, kami belajar menerima batas diri dengan rasa syukur.

Gerbang Taman Wisata Alam Kawah Ijen | Foto Dok.Penulis

Rute pulang kami ambil melalui Bondowoso, kota yang tenang dengan udara pegunungan yang sejuk. Kami beristirahat di sana, membeli oleh-oleh khas seperti tape dan kopi. Akhirnya, setelah ribuan kilometer dan puluhan jam perjalanan, kami tiba kembali di Serang dengan selamat.

Makna Perjalanan

Ketika roda kendaraan berhenti di halaman rumah, kami saling tersenyum. Ada rasa lega, ada juga rasa haru. Perjalanan ini bukan sekadar menelusuri jalan panjang dari Anyer ke Panarukan, tetapi juga perjalanan menelusuri usia, kenangan, dan makna hidup. Kami sadar, setiap kilometer yang kami tempuh adalah pengingat akan waktu yang berjalan, akan sahabat yang setia, dan akan Tuhan yang memberi kesempatan untuk menikmati semuanya.

Perjalanan ini mengajarkan bahwa ziarah tidak selalu menuju makam, tapi bisa juga menjadi ziarah menuju diri sendiri—mengenang masa lalu, mensyukuri masa kini, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan dengan hati yang tenang.

De-Djawatan, Banyuwangi | Foto Dok.Penulis

Alhamdulillah, kami pulang dengan hati penuh syukur dan jiwa yang lebih damai. Jalan raya yang dulu dibangun dengan kerja paksa dan penderitaan, kini menjadi jalan penghubung antarhati, antargenerasi, dan antarwaktu. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Jalan Anyer PenarukanjawaPantura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warna Daun, Jiwa Subak: ISI Bali Bawa Napas Baru untuk Jatiluwih lewat Botanical Print

Next Post

Transformasi Jejaring Jalan Bali dari Kosmologi menjadi Koridor Kapital

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Transformasi Jejaring Jalan Bali dari Kosmologi menjadi Koridor Kapital

Transformasi Jejaring Jalan Bali dari Kosmologi menjadi Koridor Kapital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co