3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Napak Tilas Jalan Anyer–Panarukan: Ziarah Waktu di Tanah Jawa

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
October 21, 2025
in Tualang
Napak Tilas Jalan Anyer–Panarukan: Ziarah Waktu di Tanah Jawa

Napak Tilas Jalan Anyer–Panarukan: Ziarah Waktu di Tanah Jawa

BEBERAPA waktu yang lalu, saya bersama istri memulai sebuah perjalanan yang kami sebut sebagai ziarah waktu. Bukan hanya perjalanan wisata, melainkan perjalanan batin—sebuah upaya napak tilas sejarah panjang Pulau Jawa melalui jalur legendaris Jalan Raya Pos Anyer–Panarukan, karya monumental Daendels di masa kolonial. Jalur sepanjang lebih dari seribu kilometer ini pernah menjadi urat nadi perdagangan dan mobilitas di masa lalu. Kini, sebagian besar telah berubah menjadi jalur tol modern yang menghubungkan barat hingga timur Jawa.

Kami memulai perjalanan dari Kota Serang, tempat kami bermukim. Dua sahabat lama—teman masa SMP—ikut bergabung. Kami sepakat untuk tidak melakukan perjalanan di musim liburan agar lalu lintas lebih lengang. Tepat pukul 05.30 pagi, kendaraan kami melaju meninggalkan Serang.

Tidak ada target waktu, tidak ada kejaran agenda. Kami hanya ingin menikmati perjalanan, seperti orang-orang yang telah melewati banyak musim dalam hidupnya. Kami menyebutnya: perjalanan orang-orang tua yang ingin menikmati makna perjalanan itu sendiri.

Dari Nasi Jamblang ke Ziarah Wali

Sekitar pukul sembilan lewat tiga puluh menit, kami sampai di Cirebon. Di kota yang kental dengan sejarah penyebaran Islam ini, kami menikmati sarapan sederhana namun legendaris: nasi jamblang dengan lauk sambal goreng, tahu, dan cumi hitam. Sambil menyuap, kami bercanda mengenang masa lalu—tentang sekolah, keluarga, dan kehidupan yang terus berjalan tanpa terasa.

Bersama istri di Masjid Menara Kudus | Foto.Dok Penulis

Perjalanan berlanjut ke arah timur. Di wilayah Kendal, kami beristirahat untuk melaksanakan salat Duhur dan Asar dengan cara jama’. Setelah tubuh dan hati segar kembali, kami melanjutkan perjalanan menuju Demak. Di sinilah langkah kami terasa lebih khidmat.

Kami berziarah ke makam Sunan Kalijaga, seorang wali yang dikenal sebagai penyebar Islam dengan pendekatan budaya dan seni. Di pelataran makam itu, suasana sore begitu damai. Udara sejuk, aroma dupa samar-samar, dan lantunan doa pengunjung lain berpadu menciptakan suasana yang menenangkan hati.

Kami menunaikan salat Magrib dan Isya di sana, lalu meneruskan perjalanan menuju Kudus, tempat kami menginap malam itu. Penginapan sederhana, namun cukup nyaman untuk melepas lelah. Pagi harinya, kami mengunjungi Masjid Menara Kudus, simbol indah akulturasi Islam dan budaya Jawa. Menara bata merahnya seolah bercerita tentang pertemuan masa lalu—antara keyakinan dan kebijaksanaan lokal.

Bersama istri dan sahabat di Masjid Agung Demak | Foto Dok.Penulis

Setelah itu, kami berkeliling menikmati kuliner khas Kudus: soto kudus yang gurih dan jenang Kudus yang manis legit. Di sela perjalanan kuliner, kami juga berziarah ke makam Sunan Kudus. Ada rasa haru ketika berdiri di depan makam itu; seakan waktu berhenti sejenak, memberi ruang bagi setiap peziarah untuk bercermin tentang hidup dan kematian.

Menziarahi Sang Guru Bangsa

Dari Kudus, kami berbalik arah sedikit ke selatan, menuju Jombang. Kota ini kami anggap sebagai salah satu titik penting dalam perjalanan spiritual kami. Di sanalah terbaring KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)—seorang ulama besar, negarawan, sekaligus guru bangsa yang senantiasa memperjuangkan kemanusiaan dan kebinekaan.

Berziarah ke makam Gus Dur bukan sekadar ritual, tapi seperti menziarahi nilai-nilai yang pernah beliau ajarkan: kejujuran, keterbukaan, dan cinta kepada sesama. Di bawah rindangnya pepohonan di kawasan Tebuireng itu, kami berdoa dengan hati yang lapang. Mungkin di usia senja ini, kami mulai memahami bahwa perjalanan spiritual bukan hanya tentang menempuh jarak, tapi juga tentang mendekatkan diri pada makna kehidupan.

Menjelajah Alam Timur Jawa

Menjelang sore kami melanjutkan perjalanan menuju Probolinggo. Rasa lelah membuat kami memutuskan bermalam di kota itu. Probolinggo terkenal dengan mangga harum manisnya, meski sayang saat itu bukan musim panen. Kami hanya menikmati sarapan pagi sambil membeli sedikit bekal. Jalan tol kini membawa kami semakin ke timur, mendekati ujung perjalanan: Banyuwangi.

Gerbang Taman Wisata Alam Kawah Ijen | Foto Dok.Penulis

Dalam perjalanan kami sempat berhenti di Masjid Agung Situbondo untuk salat Jumat, kemudian singgah di Taman Nasional Baluran. Hamparan savana yang luas, rusa dan kerbau liar yang melintas, serta pepohonan kering yang anggun membuat kami serasa berada di Afrika. Alam Baluran mengingatkan kami akan betapa kayanya negeri ini, dan betapa sering manusia lupa mensyukurinya.

Tiba di Banyuwangi, kami mengunjungi Taman Hutan Jawatan Benculuk, tempat pepohonan trembesi tua tumbuh dengan akar-akar menjuntai seperti tirai waktu. Sore hari kami duduk di bawah naungannya, menatap sinar matahari yang menembus sela daun. Di sana, kami seperti berdamai dengan waktu. Tak perlu terburu-buru; setiap perjalanan memiliki ritmenya sendiri.

Kembali ke Barat

Dalam perjalanan pulang, kami menyempatkan diri menuju kawasan Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Kami berhenti di gerbang kawasan, menikmati kopi panas di udara sejuk pegunungan. Pemandangan indah tersaji di depan mata, namun kami tak lagi berambisi untuk mendaki hingga ke kawah demi melihat “Api Biru”. Tenaga sudah tidak sekuat dulu, dan itu tidak mengapa. Di usia ini, kami belajar menerima batas diri dengan rasa syukur.

Gerbang Taman Wisata Alam Kawah Ijen | Foto Dok.Penulis

Rute pulang kami ambil melalui Bondowoso, kota yang tenang dengan udara pegunungan yang sejuk. Kami beristirahat di sana, membeli oleh-oleh khas seperti tape dan kopi. Akhirnya, setelah ribuan kilometer dan puluhan jam perjalanan, kami tiba kembali di Serang dengan selamat.

Makna Perjalanan

Ketika roda kendaraan berhenti di halaman rumah, kami saling tersenyum. Ada rasa lega, ada juga rasa haru. Perjalanan ini bukan sekadar menelusuri jalan panjang dari Anyer ke Panarukan, tetapi juga perjalanan menelusuri usia, kenangan, dan makna hidup. Kami sadar, setiap kilometer yang kami tempuh adalah pengingat akan waktu yang berjalan, akan sahabat yang setia, dan akan Tuhan yang memberi kesempatan untuk menikmati semuanya.

Perjalanan ini mengajarkan bahwa ziarah tidak selalu menuju makam, tapi bisa juga menjadi ziarah menuju diri sendiri—mengenang masa lalu, mensyukuri masa kini, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan dengan hati yang tenang.

De-Djawatan, Banyuwangi | Foto Dok.Penulis

Alhamdulillah, kami pulang dengan hati penuh syukur dan jiwa yang lebih damai. Jalan raya yang dulu dibangun dengan kerja paksa dan penderitaan, kini menjadi jalan penghubung antarhati, antargenerasi, dan antarwaktu. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Jalan Anyer PenarukanjawaPantura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warna Daun, Jiwa Subak: ISI Bali Bawa Napas Baru untuk Jatiluwih lewat Botanical Print

Next Post

Transformasi Jejaring Jalan Bali dari Kosmologi menjadi Koridor Kapital

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

Read moreDetails

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails
Next Post
Transformasi Jejaring Jalan Bali dari Kosmologi menjadi Koridor Kapital

Transformasi Jejaring Jalan Bali dari Kosmologi menjadi Koridor Kapital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co