23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Napak Tilas Jalan Anyer–Panarukan: Ziarah Waktu di Tanah Jawa

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
October 21, 2025
in Tualang
Napak Tilas Jalan Anyer–Panarukan: Ziarah Waktu di Tanah Jawa

Napak Tilas Jalan Anyer–Panarukan: Ziarah Waktu di Tanah Jawa

BEBERAPA waktu yang lalu, saya bersama istri memulai sebuah perjalanan yang kami sebut sebagai ziarah waktu. Bukan hanya perjalanan wisata, melainkan perjalanan batin—sebuah upaya napak tilas sejarah panjang Pulau Jawa melalui jalur legendaris Jalan Raya Pos Anyer–Panarukan, karya monumental Daendels di masa kolonial. Jalur sepanjang lebih dari seribu kilometer ini pernah menjadi urat nadi perdagangan dan mobilitas di masa lalu. Kini, sebagian besar telah berubah menjadi jalur tol modern yang menghubungkan barat hingga timur Jawa.

Kami memulai perjalanan dari Kota Serang, tempat kami bermukim. Dua sahabat lama—teman masa SMP—ikut bergabung. Kami sepakat untuk tidak melakukan perjalanan di musim liburan agar lalu lintas lebih lengang. Tepat pukul 05.30 pagi, kendaraan kami melaju meninggalkan Serang.

Tidak ada target waktu, tidak ada kejaran agenda. Kami hanya ingin menikmati perjalanan, seperti orang-orang yang telah melewati banyak musim dalam hidupnya. Kami menyebutnya: perjalanan orang-orang tua yang ingin menikmati makna perjalanan itu sendiri.

Dari Nasi Jamblang ke Ziarah Wali

Sekitar pukul sembilan lewat tiga puluh menit, kami sampai di Cirebon. Di kota yang kental dengan sejarah penyebaran Islam ini, kami menikmati sarapan sederhana namun legendaris: nasi jamblang dengan lauk sambal goreng, tahu, dan cumi hitam. Sambil menyuap, kami bercanda mengenang masa lalu—tentang sekolah, keluarga, dan kehidupan yang terus berjalan tanpa terasa.

Bersama istri di Masjid Menara Kudus | Foto.Dok Penulis

Perjalanan berlanjut ke arah timur. Di wilayah Kendal, kami beristirahat untuk melaksanakan salat Duhur dan Asar dengan cara jama’. Setelah tubuh dan hati segar kembali, kami melanjutkan perjalanan menuju Demak. Di sinilah langkah kami terasa lebih khidmat.

Kami berziarah ke makam Sunan Kalijaga, seorang wali yang dikenal sebagai penyebar Islam dengan pendekatan budaya dan seni. Di pelataran makam itu, suasana sore begitu damai. Udara sejuk, aroma dupa samar-samar, dan lantunan doa pengunjung lain berpadu menciptakan suasana yang menenangkan hati.

Kami menunaikan salat Magrib dan Isya di sana, lalu meneruskan perjalanan menuju Kudus, tempat kami menginap malam itu. Penginapan sederhana, namun cukup nyaman untuk melepas lelah. Pagi harinya, kami mengunjungi Masjid Menara Kudus, simbol indah akulturasi Islam dan budaya Jawa. Menara bata merahnya seolah bercerita tentang pertemuan masa lalu—antara keyakinan dan kebijaksanaan lokal.

Bersama istri dan sahabat di Masjid Agung Demak | Foto Dok.Penulis

Setelah itu, kami berkeliling menikmati kuliner khas Kudus: soto kudus yang gurih dan jenang Kudus yang manis legit. Di sela perjalanan kuliner, kami juga berziarah ke makam Sunan Kudus. Ada rasa haru ketika berdiri di depan makam itu; seakan waktu berhenti sejenak, memberi ruang bagi setiap peziarah untuk bercermin tentang hidup dan kematian.

Menziarahi Sang Guru Bangsa

Dari Kudus, kami berbalik arah sedikit ke selatan, menuju Jombang. Kota ini kami anggap sebagai salah satu titik penting dalam perjalanan spiritual kami. Di sanalah terbaring KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)—seorang ulama besar, negarawan, sekaligus guru bangsa yang senantiasa memperjuangkan kemanusiaan dan kebinekaan.

Berziarah ke makam Gus Dur bukan sekadar ritual, tapi seperti menziarahi nilai-nilai yang pernah beliau ajarkan: kejujuran, keterbukaan, dan cinta kepada sesama. Di bawah rindangnya pepohonan di kawasan Tebuireng itu, kami berdoa dengan hati yang lapang. Mungkin di usia senja ini, kami mulai memahami bahwa perjalanan spiritual bukan hanya tentang menempuh jarak, tapi juga tentang mendekatkan diri pada makna kehidupan.

Menjelajah Alam Timur Jawa

Menjelang sore kami melanjutkan perjalanan menuju Probolinggo. Rasa lelah membuat kami memutuskan bermalam di kota itu. Probolinggo terkenal dengan mangga harum manisnya, meski sayang saat itu bukan musim panen. Kami hanya menikmati sarapan pagi sambil membeli sedikit bekal. Jalan tol kini membawa kami semakin ke timur, mendekati ujung perjalanan: Banyuwangi.

Gerbang Taman Wisata Alam Kawah Ijen | Foto Dok.Penulis

Dalam perjalanan kami sempat berhenti di Masjid Agung Situbondo untuk salat Jumat, kemudian singgah di Taman Nasional Baluran. Hamparan savana yang luas, rusa dan kerbau liar yang melintas, serta pepohonan kering yang anggun membuat kami serasa berada di Afrika. Alam Baluran mengingatkan kami akan betapa kayanya negeri ini, dan betapa sering manusia lupa mensyukurinya.

Tiba di Banyuwangi, kami mengunjungi Taman Hutan Jawatan Benculuk, tempat pepohonan trembesi tua tumbuh dengan akar-akar menjuntai seperti tirai waktu. Sore hari kami duduk di bawah naungannya, menatap sinar matahari yang menembus sela daun. Di sana, kami seperti berdamai dengan waktu. Tak perlu terburu-buru; setiap perjalanan memiliki ritmenya sendiri.

Kembali ke Barat

Dalam perjalanan pulang, kami menyempatkan diri menuju kawasan Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Kami berhenti di gerbang kawasan, menikmati kopi panas di udara sejuk pegunungan. Pemandangan indah tersaji di depan mata, namun kami tak lagi berambisi untuk mendaki hingga ke kawah demi melihat “Api Biru”. Tenaga sudah tidak sekuat dulu, dan itu tidak mengapa. Di usia ini, kami belajar menerima batas diri dengan rasa syukur.

Gerbang Taman Wisata Alam Kawah Ijen | Foto Dok.Penulis

Rute pulang kami ambil melalui Bondowoso, kota yang tenang dengan udara pegunungan yang sejuk. Kami beristirahat di sana, membeli oleh-oleh khas seperti tape dan kopi. Akhirnya, setelah ribuan kilometer dan puluhan jam perjalanan, kami tiba kembali di Serang dengan selamat.

Makna Perjalanan

Ketika roda kendaraan berhenti di halaman rumah, kami saling tersenyum. Ada rasa lega, ada juga rasa haru. Perjalanan ini bukan sekadar menelusuri jalan panjang dari Anyer ke Panarukan, tetapi juga perjalanan menelusuri usia, kenangan, dan makna hidup. Kami sadar, setiap kilometer yang kami tempuh adalah pengingat akan waktu yang berjalan, akan sahabat yang setia, dan akan Tuhan yang memberi kesempatan untuk menikmati semuanya.

Perjalanan ini mengajarkan bahwa ziarah tidak selalu menuju makam, tapi bisa juga menjadi ziarah menuju diri sendiri—mengenang masa lalu, mensyukuri masa kini, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan dengan hati yang tenang.

De-Djawatan, Banyuwangi | Foto Dok.Penulis

Alhamdulillah, kami pulang dengan hati penuh syukur dan jiwa yang lebih damai. Jalan raya yang dulu dibangun dengan kerja paksa dan penderitaan, kini menjadi jalan penghubung antarhati, antargenerasi, dan antarwaktu. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Jalan Anyer PenarukanjawaPantura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warna Daun, Jiwa Subak: ISI Bali Bawa Napas Baru untuk Jatiluwih lewat Botanical Print

Next Post

Transformasi Jejaring Jalan Bali dari Kosmologi menjadi Koridor Kapital

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails
Next Post
Transformasi Jejaring Jalan Bali dari Kosmologi menjadi Koridor Kapital

Transformasi Jejaring Jalan Bali dari Kosmologi menjadi Koridor Kapital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co