6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dia yang Kalap | Cerpen Lia Tjokro

Lia Tjokro by Lia Tjokro
October 19, 2025
in Cerpen
Dia yang Kalap | Cerpen Lia Tjokro

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

SATU tahun 365 hari, selama 364 hari ia adalah gadis biasa-biasa saja, sangat biasa bahkan. Lalu satu hari, di hari paling akhir di setiap tahun, ia menjadi tidak biasa-biasa saja. Satu hari ia berhenti menjadi orang biasa, dan menjadi orang kalap.

Tanggal 31 Desember. Hari terakhir di setiap tahun. Ia kalap dan kewajibannya hanya satu: Menjalankan satu tugas mahapenting, mahamulia yang akan membantu orang banyak.

Tugas yang mahaberat tapi lima tahun terakhir sudah ia laksanakan dengan baik.

Melaksanakan dengan baik bukan berarti ia berhenti menangis sebelum ia harus bertugas, seperti malam itu.

Ia menganggukkan kepala berkali-kali, dan dengan setiap anggukan, air matanya deras mengalir. Tangannya gemetar mengusap hidungnya yang penuh ingus. Berkali-kali. Tapi air matanya begitu bandel dan terus mengalir.

Pertanyaan yang terus berkeliaran di benaknya adalah: Apakah aku setan dengan melakukan perbuatan ini, walau perbuatan ini akan membantu orang banyak? Perbuatan ini akan mencegah kematian orang-orang seperti kematian … Ia tidak sanggup melanjutkan kalimat di benaknya itu, matanya kini lurus terpaku pada sebuah foto berpigura hitam polos di atas meja tulisnya. Foto seorang wanita paruh baya dengan senyum yang begitu benderang. Demi dirimu. Semua demi dirimu, Bunda, bisiknya dalam hati dengan tatapan tak putus dari foto itu.

Bukan, ia bukan setan. Sama sekali bukan.

Ia hanya manusia biasa yang bisa marah, luar biasa marah, kemarahan yang berhasil menggetarkan gerbang neraka dan neraka mengirimkan seseorang untuknya. Dia.

Dia yang telah membantu merencanakan semua perbuatannya ini. Dia yang hanya bisa ia dengar suaranya, berbisik di telinganya, bisikan yang mulai ia dengar hari itu—31 Desember 6 tahun lalu—ketika ia hancur lebur di pemakaman Bunda. Dia membisikkan kata-kata penghiburan di telinganya.

Suara dia begitu merdu, mirip suaranya sendiri kalau lagi tidak menangis.

“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” Begitu tanya dia padanya ketika ia berlutut di hadapan makam Bunda yang masih merah.

Ia menjawab dengan segenap kesedihan dan kemarahan.“Bundaku dibegal. Tasnya dirampas dan dia ditikam klewang. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku marah, sangat marah.”

“Sudah ketahuan pelakunya?”

“Belum. Tidak ada saksi mata. Kecil kemungkinan akan tertangkap. Bunda meninggal sia-sia.”

Sunyi. Lalu dia berkata pelan tapi pasti, “Kematian Bunda tidak akan sia-sia.”

Ia kaget mendengar kepastian di nada suara itu, lalu bertanya pada dia,

”Apa maksudmu?”

Dia terdiam, lalu menjawab dalam bisikan serak,“Maukah kau kalau kuberi sebuah jalan untuk pembalasan dendam? Memberi keadilan untuk Bunda … dengan caraku?”

Ia membeku sejenak mendengar bisikan dia. Hanya dua kata yang ia proses: Keadilan. Pembalasan.

Mulutnya menganga sejenak, segenap memorinya mengenai Bunda berkelebatan di benaknya, dan ia tidak ingat bagaimana ia mencapai keputusan itu, tapi ia mengangguk.

Anggukan yang membawanya menghabiskan tahun setelah kematian Bunda untuk menyiapkan pembalasannya, dan pembalasan dendam pertamanya adalah pada 31 Desember 5 tahun lalu, dan sejak itu ia belum berhenti. Sementara dia telah menjelma menjadi sang dia karena semua kata-kata dan perintah dia sangat sulit ia tolak, dia menjadi semacam majikan baginya. Ia melayani sang dia.

“Bunda …” Ia berbisik sambil jari-jemarinya gemetar mengelus permukaan bingkai foto itu dengan sangat hati-hati. “Aku sayang Bunda, ini semua demi Bunda.”  

Ia menghela napas, dan tangisnya mendesak-desak keluar lagi. “Aku sudah jadi dokter, Bunda. Aku menolong orang setiap hari, menyelamatkan nyawa mereka. Kecuali hari ini, di hari terakhir tahun ini. Aku dan dia akan membalas kematianmu. Aku harap Bunda mau mengerti dan mengampuniku.”

Ia menghela napas, menghapus air matanya sekali lagi, dan dengan jari-jemari yang masih gemetar meraih sebuah peta dari laci mejanya.

Peta itu lusuh karena sudah ia buka tutup berkali-kali. Dengan satu hentakan tangan, ia membuka peta itu di atas meja tulisnya dan matanya mulai mengawasi isinya. Peta itu adalah peta kotanya yang sudah penuh dengan berbagai coretan tangannya: tanggal, angka-angka, dan di antara sekian banyak angka-angka itu, ada beberapa yang ia beri silang merah dan catatan kecil di samping silang itu: SELESAI.

Hujan di luar turun dengan deras menghantam atap seng kamar kosnya, bising tapi ia tidak terganggu sama sekali. Ia duduk tegak, konsentrasinya ia fokuskan penuh ke peta lusuh di atas meja. Sesekali ia menelengkan kepala ketika ia mengamati angka-angka yang ada, matanya tak berkedip menatap semua angka itu, seakan sebuah keputusan besar tengah bergantung pada ketelitiannya menganalisa angka-angka itu.

Jari telunjuk kanannya bergerak pelan menyusuri nama beberapa kelurahan, bergerak ke sana kemari sebelum akhirnya jari itu berhenti di satu nama. “Giliranmu,” ia berbisik sambil mengambil spidol merah dan melingkari satu nama kelurahan dengan angka tertinggi. “Tahun lalu kamu nomor dua … sekarang lihatlah, paling tinggi!” Ia nanar sambil mengetuk-ngetuk nama kelurahan yang baru ia lingkari.

Lalu ia tercenung selama beberapa menit, tatapannya kosong, dan jari-jemarinya mencengkeram tempurung lututnya. Ia hanya duduk tegap kaku dalam keheningan. Mengatur napas. Menghapus airmata. Menatap foto Bunda. Mencari tanda pengampunan.

Setelah beberapa menit duduk diam, ia bisa merasakan kehadiran sang dia yang selalu diiringi rasa gelap dan dingin di sanubarinya.Bagaikan robot, ia berdiri, menuju lemari pakaiannya, dan membuka lemari tua itu. Bau lumut dan debu menyeruak menyerbu indera penciuman. Tangannya meraih satu set pakaian yang ia letakkan di tumpukan paling bawah.

Pakaian yang berupa satu set kebaya encim berbordir tempel merah marun keemasan. Warisan Bunda untuknya. Kebaya encim yang sudah menjadi milik Bunda sejak masa gadisnya, dan setelah Bunda pergi selama-lamanya, kebaya itu menjadi harta paling berharganya.

Dengan hati-hati, ia mengenakan kebaya itu. Samar-samar ia masih bisa mencium bau parfum Bunda di sela-sela serat kain kebaya itu. Ia berdoa semoga tahun depan bau itu masih ada, bau yang menguatkannya dalam menjalankan tugas ini.

Ia sudah lama berhenti menangis ketika ia mematut diri di hadapan cermin. Tangannya mulai lincah menyisir rambutnya yang hitam legam, panjang sepinggangnya dan membuat satu sanggulan kecil. Lalu ia memulas bibirnya dengan lipstik merah darah, menambahkan celak warna hitam di matanya, dan membedaki wajahnya. Terakhir, ia meraih sarung tangan sutra berwarna putih dari dalam laci bajunya, sarung tangan yang juga milik Bunda. Ia mengenakan sarung tangan itu dengan hati-hati.

Setelah puas dengan penampilannya, ia berdiri tegap di tengah ruangan. Sang dia sudah menyiapkan segalanya, di situ, di bawah ranjangnya, di dalam sebuah kotak karton bekas mi instan.

Ia berlutut, mengambil kotak itu, dan meraih suatu benda dari dalamnya.

Ia tersenyum melihat benda yang sudah disiapkan sang dia: Pelan-pelan ia membuka bungkus kertas benda itu, dan melihat sebuah tas kulit buaya berwarna merah darah, mengkilap mulus, berukuran sedang, dengan gagang rantai emas, dan logo tas juga dari bahan emas mengkilap. Tas itu terlihat eksklusif, mahal, mewah.

“Bagus …” Ia berbisik dengan mata berbinar ketika ia meraih tas itu dengan amat hati-hati. Ritsleting tas itu tertutup rapat, dan ia tahu, ia tidak boleh membukanya.

Hatinya cukup teguh sekarang untuk menjalankan tugasnya. Ia harus pergi sekarang. Rencana pembalasan dendam dirinya dan sang dia hanya akan berhasil kalau waktunya pas dan ia tidak terlambat, tidak sedetik pun.

#

Hujan telah berhenti, menyisakan jalanan yang basah berkilap. Ia berjalan di gang sepi itu, gang di kelurahan yang menjadi tempatnya menjalankan tugas malam ini berdasarkan peta yang ia periksa tadi. Kelurahan yang berdasarkan risetnya adalah kelurahan dengan angka begal tertinggi tahun ini.

Gang itu sepi karena semua keramaian terpusat di sebuah lapangan sepakbola tak jauh dari situ, gegap gempita panggung musik live dengan petasan bertalu-talu terdengar.

Tas kulit buayanya ia genggam erat di tangannya yang bersarung tangan sutra, dan ia terus berjalan menyusuri gang itu.

Lamat-lamat telinganya menangkap deru motor dari arah belakangnya. Deru motor yang semakin mendekat ke arahnya.

Ia tersenyum. Setelah berkali-kali melakukan tugas ini, firasatnya sudah begitu terlatih. “Selalu ada. Selalu ada manusia jahanam yang merampas apa yang bukan menjadi haknya—” ia bergumam.“Selalu ada.”

Deru motor itu semakin dekat.

Jantungnya berdegup kencang.

Deru motor itu tepat di belakangnya.

Ia mulai menghitung dalam hatinya—

Satu …

Dua …

Tiga!

Tas di genggaman tangannya ditarik—mungkin istilah lebih tepat adalah disambar keras.

Ia mencoba untuk tidak tersenyum, dan berpura-pura mencoba mempertahankan tas itu, sebelum merelakannya dibegal seseorang di atas sepeda motor yang kini dipacu kencang, menghilang di ujung gang.

Langkahnya terhenti. Matanya awas mengawasi sekeliling. “Tidak ada saksi mata. Bagus,” ia berkata pelan sambil menatap tanpa kedip ujung gang tempat pembegalnya melarikan diri.

“Selamat Akhir Tahun,” ia berucap sinis. “Karena tidak akan ada tahun baru untukmu.”

Ia berbalik dan mulai berjalan menjauh. Dalam hatinya ia mulai berdendang nada-nada pengantar tidur yang dulu sering dinyanyikan Bunda saat ia masih kecil, dan ia mulai berhitung—

Satu, dua, tiga, empat …                   

Tepat di hitungan kelima, gelegar ledakan terdengar di kejauhan, dan ia tersenyum. Satu lagi pembalasan dendam telah ia tunaikan.

#

Malam itu, di antara suara riuh terompet tahun baru dan bunyi petasan, ia berbaring telentang di ranjang, dalam balutan kebaya encim warisan Bunda dan dekapan keheningan pikirannya, menikmati sisa-sisa manisnya sebuah pembalasan dendam.

Mungkin di antara semua begal yang sudah ia habisi dengan bantuan sang dia, ada pembegal yang sudah mencabut nyawa Bunda. Mungkin tidak. Mungkin orang itu akan ia habisi di tahun-tahun yang akan datang karena ia tidak akan berhenti. Selama ada orang yang merampas apa yang bukan menjadi haknya, ia akan ada untuk menegakkan keadilan dengan caranya. Dengan bantuan sang dia.

Ia kalap. Tapi biarlah, ia tidak apa-apa. Selamat Tahun Baru, ia berucap lirih pada dirinya sendiri. Ia punya satu tahun untuk menyiapkan pembalasan dendam selanjutnya.

Matanya melirik jam di dinding. Hampir jam empat subuh.

Tugas jaganya di UGD RS akan mulai dalam satu jam. Ia tidak boleh terlambat. Pasien-pasiennya menanti. Ia sudah mencabut nyawa malam ini, ia juga akan menebusnya pada hari yang sama.

Ia bangkit dan berjalan sedikit terseok-seok menuju cermin di ujung ruangannya.

Ia menatap wajah di cermin itu. Wajahnya dan wajah sang dia adalah sama persis. Suaranya dan suara sang dia juga adalah sama persis. Tapi mereka tetap berbeda.

Ia adalah dokter, sang dia adalah pencabut nyawa, makhluk yang merupakan pengejawantahan kemarahan dan dukanya yang begitu dalam, makhluk yang lahir dari kegelapan neraka hatinya.

Dengan punggung tangannya, ia menghapus lipstik merah di bibirnya dengan beberapa gosokan keras. Ia menghela napas, menyeringai ke wajah belepotan lipstik  dan air mata di cermin, dan berbisik,”Dia adalah aku. Namanya adalah namaku. Tubuhnya adalah tubuhku. Dia dan aku. Dua dalam satu.”

Ia memejamkan matanya erat-erat.

Satu tetes air mata jatuh dari sudut matanya, lalu disusul tetes-tetes berikutnya berkejaran di pipinya yang cemang-cemong oleh lipstik dan bedak. Tetes-tetes air mata itu, hangat dan berkilau, bagaikan banjir bandang yang menyapubersih semua bercak noda sang dia dari dalam sanubarinya. Untuk sesaat itu, untuk sementara, sang dia menjadi sunyi. [T]

Penulis: Lia Tjokro
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Mujamin Jassin | Aku Sebilah Pelor

Next Post

TIMOTHY ADALAH SAYA

Lia Tjokro

Lia Tjokro

Lahir di Palembang dan menghabiskan masa kanak-kanak sampai remajanya di sana. Ia pindah ke Singapura pada tahun 1998 dan setelah menyelesaikan SMA-nya di sana, ia pindah ke Amerika. Di Amerika ia menyelesaikan pendidikan S1, S2, dan S3 di bidang psikologi kognitif/neurosains kognitif. Setelah meraih gelar Ph.D-nya, ia kembali ke Singapura dan bekerja selama enam tahun sebagai dosen di National University of Singapore (NUS). Sekarang ia berdomisili di Belanda bersama suami, anak, dan anabulnya. Di Belanda, ia mulai menemukan kembali kecintaannya pada kegiatan menulis. Ia menulis novel, novela, cerpen, dan puisi dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Karya novel cetak debutnya berjudul Sang Pemanah Matahari (Tisapinkluv, 2023). Cerpen dan puisinya sudah terbit di jurnal-jurnal sastra internasional seperti Porch Litmag, Kitaab, The Citron Review, Mekong Review, Harrow House Journal, Ricepaper Magazine, ScribesMICRO, dan The Writing Disorder. Ia bisa ditemui di sosmednya (IG: februalia1).

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIMOTHY ADALAH SAYA

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co