11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jejak Sakral dan Keteguhan: Kisah Pemindahan Pura Paibon Buluh Gunggung, Desa Sibetan, dalam Menjaga Keabadian Warisan Leluhur

I Komang Sucita by I Komang Sucita
October 6, 2025
in Khas
Jejak Sakral dan Keteguhan: Kisah Pemindahan Pura Paibon Buluh Gunggung, Desa Sibetan, dalam Menjaga Keabadian Warisan Leluhur

Karya Pura Buluh Gunggung 17 Oktober 2024 | Sumber: Arsip Dadia, tahun 2024

PURA Paibon Buluh Gunggung di Banjar Dinas Dukuh, Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, memiliki sejarah berdiri yang sarat dengan tantangan alam dan kekuatan masyarakat setempat dalam menjaga kelangsungan pura suci ini.

Pura ini sebelumnya bertempat di Banjar Dinas Pengawan, namun perjalanan sejarahnya mengalami perubahan besar yang diwarnai oleh tantangan alam sekaligus semangat kebersamaan masyarakat dalam melestarikan tempat suci tersebut. Riwayat berdirinya pura ini mencerminkan bagaimana adat, lingkungan, dan kepedulian sosial saling terkait dalam menjaga eksistensi tradisi suci di tengah dinamika perubahan zaman.

Pada akhir tahun 2003 hingga awal tahun 2004, wilayah sekitar pura mengalami kondisi cuaca yang sangat ekstrem, dengan curah hujan tinggi yang turun tanpa henti selama kurang lebih tiga bulan, mulai dari November 2003 hingga Januari 2004. Situasi ini menjadi sebuah ujian berat karena posisi pura yang terletak di sebuah lereng dengan kemiringan mencapai 45 derajat membuatnya rentan terhadap bencana alam.

Pada tanggal 7 Januari 2004, bencana tanah longsor terjadi, yang menyebabkan kerusakan signifikan pada bangunan pura. Longsor ini menimbun bangunan Piayasan, dua pelinggih apit lawang, dan bahkan area jabe pisan di depan bale gong yang merupakan bagian penting dari pura. Kerusakan ini membahayakan kelangsungan fungsi dan sakralitas pura yang selama ini menjadi pusat ibadah dan aktivitas spiritual masyarakat setempat.

Spiritualitas Gotong Royong: Pilar Pelestarian Pura dan Warisan Lokal

Proses pemindahan pura ini tidaklah sederhana karena sebagian krama dadia menolak dan Sebagian krama yang merupakan generasi muda di zamannya menginginkan untuk dipindahkan ke tempat yang lebih aman.

Melalui perundingan panjang belum menemukan titik yang pas, akhirnya disepakatilah untuk membentuk panitia pembangunan pura. Pada saat itu Alm. Jro Mangku Dartha sebagai ketua Pembangunan Pura. Beliau meminta kepada Alm.Jro Mangku Karti sebuah lahan di wilayah banjar adat dukuh tetapi pada saat itu masih mendapat penolakan.

Alternatif yang pernah disampaikan adalah menggunakan Lahan di kalanganyar tanah Alm. Jro Mangku Dartha tetapi pertimbangannya karena jauh dari jalan raya.

Kemudian Para Penglingsir Dadia jaman itu. Bapak Sudiadnyana , Alm.Jro Mangku Dartha, dan Jro Mangku Badra meminta tukar guling lahan kepada Alm.Jro Mangku Karti agar diberikan lahan yang ada di dukuh.

Pembicaraan a lot dan masih menemui jalan buntuakhirnya meminta mediasi kepada tokoh masyarakat yakni Bapak I Wayan Geredeg. Akhirnya Alm. Jro Mangku Karti memberikan lahan sebatas jeroan pura. Seiring waktu berjalan dan negosiasi kekeluargaan akhirnya lahan pura di perluas sampai jaba pisan. Akhirnya lokasi di Banjar Adat Dukuh, dengan letak greografis yang strategis dipilihlah sebagai tempat baru guna mendirikan kembali Pura Paibon Buluh Gunggung.

Pembangunan pura baru ini menjadi wadah solidaritas dan gotong royong seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, krama Dadia, hingga dukungan dari aparat pemerintah daerah. Bapak Wayan Geregeg selaku tokoh masyarakat memberikan bantuan alat berat, batu, pasir, dan koral sebagai bahan pengurugan tanah agar tanah yang dipilih benar-benar kokoh dan stabil untuk pondasi pura.

Dalam proses pembangunan dan mengingsir semua elemen dadia bergerak secara Bersama sama walau banyak kendala dalam internal seperti ketidakcocokan pendapat bahkan sampai pertengkaran namun semua masih dalam misi positif membangun pura untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Proses pembangunan berlangsung intens selama hampir satu tahun.

Pada Oktober 2004, dilaksanakan upacara nuntun pedagingan sebagai simbol pengantar roh dan sarana penghubung dari pura lama ke pura baru. Upacara ini menandai secara sakral perpindahan dan pembaruan hidup pura yang harus dilindungi dengan penuh rasa hormat dan tanggung jawab.

Sakralitas Ritual: Esensi Pemindahan dan Penguatan Pura

Pembangunan dan penyempurnaan pura terus berlanjut hingga Oktober 2005, ketika diadakan upacara pengresiganaan sebagai penanda resmi berdirinya pura di lokasi baru tersebut. Puncak perayaan spiritual ini berlangsung tanggal 17 Oktober 2024 dengan rangkaian upacara melaspas, ngresigana, nagingin, dan ngenteg linggih.

Seluruh rangkaian ritual ini dipimpin oleh Pedanda serta Ida Resi berpengalaman dan dihormati, antara lain Ida Pedanda Dwija Siwa dari Sidanta Griya Kanginan, Ida Pedanda Istri Karang dari Griya Kanginan, Ida Pedanda Buda dari Demung Griya Budakeling, Kehadiran mereka memastikan proses ritual berjalan selaras dengan adat dan ajaran suci, menjaga makna spiritual pura agar tetap murni dan suci.

Nyenuk, salah satu prosesi dalam rangkaian Karya Pura Buluh Gunggung | Sumber: Arsip Dadia, tahun 2024

Karya Pura Buluh Gunggung 17 Oktober 2024 | Sumber: Arsip Dadia, tahun 2024

Menurut penuturan Jro Mangku Subadra, pemangku Pura Paibon Buluh Gunggung, berbagai proses pemindahan dan pembangunan pura ini merupakan cermin nyata kegigihan dan kesetiaan masyarakat terhadap warisan budaya dan spiritual leluhur.

Beliau menyatakan, “Proses ini bukan hanya soal fisik pemindahan bangunan, tetapi juga melibatkan jiwa dan hati seluruh masyarakat yang ingin menjaga supaya pura tetap menjadi pusat penghambaan yang sakral dan dapat diakses dengan mudah oleh umat, sekaligus aman dari ancaman bencana alam” (Wawancara, 03 Oktober 2025).

Simbiosis Harmonis: Keterikatan Manusia dan Alam dalam Tradisi Bali

Sejarah Pura Paibon Buluh Gunggung ini tidak saja menjadi kisah tentang sebuah bangunan suci yang berpindah tempat karena faktor alam, tetapi juga menunjukkan bagaimana sinergi antara masyarakat, tokoh adat, dan pemerintah menjadi kunci utama dalam menjaga kesinambungan tradisi dan budaya.

Pura ini kini berdiri kokoh di Banjar Dukuh, memegang peran spiritual yang amat penting bagi masyarakat Karangasem, sekaligus menjadi simbol kebersamaan menghadapi tantangan alam dan waktu demi pelestarian warisan leluhur yang berharga.

Dengan berdirinya kembali pura di lokasi baru yang lebih aman dan mudah diakses, krama Dadia dapat melaksanakan ibadah dengan tenang, sekaligus menjaga hubungan spiritual yang harmonis dengan alam dan leluhur. Kisah ini mengingatkan kita akan betapa pentingnya menjaga nilai-nilai kebersamaan, tanggung jawab sosial, dan penghormatan pada alam dalam konteks pelestarian budaya dan spiritualitas Bali yang kaya dan unik. [T]

Penulis: I Komang Sucita
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa SibetanhinduHindu BalikarangasemPura Paibon Buluh Gunggung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Vegetarian: Melihat Kaka Slank, Teringat George Harrison

Next Post

Zarra Apsara Keluar dari Zona Nyaman Lewat “Haunted House Party”

I Komang Sucita

I Komang Sucita

Akrab disapa rompis, kaula muda kelahiran 12 February 2002, Sibetan, Karangasem, Bali. Seseorang yang menuangkan kemanusiawiannya dengan melukis, serta menggugat dengan menulis dan menganyam puisi.

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Zarra Apsara Keluar dari Zona Nyaman Lewat “Haunted House Party”

Zarra Apsara Keluar dari Zona Nyaman Lewat “Haunted House Party”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co