1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jejak Sakral dan Keteguhan: Kisah Pemindahan Pura Paibon Buluh Gunggung, Desa Sibetan, dalam Menjaga Keabadian Warisan Leluhur

I Komang Sucita by I Komang Sucita
October 6, 2025
in Khas
Jejak Sakral dan Keteguhan: Kisah Pemindahan Pura Paibon Buluh Gunggung, Desa Sibetan, dalam Menjaga Keabadian Warisan Leluhur

Karya Pura Buluh Gunggung 17 Oktober 2024 | Sumber: Arsip Dadia, tahun 2024

PURA Paibon Buluh Gunggung di Banjar Dinas Dukuh, Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, memiliki sejarah berdiri yang sarat dengan tantangan alam dan kekuatan masyarakat setempat dalam menjaga kelangsungan pura suci ini.

Pura ini sebelumnya bertempat di Banjar Dinas Pengawan, namun perjalanan sejarahnya mengalami perubahan besar yang diwarnai oleh tantangan alam sekaligus semangat kebersamaan masyarakat dalam melestarikan tempat suci tersebut. Riwayat berdirinya pura ini mencerminkan bagaimana adat, lingkungan, dan kepedulian sosial saling terkait dalam menjaga eksistensi tradisi suci di tengah dinamika perubahan zaman.

Pada akhir tahun 2003 hingga awal tahun 2004, wilayah sekitar pura mengalami kondisi cuaca yang sangat ekstrem, dengan curah hujan tinggi yang turun tanpa henti selama kurang lebih tiga bulan, mulai dari November 2003 hingga Januari 2004. Situasi ini menjadi sebuah ujian berat karena posisi pura yang terletak di sebuah lereng dengan kemiringan mencapai 45 derajat membuatnya rentan terhadap bencana alam.

Pada tanggal 7 Januari 2004, bencana tanah longsor terjadi, yang menyebabkan kerusakan signifikan pada bangunan pura. Longsor ini menimbun bangunan Piayasan, dua pelinggih apit lawang, dan bahkan area jabe pisan di depan bale gong yang merupakan bagian penting dari pura. Kerusakan ini membahayakan kelangsungan fungsi dan sakralitas pura yang selama ini menjadi pusat ibadah dan aktivitas spiritual masyarakat setempat.

Spiritualitas Gotong Royong: Pilar Pelestarian Pura dan Warisan Lokal

Proses pemindahan pura ini tidaklah sederhana karena sebagian krama dadia menolak dan Sebagian krama yang merupakan generasi muda di zamannya menginginkan untuk dipindahkan ke tempat yang lebih aman.

Melalui perundingan panjang belum menemukan titik yang pas, akhirnya disepakatilah untuk membentuk panitia pembangunan pura. Pada saat itu Alm. Jro Mangku Dartha sebagai ketua Pembangunan Pura. Beliau meminta kepada Alm.Jro Mangku Karti sebuah lahan di wilayah banjar adat dukuh tetapi pada saat itu masih mendapat penolakan.

Alternatif yang pernah disampaikan adalah menggunakan Lahan di kalanganyar tanah Alm. Jro Mangku Dartha tetapi pertimbangannya karena jauh dari jalan raya.

Kemudian Para Penglingsir Dadia jaman itu. Bapak Sudiadnyana , Alm.Jro Mangku Dartha, dan Jro Mangku Badra meminta tukar guling lahan kepada Alm.Jro Mangku Karti agar diberikan lahan yang ada di dukuh.

Pembicaraan a lot dan masih menemui jalan buntuakhirnya meminta mediasi kepada tokoh masyarakat yakni Bapak I Wayan Geredeg. Akhirnya Alm. Jro Mangku Karti memberikan lahan sebatas jeroan pura. Seiring waktu berjalan dan negosiasi kekeluargaan akhirnya lahan pura di perluas sampai jaba pisan. Akhirnya lokasi di Banjar Adat Dukuh, dengan letak greografis yang strategis dipilihlah sebagai tempat baru guna mendirikan kembali Pura Paibon Buluh Gunggung.

Pembangunan pura baru ini menjadi wadah solidaritas dan gotong royong seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, krama Dadia, hingga dukungan dari aparat pemerintah daerah. Bapak Wayan Geregeg selaku tokoh masyarakat memberikan bantuan alat berat, batu, pasir, dan koral sebagai bahan pengurugan tanah agar tanah yang dipilih benar-benar kokoh dan stabil untuk pondasi pura.

Dalam proses pembangunan dan mengingsir semua elemen dadia bergerak secara Bersama sama walau banyak kendala dalam internal seperti ketidakcocokan pendapat bahkan sampai pertengkaran namun semua masih dalam misi positif membangun pura untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Proses pembangunan berlangsung intens selama hampir satu tahun.

Pada Oktober 2004, dilaksanakan upacara nuntun pedagingan sebagai simbol pengantar roh dan sarana penghubung dari pura lama ke pura baru. Upacara ini menandai secara sakral perpindahan dan pembaruan hidup pura yang harus dilindungi dengan penuh rasa hormat dan tanggung jawab.

Sakralitas Ritual: Esensi Pemindahan dan Penguatan Pura

Pembangunan dan penyempurnaan pura terus berlanjut hingga Oktober 2005, ketika diadakan upacara pengresiganaan sebagai penanda resmi berdirinya pura di lokasi baru tersebut. Puncak perayaan spiritual ini berlangsung tanggal 17 Oktober 2024 dengan rangkaian upacara melaspas, ngresigana, nagingin, dan ngenteg linggih.

Seluruh rangkaian ritual ini dipimpin oleh Pedanda serta Ida Resi berpengalaman dan dihormati, antara lain Ida Pedanda Dwija Siwa dari Sidanta Griya Kanginan, Ida Pedanda Istri Karang dari Griya Kanginan, Ida Pedanda Buda dari Demung Griya Budakeling, Kehadiran mereka memastikan proses ritual berjalan selaras dengan adat dan ajaran suci, menjaga makna spiritual pura agar tetap murni dan suci.

Nyenuk, salah satu prosesi dalam rangkaian Karya Pura Buluh Gunggung | Sumber: Arsip Dadia, tahun 2024

Karya Pura Buluh Gunggung 17 Oktober 2024 | Sumber: Arsip Dadia, tahun 2024

Menurut penuturan Jro Mangku Subadra, pemangku Pura Paibon Buluh Gunggung, berbagai proses pemindahan dan pembangunan pura ini merupakan cermin nyata kegigihan dan kesetiaan masyarakat terhadap warisan budaya dan spiritual leluhur.

Beliau menyatakan, “Proses ini bukan hanya soal fisik pemindahan bangunan, tetapi juga melibatkan jiwa dan hati seluruh masyarakat yang ingin menjaga supaya pura tetap menjadi pusat penghambaan yang sakral dan dapat diakses dengan mudah oleh umat, sekaligus aman dari ancaman bencana alam” (Wawancara, 03 Oktober 2025).

Simbiosis Harmonis: Keterikatan Manusia dan Alam dalam Tradisi Bali

Sejarah Pura Paibon Buluh Gunggung ini tidak saja menjadi kisah tentang sebuah bangunan suci yang berpindah tempat karena faktor alam, tetapi juga menunjukkan bagaimana sinergi antara masyarakat, tokoh adat, dan pemerintah menjadi kunci utama dalam menjaga kesinambungan tradisi dan budaya.

Pura ini kini berdiri kokoh di Banjar Dukuh, memegang peran spiritual yang amat penting bagi masyarakat Karangasem, sekaligus menjadi simbol kebersamaan menghadapi tantangan alam dan waktu demi pelestarian warisan leluhur yang berharga.

Dengan berdirinya kembali pura di lokasi baru yang lebih aman dan mudah diakses, krama Dadia dapat melaksanakan ibadah dengan tenang, sekaligus menjaga hubungan spiritual yang harmonis dengan alam dan leluhur. Kisah ini mengingatkan kita akan betapa pentingnya menjaga nilai-nilai kebersamaan, tanggung jawab sosial, dan penghormatan pada alam dalam konteks pelestarian budaya dan spiritualitas Bali yang kaya dan unik. [T]

Penulis: I Komang Sucita
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa SibetanhinduHindu BalikarangasemPura Paibon Buluh Gunggung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Vegetarian: Melihat Kaka Slank, Teringat George Harrison

Next Post

Zarra Apsara Keluar dari Zona Nyaman Lewat “Haunted House Party”

I Komang Sucita

I Komang Sucita

Akrab disapa rompis, kaula muda kelahiran 12 February 2002, Sibetan, Karangasem, Bali. Seseorang yang menuangkan kemanusiawiannya dengan melukis, serta menggugat dengan menulis dan menganyam puisi.

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Zarra Apsara Keluar dari Zona Nyaman Lewat “Haunted House Party”

Zarra Apsara Keluar dari Zona Nyaman Lewat “Haunted House Party”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co