27 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jejak Sakral dan Keteguhan: Kisah Pemindahan Pura Paibon Buluh Gunggung, Desa Sibetan, dalam Menjaga Keabadian Warisan Leluhur

I Komang Sucita by I Komang Sucita
October 6, 2025
in Khas
Jejak Sakral dan Keteguhan: Kisah Pemindahan Pura Paibon Buluh Gunggung, Desa Sibetan, dalam Menjaga Keabadian Warisan Leluhur

Karya Pura Buluh Gunggung 17 Oktober 2024 | Sumber: Arsip Dadia, tahun 2024

PURA Paibon Buluh Gunggung di Banjar Dinas Dukuh, Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, memiliki sejarah berdiri yang sarat dengan tantangan alam dan kekuatan masyarakat setempat dalam menjaga kelangsungan pura suci ini.

Pura ini sebelumnya bertempat di Banjar Dinas Pengawan, namun perjalanan sejarahnya mengalami perubahan besar yang diwarnai oleh tantangan alam sekaligus semangat kebersamaan masyarakat dalam melestarikan tempat suci tersebut. Riwayat berdirinya pura ini mencerminkan bagaimana adat, lingkungan, dan kepedulian sosial saling terkait dalam menjaga eksistensi tradisi suci di tengah dinamika perubahan zaman.

Pada akhir tahun 2003 hingga awal tahun 2004, wilayah sekitar pura mengalami kondisi cuaca yang sangat ekstrem, dengan curah hujan tinggi yang turun tanpa henti selama kurang lebih tiga bulan, mulai dari November 2003 hingga Januari 2004. Situasi ini menjadi sebuah ujian berat karena posisi pura yang terletak di sebuah lereng dengan kemiringan mencapai 45 derajat membuatnya rentan terhadap bencana alam.

Pada tanggal 7 Januari 2004, bencana tanah longsor terjadi, yang menyebabkan kerusakan signifikan pada bangunan pura. Longsor ini menimbun bangunan Piayasan, dua pelinggih apit lawang, dan bahkan area jabe pisan di depan bale gong yang merupakan bagian penting dari pura. Kerusakan ini membahayakan kelangsungan fungsi dan sakralitas pura yang selama ini menjadi pusat ibadah dan aktivitas spiritual masyarakat setempat.

Spiritualitas Gotong Royong: Pilar Pelestarian Pura dan Warisan Lokal

Proses pemindahan pura ini tidaklah sederhana karena sebagian krama dadia menolak dan Sebagian krama yang merupakan generasi muda di zamannya menginginkan untuk dipindahkan ke tempat yang lebih aman.

Melalui perundingan panjang belum menemukan titik yang pas, akhirnya disepakatilah untuk membentuk panitia pembangunan pura. Pada saat itu Alm. Jro Mangku Dartha sebagai ketua Pembangunan Pura. Beliau meminta kepada Alm.Jro Mangku Karti sebuah lahan di wilayah banjar adat dukuh tetapi pada saat itu masih mendapat penolakan.

Alternatif yang pernah disampaikan adalah menggunakan Lahan di kalanganyar tanah Alm. Jro Mangku Dartha tetapi pertimbangannya karena jauh dari jalan raya.

Kemudian Para Penglingsir Dadia jaman itu. Bapak Sudiadnyana , Alm.Jro Mangku Dartha, dan Jro Mangku Badra meminta tukar guling lahan kepada Alm.Jro Mangku Karti agar diberikan lahan yang ada di dukuh.

Pembicaraan a lot dan masih menemui jalan buntuakhirnya meminta mediasi kepada tokoh masyarakat yakni Bapak I Wayan Geredeg. Akhirnya Alm. Jro Mangku Karti memberikan lahan sebatas jeroan pura. Seiring waktu berjalan dan negosiasi kekeluargaan akhirnya lahan pura di perluas sampai jaba pisan. Akhirnya lokasi di Banjar Adat Dukuh, dengan letak greografis yang strategis dipilihlah sebagai tempat baru guna mendirikan kembali Pura Paibon Buluh Gunggung.

Pembangunan pura baru ini menjadi wadah solidaritas dan gotong royong seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, krama Dadia, hingga dukungan dari aparat pemerintah daerah. Bapak Wayan Geregeg selaku tokoh masyarakat memberikan bantuan alat berat, batu, pasir, dan koral sebagai bahan pengurugan tanah agar tanah yang dipilih benar-benar kokoh dan stabil untuk pondasi pura.

Dalam proses pembangunan dan mengingsir semua elemen dadia bergerak secara Bersama sama walau banyak kendala dalam internal seperti ketidakcocokan pendapat bahkan sampai pertengkaran namun semua masih dalam misi positif membangun pura untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Proses pembangunan berlangsung intens selama hampir satu tahun.

Pada Oktober 2004, dilaksanakan upacara nuntun pedagingan sebagai simbol pengantar roh dan sarana penghubung dari pura lama ke pura baru. Upacara ini menandai secara sakral perpindahan dan pembaruan hidup pura yang harus dilindungi dengan penuh rasa hormat dan tanggung jawab.

Sakralitas Ritual: Esensi Pemindahan dan Penguatan Pura

Pembangunan dan penyempurnaan pura terus berlanjut hingga Oktober 2005, ketika diadakan upacara pengresiganaan sebagai penanda resmi berdirinya pura di lokasi baru tersebut. Puncak perayaan spiritual ini berlangsung tanggal 17 Oktober 2024 dengan rangkaian upacara melaspas, ngresigana, nagingin, dan ngenteg linggih.

Seluruh rangkaian ritual ini dipimpin oleh Pedanda serta Ida Resi berpengalaman dan dihormati, antara lain Ida Pedanda Dwija Siwa dari Sidanta Griya Kanginan, Ida Pedanda Istri Karang dari Griya Kanginan, Ida Pedanda Buda dari Demung Griya Budakeling, Kehadiran mereka memastikan proses ritual berjalan selaras dengan adat dan ajaran suci, menjaga makna spiritual pura agar tetap murni dan suci.

Nyenuk, salah satu prosesi dalam rangkaian Karya Pura Buluh Gunggung | Sumber: Arsip Dadia, tahun 2024

Karya Pura Buluh Gunggung 17 Oktober 2024 | Sumber: Arsip Dadia, tahun 2024

Menurut penuturan Jro Mangku Subadra, pemangku Pura Paibon Buluh Gunggung, berbagai proses pemindahan dan pembangunan pura ini merupakan cermin nyata kegigihan dan kesetiaan masyarakat terhadap warisan budaya dan spiritual leluhur.

Beliau menyatakan, “Proses ini bukan hanya soal fisik pemindahan bangunan, tetapi juga melibatkan jiwa dan hati seluruh masyarakat yang ingin menjaga supaya pura tetap menjadi pusat penghambaan yang sakral dan dapat diakses dengan mudah oleh umat, sekaligus aman dari ancaman bencana alam” (Wawancara, 03 Oktober 2025).

Simbiosis Harmonis: Keterikatan Manusia dan Alam dalam Tradisi Bali

Sejarah Pura Paibon Buluh Gunggung ini tidak saja menjadi kisah tentang sebuah bangunan suci yang berpindah tempat karena faktor alam, tetapi juga menunjukkan bagaimana sinergi antara masyarakat, tokoh adat, dan pemerintah menjadi kunci utama dalam menjaga kesinambungan tradisi dan budaya.

Pura ini kini berdiri kokoh di Banjar Dukuh, memegang peran spiritual yang amat penting bagi masyarakat Karangasem, sekaligus menjadi simbol kebersamaan menghadapi tantangan alam dan waktu demi pelestarian warisan leluhur yang berharga.

Dengan berdirinya kembali pura di lokasi baru yang lebih aman dan mudah diakses, krama Dadia dapat melaksanakan ibadah dengan tenang, sekaligus menjaga hubungan spiritual yang harmonis dengan alam dan leluhur. Kisah ini mengingatkan kita akan betapa pentingnya menjaga nilai-nilai kebersamaan, tanggung jawab sosial, dan penghormatan pada alam dalam konteks pelestarian budaya dan spiritualitas Bali yang kaya dan unik. [T]

Penulis: I Komang Sucita
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa SibetanhinduHindu BalikarangasemPura Paibon Buluh Gunggung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Vegetarian: Melihat Kaka Slank, Teringat George Harrison

Next Post

Zarra Apsara Keluar dari Zona Nyaman Lewat “Haunted House Party”

I Komang Sucita

I Komang Sucita

Akrab disapa rompis, kaula muda kelahiran 12 February 2002, Sibetan, Karangasem, Bali. Seseorang yang menuangkan kemanusiawiannya dengan melukis, serta menggugat dengan menulis dan menganyam puisi.

Related Posts

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails
Next Post
Zarra Apsara Keluar dari Zona Nyaman Lewat “Haunted House Party”

Zarra Apsara Keluar dari Zona Nyaman Lewat “Haunted House Party”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali
Esai

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?
Esai

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co