26 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Vegetarian: Melihat Kaka Slank, Teringat George Harrison

Angga Wijaya by Angga Wijaya
October 6, 2025
in Esai
Vegetarian: Melihat Kaka Slank, Teringat George Harrison

Ilustrasi tatkala.co

POLA hidup vegetarian kini bukan hanya tren global, melainkan juga semakin mendapat tempat di Bali. Pada 2018, saya pernah menulis esai berjudul Pengalaman Susah Senang Menjadi Vegetarian.

Esai tersebut menceritakan bagaimana saya mengurangi daging secara bertahap, mendengarkan tubuh sendiri, lalu merasakan perubahan fisik dan batin, Saya merasa lebih ringan, lebih tenang, lebih sadar akan makanan yang masuk ke tubuh. Cerita itu mengingatkan saya pada pengalaman saat mahasiswa pernah menekuni spiritualitas, termasuk pantang makan daging.

Menjadi vegetarian bukan sekadar soal diet. Ini adalah pola hidup yang ditempuh oleh orang-orang yang mendengarkan tubuh dan hatinya. Di Indonesia, Kaka Slank menjadi salah satu contoh publik yang memilih pola makan nabati. Di tingkat global, George Harrison sejak lama dikenal sebagai musisi yang menghubungkan musiknya dengan ajaran spiritual Hare Krishna, termasuk pola makan vegetarian.

Esai ini adalah upaya merangkai pengalaman pribadi, tren lokal Bali, dan figur publik tersebut agar kita bisa melihat vegetarianisme bukan sebagai jalan sunyi yang asing, tetapi sebagai pilihan sadar yang semakin relevan.

Tradisi dan Spiritualitas

Di Bali, pelaku vegetarian sering mendasarkan pilihannya pada alasan kesehatan sekaligus spiritual. Dalam ajaran Veda, makanan dibagi menjadi tiga kategori, antara lain rajas (menimbulkan sifat aktif dan agresif), tamas (menimbulkan sifat malas dan lembam), dan sattvika (murni, menumbuhkan keseimbangan). Makanan vegetarian dikategorikan sebagai sattvika dan sangat disarankan bagi mereka yang mendalami spiritualitas.

Tak makan daging diyakini mampu meningkatkan rasa welas asih karena tidak mendukung pembunuhan terhadap hewan bahan makanan. Vegan, istilah lainnya, juga diyakini membuat aliran prana dalam tubuh menjadi lebih lancar dan membuat tubuh lebih sehat. Mahatma Gandhi (1869–1948), tokoh politik dan spiritual India, pernah mengatakan bahwa kemajuan rohani menuntut pada suatu tahap kita berhenti membunuh makhluk hidup demi kepuasan jasmani kita. Gandhi dikenal sebagai vegetaris yang ketat; ia tidak mengonsumsi telur bahkan tidak meminum susu.

Di Bali, gaya hidup tanpa makan daging biasanya terbentuk lewat pergaulan di komunitas seperti ashram dan pasraman. Di tempat-tempat ini orang mendapatkan dukungan kelompok yang membuat pilihan hidup berbeda ini terasa lebih mudah.

Namun menjadi berbeda di Bali juga memiliki tantangan. Banyak orang mempertanyakan pilihan hidup vegetarian karena berbenturan dengan adat dan budaya di mana kebanyakan orang masih mengonsumsi daging. Pola hidup vegetarian dianggap fenomena baru dan belum populer. Di masa lalu masyarakat Bali sebenarnya tidak terlalu banyak mengonsumsi daging. Mereka memakan daging hanya pada saat hari raya seperti Galungan, Kuningan, dan piodalan di pura. Kini daging sangat mudah didapat dan kebiasaan memakan daging menjadi hal yang lumrah.

Saya sendiri pernah menjalani diet tanpa daging selama empat tahun saat tinggal dan belajar di sebuah ashram di Denpasar. Berdasarkan pengalaman tersebut, vegetarian/vegan membuat tubuh lebih ringan dan pikiran menjadi lebih tenang. Rasa kasih dan kepedulian terhadap makhluk hidup semakin besar.

Susahnya menjadi vegetarian adalah saat pulang ke kampung halaman di mana keluarga besar sebagian besar masih memakan daging. Lebih repot lagi ketika ada upacara adat dan ditawari makan. Jika tidak makan takut melukai perasaan tuan rumah, tetapi jika memakan makanan yang mengandung daging terasa tidak setia dengan pilihan hidup yang dijalani bertahun-tahun.

Di situlah muncul dilema: satu sisi ingin menjadi bagian dari komunitas komunal yang menomorsatukan persatuan, tetapi di sisi lain ingin hidup lebih sehat secara spiritual sesuai sastra dan kitab suci. Menjadi berbeda di Bali memang sulit. Jangankan pola makan, kadang perbedaan pendapat saja bisa memunculkan pengucilan. Meski tidak semua orang Bali bersikap seperti itu, tekanan sosial tetap ada.

Di kota besar dengan pola pikir lebih moderat, perbedaan tersebut lebih bisa ditolerir. Jika ada keluarga atau sanak saudara yang bergabung dengan kelompok spiritual tertentu yang biasa menganjurkan pola hidup vegetarian mereka tidak terlalu mempermasalahkannya. Berbeda dengan di desa di mana budaya kebersamaan dipegang teguh, menjadi vegetarian biasanya dianggap tidak lumrah dan kurang menghormati adat-istiadat..

Tren Global dan Figur Publik

Pilihan untuk tidak makan daging bukan hanya dilakukan oleh para yogi atau orang yang tinggal di ashram. Sejumlah figur publik dunia musik juga melakukannya, menjadikannya bagian dari identitas dan pesan yang mereka bawa.

Di Indonesia, salah satu contoh yang paling dikenal adalah Kaka Slank. Vokalis band legendaris ini sejak beberapa tahun lalu memilih menjadi vegetarian. Dalam berbagai wawancara, Kaka menyebut alasan utamanya adalah kesehatan dan kepedulian terhadap hewan. Ia merasa tubuh lebih bugar, suara lebih terjaga, dan pola pikir lebih jernih ketika tidak mengonsumsi daging. Sebagai figur publik dengan penggemar lintas generasi, langkah Kaka menjadi inspirasi bagi banyak orang muda yang ingin mencoba gaya hidup serupa tanpa merasa aneh di tengah masyarakat yang masih sangat karnivora.

Di tingkat global, salah satu contoh ikonik adalah George Harrison, gitaris The Beatles. Harrison dikenal sebagai sosok yang spiritual; ia mendalami filsafat India, rajin meditasi, dan sejak akhir 1960-an bergabung dengan gerakan Hare Krishna (ISKCON). Sejak itu, ia menjadi vegetarian yang ketat bahkan cenderung vegan. Dalam wawancara dan lirik lagu-lagunya, Harrison kerap menyinggung ajaran welas asih, reinkarnasi, dan karma—konsep yang sejalan dengan gaya hidup tanpa kekerasan terhadap hewan. Ia memandang makanan nabati bukan sekadar pola diet, melainkan bagian dari praktik bhakti (pengabdian) dan cara menyucikan diri. Sikap konsisten Harrison ini memperkuat citranya sebagai “Beatle yang spiritual” dan memperkenalkan nilai-nilai Timur kepada jutaan pendengar Barat.

Kehadiran figur publik semacam ini menunjukkan bahwa vegetarianisme bisa melintasi batas budaya dan agama. Kaka dan Harrison berasal dari latar berbeda, Jakarta dan Liverpool, namun keduanya menemukan nilai yang sama: tubuh yang lebih sehat, pikiran lebih jernih, dan rasa welas asih yang lebih besar. Bagi pembaca di Bali, kisah ini memberi pesan bahwa jalan vegetarian tidak hanya milik kalangan tertentu di ashram atau komunitas spiritual, tetapi juga dapat menjadi pilihan sadar orang modern, pekerja kreatif, dan musisi papan atas.

Vegetarian Ala Bali

Di Bali, vegetarian punya konteks budaya tersendiri. Dalam tradisi Hindu Bali, makanan berkaitan dengan yadnya atau persembahan. Hewan kurban memang masih digunakan pada upacara tertentu, tetapi setelah itu dagingnya dibagikan. Di sisi lain, ajaran ahimsa (tidak menyakiti makhluk hidup) juga menjadi dasar bagi sebagian pemuka agama dan penghayat spiritual untuk memilih vegetarian.

Banyak umat memilih jalan tengah: mengurangi daging, memperbanyak sayur dan buah, atau berpantang daging pada hari-hari tertentu seperti purnama dan tilem. Menu vegetarian lokal pun mudah ditemukan: lawar nangka, jukut urab, plecing kangkung, sayur ares. Ini menunjukkan bahwa pola makan nabati bukan hal asing di Bali.

Di kota-kota seperti Denpasar, warung dan restoran vegan semakin banyak. Anak-anak muda Bali memilih vegetarian karena alasan kesehatan atau lingkungan, bukan hanya karena ajaran agama. Fenomena ini menunjukkan bahwa vegetarian ala Bali adalah gabungan antara tradisi dan gaya hidup modern.

Saya pernah merasakan sendiri manfaatnya. Tubuh lebih ringan, pikiran lebih tenang, tidur lebih nyenyak, rasa empati tumbuh lebih kuat. Tetapi saya juga pernah merasakan sulitnya, terutama di acara keluarga atau upacara adat. Pada titik itu saya belajar bahwa vegetarianisme bukan hanya soal makanan, melainkan latihan kesabaran dan komunikasi.

Melihat Kaka Slank dan George Harrison membuat saya menyadari bahwa vegetarian bukan monopoli satu agama atau budaya. Ia bisa muncul dari motivasi spiritual, lingkungan, kesehatan, atau empati. Di Bali, jalan vegetarian punya akar budaya yang dalam sekaligus terbuka bagi pembaruan.

Kaka menunjukkan bahwa seorang musisi Indonesia bisa peduli pada bumi dan tubuhnya. Harrison menunjukkan bahwa seorang Beatle bisa tetap memainkan musik sambil memegang nilai vegetarian. Banyak generasi muda kini mencoba belajar dari keduanya: dari menu lokal seperti lawar nangka hingga cerita tentang meditasi Hare Krishna, dari Slankfest hingga konser Concert for Bangladesh.

Esai ini bukan ajakan untuk menjadi vegetarian total. Ini adalah refleksi tentang pola makan nabati yang dipilih sebagian orang. Kita bisa mulai dengan langkah kecil, mendengarkan tubuh sendiri, dan mempertimbangkan dampaknya bagi lingkungan.

Vegetarian adalah perjalanan kesadaran. Kadang kita berada di tahap masih makan daging, kadang sudah vegan. Yang penting adalah mendengarkan tubuh, menjaga bumi, dan mengasah empati. Kaka Slank, George Harrison, dan tradisi Bali bisa menjadi contoh. Sisanya tergantung pada pilihan kita sendiri. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: balikesehatanSpiritualvegetarian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penghilang Rasa Sakit (Sementara) Itu Bernama Tri Hita Karana

Next Post

Jejak Sakral dan Keteguhan: Kisah Pemindahan Pura Paibon Buluh Gunggung, Desa Sibetan, dalam Menjaga Keabadian Warisan Leluhur

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

Read moreDetails

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
0
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

Read moreDetails

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
0
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

Read moreDetails

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
0
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

Read moreDetails

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails
Next Post
Jejak Sakral dan Keteguhan: Kisah Pemindahan Pura Paibon Buluh Gunggung, Desa Sibetan, dalam Menjaga Keabadian Warisan Leluhur

Jejak Sakral dan Keteguhan: Kisah Pemindahan Pura Paibon Buluh Gunggung, Desa Sibetan, dalam Menjaga Keabadian Warisan Leluhur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali
Esai

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?
Esai

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co