SEPANJANG jalan Bangkinang, matahari selalu jatuh seperti sepotong logam panas yang digantung rendah di langit. Jalan itu panjang, berliku, dan seakan tak pernah selesai, bagai doa yang dipanjatkan tapi tak kunjung menemukan “amin”-nya. Aspal hitam membentang, dihiasi debu, lubang kecil, dan jejak ban truk yang lalu-lalang seperti gerombolan binatang besi lapar. Di kanan-kiri, pohon karet berjajar rapat, meneteskan getah yang putih pucat bagai air mata beku.
Aku berjalan di atas jalan itu, entah menuju ke mana, seperti orang yang dihalau bayang-bayangnya sendiri. Setiap langkahku menimbulkan gema kecil di dada, gema masa lalu yang enggan diam. Angin yang berhembus membawa aroma tanah basah, bercampur dengan bau solar dari kendaraan yang melintas. Ada rasa asing sekaligus akrab, seperti pertemuan dengan kawan lama yang wajahnya samar dalam ingatan.
Bangkinang bukan sekadar kota kecil di tepi Kampar. Ia lebih mirip kenangan yang menjelma ruang, cerita yang menitis menjadi jalan. Di sini, setiap tikungan menyimpan rahasia, setiap pohon menahan bisik, dan setiap rumah menampung sekelumit kisah orang-orang yang pernah singgah.
Aku masih ingat pertama kali menjejak jalan ini—bertahun-tahun lalu—ketika usia masih hijau, ketika tubuh masih penuh bara. Aku datang sebagai perantau, membawa koper tua yang lebih berat dari harapanku, meninggalkan kampung di tepi laut demi kota yang katanya menjanjikan rezeki lebih deras. Tapi siapa yang tahu, di balik janji selalu ada selubung luka?
Hari pertama di Bangkinang, aku tidur di sebuah losmen reyot di dekat terminal. Malamnya, suara truk bergemuruh seperti guntur yang tak kunjung reda. Bau solar, kopi panas yang diseduh murahan, dan asap rokok yang menempel di langit-langit kamar—semua itu menyambutku, seakan hendak berkata: “Beginilah dunia perantau. Kau boleh berharap, tapi jangan terlalu muluk.”
***
Esoknya, aku berjalan menyusuri jalan Bangkinang, mencari pekerjaan. Panas matahari membuat keringat menetes deras, tapi tekadku lebih keras. Di sebuah warung kopi tua, aku duduk sebentar, mengisi perut dengan mi rebus. Dari situlah aku melihatnya: seorang perempuan muda dengan payung biru, melangkah ringan meski hujan gerimis turun tipis-tipis.
Syahra. Begitulah namanya.
Pertemuan itu sederhana, tapi bagai pertemuan sungai dengan laut—alamiah namun mengguncang. Ia tersenyum padaku, menawari untuk berteduh di bawah payungnya, padahal gerimis nyaris tak berarti. Aku menerima tawaran itu, dan sejak detik itu, payung biru menjadi simbol yang menandai awal sebuah cerita panjang.
Hari-hari berikutnya, jalan Bangkinang menjadi saksi langkah-langkah kami. Kami berjalan beriringan di trotoar yang setengah retak, menertawakan hal-hal kecil, memungut mimpi di antara kerikil.
Syahra selalu punya cara membuat perjalanan terasa ringan, seakan jalan panjang itu hanyalah koridor sempit menuju sebuah pintu ajaib. Ia bercerita tentang masa kecilnya di tepi Kampar, tentang perahu kayu yang sering ia naiki bersama ayahnya, tentang riak air yang mengajari arti sabar. Aku mendengarkan, merasa setiap kata yang ia ucapkan adalah benih yang menumbuhkan pohon baru dalam diriku.
Aku bekerja serabutan: kadang menjadi kuli panggul di pasar, kadang menjadi tukang ojek dengan motor pinjaman, kadang pula ikut mengangkut kayu di truk. Badan letih, tangan kasar, tapi setiap kali melihat senyum Syahra, segala penat berubah jadi tenaga baru. Ia menjadi mata air di gurun keringku.
Namun, cinta selalu berjalan di antara cahaya dan bayangan. Sepanjang jalan Bangkinang pula aku belajar bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang rapuh, seperti kaca tipis yang bisa pecah hanya dengan desah angin. Ketika aku mulai menganyam mimpi bersama Syahra, aku justru menemukan tembok-tembok yang menghalangi.
Ayahnya, seorang pedagang kayu yang keras kepala, tak pernah merestui kehadiranku. Baginya aku hanya perantau miskin, anak nelayan tanpa tanah dan tanpa masa depan. “Anak nelayan sepertimu tidak pantas untuk anakku,” ucapnya dingin suatu malam, di rumah bercat hijau pucat dengan halaman penuh pot bunga. Kata-kata itu menikam, lebih tajam dari parang yang baru diasah.
***
Sejak malam itu, jalan Bangkinang tak lagi terasa ramah. Setiap kali aku melangkah di atasnya, ada semacam luka yang ikut berdetak bersama detak langkahku.
Meski begitu, aku dan Syahra tetap bertemu. Kami sembunyi-sembunyi di tepi sungai, di bawah jembatan, atau di warung kopi kecil dekat terminal. Tapi kami tahu, dunia terlalu sempit untuk menyembunyikan cinta yang ditolak.
Ada satu sore yang tak pernah kulupa. Kami duduk di tepi Kampar, menyaksikan matahari tenggelam perlahan. Syahra menggenggam tanganku erat. “Kalau pun nanti kita tak bisa bersama, jangan lupakan jalan ini,” katanya lirih. “Jalan ini saksi kita. Setiap kali kau rindu, berjalanlah di atasnya. Kau akan merasakan aku di setiap debu dan daun.”
Aku hanya bisa mengangguk, menahan sesak yang menggerus dada.
Tak lama setelah itu, aku harus pergi. Perjalanan panjangku sebagai perantau memaksaku meninggalkan Bangkinang, meninggalkan Syahra, meninggalkan jalan yang sudah terlanjur kutandai dengan jejak rindu. Aku membawa serta wajahnya yang terakhir kulihat, di sebuah sore berdebu, ketika ia berdiri di ujung jalan, melambaikan tangan dengan mata basah.
Sejak itu, sepanjang jalan Bangkinang hanya hidup dalam ingatanku, seperti film lama yang terus diputar ulang.
***
Bertahun-tahun berlalu. Aku kembali, bukan lagi sebagai anak nelayan miskin. Aku pulang dengan langkah yang lebih pasti, setelah mengarungi banyak kota, setelah menambal nasib dengan kerja keras dan doa. Aku kembali untuk menziarahi jalan, menziarahi kenangan, dan mungkin menziarahi diriku sendiri yang tertinggal di sana.
Bangkinang ternyata tak banyak berubah. Jalan itu tetap panjang, tetap penuh debu dan truk, tetap dipagari pohon karet yang sabar. Warung-warung tua masih berdiri, meski beberapa sudah diganti bangunan baru. Sungai Kampar tetap mengalir, membawa kabar dari hulu ke muara.
Hanya satu yang benar-benar berubah: Syahra.
Aku menemukannya lagi, tapi bukan sebagai gadis yang dulu menemaniku di bawah payung biru. Ia kini seorang perempuan dewasa, istri dari seorang pengusaha kayu, dan ibu dari dua anak. Senyumnya masih sama, tapi di balik itu ada dinding tak kasatmata yang memisahkan.
Kami bertemu di sebuah pasar malam, di bawah cahaya lampu warna-warni dan musik dangdut yang riuh. Pertemuan itu singkat, hanya beberapa menit, cukup untuk menyadarkan aku bahwa waktu bisa mengubah segalanya, kecuali rasa yang sudah berakar.
Syahra menatapku lama, seolah ingin berkata banyak hal yang tak bisa diucapkan. Aku hanya tersenyum, menunduk, lalu melangkah pergi.
***
Malam itu, ketika aku kembali berjalan menyusuri jalan Bangkinang, aku merasa seakan setiap tiang listrik, setiap dedaunan, dan setiap batu kecil berbisik padaku: bahwa hidup memang perjalanan yang tak bisa ditebak. Kita bisa memilih langkah, tapi tak bisa memilih akhir. Kita bisa mencintai, tapi tak bisa memaksa dunia untuk merestui.
Sepanjang jalan Bangkinang, aku akhirnya mengerti: cinta bukan soal memiliki, melainkan soal merawat kenangan. Dan kenangan itu kini menempel di jalan ini, bagai bayangan yang tak bisa kuhapus.
Aku berjalan terus, membiarkan angin malam menyapu wajahku, membiarkan lampu-lampu jalan menerangi langkah yang masih panjang. Bangkinang tetap menjadi ruang di mana aku pernah belajar arti kehilangan, arti keberanian, dan arti merelakan. Jalan itu tetap panjang, mungkin sepanjang hidupku sendiri. Dan setiap kali aku menjejakinya lagi, aku tahu, aku sedang menjejak ingatan yang tak pernah benar-benar pergi. [T]
Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole



























