KESEHATAN merupakan sesuatu yang mahal bagi siapa pun. Apalah artinya kekayaan dan jabatan jika tubuh tidak sehat. Oleh sebab itu, banyak cara dilakukan orang untuk memperoleh kesehatan. Berwisata menjadi salah satu cara orang mendapatkan tubuh yang sehat dan bugar.
Badan yang sehat tidak selalu didapat melalui obat. Indonesia merupakan daerah yang sangat kaya akan keanekaragaman hayati yang bermanfaat bagi kesehatan. Banyak jenis tanaman yang sejak zaman dahulu dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menjaga kebugaran maupun untuk pengobatan.
Salah satu daerah yang memanfaatkan keragaman hayati untuk kesehatan adalah Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Selama ini Tegal banyak dikenal karena keberadaan Warteg (Warung Tegal) di berbagai daerah. Namun ternyata Tegal memiliki destinasi Wisata Kesehatan Jamu (WKJ) yang berada di Desa Kalibakung, Kecamatan Balapulang.

Melihat potensi Wisata Kesehatan Jamu ini, tim peneliti dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto tertarik untuk melakukan kajian tentang “Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (Toga) untuk Mewujudkan Green Economy Berbasis Kearifan Lokal”. Selain itu juga perlu dilihat sejauh mana WKJ ini memiliki nilai kesehatan, pendidikan, dan pariwisata. Tim peneliti peneliti terdiri dari Adhi Iman Sulaiman sebagai ketua, dengan anggota Lilik Kartika Sari dan Shinta Prastyanti. Para peneliti Unsoed ini menganggap WKJ merupakan program inovasi edukatif dalam berwisata. Apalagi jamu telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Dunia.
Wisata Edukasi
Wisata Jamu Kalibakung terletak di ketinggian sekitar 650 mdpl, berdiri di tanah seluas 2,5 hektare di lereng Gunung Slamet. Objek wisata ini memiliki sekitar 250 jenis tanaman herbal yang tertata secara rapi. Tanaman yang ada di WKJ sudah terbukti digunakan sebagai obat tradisional dan mengobati berbagai penyakit. Menurut Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) WKJ, Firsty Umar R, WKJ mulai berdiri sejak tahun 2013.“ Saat ini sedang dalam proses menjadi Badan Layanan Usaha Daerah (BLUD),” ujar Firsty Umar.
Meski berada di lereng gunung, aksesibilitas menuju WKJ cukup baik. Jalan menuju lokasi terbilang mulus untuk dilalui kendaraan. Objek WKJ ini sangat cocok menjadi destinasi wisata edukasi untuk mengenalkan berbagai jenis tanaman herbal dan manfaat kesehatannya bagi masyarakat.

Nilai edukasi ini menjadi penting dalam pengembangan WKJ, mengingat tanaman herbal dan jamu merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat. Suasana sejuk, asri, suasana pedesaan yang alami, sawah yang menghijau, dan aliran sungai yang jernih membuat WKJ menjadi pilihan bagi mereka yang mendambakan healing di alam.
Wisata edukasi di WKJ juga penting bagi generasi muda agar mengenal beragam kekayaan hayati lokal yang bermanfaat bagi kesehatan. Tak heran, banyak siswa mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, dan SMA banyak yang mengunjungi WKJ, termasuk ibu-ibu PKK. Bahkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi juga banyak yang berkunjung untuk kepentingan penelitian. Untuk wisata edukasi dikenakan tarif 15 ribu rupiah per orang dengan bonus paket minum jamu di WKJ.
Potensi Wisata Kesehatan
Wisata kesehatan atau health tourism sudah lama dikenal dalam industri pariwisata. Beberapa negara sudah mengembangkan wisata ini. Indonesia pun mulai gencar mempromosikan wisata kesehatan, seperti Bali. Potensi yang dimiliki Indonesia cukup banyak, baik yang berkaitan dengan sumber daya alam maupun sumber daya manusia dalam pengobatan tradisional.

Objek Wisata Kesehatan Jamu di Kalibakung Tegal ini bukan hanya menawarkan taman herbal bagi pengunjung, tetapi juga melayani pasien dengan pengobatan herbal. Jamu digunakan sebagai terapi komplementer untuk mendukung pengobatan modern. Oleh sebab itu, terapi kesehatan di WKJ ini berbasis saintifik dan didukung kajian ilmiah.
Saat tim peneliti dari Unsoed berkunjung, pengelola WKJ menyambutnya dengan memberikan minuman air Secang. Minuman ini merupakan ramuan dari beberapa bahan tanaman obat, seperti kulit kayu secang, jahe, kencur, pandan, kapulaga, cengkeh, bunga pekak, dan adas. Rasanya manis dan menyegarkan.
“Air Secang dapat mengatasi badan yang pegal-pegal dan linu. Harganya cukup murah, hanya 25 ribu rupiah yang berisi 5 bungkus,” kata Mei Rahmawati, Fungsional Penyuluh Kesehatan di WKJ.
Sebagai destinasi wisata kesehatan, WKJ layaknya rumah sakit. Terdapat ruang pendaftaran, ruang tunggu pasien, serta ruang periksa. Ada dokter yang akan memeriksa serta mendiagnosis penyakit serta apoteker yang meramu racikan jamu yang terdiri dari berbagai ramuan, sesuai dengan keluhan pasien dan diagnosis dokter.

Menurut dokter ahli madya WKJ dr. Alimiati, layanan WKJ cukup banyak; yang utama adalah pelayanan kesehatan berbasis jamu. Selain itu ada konsultasi dan terapi jamu, pemeriksaan laboratorium, konsultasi gizi, akupuntur dan akupresur, peracikan jamu, serta kelas peracikan jamu dan workshop herbal. WKJ juga menawarkan wisata edukasi tanaman obat kepada masyarakat.
“Layanan akupuntur banyak diminati oleh para penderita penyakit stroke,” kata dr.Alimiati.
Wisata Kesehatan Jamu Kalibakung buka setiap hari Senin hingga Sabtu, sedangkan hari Minggu dan hari besar nasional tutup. Antusias pengunjung cukup tinggi, namun WKJ membatasi hanya 9-10 orang setiap hari. Hal ini dilakukan karena pemeriksaan kesehatan dan peracikan jamu membutuhkan waktu cukup lama.
Saat ini tersedia produk inovasi WKJ yang dikemas dari 70 jenis tanaman obat di antara 250 tanaman yang tersedia di taman herbal. Menurut Bayu Triatmojo sebagai Tenaga Kesehatan Tradisional WKJ, berbagai produk berkualitas terbuat dari bahan-bahan alami. Produk tersebut meliputi Kopi Grengg, The Telang, Slimming Tea, Wedangan Botol, Wedang Secang, Sabun Herbal, Minyak Herbal, dan Lilin Aromaterapi.
“Kopi Grengg cocok untuk dikonsumsi bapak-bapak yang ingin menjaga stamina dan vitalitas. Bagi ibu-ibu tersedia Slimming Tea untuk menjaga berat badan ideal,” ujar Bayu Triatmojo yang disambut semangat para peneliti Unsoed dengan membeli jamu-jamu tersebut.
Adhi Iman Sulaiman selaku Ketua Tim Penelitian Unsoed mendukung upaya WKJ untuk menjadi BLUD. Dengan demikian WKJ bisa buka pada hari Minggu dan hari libur nasional, sehingga dapat mengundang wisatawan untuk datang. Setelah menjadi BLUD, produk jamu WKJ dapat memperoleh Nomor Induk Berusaha (NIB) serta menggandeng investor swasta.
“Pemerintah daerah dan masyarakat bisa memperoleh pendapatan berupa green economy yang berbasis kearifan lokal,” tutur Adhi Iman Sulaiman.

Alam Indonesia begitu kaya dengan beragam tumbuhan. Saatnya wisatawan mengunjungi dan menikmati kekayaan alam itu di tengah banyaknya destinasi wisata buatan. Sebagaimana slogan WKJ Kalibakung: “Kesehatan Alami, Warisan Budaya, dan Edukasi dalam Satu Tempat”. Mari berwisata, mari minum jamu. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole



























