6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kota Itu Bernama Kesunyian  |  Cerpen Fahrus Refendi

Fahrus Refendi by Fahrus Refendi
September 27, 2025
in Cerpen
Kota Itu Bernama Kesunyian  |  Cerpen Fahrus Refendi

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

AKU selalu terpukau saat engkau menuturkan cerita di rumah sebelah. Cerita yang selalu ditunggu anak-anak kampung. Tak terkecuali aku, yang selalu mendekatkan telinga di pintu bila suaramu menggema. Ia baru saja selesai dengan ceritanya, anak-anak segera turun dari teras, mengambil sandal, lalu pulang ke rumahnya masing-masing.  Ia turun, dan aku lekas mengikutinya dari belakang.

“Hey tunggu … aku suka tiap kamu bercerita, jika berkenan kutunggu kau nanti malam, aku mau mendengar ceritamu.” 

Suaraku kupelankan, takut ada orang lain yang mendengar, dan kutunjuk arah sebuah pintu dimana aku akan menantinya nanti malam. Kau hanya melempar senyum tipis, dan mengangguk pelan atas tawaranku. Entah akan datang memenuhi tawaranku atau tidak, akan kutunggu saja.

Ramlan, begitulah sebutan namanya. Nama yang cukup bagus untuk seorang pemuda yang mahir bercerita. Selain lihai bercerita ia juga mahir baca puisi. Suaranya yang lantang sangat pas ketika membawakan puisi Chairil Anwar. Aku ini binatang jalang dari kumpulannya terbuang, mendengar gema suaranya, lekas-lekas kubuka pintu belakang, dan mengamatinya dari kejauhan. Semenjak itu, aku takjub pada pemuda yang punya bakat seperti Ramlan.

Malam Jumat yang hening. Tidak ada suara anak-anak bergurau, pemilik odong-odong sementara waktu juga parkir dari pekerjaannya. Penjual jajanan tutup lebih awal. Tak ada orang lalu lalang lantaran guyuran hujan melanda semenjak tadi sore.

Gema ikamah Isyak baru saja usai dikumandangkan, hujan mulai mereda. Jalan di gang sempit tertutupi air. Seketika semua lampu mati, padam. Memang, jika musim hujan tiba, apalagi ditambah dengan hujan deras dan angin kencang, mesti listrik bakalan mati. Biasanya baru keesokan harinya baru hidup kembali.

Tiba-tiba saja Ramlan sudah berada di pintu belakang.

 “Mana sandalmu?” Kubilang.

“Kutinggal di luar!”

“Ambil cepet ….!”

Lekas Ramlan keluar kembali dengan sebuah senter hp yang masih menyala. Setelah ia ambil sandalnya, kutarik cepat-cepat, dan segera menutup pintu. “Nggak ada orang melihat kamu masuk ke sini kan?”

Ramlan tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya.

Kilat guntur sesekali membuat pandanganku terhadap Ramlan sangat jelas. Kusilakan ia duduk di samping tempat tidur.

“Kau sendirian?” ucap Ramlan.

Dan aku hanya menganggukkan kepalaku.

“Semenjak lulus kuliah, aku memutuskan nggak pulang ke kampung halaman. Aku jatuh cinta pada kota ini. Kota yang telah memberikanku banyak pengalaman. Aku suka pantainya yang rindang, tambak garamnya yang begitu luas, mitos-mitos yang berkembang, sejarahnya juga. Pokoknya, semua tentang kota ini aku suka semuanya. Cuma satu yang nggak kusuka!”

“Apa?”

“Kesunyiaannya ketika malam datang! Tapi itu nggak penting, sudahlah.”

“Apa kota ini pernah memberikan luka padamu?”

“Semacam meninggalkan rasa sakit!”

Dan kami pun sama-sama terdiam. Kunyalakan sebatang lilin tepat antara aku dan Ramlan. Ramlan menatap mataku dengan sangat tajam, seolah-olah aku adalah binatang buruan yang siap  diterkam.

“Aku bahkan tidak mengenalmu!” sahut Ramlan setelah aku selesai menyalakan satu batang lilin.

“Lalu kenapa kau mau datang ke sini?”

Ramlan terdiam … lalu menoleh ke arahku. Dan kami sama-sama tertawa.

“Ssssttt … jangan terlalu keras, nanti tetangga pada tahu kita di sini!” ucapku lirih.

 Kubilang, pertama melihatnya bersama anak-anak di rumah sebelah, aku sama sekali tidak tertarik. Akan tetapi suaranya yang lantang memaksaku mendengarkan cerita-ceritanya. Tapi semakin ke belakang ceritanya seru juga jika didengarkan. Kubuka jendela sedikit, dan mendengarkan dari kamar tanpa sepengetahuan Ramlan dan anak-anak desa yang lain. Dari sekian cerita yang disampaikan Ramlan, cerita yang paling aku senangi yaitu tentang hikayat seribu satu malam.

Selain itu, cerita tentang asal-usul Madura juga tak kalah serunya untuk dinikmati. Kadang, ketika aku baru pulang kerja dan mendapati Ramlan beserta anak-anak di teras samping rumah, aku buru-buru mandi dan lekas berada di samping jendela.

“Dasar maling cerita … nggak pamit kalo mau dengerin ceritaku!”

“Bukan maling … lebih tepatnya penggemar bualan-bualanmu itu. Mari, berceritalah padaku, buat aku takjub oleh cerita-ceritamu, tapi syaratnya, jangan mengulang cerita yang sudah kamu sampaikan pada anak-anak. Aku mau sesuatu yang baru, yang lebih menarik dari apa yang sudah kau ceritakan pada anak-anak!”

Dalam kamar yang tidak terlalu luas itu kami berdua berada. Malam tanpa cahaya lampu, hanya sinar lilin mungil yang mampu menerangi paras kami berdua. Ramlan mulai menghela napas dan semakin mendekatkan diri pada sumber cahaya, aku pun melalukan hal yang sama, hingga aku melihat keseluruhan paras Ramlan yang eksotis.

***

  Dahulu, lahir seorang pemuda tangguh, ia dikenal bijaksana. Hingga suatu hari, Tuhan memanggilnya untuk menawarkan sesuatu atas apa yang telah ia kerjakan. Mendapat panggilan dari Rab-Nya lantas membuat perasaannya bertanya-tanya. Apa aku telah melakukan kesalahan? Atau, Tuhan murka padaku sehingga aku dipanggil untuk menghadapnya?

“Engkau telah berbuat baik pada semua yang kucipta. Sekarang aku mau menawarkan sesuatu padamu atas apa yang telah engkau lakukan, hambaku. Tapi syaratnya kau harus memilih salah satu di antara keduanya!”

Pemuda tampan itu menganggukkan kepalanya, tanda ia menyetujui tawaran yang diajukan.

“Jabatan, kekayaan, atau ilmu? Pilihlah!”

Memilih satu di antara keduanya bukan sesuatu yang mudah. Andai saja bisa memilih semuanya, maka akan sangat nyaman. Barangkali kehidupan memang begitu, penuh dengan pilihan-pilihan yang sulit.

Sebagai pemuda, semua yang ditawarkan memang sangat menggiurkan,  tapi ada pilihan yang harus ditempuh. Barangkali, hidup memang seputar memilih di antara yang terbaik. Memili berarti menjauhkan diri dari sifat ketamakan. Dan ketamakan barangkali awal dari suatu kemudaratan.

Masih soal penawaran, selang beberapa waktu pemuda itu memilih pilihan yang ketiga, yaitu ilmu.

“Kau yakin?”

Pemuda itu pun mengangguk dengan yakin.

“Jika kau jadi pemuda itu, kau akan memilih yang mana?” ucapku, memotong pembicaraan Ramlan.

“Aku juga tidak tahu … bingung juga jika harus berhadapan dengan sesuatu yang tidak seharusnya menjadi pilihan. Tapi tunggu dulu, aku belum selesai bercerita!” balas Ramlan.

Pemuda itu mantap dengan pilihannya, memilih ilmu di antara jabatan dan uang, hingga pada kemudian hari, ia mendapat kemuliaan dari ilmu yang didapatkannya. Ia memahami semua bahasa, sampai dengan bahasa binatang sekalipun. Ia menjadi kaya raya atas ilmu yang bersarang di tubuhnya.

Jam dinding kamarmu berbunyi.

 “Jangan khawatir, kita masih punya banyak waktu, masih jam satu dinihari … lanjutkan ceritamu, aku masih kuat menahan kantuk.”

“Aku mau pulang, sudah larut malam … nggak enak ke tetangga!”

“Hanya kita dan kesunyian yang ada di kamar ini. Tenanglah, orang lain gabakalan tahu, kecuali kau teriak! Mulailah bercerita kembali.”

Ramlan mengangkat tangan kanannya dan memberikan pesan simbolik, satu cerita lagi. Dan aku hanya mengangguk tanda setuju dengan pesannya itu. Ia mulai bercerita kembali bahwa pada saat panembahan Ronggosukowati memimpin, Pamekasan pernah terjadi kemarau panjang selama tiga tahun berturut-turut.

Kemudian, pada suatu malam sang raja bermimpi dan para ahli nujum menaksirkan mimpinya itu sebagai akhir dari musim kemarau yang berkepanjangan. Kenapa Pamekasan bisa kemarau? Tak lain karena ada seorang wali yang tengah bertapa di tengah rawa. Hujan akan mengguyur langit Pamekasan apabila, wali yang tengah bertapa diberikan tempat berteduh.

 Pangeran Ronggosukowati kemudian mendatangi hutan rawa itu dan benar saja, seorang pertapa tengah bersemedi di tempat yang banyak dihuni mambang dan berbagai macam hewan buas. Pangeran Ronggosukowati meminta izin untuk membuat gubuk pertapaan. Selang beberapa waktu, langit berubah mendung dan hujan datang sejadi-jadinya mengguyur kota Pamekasan. Pertapa itu hendak diboyong pangeran ke keraton, tapi pertapa itu menolak dengan alasan, hidup di keraton khawatir akan membuatnya lupa kepada Sang Pencipta.

Ramlan mengakhiri cerita karena keburu pagi, ia berjanji akan sering-sering balik ke kamar itu lagi, kamar yang damai tanpa banyak kekhawatiran. [T]

Penulis: Fahrus Refendi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Wahyu Mahaputra | Hantu-Hantu Asia Afrika

Next Post

Wisata Kesehatan Jamu Kalibakung: Inovasi Edukatif dalam Berwisata

Fahrus Refendi

Fahrus Refendi

Alumnus Universitas Madura prodi Bahasa & Sastra Indonesia. Bergiat di Sivitas Kothѐka, LESBUMI dan menjadi salah satu tenaga pengajar di SDI Mabdaul Falah Sumenep Madura.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Wisata Kesehatan Jamu Kalibakung: Inovasi Edukatif dalam Berwisata

Wisata Kesehatan Jamu Kalibakung: Inovasi Edukatif dalam Berwisata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co