SEJAK kecil saya takut pada ular. Ular bagi saya adalah makhluk yang jahat, sangat berbisa, yang walaupun kecil, patukannya bisa membunuh seorang manusia yang tubuhnya besar.
Tinggal di kota, saya tak pernah melihat ular secara langsung, kecuali di malam ulang tahun saya yang ke 17, saya melihat seekor ular melintas di depan kamar, dan saya berteriak keras, “Ularrrrrr…”
Saya menjelaskan bahwa benar-benar melihat seekor ular sepanjang satu meter lebih, dan tak tahu ke mana hilangnya.
“Saya benar-benar melihat seekor ular, ” jelas saya pada Mboktut yang terbangun tergopoh-gopoh.
Mboktut hanya tersenyum melihat saya merusaha menenangkan diri.
“Ularnya sudah hilang,” kata Mboktut ringan, mungkin seringan kapas.
Di kampus, di Arkeologi, saya menyambil jurusan prasejarah, sehingga jarang meneliti arca dan pura, tetapi sangat suka tempat-tempat pemujaan dari batu yang alami seperti Candi Tebing Gunung Kawi, di Tampaksiring Gianyar.
Saat di Gunung Kawi saya tertarik dengan ceruk-ceruk di pinggir sungai yang konon dimanfaatkan untuk bertapa para biksu di jaman Bali Kuna.
Saat memasuki salah satu ceruk, saya melihat sesuatu yang putih berkilat, “Kok seperti permata,” pikir saya berusaha mendekat.
Dan betapa kagetnya, saat benda besar berkilat itu ternyata seekor ular besar yang sedang menjulurkan lidahnya.
Tanpa babibu saya meninggalkan ceruk sambil memberi komando teman.
“Cepat menyebrang, ke arah yang berlawanan dengan arah angin,” perintah saya.
Yuni, teman saya, mengikuti. Saya lupa bagaimana saya bisa naik dengan cepat dari pinggir sungai yang curam dan tadinya sulit saya turuni. Tiba-tiba saja saya sudah ada di atas jembatan, disusul oleh Yuni.
Ketakutan pada ular telah membuat saya bisa melakukan hal yang di luar logika.
Saat mampir ke rumah seorang teman, kami bercerita tentang ular besar di ceruk Pura Gunung Kawi yang seperti ingin mematuk kami.
Lelaki yang usianya terbilang muda ini memberi jawaban yang bijaksana.
“Ular tak sembarangan mematuk orang. Hanya orang-orang tertentu yang mati karena dipatuk ular, “jelasnya.
Saya merasa lebih tenang. Ketakutan saya pada ular agak sedikit berkurang.
Saya semakin lupa rasa takut pada ular, saat bertemu seorang pawang ular. Bahkan orang ini saat demontrasi bersama memakai ular-ular sebagai rambut dan jenggotnya.
Lucu, tapi saya masih ngeri juga. Juga saat seorang teman bertamu dan menunjukkan seekor ular yang dia pakai sebagai ikat pinggang.
Tapi hari itu, saya benar-benar takut. Saya lihat dengan mata kepala sendiri dua ular besar bertengger di dinding kamar.
Saya mengucek mata, memastikan penglihatan.
“Benar dua ular besar warna coklat keabuan, ” batin saya, menekan rasa takut yang mulai mendera.
“Ular cobra!”
Ia mulai menjulurkan lidah, seperti bersiap mematuk.
Saya menarik napas panjang berkali-kali, berusaha meredam gejolak rasa takut. Berteriak rasanya tak mungkin, karena ibu yang tua tak mungkin membantuku. Saya pasrah berdoa dan terus berdoa sambil menyalurkan rasa kasih. Syukurlah dua ular itu tenang, tak lagi mengangkat kepala dan menjulurkan lidah.
Sungguh saya masih takut, tapi berusaha pasrah sambil memejamkan mata, sampai akhirnya tertidur.
Bangun pagi, saya bisa bernapas lega, karena tak melihat ular-ular itu lagi
Beberapa kali ular-ular itu datang, saya masih takut, tak mau melihatnya, dan memilih memejamkan mata sambil terus berdoa, sampai ular-ular itu tak terlihat lagi.
Di depan Pura Campuhan Padang Galak, saat diajak Dyah mengantar kakaknya melukat, saya dan Dyah memilih menikmati pantai dengan suara ombak yang berkejar-kejaran. Kami tercekat, tak bisa bicara, saat seekor ular menjalar ke arah kami. Kami saling pandang sambil berdoa, dan mata kami terbelalak saat ular itu berubah menjadi permata warna-warni. Lama kami pandangi permata-permata itu, sampai dia kembali ke laut terseret ombak, kembali lagi ke darat menjadi ular mendekati kami dan menjadi permata kembali.
Kami memutuskan untuk beranjak dari pantai dan menunggu di mobil.
Ular-ular di kamar saya tak pernah muncul lagi. Filsafat Hindu memberikan saya pemahaman tentang ular yang disebut kundalini, sesuatu yang bergerak dalam kesehimbangan di sekeliling, mengelilingi cakra, pusat-pusat energi, atom dengan intinya neutron yang bergerak karena tarik menarik proton dan elektron. Gerakan saling tarik menarik antara proton dan elektron ini diandaikan sebagai ular, sulit dikendalikan, manipulatif, dan berbisa.
“Dalam diri manusia juga ada ular-ular yang harus berusaha kita kendalikan sendiri. Ular-ular ini bisa menjelma jadi indria-indria yang selalu ingin dipuaskan, meracuni diri dan sekitar,” simpul saya akhirnya.
Pemahaman saya tentang kundali tak membuat saya benar-benar berani pada ular. Ular pada diri mungkin bisa saya pelajari pelan-pelan, mungkin bisa saya hadapi, tapi ular-ular di luar sana? Ular sungguhan, ular jadi-jadian, atau kelompok ular pemegang kuasa.
Sejak kenal dagang sate ikan di Pantai Padang Galak, saya jadi sering ke sana. Selain dekat, saya juga sangat senang memandang dan menghirup udara laut. Saya biasa berlama-lama duduk di atas baru besar, sambil bersila.Tapi hari itu, saya sungguh kaget karena ada yang menyundul-nyundul telapak kami saya, astaga ternyata seekor ular besar berwarna putih keperakan, menyundul kaki saya dengan kepalanya.
Ups, saya berusaha menenangkan diri, menarik napas berlahan, sampai kepala ular itu masuk kembali ke dalam celah batu-batu.
Ada sedikit rasa bangga, karena saya bisa bersikap tenang, saat ular itu menyundul, sehingga tak mengagetkannya. Walaupun kini saya lebih waspada untuk berlama-lama bersila di atas batu, akhirnya saya simpulkan bahwa sikap tenang, bisa dipakai untuk menghadapi ular sungguhan mungkin juga ular jadi-jadian, dan kelompok ular pemegang kuasa yang mabuk dan tak sadar oleh bisanya sendiri. [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor:Adnyana Ole



























