MUSANG itu datang pada malam yang sangat tidak wajar. Hujan turun seperti sedang dipecat dari langit, angin menjerit-jerit seperti istri pejabat yang tahu suaminya kawin lagi, dan listrik padam seketika. Di antara pekat yang menggigilkan bulu tengkuk, seekor musang mondar-mandir di depan rumahku, membawa sesuatu di mulutnya—sebuah pulpen.
Ya. Pulpen. Warna biru. Merek yang biasa dipakai PNS mengisi absen.
Aku tak langsung sadar bahwa malam itu adalah awal dari kegilaan yang sangat panjang. Semula kukira ia hewan liar biasa, lapar, atau tersesat. Tapi ia tak merampok dapur, tak mencuri telur ayam. Ia malah berdiri tegak di depan pintu, menatapku seperti penyair patah hati yang mencari redaktur.
“Pergi sana!” bentakku sambil menggoyang-goyangkan sandal jepit. Musang itu diam. Lalu… menjatuhkan pulpennya ke lantai teras dan mendorongnya ke arahku dengan kaki depannya.
Aku terpana. Ini bukan musang biasa.
Pagi harinya, aku menemukan sesuatu yang lebih gila: selembar kertas terselip di bawah pintu. Kertas HVS 70 gram, bertuliskan tangan yang rapi tapi agak tremor, seolah ditulis oleh… ya, musang.
“Tuan Rumah, izinkan aku tinggal. Aku bukan pencuri ayam. Aku hanya musang yang sedang menulis rindu.”
Tulisannya miring ke kanan, dan di ujungnya tergambar wajah seekor musang kecil dengan ekspresi melankolis. Aku membacanya tiga kali. Lalu duduk.
Sial. Aku hidup di dunia yang aneh.
***
Hari-hari berikutnya, musang itu menetap di rumah. Ia tidur di atas tumpukan koran lama, meminum teh manis dari cangkir kecil bekas lilin aromaterapi, dan menulis. Ya, menulis. Setiap malam ia menyelipkan catatan di bawah pintu kamar. Semua tentang rindu.
“Rindu adalah aroma buah nangka yang busuk di bawah pohon. Busuk, manis, dan tak bisa dihindari.”
“Apakah Tuan pernah merindukan seseorang yang bahkan tak tahu bahwa Tuan ada?”
“Rindu ini kutulis untuk si Tupai Betina yang pergi kawin dengan kelelawar karena katanya lebih suka terbang.”
Aku tak tahu bagaimana harus bersikap. Di satu sisi, aku kasihan. Di sisi lain, aku mulai curiga pada kewarasanku sendiri. Tapi musang itu tak pernah mengganggu. Ia menulis dan merenung. Kadang menatap jendela seperti sedang memikirkan filsafat pohon bambu.
Tetangga-tetanggaku tentu saja mulai bergunjing. “Rumah itu dihuni penyair dan musang. Aku tak tahu mana yang lebih gila,” kata Bu Parti yang senang mengintip dari balik tirai.
Suatu malam, aku memberanikan diri bertanya padanya. Ya, aku mulai terbiasa berbicara pada musang.
“Apa sih yang kau rindukan?”
Musang itu diam, lalu mengambil spidol dan menulis di tembok belakang rumah: “Aku merindukan hidup yang jujur.”
Aku terpukul. Itu kalimat yang bahkan tidak sanggup ditulis oleh kebanyakan manusia.
Lalu ia menulis lagi: “Dulu aku binatang liar. Hidup bebas. Tapi suatu hari aku masuk ke kompleks ini dan melihat manusia menulis status di media sosial tentang kehilangan, kesepian, luka. Aku pikir, menulis bisa menyelamatkanku dari insting mencuri. Tapi tak ada yang mau membacaku. Lalu aku bertemu Tuan. Seorang penulis yang belum pernah terbit, tapi masih percaya bahwa kata-kata bisa menyembuhkan.”
Aku… terdiam. Gila ini sudah terlalu sempurna. Bahkan absurditasnya mulai terasa indah.
***
Musang itu mulai menjadi bagian dari rumah. Ia punya jadwal menulis sendiri, punya ritual minum teh, dan bahkan mendengarkan lagu-lagu Koes Plus lewat radio tua yang kuhidupkan saat hujan. Ia sangat menyukai lagu “Kapan-kapan Kita Berjumpa Lagi.”
Suatu pagi, aku menemukan cerpennya di bawah pintu. Judulnya: “Tupai yang Menyesal karena Menikah dengan Kelelawar.” Aku membacanya dan tertawa terbahak-bahak. Tapi di balik humornya yang absurd, ada kedalaman yang menyayat.
Tupai dalam cerita itu ternyata masih mencintai Musang, tapi memilih Kelelawar karena dia bisa membawanya terbang ke pohon-pohon tinggi yang belum pernah ia jangkau.
“Kadang cinta adalah perkara gravitasi,” tulis Musang di akhir cerita. “Aku terlalu membumi untuk dicintai.”
Musang mulai terkenal. Tulisannya kusebar secara anonim di forum-forum sastra daring. Orang-orang menyukainya. Mereka menyebutnya “prosa eksistensial yang ditulis dengan kuku.” Ada yang bilang, ini pasti penulis manusia yang bersembunyi di balik nama hewan. Ada yang mengira aku gila. Tapi tak ada yang benar-benar tahu: penulis itu adalah seekor musang kecil dengan luka di hatinya.
Sampai suatu malam, ia berkata padaku—dengan tulisan, tentu saja:
“Aku ingin ikut lomba cerpen nasional.”
“Serius?” tanyaku. Ia mengangguk.
Aku kirimkan karyanya dengan nama pena: M. Musang. Tak ada yang tahu kepanjangannya. Bisa jadi Muhammad, bisa juga Musang murni.
Sebulan kemudian, surat itu datang.
Juara satu.
***
Media mulai mencari siapa “M. Musang.” Wartawan berdatangan. Aku bingung harus bagaimana. Musang menyuruhku diam. “Biarkan rindu tetap misterius,” tulisnya.
Ia menolak diwawancarai. Tapi ia terus menulis. Dan semakin dalam. Ada satu tulisan yang membuatku nyaris menangis:
“Aku menulis karena aku tak bisa melolong. Aku menulis karena Tuhan menciptakan musang dengan mulut kecil, tapi hati yang besar. Aku menulis karena satu-satunya cara agar aku tak menjadi pencuri lagi adalah dengan mencuri perhatian.”
Aku peluk dia malam itu. Ia kaku, tapi tak menolak.
Tapi hidup, seperti biasa, tak pernah sepenuhnya manis.
Suatu pagi, datang petugas pengendali hama dari dinas kota. “Ada laporan tentang musang yang berkeliaran. Bisa menularkan rabies,” kata mereka.
Aku panik. Aku berusaha menyembunyikannya. Tapi musang itu keluar dari persembunyian dengan tenang, membawa kertas dan menulis di depan para petugas itu:
“Aku bukan hama. Aku hanya makhluk kecil yang sedang menulis rindu. Apa itu salah?”
Petugas itu bingung. Mereka tertawa, mengira ini lelucon. Tapi kepala dinas tidak. Ia seorang pragmatis.
“Musang tetap musang. Dan musang tidak punya KTP.”
Malam itu, aku dan Musang duduk berdua di teras rumah. Kami tahu, waktunya hampir habis.
“Aku akan pergi,” tulisnya. “Kota ini terlalu rapi untuk rindu yang berantakan seperti punyaku.”
Aku ingin mencegahnya. Tapi ia sudah menggulung semua kertasnya, mengemas pulpen-pulpen favoritnya, dan menatapku dengan mata sendu.
“Terima kasih telah mempercayaiku,” tulisnya. “Bahkan ketika dunia memilih mengusirku.”
Ia berjalan perlahan ke arah hutan, diiringi suara jangkrik dan desah angin yang seperti doa setengah jadi. Aku menatap punggung kecilnya, dan entah kenapa, air mata turun begitu saja.
***
Kini, musang itu tak lagi di rumahku. Tapi ia hidup dalam dinding-dinding yang pernah ia tulisi. Dalam tumpukan kertas yang masih kusimpan. Dalam setiap kata-kata yang kutulis ulang dan kuceritakan pada dunia.
Dan tiap malam, ketika angin menerpa jendela dengan lembut, aku merasa ia masih di luar sana—di pohon-pohon, di semak, di antara bebunyian malam—menulis rindu.
Mungkin pada dunia. Mungkin pada tupai itu. Atau mungkin… padaku.[T]
Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole



























