23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konspirasi di Tengah Gejolak: Psikologi Mencari Musuh Tak Terlihat

Isran Kamal by Isran Kamal
September 19, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

TAHUN 2025 terasa seperti sebuah babak yang penuh gejolak. Di berbagai belahan dunia, ketegangan politik dan sosial memuncak. Nepal menjadi contoh paling mencolok ketika ketidakpuasan rakyat memuncak hingga menumbangkan pemerintahan dalam hitungan minggu. Suatu peristiwa yang memicu perdebatan panjang mengenai kegagalan demokrasi di negara itu.

Jepang pun berguncang, partai yang berkuasa kehilangan mayoritasnya dalam pemilihan legislatif Juli 2025, disertai demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup dan kebijakan pajak yang dianggap membebani rakyat. Di Prancis, tekanan publik membuat perdana menteri mundur dari jabatannya, membuka babak ketidakpastian politik baru. Bahkan Indonesia tak luput dari gejolak, dengan protes sosial, penjarahan dirumah pejabat dan krisis politik yang memicu tudingan adanya aktor asing di balik layar.

Di tengah situasi yang kacau ini, satu fenomena yang menarik perhatian adalah bagaimana narasi konspirasi berkembang nyaris seiring dengan krisis itu sendiri. Setiap pergantian pemerintahan, setiap kebijakan tak populer, hingga setiap gejolak harga bahan pokok, segera diikuti oleh spekulasi tentang adanya “dalang” yang mengatur segalanya.

Sosok seperti George Soros kembali menjadi kambing hitam klasik, dituduh mendanai gerakan protes di berbagai negara. Di media sosial, wacana tentang “campur tangan asing”, “elit global”, bahkan “agenda rahasia” menjadi viral, mengisi kekosongan penjelasan yang sering kali tidak dituntaskan oleh pemerintah maupun media arus utama.

Fenomena ini bukan hanya menarik dari sisi politik, tetapi juga dari sisi psikologi. Mengapa di tengah ketidakpastian, narasi konspirasi justru terasa begitu memikat? Apa yang mendorong masyarakat, baik individu maupun kelompok. untuk menerima penjelasan yang sering kali minim bukti?

Mengapa Konspirasi Menarik

Secara psikologis, teori konspirasi memberi sesuatu yang sangat berharga bagi manusia, yakni munculnya rasa kepastian. Ketika dunia tampak kacau, otak kita bekerja keras mencari pola. Konspirasi menawarkan narasi sederhana bahwa ada penyebab tunggal, ada aktor jahat yang bisa disalahkan, ada penjelasan yang membuat kekacauan tampak “masuk akal”. Dalam psikologi kognitif, fenomena ini dikenal sebagai pattern-seeking behavior, suatu dorongan bawaan untuk menemukan keteraturan.

Selain itu, konspirasi juga memenuhi kebutuhan akan kontrol. Rasa kehilangan kendali atas keadaan hidup, misalnya karena kenaikan harga atau keputusan politik yang tak terduga menyebabkan ketidaknyamanan psikologis. Dengan meyakini adanya aktor tertentu yang mengatur semuanya, paradoksnya, kita merasa situasi itu “dapat dipahami” meski tetap tidak adil. Lebih jauh, teori konspirasi juga bisa memperkuat identitas kelompok. Masyarakat yang merasa terpinggirkan bisa menemukan rasa kebersamaan dengan percaya bahwa mereka “sama-sama korban” dari rencana besar pihak luar.

Di Indonesia, krisis politik baru-baru ini sempat dikaitkan dengan nama George Soros. Narasi ini menyebar cepat di platform media sosial, disertai potongan gambar dan kutipan yang seringkali diambil di luar konteks. Di Nepal, jatuhnya pemerintahan memunculkan tuduhan bahwa negara tetangga, India, ikut campur demi kepentingan geopolitik, meski bukti konkret sulit ditemukan. Di Prancis, rumor berkembang bahwa pengunduran diri perdana menteri hanyalah bagian dari “skema besar” elit Uni Eropa untuk menggiring kebijakan tertentu.

Semua contoh ini memperlihatkan pola yang sama, di mana krisis besar menciptakan ruang kosong yang segera diisi dengan narasi alternatif. Dan di era digital, narasi ini menemukan saluran penyebaran yang cepat dan masif. Algoritma media sosial yang memprioritaskan keterlibatan emosional membuat berita sensasional termasuk teori konspirasi lebih mudah viral dibanding klarifikasi resmi yang kering dan faktual.

Dampak Psikologis dan  Sosial

Narasi konspirasi memang bisa memberikan rasa nyaman sesaat, tetapi efek jangka panjangnya cukup serius. Secara psikologis, terlalu lama hidup dalam kerangka berpikir konspiratif dapat meningkatkan trait anxiety karena dunia terasa penuh ancaman tersembunyi. Individu menjadi waspada berlebihan, mudah curiga, dan sulit mempercayai orang lain, bahkan di lingkaran terdekat. Dalam psikologi klinis, pola ini dapat memperburuk kondisi seperti gangguan kecemasan umum (generalized anxiety disorder) atau paranoia ringan.

Selain itu, teori konspirasi sering memperkuat polarisasi sosial. Orang yang percaya suatu narasi cenderung mencari informasi yang mengonfirmasi keyakinannya (confirmation bias), sementara menolak data yang bertentangan. Akibatnya, terciptalah echo chamber yang memperdalam jurang antara “kami” dan “mereka”. Di media sosial, fenomena ini diperkuat oleh algoritma yang mendorong konten serupa sehingga seseorang semakin terkurung dalam gelembung pandangan tertentu. Bagi masyarakat luas, ini berarti semakin sulit terbangun ruang dialog yang sehat.

Dampaknya meluas hingga ranah sosial-politik. Ketika narasi konspirasi mendominasi, kepercayaan terhadap institusi publik melemah. Pemilu, media, bahkan sains bisa dianggap “sudah diatur” atau “dipalsukan”. Warga menjadi skeptis terhadap kebijakan publik, termasuk yang berbasis bukti. Misalnya, upaya vaksinasi atau kebijakan penghematan energi bisa ditolak karena dianggap bagian dari agenda tersembunyi. Dalam situasi krisis, hal ini sangat berbahaya dan menyebabkan solidaritas sosial terganggu, serta menyebabkan masyarakat tidak mampu merespons secara rasional.

Lebih jauh, teori konspirasi dapat memicu perilaku ekstrem. Individu atau kelompok bisa merasa terdorong untuk “mengambil tindakan” demi melawan musuh yang mereka bayangkan, yang kadang berujung pada kekerasan atau aksi vandalisme. Beberapa kasus penyerangan terhadap fasilitas publik atau pejabat negara di berbagai belahan dunia terjadi karena pelaku meyakini bahwa mereka sedang “menyelamatkan bangsa”. Dalam jangka panjang, negara bisa terjebak dalam siklus ketidakpercayaan, di mana setiap kebijakan selalu disambut kecurigaan, sehingga legitimasi pemerintah terus terkikis.

Dari perspektif kesehatan mental, masyarakat yang terus-menerus diselimuti ketidakpercayaan cenderung mengalami collective stress yang menggerogoti rasa aman dan kohesi sosial. Ketika rasa aman hilang, orang lebih rentan terhadap populisme, ujaran kebencian, dan simplifikasi masalah. Ini menciptakan lingkaran setan dimana semakin banyak ketidakpercayaan, semakin subur teori konspirasi berikutnya.

Kesadaran akan dampak psikologis ini penting agar kita tidak terperangkap dalam lingkaran kecurigaan yang tak berkesudahan. Alih-alih menelan mentah-mentah setiap klaim, kita bisa melatih epistemic humility. Kerendahan hati dalam mengakui bahwa kita mungkin tidak memiliki seluruh informasi. Ini bukan berarti kita harus menutup mata terhadap kemungkinan adanya konspirasi nyata, melainkan belajar menyeimbangkan rasa ingin tahu dengan standar bukti yang wajar.

Di tingkat pribadi, menjaga kesehatan mental di era banjir informasi berarti mengatur pola konsumsi media, memverifikasi sumber, tidak terjebak doomscrolling, dan membatasi paparan informasi yang berlebihan. Di tingkat sosial, pendidikan literasi digital dan berpikir kritis menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah dimanipulasi.

Kita perlu ingat bahwa tidak semua yang terjadi di dunia adalah hasil rekayasa segelintir orang. Sebagian besar krisis adalah hasil kombinasi faktor kompleks seperti kebijakan yang buruk, dinamika ekonomi, bencana alam, atau kesalahan manusia biasa. Menyederhanakan semua itu menjadi “agenda tersembunyi” mungkin memuaskan secara emosional, tetapi tidak membantu menemukan solusi nyata.

Akhirnya, konspirasi adalah cermin dari ketakutan kolektif kita. Dengan memahami mekanisme psikologis di baliknya, kita bisa merespons dengan lebih tenang, kritis, dan konstruktif bukan hanya menjadi penonton atau korban dari narasi yang tidak jelas. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Jaswanto

Tags: Psikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Empat “Avant Garde”

Next Post

Menata Waktu, Menata Masa Depan

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Menata Waktu, Menata Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co