13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konspirasi di Tengah Gejolak: Psikologi Mencari Musuh Tak Terlihat

Isran Kamal by Isran Kamal
September 19, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

TAHUN 2025 terasa seperti sebuah babak yang penuh gejolak. Di berbagai belahan dunia, ketegangan politik dan sosial memuncak. Nepal menjadi contoh paling mencolok ketika ketidakpuasan rakyat memuncak hingga menumbangkan pemerintahan dalam hitungan minggu. Suatu peristiwa yang memicu perdebatan panjang mengenai kegagalan demokrasi di negara itu.

Jepang pun berguncang, partai yang berkuasa kehilangan mayoritasnya dalam pemilihan legislatif Juli 2025, disertai demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup dan kebijakan pajak yang dianggap membebani rakyat. Di Prancis, tekanan publik membuat perdana menteri mundur dari jabatannya, membuka babak ketidakpastian politik baru. Bahkan Indonesia tak luput dari gejolak, dengan protes sosial, penjarahan dirumah pejabat dan krisis politik yang memicu tudingan adanya aktor asing di balik layar.

Di tengah situasi yang kacau ini, satu fenomena yang menarik perhatian adalah bagaimana narasi konspirasi berkembang nyaris seiring dengan krisis itu sendiri. Setiap pergantian pemerintahan, setiap kebijakan tak populer, hingga setiap gejolak harga bahan pokok, segera diikuti oleh spekulasi tentang adanya “dalang” yang mengatur segalanya.

Sosok seperti George Soros kembali menjadi kambing hitam klasik, dituduh mendanai gerakan protes di berbagai negara. Di media sosial, wacana tentang “campur tangan asing”, “elit global”, bahkan “agenda rahasia” menjadi viral, mengisi kekosongan penjelasan yang sering kali tidak dituntaskan oleh pemerintah maupun media arus utama.

Fenomena ini bukan hanya menarik dari sisi politik, tetapi juga dari sisi psikologi. Mengapa di tengah ketidakpastian, narasi konspirasi justru terasa begitu memikat? Apa yang mendorong masyarakat, baik individu maupun kelompok. untuk menerima penjelasan yang sering kali minim bukti?

Mengapa Konspirasi Menarik

Secara psikologis, teori konspirasi memberi sesuatu yang sangat berharga bagi manusia, yakni munculnya rasa kepastian. Ketika dunia tampak kacau, otak kita bekerja keras mencari pola. Konspirasi menawarkan narasi sederhana bahwa ada penyebab tunggal, ada aktor jahat yang bisa disalahkan, ada penjelasan yang membuat kekacauan tampak “masuk akal”. Dalam psikologi kognitif, fenomena ini dikenal sebagai pattern-seeking behavior, suatu dorongan bawaan untuk menemukan keteraturan.

Selain itu, konspirasi juga memenuhi kebutuhan akan kontrol. Rasa kehilangan kendali atas keadaan hidup, misalnya karena kenaikan harga atau keputusan politik yang tak terduga menyebabkan ketidaknyamanan psikologis. Dengan meyakini adanya aktor tertentu yang mengatur semuanya, paradoksnya, kita merasa situasi itu “dapat dipahami” meski tetap tidak adil. Lebih jauh, teori konspirasi juga bisa memperkuat identitas kelompok. Masyarakat yang merasa terpinggirkan bisa menemukan rasa kebersamaan dengan percaya bahwa mereka “sama-sama korban” dari rencana besar pihak luar.

Di Indonesia, krisis politik baru-baru ini sempat dikaitkan dengan nama George Soros. Narasi ini menyebar cepat di platform media sosial, disertai potongan gambar dan kutipan yang seringkali diambil di luar konteks. Di Nepal, jatuhnya pemerintahan memunculkan tuduhan bahwa negara tetangga, India, ikut campur demi kepentingan geopolitik, meski bukti konkret sulit ditemukan. Di Prancis, rumor berkembang bahwa pengunduran diri perdana menteri hanyalah bagian dari “skema besar” elit Uni Eropa untuk menggiring kebijakan tertentu.

Semua contoh ini memperlihatkan pola yang sama, di mana krisis besar menciptakan ruang kosong yang segera diisi dengan narasi alternatif. Dan di era digital, narasi ini menemukan saluran penyebaran yang cepat dan masif. Algoritma media sosial yang memprioritaskan keterlibatan emosional membuat berita sensasional termasuk teori konspirasi lebih mudah viral dibanding klarifikasi resmi yang kering dan faktual.

Dampak Psikologis dan  Sosial

Narasi konspirasi memang bisa memberikan rasa nyaman sesaat, tetapi efek jangka panjangnya cukup serius. Secara psikologis, terlalu lama hidup dalam kerangka berpikir konspiratif dapat meningkatkan trait anxiety karena dunia terasa penuh ancaman tersembunyi. Individu menjadi waspada berlebihan, mudah curiga, dan sulit mempercayai orang lain, bahkan di lingkaran terdekat. Dalam psikologi klinis, pola ini dapat memperburuk kondisi seperti gangguan kecemasan umum (generalized anxiety disorder) atau paranoia ringan.

Selain itu, teori konspirasi sering memperkuat polarisasi sosial. Orang yang percaya suatu narasi cenderung mencari informasi yang mengonfirmasi keyakinannya (confirmation bias), sementara menolak data yang bertentangan. Akibatnya, terciptalah echo chamber yang memperdalam jurang antara “kami” dan “mereka”. Di media sosial, fenomena ini diperkuat oleh algoritma yang mendorong konten serupa sehingga seseorang semakin terkurung dalam gelembung pandangan tertentu. Bagi masyarakat luas, ini berarti semakin sulit terbangun ruang dialog yang sehat.

Dampaknya meluas hingga ranah sosial-politik. Ketika narasi konspirasi mendominasi, kepercayaan terhadap institusi publik melemah. Pemilu, media, bahkan sains bisa dianggap “sudah diatur” atau “dipalsukan”. Warga menjadi skeptis terhadap kebijakan publik, termasuk yang berbasis bukti. Misalnya, upaya vaksinasi atau kebijakan penghematan energi bisa ditolak karena dianggap bagian dari agenda tersembunyi. Dalam situasi krisis, hal ini sangat berbahaya dan menyebabkan solidaritas sosial terganggu, serta menyebabkan masyarakat tidak mampu merespons secara rasional.

Lebih jauh, teori konspirasi dapat memicu perilaku ekstrem. Individu atau kelompok bisa merasa terdorong untuk “mengambil tindakan” demi melawan musuh yang mereka bayangkan, yang kadang berujung pada kekerasan atau aksi vandalisme. Beberapa kasus penyerangan terhadap fasilitas publik atau pejabat negara di berbagai belahan dunia terjadi karena pelaku meyakini bahwa mereka sedang “menyelamatkan bangsa”. Dalam jangka panjang, negara bisa terjebak dalam siklus ketidakpercayaan, di mana setiap kebijakan selalu disambut kecurigaan, sehingga legitimasi pemerintah terus terkikis.

Dari perspektif kesehatan mental, masyarakat yang terus-menerus diselimuti ketidakpercayaan cenderung mengalami collective stress yang menggerogoti rasa aman dan kohesi sosial. Ketika rasa aman hilang, orang lebih rentan terhadap populisme, ujaran kebencian, dan simplifikasi masalah. Ini menciptakan lingkaran setan dimana semakin banyak ketidakpercayaan, semakin subur teori konspirasi berikutnya.

Kesadaran akan dampak psikologis ini penting agar kita tidak terperangkap dalam lingkaran kecurigaan yang tak berkesudahan. Alih-alih menelan mentah-mentah setiap klaim, kita bisa melatih epistemic humility. Kerendahan hati dalam mengakui bahwa kita mungkin tidak memiliki seluruh informasi. Ini bukan berarti kita harus menutup mata terhadap kemungkinan adanya konspirasi nyata, melainkan belajar menyeimbangkan rasa ingin tahu dengan standar bukti yang wajar.

Di tingkat pribadi, menjaga kesehatan mental di era banjir informasi berarti mengatur pola konsumsi media, memverifikasi sumber, tidak terjebak doomscrolling, dan membatasi paparan informasi yang berlebihan. Di tingkat sosial, pendidikan literasi digital dan berpikir kritis menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah dimanipulasi.

Kita perlu ingat bahwa tidak semua yang terjadi di dunia adalah hasil rekayasa segelintir orang. Sebagian besar krisis adalah hasil kombinasi faktor kompleks seperti kebijakan yang buruk, dinamika ekonomi, bencana alam, atau kesalahan manusia biasa. Menyederhanakan semua itu menjadi “agenda tersembunyi” mungkin memuaskan secara emosional, tetapi tidak membantu menemukan solusi nyata.

Akhirnya, konspirasi adalah cermin dari ketakutan kolektif kita. Dengan memahami mekanisme psikologis di baliknya, kita bisa merespons dengan lebih tenang, kritis, dan konstruktif bukan hanya menjadi penonton atau korban dari narasi yang tidak jelas. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Jaswanto

Tags: Psikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Empat “Avant Garde”

Next Post

Menata Waktu, Menata Masa Depan

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Menata Waktu, Menata Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co