6 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Empat “Avant Garde”

Wicaksono Adi by Wicaksono Adi
September 18, 2025
in Esai
Empat “Avant Garde”

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Kawan yang baik,

Engkau berkata bahwa sesekali perlu mengingat kembali apa itu garda depan atau ”avant garde” dalam seni, khususnya seni rupa.

Baiklah di sini kita akan lihat kembali istilah itu dalam pengertian yang paling sederhana, tentu dengan risiko terjadi reduksi di sana-sini.

Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam sejarah perkembangan seni modern selalu muncul upaya untuk mencari penemuan-penemuan baru dengan merambah area estetika yang baru pula secara terus-menerus.

Perlu dicatat bahwa salah satu watak modernisme adalah kecenderungannya melakukan kritik diri, bukan sebagai upaya penghancuran, melainkan jusru kebutuhan inheren guna memperkuat modernisme itu sendiri.

Artinya, modernisme telah menjadikan dirinya sebagai problem utama, dan untuk mencapai pembaruan demi pembaruan yang diinginkan seni modern bahkan dapat melakukan penyangkalan terhadap dirinya sendiri pula. Dengan begitu ia akan beroleh asupan untuk terus bergerak maju.

Selain itu, seni modern juga berupaya menegakkan otonominya sekaligus menyempurnakan kaidah atau norma-norma khusus dengan menolak segala hal yang menghambat atau menghalangi atau membatalkan penjelajahan estetiknya.

Seni modern tidak membutuhkan perangkat pembenaran dari luar karena diyakini secara niscaya mengandung pembenaran sekaligus tujuan pada dirinya sendiri. Seni modern juga diyakini sebagai wilayah khusus yang terbebas atau harus membebaskan diri dari segala kekuatan lain, termasuk otoritas agama maupun standar moralitas apapun.

Keinginan atau cita-cita untuk membuat penemuan-penemuan baru itulah yang kemudian lazim disebut sebagai semangat garda depan atau ”avant-garde”. (Selanjutnya istilah ini akan kita letakkan dalam tanda kutip).

Dalam konteks yang spesifik, gerakan avant-garde dalam seni modern dapat diukur berdasar pencapaian keaslian dan kebaruan berikut kaidah-kaidah khusus untuk mencapai hal itu, terutama pada aspek teknik yang terkait langsung dengan penggunaan material maupun faktor-faktor pendukungnya.

Hal semacam itu tampaknya juga berlaku pada ilmu pengetahuan dan sains yang bergerak maju menuju ”penyempurnaan” secara terus menerus. Upaya pembaruan dan penemuan-penemuan baru dalam seni modern telah melahirkan berbagai aliran dan gaya serta gerakan estetik yang berbeda-beda.

Seni avant-garde juga sering disebut sebagai seni yang secara konseptual dianggap terdepan serta cenderung menampilkan dimensi-dimensi ekstrem dalam aspek teknik. Dan karena cenderung menyerang atau bahkan memberontak pada seni lama, seni avant-garde biasanya juga selalu menghadapi penolakan, atau sekurang-kurangnya akan terasing dalam lingkungan seni itu sendiri sebelum beroleh pengakuan secara luas.

Artinya, gerakan avant-garde dalam seni yang biasanya dimulai dengan kritik diri atas praktik yang ada berikut penjungkir-balikan nilai-nilai atau pandangan yang mendasari praktik tersebut hingga muncul pendekatan baru itu biasanya tidak langsung dapat dipahami oleh lingkungan seni itu sendiri maupun oleh khalayak ramai. Setiap gerakan avant-garde dalam seni sering dianggap mendahului zamannya.

Kawan yang baik,

Sekurang-kurangnya terdapat empat jenis gerakan seni avant-garde, yakni avant-garde sosial-heroik, avant-garde pemurnian, avant-garde radikal dan belakangan muncul post avant-garde. (Charles Jencks, “The Post-Avant-Garde”, dalam Andreas C. Papadakis, “The Post-Avant-Garde. Painting in the Eighties”, 1987).

Avant-garde sosial-heroik adalah gerakan seni yang berambisi mendorong seni sebagai bagian dari kemajuan sosial dan politik. Gagasan itu mula-mula dilansir oleh Henri de Saint-Simon, seorang pensiunan tentara sekaligus sosiolog Prancis pada tahun 1825. Ia adalah tokoh awal yang memopulerkan istilah dalam bahasa Prancis – avant-garde – yang memang diambil dari dunia militer.

Gerakan ini dimulai dengan munculnya realisme, yakni suatu gerakan yang terkait erat dengan gerakan romantik. Patut dicatat bahwa realisme maupun romantisisme adalah gerakan seni yang sama-sama lahir dari perdebatan kuno ihwal hubungan seni dengan kenyataan. Sebelum era romantik, dunia seni pada umumnya didominasi oleh pendekatan klasik yang meyakini seni sebagai tiruan kenyataan.

Dalam klasikisme, tujuan seni adalah menciptakan kenyataan ”objektif” dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan melalui pendekatan rasional. Tapi semenjak Renasisans, pendekatan tersebut mulai goyah akibat munculnya pembedaan antara kenyataan ”subjektif” dan ”objektif”. Dan dengan pembedaan itu kemudian tampak bahwa ilmu pengetahuan dan sains ternyata jauh lebih mampu ”menciptakan” kenyataan ”objektif” ketimbang seni. Akibatnya seni terancam kehilangan dasar pijakannya.

Tapi justru karena itu kaum romantik mencari jalan putar dengan membuang ambisi untuk mencapai kenyataan ”objektif” lalu menggantinya dengan pendekatan ”subjektif” yang nonrasional. Domain seni bukan pada hal-ihwal yang berkaitan dengan dunia yang dapat diobjektivikasi, melainkan segala manifestasi dari pancaran emosi dan intuisi. Yakni wilayah nonmaterial berikut selubung misteri yang muskil untuk disaintifikasi.

Begitulah jika kita lihat secara kasar.

Kaum romantik memang tidak sepenuhnya bebas dari ikatan saling tergantung antara seni sebagai wahana penciptaan atau reproduksi ”realitas”, tapi dalam menciptakan ”realitas” itu mereka lebih mengutamakan imajinasi ketimbang ”objektivikasi”. Dunia imajiner dan gelora emosi dan intuisi subjektif itu juga diyakini dapat melepaskan seni dari tuntutan fungsional apapun sehingga ia benar-benar otonom.

Tapi, hal itu kemudian ditolak oleh kaum realis yang tetap ingin mengaitkan seni dengan kenyataan. Kaum realis yakin bahwa jika seni benar-benar dilepaskan dari kenyataan, maka ia akan kehilangan dasar historis tempatnya hidup. Mereka berupaya menghidupkan kembali pendekatan klasik yang menempatkan seni sebagai cerminan kenyataan dalam perspektif yang berbeda, yakni seni dengan basis kenyataan sosial-historis secara langsung. Bagi mereka, seni harus berfungsi sebagai cerminan sekaligus bagian dari situasi sosial tempatnya hidup.

Dalam derajat tertentu dapat dikatakan bahwa keyakinan kaum realis ini menjadi cikal-bakal estetika Marxis yang kelak membawa pengaruh mendalam pada perkembangan seni modern abad XX. Patut dicatat pula bahwa kemunculan realisme terpicu oleh perubahan sosial-politik berupa gerakan kerakyatan dan gelombang demokrasi akibat krisis ekonomi yang melanda Eropa menjelang dekade ke lima abad XIX.

Krisis tersebut telah menimbulkan fragmentasi dan konflik yang melibatkan kelompok menengah, golongan rakyat biasa dan kaum buruh, para tuan tanah dan lingkaran elite-monarkis. Di jalan-jalan pecah aksi massa yang menuntut pembubaran monarki dan penghapusan sistem kerja feodal serta pemenuhan hak pilih politik bagi semua orang (yakni kaum laki-laki, bukan kaum perempuan).

Situasi ”revolusioner” tersebut mendorong para seniman realis untuk menciptakan seni sebagai cerminan kenyataan sosial yang sebenar-benarnya. Mereka berambisi menempatkan seni dalam konteks kemajuan sosial dan seniman harus terlibat dengan proses perubahan sosial dan kemanusiaan.

Orang seperti Gustave Courbet (1819-1877) misalnya, menolak seni romantik bukan semata-mata karena seni ini akan menghasilkan keindahan ”subjektif” yang semu dan elitis sebagai bagian dari budaya borjuis, tapi karena hendak menjadikan seni sebagai reproduksi kenyataan sehingga dapat memberi daya dorong bagi kemajuan sosial.

Itulah avant-garde heroik yang hendak menempatkan seni sebagai bagian langsung dari transformasi sosial, bahkan sebagai wahana emansipatoris masyarakat. Seni dan seniman ”realis” seyogianya (atau bahkan niscaya) berpihak kepada kaum papa, membela golongan marginal atau kelompok yang tertindas.

Kawan yang baik,

Jenis kedua adalah avant-garde pemurnian. Gerakan ini bertolak belakang dengan avant-garde sosial-heroik. Jenis avant-garde ini berpangkal pada gerakan romantik yang melahirkan berbagai tendensi ekspresivisme. Yakni seni sebagai perwujudan dunia batin yang unik dan sangat personal. Juga sebagai perwujudan bentuk-bentuk bermakna yang mengacu pada dirinya sendiri melalui pendayagunaan imajinasi, emosi dan intuisi.

Tujuan avant-garde pemurnian semata-mata adalah penemuan-penemuan artistik baru, terutama dalam pendekatan visual dan aspek-aspek kebaruan teknik seperti yang terjadi pada sejarah kelahiran fauvisme, kubisme, surealisme maupun abstrak serta abstrak-ekspresionisme.

Dalam derajat tertentu, seni “ready made” yang menjadi matra utama Dadaisme New York, bolehlah kita masukkan dalam avant-garde jenis ini. Pada satu sisi, karya-karya ready made itu memang telah merombak kaidah lama tentang aspek material dalam seni rupa yang dianggap memiliki watak dan nilai khusus yang kemudian bergeser menuju material dari segala benda sehari-hari. Tapi pergeserran itu masih berada dalam kerangka seni keobjekan (objecthood) yang statis dan ”monumental”. Maka, avant-garde-nya lebih memberat pada aspek estetik formalnya.

Hal itu berbeda dengan jenis avant-garde ketiga, yakni avant-garde radikal. Yaitu penemuan-penemuan baru yang bertendensi untuk menghapus batas antara seni dengan kehidupan. Juga batas-batas antar bidang seni.

Bolehlah di sini kita masukkan gerakan futurisme, konstruktivisme dan tentu saja gerakan Dada Eropa yang membaurkan sastra, teater, dan seni rupa sebagai karya-karya eksperimental multidimensi sembari mendorong seni tersebut sebagai bagian dari gerakan sosial di ruang publik, termasuk cikal-bakal ”performance art” yang dipelopori para penyair di Zürich, Munich, Berlin, Paris, dan Roma pada masa Perang Dunia I.

Mereka tak hanya mencipta seni di ruang-ruang khusus melainkan juga menyulap ruang publik menjadi galeri seni. Juga gerakan Fluxus yang hendak mengintegrasikan seni dengan realitas atau kehidupan nyata secara langsung.

Jadi, gerakan Dada yang penuh kontradiksi, anarkis dan juga “anti seni”, maupun Fluxus yang berambisi menghancurkan status seni yang eksklusif dan mengaburkan batas antara seni dengan kehidupan berikut segala hirarki nilai dalam seni itu sendiri (juga gerakan aksionisme Wina yang hendak mengekstrapolasi kondisi psiko-sosial masyarakat pasca Perang Dunia II), adalah wakil utama avant-garde radikal.

Di situ seni tak lagi menjadi wahana keobjekan belaka tapi juga dapat menjadi peristiwa. Posisi publik (penonton) juga tidak lagi berposisi sebagai subjek pasif melainkan telah bergeser menjadi bagian dari penciptaan kepekaan artistik secara timbal-balik.

Tentu seni kontemporer saat ini yang berbasis pada serbamaterial atau serbawahana seperti seni instalasi, “performance art”, seni serbamedia, seni peristiwa dan seterusnya, dapat masuk golongan ketiga ini.

Dan jenis keempat adalah ”post avant-garde” yang tidak berambisi mencari penemuan-penemuan baru yang mendahului zamannya, melainkan justru memberi tempat bagi segala jenis seni yang ada. Sebagian seniman mencampur baurkan berbagai pendekatan dan gaya, jika perlu melakukan penciptaan secara eklektik yang semula diharamkan oleh seni modern.

Ya, ”post avant-garde” bahkan cenderung menentang semangat avant-garde itu sendiri. Dalam ”post avant-garde” semua beroleh tempat.

Gerakan realisme-heroik maupun praktik seni dalam pendekatan Marxian, segala seni yang bertolak pada romantisisme dan ekspresivisme yang lahir dari rahim avant-garde permurnian maupun segala varian penerusnya, pencampuradukan seni rupa, sastra, teater, tari, karya-karya seni ”ready made” model Dada Amerika maupun praktik seni kejadian (event) yang bersentuhan dengan Neo-Dada dan Fluxus, segala seni yang mereproduksi gerakan sebelumnya, pun serbarupa karya yang bertendensi menghapus perbedaan antara seni ”murni” dengan “kitch” sebagaimana Pop Art, dapat hadir secara serempak dalam proyeksi artistik yang bermacam-macam.

Tentu, karena ”post avant-garde” tidak berambisi mencari kebaruan, maka segalanya menjadi lebih cair. Semua mendapat tempat. Aneka fenomena artistik dalam segala wahana dapat ditasbihkan sebagai karya seni yang dapat digelar di ruang-ruang khusus seperti galeri dan museum maupun di jalanan, di subway, pasar, lumpur sawah, kuburan, kamar tidur hingga di angkasa luar sekalipun.

Demikian kawan. Salam dari Surabaya. [T]

Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis WICAKSONO ADI
Tags: avant gardefilsafatSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film Pendek “Passarinho” (2024): Darah Pertama, Rencana Pertama, dan Impian yang Hampir Terlunta

Next Post

Konspirasi di Tengah Gejolak: Psikologi Mencari Musuh Tak Terlihat

Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

Penulis esai seni-budaya, kurator, dan juga salah satu pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival.

Related Posts

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Konspirasi di Tengah Gejolak: Psikologi Mencari Musuh Tak Terlihat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana
Esai

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

by Angga Wijaya
August 6, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

by Chusmeru
August 6, 2026
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co