24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Empat “Avant Garde”

Wicaksono Adi by Wicaksono Adi
September 18, 2025
in Esai
Empat “Avant Garde”

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Kawan yang baik,

Engkau berkata bahwa sesekali perlu mengingat kembali apa itu garda depan atau ”avant garde” dalam seni, khususnya seni rupa.

Baiklah di sini kita akan lihat kembali istilah itu dalam pengertian yang paling sederhana, tentu dengan risiko terjadi reduksi di sana-sini.

Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam sejarah perkembangan seni modern selalu muncul upaya untuk mencari penemuan-penemuan baru dengan merambah area estetika yang baru pula secara terus-menerus.

Perlu dicatat bahwa salah satu watak modernisme adalah kecenderungannya melakukan kritik diri, bukan sebagai upaya penghancuran, melainkan jusru kebutuhan inheren guna memperkuat modernisme itu sendiri.

Artinya, modernisme telah menjadikan dirinya sebagai problem utama, dan untuk mencapai pembaruan demi pembaruan yang diinginkan seni modern bahkan dapat melakukan penyangkalan terhadap dirinya sendiri pula. Dengan begitu ia akan beroleh asupan untuk terus bergerak maju.

Selain itu, seni modern juga berupaya menegakkan otonominya sekaligus menyempurnakan kaidah atau norma-norma khusus dengan menolak segala hal yang menghambat atau menghalangi atau membatalkan penjelajahan estetiknya.

Seni modern tidak membutuhkan perangkat pembenaran dari luar karena diyakini secara niscaya mengandung pembenaran sekaligus tujuan pada dirinya sendiri. Seni modern juga diyakini sebagai wilayah khusus yang terbebas atau harus membebaskan diri dari segala kekuatan lain, termasuk otoritas agama maupun standar moralitas apapun.

Keinginan atau cita-cita untuk membuat penemuan-penemuan baru itulah yang kemudian lazim disebut sebagai semangat garda depan atau ”avant-garde”. (Selanjutnya istilah ini akan kita letakkan dalam tanda kutip).

Dalam konteks yang spesifik, gerakan avant-garde dalam seni modern dapat diukur berdasar pencapaian keaslian dan kebaruan berikut kaidah-kaidah khusus untuk mencapai hal itu, terutama pada aspek teknik yang terkait langsung dengan penggunaan material maupun faktor-faktor pendukungnya.

Hal semacam itu tampaknya juga berlaku pada ilmu pengetahuan dan sains yang bergerak maju menuju ”penyempurnaan” secara terus menerus. Upaya pembaruan dan penemuan-penemuan baru dalam seni modern telah melahirkan berbagai aliran dan gaya serta gerakan estetik yang berbeda-beda.

Seni avant-garde juga sering disebut sebagai seni yang secara konseptual dianggap terdepan serta cenderung menampilkan dimensi-dimensi ekstrem dalam aspek teknik. Dan karena cenderung menyerang atau bahkan memberontak pada seni lama, seni avant-garde biasanya juga selalu menghadapi penolakan, atau sekurang-kurangnya akan terasing dalam lingkungan seni itu sendiri sebelum beroleh pengakuan secara luas.

Artinya, gerakan avant-garde dalam seni yang biasanya dimulai dengan kritik diri atas praktik yang ada berikut penjungkir-balikan nilai-nilai atau pandangan yang mendasari praktik tersebut hingga muncul pendekatan baru itu biasanya tidak langsung dapat dipahami oleh lingkungan seni itu sendiri maupun oleh khalayak ramai. Setiap gerakan avant-garde dalam seni sering dianggap mendahului zamannya.

Kawan yang baik,

Sekurang-kurangnya terdapat empat jenis gerakan seni avant-garde, yakni avant-garde sosial-heroik, avant-garde pemurnian, avant-garde radikal dan belakangan muncul post avant-garde. (Charles Jencks, “The Post-Avant-Garde”, dalam Andreas C. Papadakis, “The Post-Avant-Garde. Painting in the Eighties”, 1987).

Avant-garde sosial-heroik adalah gerakan seni yang berambisi mendorong seni sebagai bagian dari kemajuan sosial dan politik. Gagasan itu mula-mula dilansir oleh Henri de Saint-Simon, seorang pensiunan tentara sekaligus sosiolog Prancis pada tahun 1825. Ia adalah tokoh awal yang memopulerkan istilah dalam bahasa Prancis – avant-garde – yang memang diambil dari dunia militer.

Gerakan ini dimulai dengan munculnya realisme, yakni suatu gerakan yang terkait erat dengan gerakan romantik. Patut dicatat bahwa realisme maupun romantisisme adalah gerakan seni yang sama-sama lahir dari perdebatan kuno ihwal hubungan seni dengan kenyataan. Sebelum era romantik, dunia seni pada umumnya didominasi oleh pendekatan klasik yang meyakini seni sebagai tiruan kenyataan.

Dalam klasikisme, tujuan seni adalah menciptakan kenyataan ”objektif” dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan melalui pendekatan rasional. Tapi semenjak Renasisans, pendekatan tersebut mulai goyah akibat munculnya pembedaan antara kenyataan ”subjektif” dan ”objektif”. Dan dengan pembedaan itu kemudian tampak bahwa ilmu pengetahuan dan sains ternyata jauh lebih mampu ”menciptakan” kenyataan ”objektif” ketimbang seni. Akibatnya seni terancam kehilangan dasar pijakannya.

Tapi justru karena itu kaum romantik mencari jalan putar dengan membuang ambisi untuk mencapai kenyataan ”objektif” lalu menggantinya dengan pendekatan ”subjektif” yang nonrasional. Domain seni bukan pada hal-ihwal yang berkaitan dengan dunia yang dapat diobjektivikasi, melainkan segala manifestasi dari pancaran emosi dan intuisi. Yakni wilayah nonmaterial berikut selubung misteri yang muskil untuk disaintifikasi.

Begitulah jika kita lihat secara kasar.

Kaum romantik memang tidak sepenuhnya bebas dari ikatan saling tergantung antara seni sebagai wahana penciptaan atau reproduksi ”realitas”, tapi dalam menciptakan ”realitas” itu mereka lebih mengutamakan imajinasi ketimbang ”objektivikasi”. Dunia imajiner dan gelora emosi dan intuisi subjektif itu juga diyakini dapat melepaskan seni dari tuntutan fungsional apapun sehingga ia benar-benar otonom.

Tapi, hal itu kemudian ditolak oleh kaum realis yang tetap ingin mengaitkan seni dengan kenyataan. Kaum realis yakin bahwa jika seni benar-benar dilepaskan dari kenyataan, maka ia akan kehilangan dasar historis tempatnya hidup. Mereka berupaya menghidupkan kembali pendekatan klasik yang menempatkan seni sebagai cerminan kenyataan dalam perspektif yang berbeda, yakni seni dengan basis kenyataan sosial-historis secara langsung. Bagi mereka, seni harus berfungsi sebagai cerminan sekaligus bagian dari situasi sosial tempatnya hidup.

Dalam derajat tertentu dapat dikatakan bahwa keyakinan kaum realis ini menjadi cikal-bakal estetika Marxis yang kelak membawa pengaruh mendalam pada perkembangan seni modern abad XX. Patut dicatat pula bahwa kemunculan realisme terpicu oleh perubahan sosial-politik berupa gerakan kerakyatan dan gelombang demokrasi akibat krisis ekonomi yang melanda Eropa menjelang dekade ke lima abad XIX.

Krisis tersebut telah menimbulkan fragmentasi dan konflik yang melibatkan kelompok menengah, golongan rakyat biasa dan kaum buruh, para tuan tanah dan lingkaran elite-monarkis. Di jalan-jalan pecah aksi massa yang menuntut pembubaran monarki dan penghapusan sistem kerja feodal serta pemenuhan hak pilih politik bagi semua orang (yakni kaum laki-laki, bukan kaum perempuan).

Situasi ”revolusioner” tersebut mendorong para seniman realis untuk menciptakan seni sebagai cerminan kenyataan sosial yang sebenar-benarnya. Mereka berambisi menempatkan seni dalam konteks kemajuan sosial dan seniman harus terlibat dengan proses perubahan sosial dan kemanusiaan.

Orang seperti Gustave Courbet (1819-1877) misalnya, menolak seni romantik bukan semata-mata karena seni ini akan menghasilkan keindahan ”subjektif” yang semu dan elitis sebagai bagian dari budaya borjuis, tapi karena hendak menjadikan seni sebagai reproduksi kenyataan sehingga dapat memberi daya dorong bagi kemajuan sosial.

Itulah avant-garde heroik yang hendak menempatkan seni sebagai bagian langsung dari transformasi sosial, bahkan sebagai wahana emansipatoris masyarakat. Seni dan seniman ”realis” seyogianya (atau bahkan niscaya) berpihak kepada kaum papa, membela golongan marginal atau kelompok yang tertindas.

Kawan yang baik,

Jenis kedua adalah avant-garde pemurnian. Gerakan ini bertolak belakang dengan avant-garde sosial-heroik. Jenis avant-garde ini berpangkal pada gerakan romantik yang melahirkan berbagai tendensi ekspresivisme. Yakni seni sebagai perwujudan dunia batin yang unik dan sangat personal. Juga sebagai perwujudan bentuk-bentuk bermakna yang mengacu pada dirinya sendiri melalui pendayagunaan imajinasi, emosi dan intuisi.

Tujuan avant-garde pemurnian semata-mata adalah penemuan-penemuan artistik baru, terutama dalam pendekatan visual dan aspek-aspek kebaruan teknik seperti yang terjadi pada sejarah kelahiran fauvisme, kubisme, surealisme maupun abstrak serta abstrak-ekspresionisme.

Dalam derajat tertentu, seni “ready made” yang menjadi matra utama Dadaisme New York, bolehlah kita masukkan dalam avant-garde jenis ini. Pada satu sisi, karya-karya ready made itu memang telah merombak kaidah lama tentang aspek material dalam seni rupa yang dianggap memiliki watak dan nilai khusus yang kemudian bergeser menuju material dari segala benda sehari-hari. Tapi pergeserran itu masih berada dalam kerangka seni keobjekan (objecthood) yang statis dan ”monumental”. Maka, avant-garde-nya lebih memberat pada aspek estetik formalnya.

Hal itu berbeda dengan jenis avant-garde ketiga, yakni avant-garde radikal. Yaitu penemuan-penemuan baru yang bertendensi untuk menghapus batas antara seni dengan kehidupan. Juga batas-batas antar bidang seni.

Bolehlah di sini kita masukkan gerakan futurisme, konstruktivisme dan tentu saja gerakan Dada Eropa yang membaurkan sastra, teater, dan seni rupa sebagai karya-karya eksperimental multidimensi sembari mendorong seni tersebut sebagai bagian dari gerakan sosial di ruang publik, termasuk cikal-bakal ”performance art” yang dipelopori para penyair di Zürich, Munich, Berlin, Paris, dan Roma pada masa Perang Dunia I.

Mereka tak hanya mencipta seni di ruang-ruang khusus melainkan juga menyulap ruang publik menjadi galeri seni. Juga gerakan Fluxus yang hendak mengintegrasikan seni dengan realitas atau kehidupan nyata secara langsung.

Jadi, gerakan Dada yang penuh kontradiksi, anarkis dan juga “anti seni”, maupun Fluxus yang berambisi menghancurkan status seni yang eksklusif dan mengaburkan batas antara seni dengan kehidupan berikut segala hirarki nilai dalam seni itu sendiri (juga gerakan aksionisme Wina yang hendak mengekstrapolasi kondisi psiko-sosial masyarakat pasca Perang Dunia II), adalah wakil utama avant-garde radikal.

Di situ seni tak lagi menjadi wahana keobjekan belaka tapi juga dapat menjadi peristiwa. Posisi publik (penonton) juga tidak lagi berposisi sebagai subjek pasif melainkan telah bergeser menjadi bagian dari penciptaan kepekaan artistik secara timbal-balik.

Tentu seni kontemporer saat ini yang berbasis pada serbamaterial atau serbawahana seperti seni instalasi, “performance art”, seni serbamedia, seni peristiwa dan seterusnya, dapat masuk golongan ketiga ini.

Dan jenis keempat adalah ”post avant-garde” yang tidak berambisi mencari penemuan-penemuan baru yang mendahului zamannya, melainkan justru memberi tempat bagi segala jenis seni yang ada. Sebagian seniman mencampur baurkan berbagai pendekatan dan gaya, jika perlu melakukan penciptaan secara eklektik yang semula diharamkan oleh seni modern.

Ya, ”post avant-garde” bahkan cenderung menentang semangat avant-garde itu sendiri. Dalam ”post avant-garde” semua beroleh tempat.

Gerakan realisme-heroik maupun praktik seni dalam pendekatan Marxian, segala seni yang bertolak pada romantisisme dan ekspresivisme yang lahir dari rahim avant-garde permurnian maupun segala varian penerusnya, pencampuradukan seni rupa, sastra, teater, tari, karya-karya seni ”ready made” model Dada Amerika maupun praktik seni kejadian (event) yang bersentuhan dengan Neo-Dada dan Fluxus, segala seni yang mereproduksi gerakan sebelumnya, pun serbarupa karya yang bertendensi menghapus perbedaan antara seni ”murni” dengan “kitch” sebagaimana Pop Art, dapat hadir secara serempak dalam proyeksi artistik yang bermacam-macam.

Tentu, karena ”post avant-garde” tidak berambisi mencari kebaruan, maka segalanya menjadi lebih cair. Semua mendapat tempat. Aneka fenomena artistik dalam segala wahana dapat ditasbihkan sebagai karya seni yang dapat digelar di ruang-ruang khusus seperti galeri dan museum maupun di jalanan, di subway, pasar, lumpur sawah, kuburan, kamar tidur hingga di angkasa luar sekalipun.

Demikian kawan. Salam dari Surabaya. [T]

Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis WICAKSONO ADI
Tags: avant gardefilsafatSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film Pendek “Passarinho” (2024): Darah Pertama, Rencana Pertama, dan Impian yang Hampir Terlunta

Next Post

Konspirasi di Tengah Gejolak: Psikologi Mencari Musuh Tak Terlihat

Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

Penulis esai seni-budaya, kurator, dan juga salah satu pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Konspirasi di Tengah Gejolak: Psikologi Mencari Musuh Tak Terlihat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co