15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh Perempuan, Hukum, dan Kebohongan: Membaca Film “Bitter Chocolate”

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 17, 2025
in Ulas Film
Tubuh Perempuan, Hukum, dan Kebohongan: Membaca Film “Bitter Chocolate”

Adegan dalam film Bitter Chocolate | Foto: Dian

DURASI 20 menit bagi sebuah film pendek sering kali menjadi tantangan besar. Tentu saja, sutradara harus merangkum isu yang sarat konflik, kaya makna, sekaligus menghadirkan narasi yang kuat tanpa terasa terburu-buru atau justru bertele-tele.

Itulah yang coba dilakukan Sahar Sotoodeh dalam karyanya, Bitter Chocolate, sebuah film fiksi yang diproduksi tahun 2024 dengan kolaborasi lintas negara antara Iran dan Jerman. Film ini menyentuh persoalan pelik tentang tubuh perempuan, keterbatasan hak, dan pertarungan moral dalam ruang sosial yang mengekang.

Film ini mengisahkan Yasi, seorang perempuan muda yang meninggalkan kota asalnya menuju ibu kota dengan alasan mengikuti ujian IELTS ringan. Namun, alasan itu hanyalah kamuflase. Tujuan sebenarnya jauh lebih rumit.

Yasi berusaha melakukan aborsi ilegal atas kehamilan yang tidak ia inginkan. Dari premis sederhana ini, film membuka ruang diskusi yang luas mengenai hak reproduksi perempuan, stigma sosial, serta ketimpangan akses terhadap layanan kesehatan di negara-negara dengan regulasi ketat.

Sotoodeh tidak hanya sekadar menceritakan kisah personal seorang perempuan yang berjuang dengan kehamilan tak diinginkan. Ia menyingkap persoalan struktural yang lebih luas. Yasi dipaksa untuk berbohong, menyembunyikan niatnya, dan menanggung risiko medis maupun hukum demi sesuatu yang seharusnya menjadi hak fundamental, kendali atas tubuhnya sendiri.

Adegan dalam film Bitter Chocolate | Foto: Dian

Pilihan menjadikan IELTS—sebuah ujian bahasa internasional—sebagai kedok perjalanan Yasi bukan tanpa alasan. IELTS kerap dipandang sebagai jalan keluar bagi kaum muda dari keterbatasan sosial dan politik, sebagai tiket menuju dunia luar.

Namun, di tangan Sotoodeh, IELTS berubah menjadi simbol paradoks. Alih-alih menuju masa depan yang lebih cerah, Yasi justru menyamarkannya untuk mengatasi masalah mendasar dalam hidupnya. Di sini terlihat kritik terhadap kondisi masyarakat terhadap mobilitas perempuan, baik dalam arti harfiah maupun metaforis, selalu dibatasi oleh norma dan hukum yang patriarkis.

Yasi digambarkan tidak heroik, juga tidak sepenuhnya putus asa. Ia adalah sosok yang berada di persimpangan. Muda, penuh potensi, tetapi terjerat keadaan. Sotoodeh menampilkan Yasi sebagai representasi banyak perempuan yang hidup di bawah bayang-bayang aturan yang kaku. Ia tidak ingin melanjutkan kehamilannya, tetapi ia juga sadar betul bahwa pilihan yang diambil berisiko besar. Ketegangan psikologis ini menjadi inti dramatisasi film, meski dikemas dalam gaya penceritaan yang ringkas.

Menariknya, film ini tidak memposisikan Yasi sebagai korban semata. Ia tetap diberi ruang untuk menunjukkan kehendaknya, meskipun jalan yang ditempuh harus penuh tipu daya. Dari sinilah, Bitter Chocolate beresonansi dengan isu-isu feminis global. Perempuan kerap dipaksa menegosiasikan hidupnya di balik layar, di ruang-ruang tersembunyi, bukan dalam terang hukum dan legitimasi.

Judul film, Bitter Chocolate, terasa ironis sekaligus menyentuh. Cokelat sering diasosiasikan dengan kelembutan, cinta, dan kemanisan hidup. Namun, ditambahkan kata “bitter”, cokelat berubah menjadi metafora pengalaman getir yang tetap harus ditelan. Kehidupan Yasi seolah sama seperti itu. Manisnya kemungkinan masa depan dicampur pahitnya realitas sosial yang menindas.

Adegan dalam film Bitter Chocolate | Foto: Dian

Cokelat pahit juga bisa dibaca sebagai simbol kompromi. Sesuatu yang tidak sepenuhnya manis, namun tetap dikonsumsi demi bertahan. Seperti Yasi yang harus menerima risiko, menjalani kebohongan, dan menghadapi konsekuensi dari keputusan yang diambil. Dengan pilihan judul ini, Sotoodeh menekankan ambiguitas moral dan emosional yang membungkus seluruh cerita.

Film ini menohok penonton pada satu titik krusial. Tubuh perempuan bukan hanya miliknya sendiri, melainkan juga arena tarik-menarik antara hukum, agama, tradisi, dan masyarakat.

Keputusan Yasi untuk mengakhiri kehamilan tidak berdiri sendiri. Ia harus menyembunyikan niatnya dari keluarga, berhadapan dengan praktik ilegal yang berisiko, bahkan berpotensi menjadi kriminal di mata negara.

Kondisi ini tidak hanya terjadi di negara luar. Hal-hal semacam ini juga sering terjadi di Indonesia—bahkan di Bali. Aktivitas dalam mejalani hubungan yang tidak terkontrol antara perempuan dan laki-laki dapat menimbulkan masalah. Tidak hanya bagi perempuan muda namun juga bagi perempuan dengan usia yang lebih matang.

Terkadang, kehamilan dari suatu hubungan yang sah pun tidak diinginkan. Hingga pada akhirnya mengambil jalan pintas untuk melakukan hal yang illegal dan bertentangan. Film ini Bitter Chocolate ini berbicara tentang isu yang sudah sangat umum, terjadi di banyak negara.

Dari sisi sinema feminis, Bitter Chocolate menggarisbawahi bahwa hak reproduksi bukan hanya isu kesehatan, melainkan juga isu politik. Tubuh Yasi tidak bebas. Ia berada dalam pengawasan norma, regulasi, dan pandangan masyarakat yang masih melihat perempuan sebagai penjaga moral keluarga dan bangsa. Inilah yang membuat film terasa sangat relevan, bukan hanya di Iran, tetapi juga di banyak negara lain yang masih membatasi hak reproduksi perempuan.

Dengan durasi 20 menit, film ini tentu harus padat. Sotoodeh tampaknya memanfaatkan bahasa visual yang lebih banyak menyampaikan ketegangan batin Yasi lewat ekspresi wajah, gesture, dan atmosfer kota besar yang asing. Keputusan Yasi meninggalkan kota asal ke ibu kota menciptakan kontras visual. Dari keintiman ruang pribadi menuju keramaian metropolis yang penuh ancaman namun sekaligus menyimpan harapan.

Penggunaan bahasa sinema ini penting, karena alih-alih menjejali penonton dengan dialog, Sotoodeh memilih untuk “menunjukkan” ketimbang “menceritakan”. Keheningan, jeda, dan gesture kecil menjadi lebih berbicara dibandingkan penjelasan verbal. Gaya ini membuat film terasa intim, seolah penonton diajak menyelami batin Yasi secara langsung.

Namun, meski kuat dalam gagasan, Bitter Chocolate juga menyisakan pertanyaan kritis. Dalam 20 menit, ruang untuk mengeksplorasi lebih dalam dinamika sosial di sekeliling Yasi terbatas. Karakter lain—apakah keluarga, pasangan, atau tenaga medis—lebih banyak hadir sebagai bayangan daripada tokoh dengan kedalaman psikologis. Hal ini mungkin disengaja untuk menjaga fokus pada Yasi, namun di sisi lain bisa dianggap mereduksi kompleksitas jaringan sosial yang sebenarnya menopang cerita.

Adegan dalam film Bitter Chocolate | Foto: Dian

Selain itu, film ini masih terjebak dalam pola narasi personal yang cenderung universal, sehingga risiko stereotip bisa muncul. Penonton mungkin melihat kisah Yasi sebagai “kisah khas perempuan Iran”, padahal problem akses terhadap aborsi juga marak terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di negara-negara yang mengaku demokratis. Tantangan bagi Sotoodeh adalah bagaimana menghindari eksotisasi penderitaan perempuan di Timur Tengah dan justru membuka ruang dialog global yang lebih setara.

Di tengah gelombang perdebatan tentang hak reproduksi—dari gugatan Roe v. Wade di Amerika Serikat hingga regulasi ketat di negara-negara Asia dan Afrika—Bitter Chocolate hadir sebagai pengingat bahwa persoalan ini bersifat universal. Yasi bisa saja perempuan muda dari manapun. Dari Teheran, Berlin, New York, atau Jakarta atau mungkin dari Bali. Yang membedakan hanyalah konteks sosial dan hukum.

Film ini dengan demikian berfungsi sebagai jendela yang memperlihatkan betapa keputusan personal seorang perempuan sering kali harus melewati jalan penuh rintangan yang diciptakan masyarakatnya sendiri.

Sebagai film pendek fiksi, Bitter Chocolate berhasil menyodorkan pengalaman menonton yang intens, ringkas, namun sarat makna. Sahar Sotoodeh dengan cerdas menggunakan cerita Yasi untuk mengungkap lapisan-lapisan ketidakadilan struktural terhadap tubuh perempuan.

Meski ada keterbatasan dalam pengembangan karakter pendukung dan risiko penyempitan konteks, film ini tetap menyajikan kritik sosial yang tajam. Ia menegaskan bahwa keputusan seorang perempuan atas tubuhnya seharusnya bukan urusan negara, agama, atau masyarakat, melainkan urusan dirinya sendiri.[T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Jaswanto

Tags: Film Bitter ChocolateIranpatriarkiPerempuanSahar Sotoodeh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peraturan Daerah Tentang Perjanjian Nominee 

Next Post

Awalnya Panjat Tebing Diajak Teman, Kini Made Maylia Sumbang Lima Emas untuk Buleleng di Porprov Bali 2025

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Awalnya Panjat Tebing Diajak Teman, Kini Made Maylia Sumbang Lima Emas untuk Buleleng di Porprov Bali 2025

Awalnya Panjat Tebing Diajak Teman, Kini Made Maylia Sumbang Lima Emas untuk Buleleng di Porprov Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co