4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh Perempuan, Hukum, dan Kebohongan: Membaca Film “Bitter Chocolate”

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 17, 2025
in Ulas Film
Tubuh Perempuan, Hukum, dan Kebohongan: Membaca Film “Bitter Chocolate”

Adegan dalam film Bitter Chocolate | Foto: Dian

DURASI 20 menit bagi sebuah film pendek sering kali menjadi tantangan besar. Tentu saja, sutradara harus merangkum isu yang sarat konflik, kaya makna, sekaligus menghadirkan narasi yang kuat tanpa terasa terburu-buru atau justru bertele-tele.

Itulah yang coba dilakukan Sahar Sotoodeh dalam karyanya, Bitter Chocolate, sebuah film fiksi yang diproduksi tahun 2024 dengan kolaborasi lintas negara antara Iran dan Jerman. Film ini menyentuh persoalan pelik tentang tubuh perempuan, keterbatasan hak, dan pertarungan moral dalam ruang sosial yang mengekang.

Film ini mengisahkan Yasi, seorang perempuan muda yang meninggalkan kota asalnya menuju ibu kota dengan alasan mengikuti ujian IELTS ringan. Namun, alasan itu hanyalah kamuflase. Tujuan sebenarnya jauh lebih rumit.

Yasi berusaha melakukan aborsi ilegal atas kehamilan yang tidak ia inginkan. Dari premis sederhana ini, film membuka ruang diskusi yang luas mengenai hak reproduksi perempuan, stigma sosial, serta ketimpangan akses terhadap layanan kesehatan di negara-negara dengan regulasi ketat.

Sotoodeh tidak hanya sekadar menceritakan kisah personal seorang perempuan yang berjuang dengan kehamilan tak diinginkan. Ia menyingkap persoalan struktural yang lebih luas. Yasi dipaksa untuk berbohong, menyembunyikan niatnya, dan menanggung risiko medis maupun hukum demi sesuatu yang seharusnya menjadi hak fundamental, kendali atas tubuhnya sendiri.

Adegan dalam film Bitter Chocolate | Foto: Dian

Pilihan menjadikan IELTS—sebuah ujian bahasa internasional—sebagai kedok perjalanan Yasi bukan tanpa alasan. IELTS kerap dipandang sebagai jalan keluar bagi kaum muda dari keterbatasan sosial dan politik, sebagai tiket menuju dunia luar.

Namun, di tangan Sotoodeh, IELTS berubah menjadi simbol paradoks. Alih-alih menuju masa depan yang lebih cerah, Yasi justru menyamarkannya untuk mengatasi masalah mendasar dalam hidupnya. Di sini terlihat kritik terhadap kondisi masyarakat terhadap mobilitas perempuan, baik dalam arti harfiah maupun metaforis, selalu dibatasi oleh norma dan hukum yang patriarkis.

Yasi digambarkan tidak heroik, juga tidak sepenuhnya putus asa. Ia adalah sosok yang berada di persimpangan. Muda, penuh potensi, tetapi terjerat keadaan. Sotoodeh menampilkan Yasi sebagai representasi banyak perempuan yang hidup di bawah bayang-bayang aturan yang kaku. Ia tidak ingin melanjutkan kehamilannya, tetapi ia juga sadar betul bahwa pilihan yang diambil berisiko besar. Ketegangan psikologis ini menjadi inti dramatisasi film, meski dikemas dalam gaya penceritaan yang ringkas.

Menariknya, film ini tidak memposisikan Yasi sebagai korban semata. Ia tetap diberi ruang untuk menunjukkan kehendaknya, meskipun jalan yang ditempuh harus penuh tipu daya. Dari sinilah, Bitter Chocolate beresonansi dengan isu-isu feminis global. Perempuan kerap dipaksa menegosiasikan hidupnya di balik layar, di ruang-ruang tersembunyi, bukan dalam terang hukum dan legitimasi.

Judul film, Bitter Chocolate, terasa ironis sekaligus menyentuh. Cokelat sering diasosiasikan dengan kelembutan, cinta, dan kemanisan hidup. Namun, ditambahkan kata “bitter”, cokelat berubah menjadi metafora pengalaman getir yang tetap harus ditelan. Kehidupan Yasi seolah sama seperti itu. Manisnya kemungkinan masa depan dicampur pahitnya realitas sosial yang menindas.

Adegan dalam film Bitter Chocolate | Foto: Dian

Cokelat pahit juga bisa dibaca sebagai simbol kompromi. Sesuatu yang tidak sepenuhnya manis, namun tetap dikonsumsi demi bertahan. Seperti Yasi yang harus menerima risiko, menjalani kebohongan, dan menghadapi konsekuensi dari keputusan yang diambil. Dengan pilihan judul ini, Sotoodeh menekankan ambiguitas moral dan emosional yang membungkus seluruh cerita.

Film ini menohok penonton pada satu titik krusial. Tubuh perempuan bukan hanya miliknya sendiri, melainkan juga arena tarik-menarik antara hukum, agama, tradisi, dan masyarakat.

Keputusan Yasi untuk mengakhiri kehamilan tidak berdiri sendiri. Ia harus menyembunyikan niatnya dari keluarga, berhadapan dengan praktik ilegal yang berisiko, bahkan berpotensi menjadi kriminal di mata negara.

Kondisi ini tidak hanya terjadi di negara luar. Hal-hal semacam ini juga sering terjadi di Indonesia—bahkan di Bali. Aktivitas dalam mejalani hubungan yang tidak terkontrol antara perempuan dan laki-laki dapat menimbulkan masalah. Tidak hanya bagi perempuan muda namun juga bagi perempuan dengan usia yang lebih matang.

Terkadang, kehamilan dari suatu hubungan yang sah pun tidak diinginkan. Hingga pada akhirnya mengambil jalan pintas untuk melakukan hal yang illegal dan bertentangan. Film ini Bitter Chocolate ini berbicara tentang isu yang sudah sangat umum, terjadi di banyak negara.

Dari sisi sinema feminis, Bitter Chocolate menggarisbawahi bahwa hak reproduksi bukan hanya isu kesehatan, melainkan juga isu politik. Tubuh Yasi tidak bebas. Ia berada dalam pengawasan norma, regulasi, dan pandangan masyarakat yang masih melihat perempuan sebagai penjaga moral keluarga dan bangsa. Inilah yang membuat film terasa sangat relevan, bukan hanya di Iran, tetapi juga di banyak negara lain yang masih membatasi hak reproduksi perempuan.

Dengan durasi 20 menit, film ini tentu harus padat. Sotoodeh tampaknya memanfaatkan bahasa visual yang lebih banyak menyampaikan ketegangan batin Yasi lewat ekspresi wajah, gesture, dan atmosfer kota besar yang asing. Keputusan Yasi meninggalkan kota asal ke ibu kota menciptakan kontras visual. Dari keintiman ruang pribadi menuju keramaian metropolis yang penuh ancaman namun sekaligus menyimpan harapan.

Penggunaan bahasa sinema ini penting, karena alih-alih menjejali penonton dengan dialog, Sotoodeh memilih untuk “menunjukkan” ketimbang “menceritakan”. Keheningan, jeda, dan gesture kecil menjadi lebih berbicara dibandingkan penjelasan verbal. Gaya ini membuat film terasa intim, seolah penonton diajak menyelami batin Yasi secara langsung.

Namun, meski kuat dalam gagasan, Bitter Chocolate juga menyisakan pertanyaan kritis. Dalam 20 menit, ruang untuk mengeksplorasi lebih dalam dinamika sosial di sekeliling Yasi terbatas. Karakter lain—apakah keluarga, pasangan, atau tenaga medis—lebih banyak hadir sebagai bayangan daripada tokoh dengan kedalaman psikologis. Hal ini mungkin disengaja untuk menjaga fokus pada Yasi, namun di sisi lain bisa dianggap mereduksi kompleksitas jaringan sosial yang sebenarnya menopang cerita.

Adegan dalam film Bitter Chocolate | Foto: Dian

Selain itu, film ini masih terjebak dalam pola narasi personal yang cenderung universal, sehingga risiko stereotip bisa muncul. Penonton mungkin melihat kisah Yasi sebagai “kisah khas perempuan Iran”, padahal problem akses terhadap aborsi juga marak terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di negara-negara yang mengaku demokratis. Tantangan bagi Sotoodeh adalah bagaimana menghindari eksotisasi penderitaan perempuan di Timur Tengah dan justru membuka ruang dialog global yang lebih setara.

Di tengah gelombang perdebatan tentang hak reproduksi—dari gugatan Roe v. Wade di Amerika Serikat hingga regulasi ketat di negara-negara Asia dan Afrika—Bitter Chocolate hadir sebagai pengingat bahwa persoalan ini bersifat universal. Yasi bisa saja perempuan muda dari manapun. Dari Teheran, Berlin, New York, atau Jakarta atau mungkin dari Bali. Yang membedakan hanyalah konteks sosial dan hukum.

Film ini dengan demikian berfungsi sebagai jendela yang memperlihatkan betapa keputusan personal seorang perempuan sering kali harus melewati jalan penuh rintangan yang diciptakan masyarakatnya sendiri.

Sebagai film pendek fiksi, Bitter Chocolate berhasil menyodorkan pengalaman menonton yang intens, ringkas, namun sarat makna. Sahar Sotoodeh dengan cerdas menggunakan cerita Yasi untuk mengungkap lapisan-lapisan ketidakadilan struktural terhadap tubuh perempuan.

Meski ada keterbatasan dalam pengembangan karakter pendukung dan risiko penyempitan konteks, film ini tetap menyajikan kritik sosial yang tajam. Ia menegaskan bahwa keputusan seorang perempuan atas tubuhnya seharusnya bukan urusan negara, agama, atau masyarakat, melainkan urusan dirinya sendiri.[T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Jaswanto

Tags: Film Bitter ChocolateIranpatriarkiPerempuanSahar Sotoodeh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peraturan Daerah Tentang Perjanjian Nominee 

Next Post

Awalnya Panjat Tebing Diajak Teman, Kini Made Maylia Sumbang Lima Emas untuk Buleleng di Porprov Bali 2025

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails
Next Post
Awalnya Panjat Tebing Diajak Teman, Kini Made Maylia Sumbang Lima Emas untuk Buleleng di Porprov Bali 2025

Awalnya Panjat Tebing Diajak Teman, Kini Made Maylia Sumbang Lima Emas untuk Buleleng di Porprov Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co