PENGUNJUNG biasa yang datang, juga filmmaker yang notabene lokal hingga mancanegara itu, mengantre sangat ramai pada acara Opening Event Minikino Film Week 11 (MFW11) di depan Ruang Taksu Dharma Alaya, Denpasar, Jumat, 12 September 2025.
MFW11 akan berlangsung hingga 19 September mendatang. Dan yang menjadi perhatian pada acara pembukaan atau opening event, sebagian dari para pengunjung, ada yang berkebutuhan khusus. Kemudian setiap dari mereka dilayani sangat baik oleh tim panitia. Menandakan inklusivitas telah terjadi di ruang-festival pagi itu.
Salah satunya Ida Bagus Surya Manuaba atau biasa disapa Gusde, penyandang disabilitas tunanetra yang dilibatkan secara langsung oleh MFW11 tak hanya sebagai penonton biasa, tetapi juga sebagai pengisi audio description di Program Sinema Inklusif bahkan.
Ketika di atas podium di sebuah ruang yang—bisa disebut ruang bioskop itu, ia berdiri ditemani Saffira Nusa Dewi selaku audio description production manager, disaksikan banyak orang di Ruang Taksu sebelum acara pemutaran film pertama digelar.

Saffira dan Gusde (disabilitas tunanetra) saat di atas panggung | Foto: Son
Gusde memberikan kesannya bisa terlibat secara langsung, bahwa MFW11 telah menciptakan ruang inklusi secara nyata. Bahkan Gusde tidak hanya merasa teribat, tetapi juga dilibatkan sebagai manusia—yang, memiliki kesempatan yang sama pada sebuah festival dengan jangkauan global apalagi.
“Kami orang disabilitas tunanetra dilibatkan dari awal, bagaimana dalam menyusun naskah di audio description-nya, kemudian take audio, itu kami dilibatkan dari awal. Baru itu yang dinamakan inklusi, tidak asal saja sebagai bentuk pencitraan. Dan yang saya senang itu, menurut saya itu adalah langkah awal, untuk menyuarakan apa itu inklusi,” kata Gusde.
Apa yang dirasakan oleh Gusde, merupakan bentuk perhatian Minikino Film Week 11 sebagai sarana untuk membuka percakapan dan menumbuhkan empati, di sela menikmati tontonan dengan beragam isu di berbagai negara.

Opening Event Minikino Film Week 11 | Foto: Son
Selepas Opening Event, enam film diputar sebagai kudapan menonton. Lunch Woman (2024)karya Tokio OOHARA dan Gertjan ZUILHOF, Cening Nepukin I Kawa (2024)karya Epriliana Fitri Ayu Pamungkas, Noo Room (2024) karya Jelena Oroz.
Kemudian A Waiting Room (2024)karya Saw, Ya Hanouni (2024) karya Lyna Tadaunt dan Sofian Chouaib, dan film asal Canada berjudul Blitzmusik (2024) karya Martin Amiot, juga ditonton di serangkaian acara pembukaan.
Pada film Blitzmusik (2024) karya Martin Amiot, dengan durasi 09:08 menit, cukup membuat ruangan riuh apresiatif. Film itu bercerita tentang dua tantara sedang berperang, terjebak di dalam dua ruangan (tampak seperti ruangan belajar musik) yang disekat satu diding. Mereka saling bermusuhan.


Blitzmusik (2024) karya Martin Amiot diputar selepas Opening Event MFW11 | Foto: Son
Ketika tak ada lagi kemungkinan untuk keluar karena keadaan kacau perang, mereka seakan putus asa untuk saling membunuh satu sama lain setelah bom menghantam ruangan mereka menjadi satu, alias tak ada lagi sekat pembatas.
Ketika reruntuhan tak sengaja jatuh pada tempat pemutaran piringan hitam, musik terdengar. Salah satu tentara kemudian mengambil stick drum, ia membalas keadan kacau itu dengan bermain drum.
Alih-alih setelah tembok itu hancur langsung saling bunuh, mereka justru memilih untuk duel musik. Yang satu main drum, yang satu bermain saksofon. Mereka menghasilkan ryhthem musik jazz yang keras, dengan nuansa, seakan mengacuhkan perang. Di akhir film tertulis “Fuck Thos War”. Film selesai.
Itu film perang tanpa percakapan, tapi memiliki bahasa visual sangat kuat sebagai kritik sosial sebuah penderitaan perang terhadap manusia; militer maupun sipil.
Tapi bagaimana dengan sejumlah penonton yang disabilitas tunanetra, film itu diceritakan dengan narasi yang jernih—mudah dimengerti. Suasana bangunan kacau, seorang tantara mendobrak pintu, menembak, dan bermain musik, itu diceritakan secara lisan sehingga yang tunanetra, bisa mendengarnya walaupun tidak bisa menikmatinya secara visual.
“Minikino Film Week memang memiliki misi membuat sinema inklusif, untuk memberikan kesetaraan pada semua kalangan dan diharapkan bisa menonton bersama dalam satu ruangan dengan nyaman, dan bisa menceritakan kembali film-film itu secara bersama-sama,” kata Saffira Nusa Dewi saat di podium bersama Gusde.
MFW11, Festival Inklusif untuk Berjejaring
Konsep inklusif betul-betul terasa dipersembahkan di Ruang Taksu oleh divisi MFW Education, sebuah divisi di MFW11, telah memainkan peran penting dalam sebuah festival.
Seperti yang dikatakan Direktur Festival MFW11 Edo Wulia saat pembukaan; pendidikan dan inklusivitas adalah bagian tak terpisahkan dari festival.

Lunc Woman (2024) karya Tokio OOHARA dan Gertjan ZULHOF | Foto: Son
“Sejak awal, kami percaya film pendek punya kekuatan untuk menghubungkan orang dan menumbuhkan empati. Pendidikan dengan film pendek bukan sekadar menyampaikan pengetahuan, tapi membuka ruang dialog, memberi pengalaman kolektif, dan mendorong kita memahami dunia dengan cara yang lebih manusiawi. Inilah yang membuat MFW terus relevan dan penting,” jelas Edo Wulia.
Sehingga MFW Education lahir dari kesadaran bahwa potensi film pendek dalam dunia pendidikan sangatlah besar. Dengan durasinya yang singkat namun padat makna itu, film pendek mampu membawa penonton pada isu-isu penting.
“Dari ruang kelas hingga ruang komunitas, film pendek menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk belajar tentang dunia, sekaligus bercermin pada pengalaman hidup yang dekat dengan keseharian mereka,” lanjutnya.
Tahun ini, dari 143 official selected film MFW11 asal 59 negara, sebanyak 58 film pendek dalam 11 program edukasi telah dipilih secara khusus untuk mendukung kegiatan MFW11. Setiap program dilengkapi Panduan Nonton dan Belajar, yang berisi metadata film dan daftar pertanyaan pemantik diskusi.
Panduan ini dirancang agar penonton, terutama pelajar dan mahasiswa, tidak berhenti pada pengalaman menonton semata, tetapi diajak untuk merenung, berdiskusi, dan melatih keterampilan berpikir kritis.
“Film pendek memicu rasa ingin tahu, membangun empati, dan melatih daya pikir kritis. Itulah sebabnya kami bekerja sama dengan sekolah dan komunitas untuk memperluas akses dan menghadirkan pengalaman menonton yang mendalam,” jelas Ritaro Hari Wangsa, dari tim MFW Education.
Sebagai bagian dari program edukasi, MFW11 mengundang guru, pelajar, mahasiswa, dan komunitas dari Denpasar, Badung, Tabanan, hingga Buleleng untuk ikut terlibat secara langsung.
MFW11 akan menayangkan 254 film pendek dari 59 negara tersusun dalam 34 program yang diputar di berbagai titik lokasi lintas kota.

Opening Event Minikino Film Week 11 | Foto: Son
Beberapa titik menonton telah disebar. Di Denpasar, beberapa titik menonton bisa dijumpai di Noena Resort Pererenan, Dharma Negara Alaya, Living Word Denpasar, Mash Denpasar, Alliance Francaise Bali. Sementara di Buleleng, titik menonton terdapat di Kedai Kopi Dekakiang, SMAN Bali Mandara dan Rumah Film Sang Karsa.
Dengan menghadirkan festival ke wilayah-wilayah di luar pusat kota, Minikino telah menjadi akses terhadap pengalaman sinematik ini tidak hanya terbatas di lingkaran urban, melainkan juga menjangkau audiens muda yang lebih luas.

Cening Nepukin I Kawa (2024) karya Epriliana Fitri Ayu Pamungkas | Foto: Son

A Waiting Room (2024) karya Saw | Foto: Son

Ya Hanaouni (2024) karya Lyna Tadount dan Sofian Chouaib | Foto: Son
Selain memiliki perhatian pada jangkauan audiens yang luas, festival ini juga sangat intim dalam membangun percakapan kolektif. Dari Short Film Market hingga Shorts Up dan program tamu internasional, misalnya, MFW11 memosisikan dirinya sebagai ruang di mana pembuat film, penonton, dan profesional bertemu untuk berbagi cerita, belajar satu sama lain, dan membangun jejaring berkelanjutan.
Sehingga bentuk kerja sama dengan Purin Film Fund sangat bermanfaat dalam memperluas kesempatan pembuat film Asia Tenggara untuk menembus pasar internasional. Sementara dukungan British Council dan kemitraan dengan GSFF membuka akses terhadap perspektif baru dan jaringan global.
“Melalui semua kolaborasi ini, MFW11 adalah ruang untuk menemukan, mendengar, dan berbagi cerita. Setiap pertemuan adalah undangan untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda,” jelas Fransiska Prihadi, direktur program MFW11. [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole



























