2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kelelahan Demokrasi: Mengapa Apati dan Amarah Kini Meletup di Banyak Negara

Isran Kamal by Isran Kamal
September 13, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

DUNIA sepertinya berada dalam gelombang ketidakpuasan yang tak bisa lagi disangkal. Mulai dari Nepal, Jepang, Prancis, hingga negara-negara lain terjadi lonjakan protes, krisis legitimasi politik, sampai pergantian pemimpin yang dipicu oleh desakan publik.

Ketidakstabilan ini bukan sekadar soal kebijakan yang kontroversial, melainkan cerminan dari kelelahan kolektif yang dirasakan masyarakat ketika janji demokrasi tidak lagi terasa mewakili mereka. Rasa frustrasi, ketidakadilan, dan persepsi bahwa suara rakyat seringkali tidak diindahkan menjadi bahan bakar utama.

Di Nepal, misalnya, protes yang dipimpin terutama oleh generasi muda (Gen Z) pecah hebat setelah pemerintah melarang 26 platform media sosial, suatu langkah yang dipandang sebagai upaya kontrol dan pembungkaman suara rakyat. Demonstrasi tersebut berubah menjadi kerusuhan. Gedung parlemen dan kompleks pemerintah dibakar, protes melonjak saat warga marah terhadap elit, korupsi, dan ketidakmerataan ekonomi. Akhirnya, Perdana Menteri KP Sharma Oli mengundurkan diri.

Sementara di Jepang, ketidakpuasan publik makin tampak terkait isu imigrasi dan tenaga kerja asing. Pemerintah telah mencatat jumlah penduduk asing (termasuk pekerja sementara, mahasiswa, dan penghuni tetap) mencapai angka sekitar 3,77 juta di akhir 2024, angka ini naik sekitar 10,5% dibanding akhir 2023.

Lonjakan ini dipicu dorongan pemerintah untuk membuka diri terhadap pekerja asing guna menutupi kekurangan tenaga kerja di sektor-sektor seperti pekerjaan usia lanjut, konstruksi, perawatan, dan pariwisata. Di banyak daerah, terutama yang mengalami penurunan populasi dan penuaan penduduk, pemerintah lokal bahkan aktif menarik pekerja asing dan mahasiswa internasional.

Di sisi lain, reaksi sosial mulai muncul. Masyarakat menunjukkan kekhawatiran terhadap dampak budaya, biaya sosial, dan keamanan. Isu seperti perilaku imigran yang dianggap tidak sesuai, kekhawatiran terhadap kenaikan harga properti, dan tekanan pada layanan publik mulai menyeruak dalam perdebatan publik.

Pemerintah lantas membentuk badan administrasi lintaslembaga untuk “menangani kepedulian publik terhadap warga asing,” di mana isu-isu seperti kejahatan yang dikaitkan dengan orang asing, pemakaian sistem administrasi yang dianggap tidak sesuai, dan ketidaknyamanan dalam interaksi sosial menjadi fokus.

Di Prancis, krisis muncul melalui jalur parlemen. Perdana Menteri François Bayrou digulingkan lewat mosi tidak percaya setelah rencana penghematan anggaran (austerity) dan rencana penghapusan hari libur publik memperoleh penolakan luas dari berbagai fraksi. Pemerintah minoritas Bayrou tak sanggup mengatasi oposisi dari kiri dan kanan, hingga akhirnya kehilangan dukungan mayoritas.

Selain negara-negara tersebut, beberapa negara Asia, Amerika Latin, dan Eropa Timur juga melaporkan gejala serupa. Rakyat yang muak dengan korupsi, janji tak ditepati, atau pemerintahan yang dianggap jauh dari hidup sehari-hari rakyat kecil. Ketika rakyat merasa bahwa lembaga-lembaga demokrasi tidak lagi bekerja sebagai sarana perubahan, muncul pertanyaan besar, “bagaimana efek psikologis dari kelelahan demokrasi ini bagi warga, dan ke mana arah responsnya apakah akan apatis, atau akan letupan kemarahan?”

Psikologi Kelelahan Demokrasi

Fenomena ini sering disebut democratic fatigue syndrome, sebuah kondisi di mana masyarakat merasa jenuh, lelah, bahkan sinis terhadap proses demokrasi. Kelelahan ini biasanya muncul ketika partisipasi politik tidak lagi dianggap membawa perubahan nyata. Secara psikologis, ini terkait dengan turunnya sense of agency. Suatu perasaan bahwa suara individu punya pengaruh terhadap hasil politik. Ketika pemilu hanya dianggap sebagai ritual rutin tanpa harapan akan perbaikan, masyarakat perlahan kehilangan minat dan kepercayaan.

Dari perspektif psikologi sosial, kelelahan demokrasi dapat memicu learned helplessness, yaitu keadaan ketika individu berhenti berusaha mempengaruhi keadaan karena merasa hasilnya tidak akan berubah apa pun yang dilakukan. Penelitian menunjukkan bahwa persepsi ketidakadilan, korupsi, atau kebijakan yang mengabaikan aspirasi publik memperkuat sikap sinis dan memunculkan political disengagement. Individu yang merasa suaranya tak bermakna cenderung menarik diri, memilih tidak ikut pemilu, atau justru terlibat dalam bentuk protes destruktif.

Selain itu, ada dimensi emosional yang signifikan. Kekecewaan berulang menciptakan frustrasi kronis yang dapat bertransformasi menjadi amarah kolektif. Ini menjelaskan mengapa di beberapa negara protes yang awalnya damai dapat dengan cepat berubah menjadi kerusuhan massal. Amarah ini berfungsi sebagai restorative emotion. Suatu usaha psikologis untuk mengembalikan rasa kendali yang hilang. Dalam jangka panjang, jika tidak ada saluran ekspresi yang sehat, amarah tersebut bisa menimbulkan polarisasi ekstrem dan radikalisasi politik.

Menariknya, sebagian masyarakat justru memilih jalur apati sebagai mekanisme pertahanan. Mereka mengurangi keterlibatan politik sebagai cara menghindari stres emosional. Namun, apati ini membawa konsekuensi jangka panjang, yakni melemahnya fungsi check and balance dalam demokrasi dan meningkatnya peluang bagi rezim yang kurang akuntabel untuk memperkuat cengkeramannya. Dengan kata lain, kelelahan demokrasi menciptakan siklus umpan balik negatif dimana semakin banyak warga menarik diri, semakin lemahlah kualitas demokrasi, dan semakin bertambah pula kekecewaan publik.

Kondisi psikologis ini menciptakan persimpangan penting bagi masyarakat, apakah mereka akan merespons dengan menarik diri dari politik atau justru meluapkan kemarahan secara terbuka. Pilihan ini bukan sekadar strategi rasional, tetapi refleksi dari dinamika emosi kolektif, tingkat kepercayaan pada institusi, dan pengalaman historis suatu bangsa. Di titik inilah kita melihat dua pola besar respons terhadap kelelahan demokrasi. Ada apati yang semakin memperdalam jarak antara rakyat dan negara, atau ada amarah yang memicu mobilisasi sosial dan kadang-kadang mengguncang fondasi politik.

Apati vs Amarah

Kelelahan demokrasi tidak selalu melahirkan gelombang protes atau kerusuhan. Pada sebagian masyarakat, respons yang muncul justru apati: ketidakpedulian terhadap politik, menurunnya partisipasi dalam pemilu, dan berkurangnya kepercayaan pada institusi. Dari perspektif psikologi sosial, apati ini dapat dipahami sebagai bentuk learned helplessness, suatu keadaan di mana individu merasa upaya mereka tidak akan mengubah keadaan, sehingga mereka berhenti mencoba.

Masyarakat yang apatis biasanya memilih fokus pada urusan pribadi, menghindari perbincangan politik, atau sekadar mengeluh tanpa bertindak. Dalam jangka panjang, apati memperkuat siklus disfungsi demokrasi, karena kekosongan partisipasi seringkali diisi oleh elite yang semakin tidak akuntabel.

Di sisi lain, ada respons yang berlawanan: amarah kolektif. Ketika rasa frustasi mencapai titik didih, masyarakat bisa bergerak bersama melawan sistem yang dianggap gagal. Amarah ini memicu mobilisasi massa, protes jalanan, dan bahkan aksi kekerasan. Secara psikologis, ini terkait dengan collective efficacy, suatu keyakinan bahwa tindakan bersama bisa mengubah keadaan. Amarah memberi energi, menciptakan rasa persaudaraan sesama pengunjuk rasa, dan membuka ruang lahirnya gerakan sosial baru. Namun, amarah yang tidak dikelola dengan baik juga berisiko menimbulkan disrupsi sosial berkepanjangan, polarisasi tajam, atau bahkan anarki.

Yang menarik, apati dan amarah bisa saling bergantian. Masyarakat yang sebelumnya apatis bisa tiba-tiba meledak setelah akumulasi ketidakpuasan terlalu besar. Demikian pula, gelombang amarah yang tidak membuahkan hasil bisa berbalik menjadi sikap apatis, menciptakan siklus sinis yang semakin melemahkan legitimasi demokrasi.

Contohnya dapat kita lihat di Jepang, di mana ketidakpuasan publik awalnya muncul dalam bentuk apatisme seperti partisipasi pemilu yang menurun, kritik terhadap pemerintah banyak terdengar di media sosial tetapi jarang berujung pada aksi nyata. Namun, lonjakan imigrasi dan kebijakan pemerintah yang dianggap tidak memihak rakyat membuat sebagian masyarakat mulai turun ke jalan, mengorganisir petisi, dan menyuarakan protes secara lebih vokal. Sebuah tanda bahwa apati perlahan bergeser menjadi amarah kolektif.

Sebaliknya, Nepal menunjukkan spektrum yang berbeda yakni suatu ledakan amarah yang dramatis. Protes terhadap pelarangan media sosial dan ketidakadilan ekonomi berubah menjadi kerusuhan, bahkan pembakaran gedung parlemen. Ini adalah contoh nyata bagaimana amarah kolektif yang mencapai titik puncak bisa memaksa perubahan politik secara drastis, namun juga meninggalkan luka sosial yang memerlukan waktu lama untuk dipulihkan.

Mengubah Kelelahan Menjadi Kesadaran

Fenomena apati dan amarah yang kita lihat di berbagai negara membawa implikasi psikologis yang signifikan. Apati berkepanjangan dapat mengikis kesehatan mental kolektif. Masyarakat merasa tidak berdaya, sinis, dan terputus dari identitas politiknya. Hal ini menciptakan apa yang oleh beberapa psikolog disebut sebagai collective burnout, suatu keadaan di mana energi sosial untuk berpartisipasi menurun drastis. Sebaliknya, amarah yang meledak tanpa kanal institusional yang memadai berisiko menciptakan trauma sosial baru seperti rasa tidak aman, polarisasi, bahkan normalisasi kekerasan dalam menyelesaikan konflik.

Refleksi penting dari semua ini adalah bahwa demokrasi yang sehat membutuhkan ruang emosi publik yang diolah dengan baik. Masyarakat perlu diyakinkan bahwa partisipasi mereka memiliki arti, dan pemerintah perlu menciptakan mekanisme responsif yang mengembalikan rasa percaya. Edukasi politik, forum dialog yang inklusif, serta transparansi kebijakan dapat menjadi jembatan yang mengurangi jarak antara rakyat dan negara.

Solusinya bukan sekadar teknokratis, tetapi juga psikologis. Kita perlu mengembangkan ketahanan kolektif (collective resilience), yaitu kemampuan masyarakat untuk tetap berpartisipasi tanpa terjebak dalam siklus sinisme atau ledakan kemarahan destruktif. Media sosial bisa dimanfaatkan sebagai sarana advokasi konstruktif, bukan hanya ruang pelampiasan. Pemerintah pun perlu memfasilitasi kanal partisipasi yang nyata, seperti citizen assemblies atau konsultasi publik, agar warga merasa didengar sebelum frustrasi mereka meluap.

Pada akhirnya, kelelahan demokrasi adalah alarm. Hal ini mengingatkan kita bahwa demokrasi bukan sekadar prosedur lima tahunan, melainkan proses psikologis yang terus-menerus membentuk hubungan antara rakyat dan negara. Jika kita mampu mengelola apati dan amarah dengan bijak, krisis ini justru bisa menjadi momen pembaruan dimana hal ini mampu mendorong demokrasi yang lebih inklusif, partisipatif, dan berakar pada kesejahteraan psikologis masyarakat.[T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Jaswanto

Tags: demokrasiInggrisJepangNepalPrancis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Minikino Film Week 11, Ruang Pertemuan Inklusif yang Sebenar-benarnya Antara Penonton dan Filmmaker

Next Post

Film “Caught In 4K”: Ketika Panggung Digital Menjadi Perangkap

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Film “Caught In 4K”: Ketika Panggung Digital Menjadi Perangkap

Film "Caught In 4K": Ketika Panggung Digital Menjadi Perangkap

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co