6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Prosa Liris Visual’ I Wayan Sujana Suklu

Hartanto by Hartanto
September 12, 2025
in Ulas Rupa
‘Prosa Liris Visual’ I Wayan Sujana Suklu

Karya Suklu “Tubuh Wiracarita Akasa”

TERCIPTANYA ‘senyawa’ antara karya visual, dan karya sastra ini – bermula dari kreatifitas I Wayan Sujana ‘Suklu’ menciptakan Lawang Nawasena. Ini sebuah desain multidimensional yang diwujudkan sebagai relief kontemporer di ruang Pura Besakih. Menurut saya, karya ini bukan sekadar visual, tapi juga mengandung narasi dan filosofi yang mendalam.

Kata Nawasena berasal dari Sanskerta, berarti “masa depan yang cerah”. Suklu mengartikulasikan ini melalui simbol cahaya, gerbang, dan tokoh pewayangan. Karya-karyanya mengandung lapisan teologis dan imajinatif yang mengundang interpretasi mendalam.

Pada perkembangan selanjutnya, antusiasme Suklu terus menerus bergelora mengapresiasi karya sastra Gung Masruscitadewi. Suklu menerapkan pendekatan dengan memberi istilah Intermingle. Sementara itu, Masruscitadewi menamainya Lango, dan saya cenderung menafsirnya sebagai ‘Prosa Liris’. Itu merupakan proses kreatif yang bergerak dari desain rupa ke sastra, lalu kembali ke rupa. Maka terciptalah dialog antara bentuk dan makna, antara artefak dan narasi.

Persenyawaan antara karya visual Suklu dan karya sastra Mas Ruscitadewi dalam Nawa Sena bukan sekadar kolaborasi lintas disiplin—ia adalah bentuk ‘alih media’ yang menyatukan konsep, rupa, dan kata dalam satu tarikan napas kreatif. Karya ini seperti candi bentar: dua entitas berdiri sejajar, membuka gerbang menuju ruang kontemplatif., Nawa Sena bisa jadi referensi yang kaya akan simbolisme dan struktur naratif.

Proses persenyawaan ini memang unik. Manakala Gung Masruscitadewi selesai merespon karya visual Suklu menjadi karya Novelet, Suklu kembali meresponsnya dengan karya rupa baru. Ini menciptakan siklus kreatif yang saling menghidupi.

Prof. Darma Putra memberi istilahkolaborasi semacam ini sebagai pasatmian, yaitu penyatuan esensi antara seni rupa dan sastra. Lukisan dan teks tidak saling mendominasi, melainkan saling memasuki (surup sumurup). Saling mengimajinasi.

Sisi menarik dari novelet Mas Ruscitadewi yang terinspirasi dari karya Visual Suklu adalah kemampuannya ‘menghidupkan’ tokoh Nawa dan Sena. Ini merepresentasikan dualitas yang saling membutuhkan – seperti lingga-yoni dalam teologi Bali kuno. Bahkan, novelet Mas Ruscitadewi tetap berdiri sebagai karya mandiri, meski lahir dari respons terhadap karya rupa.

Narasi bergerak melintasi Bali Kuno, Bali Kini, dan Bali Masa Depan, membentuk multiverse (jagat raya majemuk) yang eklektik (gabungan dan banyak pilihan) serta multitafsir. Ya, daya imajinasi penciptaan, baik narasi tekstual, maupun narasi visual – terus bergerak, tanpa henti. Meski sangat Bali dalam simbol dan konteks, karya ini juga menyentuh nilai-nilai universal tentang eksistensi, harapan, dan relasi antar manusia.

Jejak Tubuh Dalam Lontar

Memasuksi tahun 2025,Suklu merespon lagi karya ‘Prosa Liris’ Gung Masruscitadewi, jadi karya rupa. Selain karya dwi matra, Suklu juga merespon karya Gung Masruscitadewi  tersebut  jadi karya tri matra. Rencananya, karya-karya terbaru itu akan dipamerkan, 23 agustus sampai 23 September 2025. Selain pameran senirupa, juga dilapis beberapa kegiatan seni lainnya. Body and Time: Nawa Sena Conscience adalah Tema Pameran ini.

Di tengah ketidakpastian ‘narasi sejarah’ dan ‘gesekan’ antara modernitas dan tradisi seperti saat ini,  Suklu mengetengahkan salah satu karyanya yang bertajuk “Jejak Tubuh dalam Lontar”.  Karya ini hadir sebagai ‘ruang artikulasi’ yang memadukan spiritualitas lokal dengan praksis eksperimental kontemporer. Ia tidak sekadar memperlihatkan tubuh sebagai visual, tetapi mengaktifkannya sebagai ‘medium penulisan’ – sebuah manuskrip hidup yang menggantikan peran lontar sebagai ‘arsip spiritual’.

Brushstroke yang kasar dan warna kontras menciptakan kesan gerak dan ketegangan. Ini bisa ditafsirkan sebagai dialog antara tubuh dan teks, atau antara masa lalu dan masa kini. Menambah kesan spontanitas dan mungkin merepresentasikan proses pencatatan atau penghapusan jejak.

Teknik visual yang ekspresionis – dengan sapuan kuas berani, komposisi tubuh yang terfragmentasi, dan cipratan warna yang intens – menggambarkan proses ‘dekonstruksi narasi’. Tubuh tak lagi utuh, namun justru hadir sebagai ‘arsip dinamis’ yang terus berubah, menyimpan luka, ritual, dan pembebasan.

Karya ini juga menyuarakan semangat eksperimental dalam tradisi seni rupa kontemporer Bali. Dengan pendekatan multisensorial dan performatif, Suklu menempatkan penikmat dalam posisi partisipan: membaca tubuh sebagai teks, dan teks sebagai tubuh. Gerak, warna, dan tekstur menjadi bahasa baru yang menghubungkan masa lalu dengan kemungkinan masa depan yang lebih lentur dan inklusif.

Tubuh dalam karya ini adalah medan tafsir yang ‘berdenyut’. Goresannya tidak rapi; warnanya tidak stabil; gesturnya tak selesai. Justru dalam ketidakteraturan itulah Suklu membuka ruang pembacaan yang lebih jujur, lebih rentan, dan lebih manusiawi. Ia menghadirkan tubuh sebagai ‘lontar anganan’ – yang tidak ditulis dengan aksara, melainkan dengan luka, tarian, dan denyut sejarah yang terpendam.

Tradisi Bali memandang tubuh sebagai bhuana alit – mikrokosmos yang merepresentasikan semesta. Dalam konteks ini, Suklu menyandingkan tubuh dan lontar sebagai dua ruang arsip yang saling mencerminkan dan saling menulis. Lontar, dengan strukturnya yang linear, ditantang oleh tubuh yang tidak patuh pada baris dan halaman. Tubuh bergerak, menghapus, menambal, melampaui.

Teknik visual Suklu yang ekspresionis dan intuitif membawa dimensi performativitas ke dalam lukisan. Ia tidak melukis tubuh, ia membiarkan tubuhnya menjadi proses. Setiap cipratan, setiap sapuan kuas, setiap pecahan figur mengisyaratkan perlawanan terhadap narasi tunggal: tubuh sebagai ‘teks terbuka’ yang selalu direvisi oleh pengalaman.

Intervensi Suklu ini, mengingatkan kita terhadap ‘prasi’ sebagai bentuk narasi visual di atas lontar. Ini,  menegaskan niatnya untuk mengguncang batas antara seni dan ritus. Ia tidak meminjam bentuk prasi secara literal, melainkan menghidupi semangatnya (spiritnya): menyampaikan cerita melalui medium lokal yang transformatif. Jika prasi menuliskan kisah Ramayana dan ajaran dharma, Suklu menuliskan kisah tubuh kontemporer—yang menanggung alienasi, ingatan pascakolonial, dan ritual keberlanjutan.

Dalam hal ini, Suklu melakukan dekolonisasi arsip. Ia menolak tubuh sebagai objek yang dikaji dari luar dan mengusulkannya sebagai subjek yang menulis dirinya sendiri. Tubuh bukan dokumen yang dibaca, tapi adalah penulis yang merespon trauma, spiritualitas, dan perubahan sosial melalui gestur dan warna.

Esensi naratif karya ini juga bersinggungan dengan aliran filsafat seperti Stoikisme dan Alkimia. Stoikisme mengajarkan tentang tubuh sebagai ruang latihan batin; Alkimia melihat tubuh sebagai elemen transformatif. Suklu menggabungkan keduanya dalam representasi tubuh yang melewati batas-batas moral, etis, dan estetik. Ia menghadirkan tubuh yang tidak steril, tidak elegan, tapi penuh denyut kehidupan.

Kehadiran elemen warna merah, oranye, dan abu-abu juga memperkaya lapisan multisensorialitas. Warna-warna ini tidak hanya dilihat, tapi dirasa: sebagai panas, gerak, dan hening. Suklu menantang penikmat untuk membaca karya tidak melalui mata saja, tapi melalui ‘rasa’ pada tubuh mereka sendiri.

“Jejak Tubuh dalam Lontar” adalah ajakan untuk menulis sejarah dengan cara baru. Sejarah yang tidak dibakukan di dalam halaman, tetapi dijalani melalui tubuh. Suklu menolak batas antara visual dan teks, arsip dan performa, masa lalu dan kini. Ia merumuskan arsip bukan sebagai kumpulan data, tetapi sebagai tubuh yang hidup, berubah, dan terus menulis ulang dirinya sendiri.

“Pohon Nawasena”

Di tengah lanskap seni kontemporer Bali yang terus bergulir antara tradisi dan eksperimen, karya tiga matra  Suklu yang bertajuk “Pohon Nawasena” ini muncul sebagai penanda yang sunyi namun kuat. Sebuah struktur silindris berlapis relief daun, dibentuk dari material keras terbuat dari batu paras – berdiri sebagai monumen kecil yang menyimpan narasi besar. Ia bukan sekadar objek visual, melainkan medan kontemplatif yang mengundang penikmat untuk menyelami hubungan antara tubuh, alam, dan waktu.

Material yang digunakan – akan diberi aksen dari bahan logam diatasnya. Ini, seperti menyiratkan keteguhan dan ketahanan. Dalam konteks Bali, di mana material sering dipilih bukan hanya karena fungsinya – tetapi juga karena makna spiritualnya. Pilihan Suklu terasa penuh kesadaran. Paras, yang sering diasosiasikan hanya sebagai bahan bangunan, di tangan Suklu menjadi medium untuk merekam jejak alam. Relief daun yang terpahat atau tercetak di permukaannya bukan sekadar ornamen, melainkan arsip tak bersuara dari kehidupan yang pernah menyentuhnya.

Dalam tradisi alkimia, transmutasi material adalah proses spiritual – dari yang kasar menjadi halus, dari yang profan menjadi sakral. Karya ini seolah menjalani proses itu secara terbalik – mengabadikan yang lembut (daun) dalam yang keras (paras), menciptakan paradoks yang menggugah. Ia menjadi simbol dari bagaimana alam dan manusia saling mengukir satu sama lain, meninggalkan jejak yang tak selalu terlihat, namun selalu terasa.

Motif daun dalam karya “Pohon Nawasena” ini memiliki resonansi yang luas. Dalam budaya Bali, daun sering digunakan dalam ritual persembahan, sebagai medium komunikasi antara manusia dan alam semesta. Daun adalah tubuh yang rapuh namun penuh makna. Ketika Suklu menumpuknya dalam bentuk relief yang berulang, ia menciptakan ritme visual yang menyerupai mantra atau doa. Setiap lekukan dan urat daun menjadi aksara dalam bahasa spiritual yang tak terucapkan.

Struktur silindris karya ini juga menarik untuk ditafsirkan. Ia mengingatkan pada pilar, stupa, atau bahkan sumur – semuanya adalah bentuk yang menghubungkan dimensi vertikal: bumi dan langit, tubuh dan jiwa, waktu dan keabadian. Dalam konteks Stoikisme, bentuk silindris bisa dibaca sebagai simbol dari kontinuitas dan keteraturan kosmos. Ia tidak memiliki ujung yang tajam, tidak ada arah yang dominan—hanya sirkularitas yang tenang, seperti napas yang teratur.

Meski karya ini bersifat statis, ia mengandung potensi performatif yang sunyi. Teksturnya yang kaya mengundang interaksi taktil, seolah-olah penikmat diajak untuk menyentuh waktu yang telah membatu. Dalam praktik seni kontemporer yang semakin multisensorial, Suklu memilih jalur yang subtil: bukan dengan suara atau gerak, tetapi dengan keheningan yang berbicara.

Karya “pohon Nawasena” juga bisa dibaca sebagai ruang meditasi. Ia tidak memaksa penikmat untuk memahami, tetapi menawarkan ruang untuk mengalami. Dalam hal ini, Suklu tidak hanya menciptakan objek, tetapi juga atmosfer. Ia mengajak kita untuk hadir, untuk berhenti sejenak, dan untuk mendengarkan bisikan material yang sering kita abaikan.

Karya Suklu ini seperti berdialog dengan praktik global yang mengeksplorasi tekstur dan bentuk yang lentur, Namun, akar lokalnya tetap kuat. Ia tidak sekadar mengadopsi estetika global, tetapi mengolahnya melalui lensa spiritualitas Bali dan kesadaran ekologis yang mendalam.

Oleh karenanya, saya memadankan karya Suklu ini dengan  karya Giuseppe Penone yang bertajuk ; “Plant Perspectives”. . Tentu bukan bentuk visualnya, melainkan inti sari wacana dan refleksinya. Esensinya, kesamaan Suklu dan Penone – mereka sama-sama menunjukkan minat yang mendalam terhadap hubungan antara manusia dan alam,

Sebagai tokoh terkemuka dalam gerakan Arte Povera (Seni yang Miskin), yang merayakan kesederhanaan material alami dan teknik artistik, Giuseppe Penone acap bereksperimen dengan beragam material, termasuk kayu, besi, lilin, perunggu, terakota, marmer, dan plester, yang menonjolkan kualitas fisik masing-masing material. Demikian juga dengan Suklu, ia juga acap bereksperimen dengan berbagai material ; bambu, paras, metal, dan lain sebagainya.

Dalam konteks senirupa, karya Suklu ini bisa diposisikan dalam narasi yang mengangkat tema keberlanjutan, spiritualitas material, atau bahkan arkeologi masa kini. Menurut interpretasi saya, “Pohon Nawasena” bisa menjadi titik temu antara seni rupa, filsafat, dan ekologi – sebuah artefak kontemporer yang menyimpan jejak masa lalu dan kemungkinan masa depan.

“Tubuh Wiracarita Akasa”

Selanjutnya, karya dwi matra Suklu bertajuk ; “Tubuh Wiracarita Akasa” ini menghadirkan komposisi yang intens dan penuh emosi, dengan dua figur yang saling berpelukan dalam gestur yang intim dan simbolik. Palet warna yang digunakan sangat ekspresif: biru, merah, emas, dan pink menciptakan kontras emosional yang kuat.

Warna-warna ini tidak hanya membentuk tubuh, tetapi juga menyampaikan nuansa psikologis – biru untuk ketenangan, merah untuk gairah, emas untuk spiritualitas, dan pink untuk kelembutan. Garis latar belakang yang abstrak dan hitam menambah kedalaman visual, seolah menjadi medan energi atau medan batin tempat pertemuan dua jiwa berlangsung.

Posisi tubuh yang saling melingkar menciptakan rasa simetri dan keseimbangan, namun juga ketegangan emosional. Mereka tidak hanya berpelukan secara fisik, tetapi tampaknya saling menyatu secara eksistensial.

Pelukan dalam karya ini bukan sekadar gestur kasih sayang, tetapi bisa dibaca sebagai simbol penyatuan dualitas: tubuh dan jiwa, maskulin dan feminin, diri dan yang lain. Figur dengan warna emas dan merah bisa diasosiasikan dengan energi aktif atau spiritual, sementara figur biru-pink menyiratkan kelembutan dan penerimaan.

Suklu tampaknya sedang mengeksplorasi dinamika relasional yang saling melengkapi. Dalam konteks konseptual, pelukan ini bisa dibaca sebagai “coniunctio” – penyatuan unsur berlawanan untuk menghasilkan transformasi. Karya ini, menurut saya, menjadi medan simbolik dari proses penyatuan dan transendensi.

Karya “Tubuh Wiracarita Akasa”  ini bisa dibaca dalam kerangka psikologi eksistensial: bagaimana manusia mencari koneksi yang otentik di tengah keterasingan. Pelukan menjadi bentuk resistensi terhadap keterpisahan. Dalam kerangka Stoikisme, pelukan ini bisa dimaknai sebagai penerimaan terhadap takdir dan keterhubungan universal – bahwa kita bukan entitas terpisah, melainkan bagian dari jaringan kosmik yang saling ‘memeluk’.

Secara visual, karya ini memikat melalui penggunaan warna yang ekspresif dan gestur tubuh yang intim. Figur pertama, yang dibalut dalam nuansa biru dan pink, menyiratkan kelembutan, ketenangan, dan penerimaan. Figur kedua, dengan dominasi merah dan emas, memancarkan energi, gairah, dan spiritualitas. Ketika keduanya saling melingkar dalam pelukan, mereka menciptakan simetri emosional yang tidak hanya menyatukan tubuh, tetapi juga jiwa. Nawa dan Sena

Tafsir saya, perpaduan dua insan ini memperkuat kesan bahwa pelukan ini terjadi di ruang batin, bukan ruang fisik. Ia menjadi medan transendental di mana dua entitas bertemu bukan sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari satu kesatuan kosmik. Dalam hal ini, Suklu tidak hanya menggambarkan tubuh, tetapi juga menyusun bahasa visual tentang penyatuan.

Karya “Tubuh Wiracarita Akasa”  ini berdialog dengan praktik seni figuratif kontemporer yang mengeksplorasi tubuh sebagai medan emosi dan spiritualitas. Ini mengingatkan saya pada intensitas gestural perupa Egon Schiele, namun dengan kelembutan yang lebih meditatif. Terutama pada karya Egon Schiele yang bertajuk “The Embtace”. Pelukis Austria ini adalah protégé dari Gustav Klimt.

Pada karya Egon Schiele yang bertajuk“The Embrace” Dua tubuh saling melingkupi, digambarkan dengan garis kasar dan pose yang tidak nyaman. Schiele Menekankan kerentanan, hasrat, dan keterasingan, minim latar, dan fokus pada intensitas hubungan antar tubuh. Bagi Schiele, tubuh adalah medan konflik batin dan sensualitas. Distorsi bukan sekadar estetika, tapi ekspresi psikologis. Schiele hidup dalam masa transisi budaya Austria, di bawah bayang-bayang Freud dan Klimt.

Sementara itu, bagi Suklu tubuh sebagai medium naratif, sering dikaitkan dengan mitos cerita rakyat dan bayangan sebagai metafora identitas. Ia menggabungkan filosofi lokal dan refleksi kontemporer, instalatif serta multisensorial, mengundang partisipasi dan kontemplasi. Pemahaman Suklu, tubuh adalah ruang dialog antara tradisi dan modernitas. Bayangan menjadi simbol refleksi diri dan sejarah. Suklu berakar pada spiritualitas Bali, namun aktif mendekonstruksi dan merekonstruksi nilai-nilai lokal dalam konteks global.

Selain itu, Karya Suklu ini juga bisa dibandingkan dengan karya Francis Bacon yang menggambarkan tubuh dalam ketegangan eksistensial, meski Suklu memilih jalur yang lebih transenden.  Padanan yang saya maksud adalah karya Francis Bacon yang bertajuk “Lying Figure”.

Perbandingan antara “Lying Figure” karya Francis Bacon dan “Tubuh Wiracarita Akasa” karya Suklu – membuka dialog yang menarik antara ekspresi penderitaan dan transendensi tubuh. Meskipun keduanya berangkat dari konteks dan pendekatan yang berbeda, ada resonansi filosofis dan simbolik yang bisa kita gali.

Menurut interpretasi saya,  bagi Bacon – tubuh adalah arena konflik batin, kehancuran, dan keterasingan. Ia menolak idealisasi dan menyoroti absurditas keberadaan. Sementara itu, bagi Suklu tubuh ‘diolah’ menjadi narasi wiracarita – epos spiritual dan kosmik. Ada unsur penyatuan, bukan pemisahan; tubuh sebagai jembatan antara bumi dan akasa (langit/ruang spiritual).

Tentang hasil eksekusi penciptaan, Bacon menggunakan distorsi dan ruang kosong untuk menciptakan ketegangan dan isolasi. Sedangkan Suklu menghadirkan warna-warna cerah dan tekstur yang dinamis untuk mengekspresikan energi, koneksi, dan harmoni. Bacon menggunakan distorsi, sapuan agresif, dan ruang kosong untuk menciptakan ketegangan visual. Sementar itu, Suklu mengeksplorasi tekstur, warna, dan layering untuk membangun dunia multisensorial yang hidup dan spiritual.

Secara konseptual – Bacon adalah alchemist of anguish, maka Suklu adalah alchemist of transcendence. Keduanya memandang tubuh bukan sekadar bentuk biologis, melainkan sebagai portal menuju pemahaman yang lebih dalam.

Menurut pemahaman saya, karya “Tubuh Wiracarita Akasa”  ini bisa menjadi titik temu antara seni rupa, psikologi, dan spiritualitas—sebuah karya yang tidak hanya dilihat, tetapi mesti dirasakan.

Pada sisi lain, yang menarik bagi saya soal padanan keduanya – Bacon menolak estetika modern yang steril dan rasional, memilih ekspresi brutal dan emosional. Sementara Suklu seperti menghindar dominasi narasi Barat dalam seni kontemporer, dan membangun narasi lokal yang spiritual, ekologis, dan kolektif.

Menurut pemahaman saya, karya “Tubuh Wiracarita Akasa”  ini bisa menjadi titik temu antara seni rupa, psikologi, dan spiritualitas—sebuah karya yang tidak hanya dilihat, tetapi mesti dirasakan.

Suklu seperti memperjelas, bahwa esensi karya ini adalah pelukan yang melampaui tubuh. Ia adalah simbol dari penyatuan, dari transendensi, dari keberanian untuk hadir sepenuhnya dalam relasi. Dalam dunia yang sering memisahkan dan mengasingkan. Karya ini menawarkan ruang untuk menyatu—dengan yang lain, dengan diri, dan dengan semesta. Ia mengingatkan kita bahwa dalam pelukan, kita tidak kehilangan diri, tetapi justru menemukannya kembali dalam bentuk yang lebih utuh dan lebih dalam.

Percumbuan Nawasena

Selanjutnya, Karya tri matra Suklu yang bertajuk “Percumbuan Nawasena” ini menghadirkan pendekatan yang sangat berbeda dari karya sebelumnya. Menurut saya, karya ini lebih eksperimental, lebih abstrak, dan sangat dinamis secara visual maupun konseptual. Berbahan stainless, berupa kawat. Hingga lentur untuk dibentuk.

Karya ini tidak menyajikan figur representasional, tetapi justru membuka ruang interpretasi yang luas. Bentuk yang berkelindan dan saling mengikat bisa dibaca sebagai simbol dari keterhubungan, keruwetan batin, atau bahkan jaringan kosmik.

Dalam konteks kreatifitas penciptaan, kawat logam yang dipilin bisa dimaknai sebagai proses transmutasi – dari bentuk mentah menjadi struktur yang kompleks dan bermakna. Ia menjadi metafora dari proses batin – dari chaos menuju keteraturan, dari fragmentasi menuju integrasi. Struktur yang tampak “liar” namun terkontrol ini juga bisa dibaca sebagai representasi dari energi hidup – tak terlihat, tak teraba, tapi terus bergerak dan membentuk.

Menurut tafsir saya, karya ini mengundang interaksi visual yang aktif, penikmat harus ‘bergerak’, mengubah sudut pandang, dan membiarkan cahaya mengubah persepsi. Ini menjadikannya karya yang performatifsecara pasif – ia tidak bergerak, tetapi memaksa penikmat untuk bergerak.

Kalau hendak memakai pendekatan keilmuan, struktur ini bisa dibaca sebagai simbol dari logos—tatanan rasional yang mengatur semesta, meski tampak kacau di permukaan. Ada juga nuansa psikologis: bentuk yang berkelindan bisa mencerminkan kondisi batin manusia modern—penuh simpul, penuh arus, namun tetap memiliki pola dan arah.

Masih menurut tafsir saya, karya ini bisa berdialog dengan praktik seni kontemporer seperti karya Ruth Asawa, yang sama-sama mengeksplorasi kawat sebagai medium naratif. Ia juga bisa menjadi titik temu antara seni rupa dan sains – menggambarkan struktur neuron, jaringan sosial, atau bahkan medan energi dalam cara yang puitis.

Menurut pemahaman saya, karya Ruth Asawa yang paling mirip dengan karya Suklu ini adalah seri looped-wire sculptures yang ia kembangkan sejak akhir 1940-an hingga 1960-an. Karya Asawa menampilkan bentuk dalam bentuk – seperti “inner spheres” – yang mengingatkan pada stuktur kreatifitas Suklu . Pada karya Asawa, struktur kawat berlapis yang menggantung, menyerupai bentuk biologis seperti kepompong atau tetesan air. Sementara itu pada Suklu Mirip dengan Sayap dan Waktu.  Suklu juga bermain dengan bentuk modular dan spiritualitas ruang

Jika saya boleh mengkreasi Judul, maka saya memilih “Bentuk yang Bernapas”. Sebab, Suklu mengeksplorasi bagaimana struktur artistik dapat merepresentasikan kehidupan, spiritualitas, dan keterhubungan dengan alam. Karya Suklu dan Asawa tidak hanya dibuat, tetapi dihidupkan—melalui ritme, transparansi, dan interaksi dengan ruang dan tubuh.

Karya Asawa dan Suklu menurut saya adalah dua lanskap yang berbeda, namun sama-sama kaya akan spiritualitas dan hubungan dengan alam. Suklu mengakar pada ritual Bali, Asawa pada kerajinan Meksiko dan Zen Jepang – keduanya melampaui batas konvensional seni rupa.

Asawa menciptakan bentuk dalam bentuk, ruang dalam ruang. Suklu membangun struktur yang bisa dimasuki, direnungi, dialami dan disentuh secara fisik. Keduanya menciptakan ruang kontemplatif, di mana tubuh dan pikiran bisa “bernafas bersama karya.”

Karya tri matra Suklu ini adalah simpul yang berbicara. Ia tidak menyampaikan pesan secara langsung, tetapi mengajak kita untuk menyelami keruwetan sebagai bentuk keindahan. Dalam dunia yang sering mencari keteraturan, karya ini mengingatkan bahwa chaos pun memiliki ritme, bahwa kerumitan pun bisa menjadi ruang kontemplasi. Ia adalah tubuh logam yang hidup, berdenyut dalam diam, dan terus membentuk makna dari setiap simpul yang ia ciptakan.

Di tengah dunia yang semakin visual dan terukur, karya tri matra Suklu ini hadir sebagai pernyataan yang berani: bahwa tidak semua yang penting bisa dilihat, dan tidak semua yang terlihat bisa dipahami. Dibentuk dari kawat logam yang dipilin dan disusun secara kompleks, karya ini bukan sekadar objek tiga dimensi, tetapi medan kontemplatif yang mengungkap struktur batin dan energi tak terlihat yang mengalir di antara kita.

Struktur terbuka dan berongga memungkinkan cahaya dan bayangan bermain di antara celah-celah, menciptakan efek visual yang berubah tergantung sudut pandang. Ini bukan hanya strategi estetika, tetapi juga metafora dari energi yang tak terlihat: seperti medan elektromagnetik, seperti emosi yang tak terucapkan, seperti pikiran yang tak terdefinisi. Karya ini menjadi semacam “peta batin” – bukan dalam bentuk garis lurus dan titik-titik tetap, tetapi dalam bentuk arus, simpul, dan resonansi.

Dalam konteks psikologis, bentuk yang berkelindan dan saling mengikat bisa dibaca sebagai representasi dari struktur batin manusia. Pikiran, emosi, trauma, harapan—semuanya saling terkait dalam jaringan kompleks yang jarang bisa dijelaskan secara linear. Suklu tampaknya memahami ini, dan memilih untuk tidak menyederhanakan, tetapi justru merayakan keruwetan itu.

Pendapat saya,karya tri matra Suklu ini adalah tubuh logam yang menyimpan jiwa, atau bisa disebut “Bentuk Yang Bernafas”. Ia tidak berbicara dalam bahasa figuratif, tetapi dalam bahasa resonansi. Ia mengingatkan kita bahwa struktur batin tidak selalu rapi, bahwa energi tak terlihat adalah bagian dari kehidupan yang paling nyata. Dalam dunia yang terlalu sibuk mencari bentuk, karya ini menawarkan ruang untuk merasakan arus – untuk menyelami simpul-simpul batin yang terus bergerak, terus membentuk, dan terus berbicara dalam diam.

Begitulah sekilas kajian saya tentang beberapa karya Suklu, beberapa padanan dengan karya-karya dunia – bukanlah secara visual, tapi esensi dibalik visual. Baik itu produk pemikiran/wacana, teknis, maupun refleksi atas realita. Bagi saya, Suklu, begitu menarik dalam ’mengolah kosa rupa’ proses penciptaannya. Ia, seperti tengah mencipta prosa liris secara visual, yang merupakan ‘senyawa’ dari karya sastra Gung Masruscitadewi – yang juga saya kategorikan sebagai ‘prosa liris’. Selamat berpameran serta selamat berkreatif tanpa henti pak Doktor Suklu dan bu Doktor A.A Mas Ruscitadewi. Astungkara, Swaha. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSeni RupaWayan Sujana Suklu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Refleksi Banjir, Hilmar Farid: Bali Harus Kembali ke Akar Melalui Humaniora

Next Post

Air, Penciptaan, Pemeliharaan dan Peleburan

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

by I Wayan Westa
February 22, 2026
0
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran...

Read moreDetails

Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

by Agung Bawantara
February 19, 2026
0
Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

Pameran Foto MAGIC IN THE WAVEFotografer : Made Bagus IrawanKurator : Ni Komang ErvianiProduser : Rofiqi HasanPameran. : 18 –...

Read moreDetails

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

by Made Chandra
February 9, 2026
0
Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era...

Read moreDetails

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

by Rasman Maulana
February 6, 2026
0
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

SUNGGUH menarik melihat “Tabur Tabah” karya Derry Aderialtha Sembiring di pameran seni rupa “Pulang ke Palung”—Denpasar, 24 Desember 2025 sampai...

Read moreDetails

Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

by Hartanto
February 3, 2026
0
Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

PADA tahun 1995, saya bersama wartawan majalah TEMPO, Putu Wirata -  menghadiri, atau tepatnya meliput Upacara Tawur Kesanga Hari Raya...

Read moreDetails

Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

by Made Chandra
February 2, 2026
0
Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

MENDENGAR adalah kegiatan tersulit yang sanggup untuk dilakoni oleh seorang seniman. Gurauan tentang bagaimana seniman adalah kegilaan yang diciptakan oleh...

Read moreDetails

Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

by Vincent Chandra
January 30, 2026
0
Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

“Ne visitez pas I’Exposition Coloniale! (Jangan kunjungi Pameran Kolonial!)”, begitu desak kelompok seniman surealis Prancis melalui selebaran-selebaran yang mereka bagikan...

Read moreDetails

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

by Angelique Maria Cuaca
January 12, 2026
0
Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

BAGAIMANA membangunkan kembali pengetahuan yang tertidur—cerita yang tertinggal di lidah, ingatan bunyi yang mulai hilang bentuknya, catatan perjalanan yang tersisa...

Read moreDetails
Next Post
Air, Penciptaan, Pemeliharaan dan Peleburan

Air, Penciptaan, Pemeliharaan dan Peleburan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co