Sebelum melakukan perjalanan Gresik-Labuan Bajo, saya sudah mencari informasi tentang jadwal keberangkatan kapal dari Labuan Bajo ke Tanjung Perak, Surabaya.
Informasi yang saya dapatkan dari internet, sesuai jadwal kepulangan, ada dua keberangkatan: tanggal 22 dan 25 November 2022.
Untuk yang tanggal 22 November kapal berangkat sore, sehingga saya tidak mungkin naik kapal tersebut. Karena kapal penyeberangan dari Sape, baru sampai di Labuan Bajo pukul 18.05 WITA.
Maka saya putuskan pulang dengan jadwal keberangkatan tanggal 25 November. Sesampai di Pelabuhan Labuan Bajo, saya mencari informasi lagi tentang kepastian jadwal tersebut.
Salah satu petugas di pelabuhan yang indah itu menyampaikan, untuk kapal dengan tujuan Surabaya diberangkatkan dari Pelabuhan Multipurpose.
Dari hasil pencarian di Google Map, jarak ke pelabuhan itu cukup dekat, hanya 8,5 kilometer. Saya kemudian nyalakan lampu depan dan belakang. Saya langsung meluncur ke Pelabuhan Multipurpose dengan kecepatan sedang.
Dalam perjalanan saya berpikir sejenak, apakah akan mencari makan dan penginapan dulu, atau langsung menuju ke Pelabuhan Multipurpose. Karena masih sore dan belum begitu lapar, saya putuskan langsung ke sana.
Dalam bayangan saya, Pelabuhan Multipurpose seperti pelabuhan kapal pada umumnya, ada banyak kedai makanan dan penginapan. Jika memang benar jadwal keberangkatan kapal tanggal 25 November, saya akan menginap di sana, kemudian esoknya bersepeda keliling Kabupaten Manggarai Barat.
Sepeda saya kayuh pelan sambil menikmati suasana objek wisata tepi pantai itu. Suasananya tidak jauh berbeda dengan objek wisata tepi laut pada umunya, yang dikunjungi wisatawan mancanegara. Sepanjang jalan terdapat banyak hotel, restoran, bar, kedai kopi dan jasa diving.
Setelah bersepeda lebih kurang 2 kilometer, jalan mulai naik-turun. Saya kembali berkeringat. Lalu lintas cukup ramai. Kemungkinan saya sudah masuk jantung kota Labuan Bajo.
Saya tetap mengikuti rute di Google Map, jaraknya kurang 6 kilometer lagi. Saya diarahkan ke jalan yang tidak seramai sebelumnya. Kemudian masuk ke jalan yang membelah keriuhan pasar tradisional.
Saya gamang, jangan-jangan melewati rute yang salah. Saya bertanya pada anak muda yang sedang mencangkung di pinggir jalan. Ternyata benar, saya tidak salah jalan.
Saya kayuh sepeda lebih cepat, dengan harapan segera sampai. Tapi saya malah masuk ke jalan kampung yang becek. Celaka! Saya lihat di Google Map, memang itu rutenya. Jalanan kembali menanjak, dan tidak ada lampu penerangan sama sekali. Gulita!
Saya sudah cukup lelah bersepeda selama hampir dua minggu, dan ingin istirahat. Tapi harus menghadapi tantangan lagi.
Dalam kegelapan malam, saya perhatikan sisi kanan jalan berupa tebing terjal bekas keprasan, sedangkan sisi kiri ada jurang yang cukup dalam.
Suasana sangat sepi, hanya sesekali saya berpapasan dengan sepeda motor. Padahal saat itu baru pukul 18.45 WITA. Celaka!
Apa Google Map tidak salah? Bagaimana jika saya tersesat? Sedangkan saya terus menghadapi jalan menanjak yang semakin terjal.
Saya melihat lagi Google Map, jarak ke pelabuhan tinggal 2,5 kilometer lagi. Lampu depan yang lumennya 1000 cukup membantu dalam kegelapan rute tersebut.
Di depan saya melihat tanjakan yang sangat terjal. Saya kerahkan segenap tenaga agar bisa mencapai puncak. Gagal! Beberapa meter menjelang puncak tanjakan, saya menyerah dan terpaksa harus menuntun sepeda. Baru kali ini, selama saya bersepeda ke mana pun, tidak berhasil melewati tanjakan.
Setelah mencapai puncak, jalanan menurun tajam dan berkelok, dan terus menurun. Di bawah terlihat bangun megah yang bermandikan cahaya lampu. Tampak beberapa truk parkir berderet di jalan menuju bangunan tersebut. Semoga itu Pelabuhan Multipurpose. Ternyata benar!
Saya sudah lelah, lapar dan haus. Seturun dari kapal feri di Labuan Bajo, saya belum membeli minuman dan camilan. Dari dua bidon, hanya satu yang terisi, itupun tinggal separuh.
Saya akan mencari makan dan minuman manis di Pelabuhan Multipurpose. Saya akan makan sepuasnya dan bersantai sebelum mencari informasi keberangkatan kapal ke Surabaya. Setelah itu saya akan mencari penginapan di sekitar pelabuhan tersebut.
Apa yang saya angankan berantakan. Ternyata Pelabuhan Multipurpose berdiri sendiri, tidak ada hotel, restoran dan tidak ada juga toko swalayan. Mungkin karena pelabuhan itu baru selesai dibangun. Hanya ada empat warung kecil semi permanen di luar pagar pelabuhan. Sontoloyo!
Dari empat warung itu, hanya satu yang masih buka. Makanan di warung itu hanya tersisa nasi dan kuah opor ayam.
“Bapak mau telur?” tanya penjualnya, perempuan yang usianya tidak lebih dari 35 tahun.
“Iya.”
“Bagaimana jika saya gorengkan telur, dengan kuah opor?”
“Tidak usah diberi kuah opor. Cukup nasi dengan telor goreng saja.”
Malam itu saya makan dengan lahap. Segelas teh manis yang disuguh saya habiskan dalam beberapa teguk. Setelah kenyang saya menuju ke gerbang pelabuhan.
Saya menghampiri tiga petugas yang berjaga di gerbang pelabuhan. Salah satu di antaranya menyampaikan bahwa kapal ke Surabaya berangkat malam itu pukul 23.00 WITA.
Dia juga menyampaikan, tanggal 25 November juga ada kapal yang berangkat. Tapi jika saya pulang tanggal 25 November, di mana malam ini saya harus menginap?
Untuk kembali ke Labuan Bajo jelas tidak mungkin. Saya sudah sangat kelelahan. Maka malam itu juga saya putuskan untuk pulang.
Setelah menunggu beberapa jam di dermaga, dengan menahan rasa kantuk, saya baru bisa masuk kapal pada tengah malam. Kapal baru meninggalkan dermaga pada dini hari. [T]
![Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [15-Habis]—Di Labuan Bajo Saya Hanya Numpang Lewat](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/08/wirya.-sepeda15-750x375.jpeg)


























