4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Muda Membara Tua Berkarisma Ketika Angklung Kebyar Banyuning dan Ambengan Mebarung di Bulfest 2025

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
August 26, 2025
in Panggung
Muda Membara Tua Berkarisma Ketika Angklung Kebyar Banyuning dan Ambengan Mebarung di Bulfest 2025

Muda Membara Tua Berkharisma Ketika Angklung Kebyar Banyuning dan Ambengan Mebarung di Bulfest 2025

DUA sekaa angklung kebyar yang mebarung (tampil berhadap-hadapan) di panggung Buleleng Festival (Bulfest) 2025 sungguh mendapat sambutan meriah dari penikmat angklung di Bali Utara. Mereka memang tampil memukau di Sasana Budaya Singaraja, Sabtu malam, 23 Agustus 2025.  

Di sayap panggung sisi kanan tampak para penabuh, remaja laki-laki, dari Sanggar Seni Suara Mustika, Desa Banyuning, Singaraja. Sanggar Seni Suara Mustika itu berdiri tahun 2016, dan usianya masih tergolong belia, 9 tahun. Sementara di sayap kiri terlihat para penabuh remaja bercampur lansia laki-laki. Mereka dari Sekaa Angklung Kebyar Shanti yang sudah berdiri dari tahun 1970, dari Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada, Buleleng.

Sekaa Angklung Kebyar Shanti dari Desa Ambengan, Sukasada | Foto: Disbud Buleleng

Sanggar Seni Suara Mustika, Desa Banyuning, Singaraja | Foto: Disbud Buleleng

Angklung Kebyar Sanggar Seni Suara Mustika mengawali penampilannya dengan mempersembahkan Tabuh Kreasi Githa Candra, salah satu karya musik instrumental yang terinspirasi dari kejadian yang dialami penata karawitan, Made Wira Okta Atmadi. Karya ini menggambarkan suasana saat bulan purnama yang mekarkan suasana hati, tak pernah jemu memandang, sinarnya terpancar mengusir gelap.

Mulanya ide garapan Githa Candra ini diciptakan ke dalam media Gong Kebyar, sekarang disadur ke dalam gamelan angklung. Komposisi tabuh ini menggunakan media ungkap gamelan angklung kebyar khas Buleleng. Garapan ini tergolong kreasi baru dan menonjolkan unsur melodi yang cenderung manis. Apalagi gamelan itu dipadukan dengan instrumen jembe dan konga. Ini membuat tabuh itu terkesan baru dan inovatif jika dibanding komposisi karawitan tradisi pada umumnya.

”Mungkin ada perbedaan pada saat penggunaan media ungkap yang berbeda. Jika menggunakan barungan gamelan gong kebyar garapan ini terkesan lebih tajam,” ucap Okta.

Sanggar Seni Suara Mustika menggunakan angklung kebyar khas Buleleng sebagai media ungkapnya dan hal itu memberikan vibra yang lebih panjang dan berbeda. Vibra atau gaung gamelan atau bisa  disebut juga getaran bunyi yang dikeluarkan oleh gamelan, dan hal itu dapat memengaruhi karakter garapan yang dibawakan.

Tari Wiranjaya | Foto: Disbud Buleleng

Sajian Sanggar Seni Suara Mustika yang kedua, Tari Wiranjaya yang diciptakan oleh Ketut Merdana pada tahun 1947. Nama Wiranjaya sebagai sebuah komposisi auditif dan koreografis diberikan secara aklamatif ketika Sekaa Gong Banda Sawitra dari Desa Kedis melakukan pementasan musik tradisi di Jakarta, tepatnya di Taman Ismail Marzuki pada tahun 1975. Wiranjaya adalah versi pendek dari Kebyar Buleleng Dauh Enjung, keduanya secara kompositoris terkonstruksi secara organik, memungkinkan terjadinya penyederhanaan dalam konteks durasi.

”Secara tematik, Tari Wiranjaya mengisahkan kehidupan brahmacari Laksmana dan Sahadewa yang sedang belajar memanah,” tutur Okta.

Penampilan ketiga Tari Kreasi Toyaning Lango yang mengisahkan pertemuan antara air laut dan air sungai. Sebuah kekuatan suci tercipta dari banyak aliran yang menyatu. Kekuatan ini hadir bukan karena rupa, tapi untuk satu tujuan mulia untuk membersihkan.

Kami mengalir, kami berkumpul, kami bersatu, kami semua sama, tak penting aku cantik atau tidak, tampan atau tidak, yg penting kekuatanku menginginkan semua membawa keajaiban, aku adalah tempat spesial jika dibutuhkan, aku melumpuhkan bahkan melunturkan Mala, bahkan aku pembersih dan aku juga bisa disebut apapun bahkan termasuk Tirta sudamala.

Tari Kreasi Toyaning Lango | Foto: Disbud Buleleng

Sementara itu, Sekaa Angklung Kebyar Shanti, Desa Ambengan, mengawali penampilannya dengan memperdengarkan Tabuh Kreasi Bayu Sutha, sebuah komposisi tabuh gamelan yang menggambarkan perjalanan spiritual manusia dalam mencari keseimbangan dan harmoni dengan alam semesta. Menurut, pembina tabuh Wayan Riksa, ada dua kata yaitu Bayu artinya angin atau udara, sedangkan Sutha berarti kebenaran atau kebijaksanaan. Tabuh ini diciptakan pada tahun 1982 oleh seorang seniman Pasek Suasana dan Wayan Dira.

”Komposisi ini dimulai dengan nada-nada yang lembut dan tenang, menggambarkan keadaan jiwa yang damai dan harmonis,” kata Riksa.

Berikutnya, mereka mempersembahkan Tari Tedung Sari. Tedung artinya payung, dan Sari diartikan inti yang suci. Banyak hal yang dapat ditiru dari arti dan makna sebuah payung. Salah satunya sebagai penyejuk, penahan hujan serta penolak teriknya matahari. Hal inilah yang menginspirasi seniman muda Nyoman Suarsa untuk menciptakan Tari Tedung Sari itu, di mana properti payung yang keseharian sebagai penyejuk dan juga sebagai penadah derasnya air hujan.

”Jadi Nyoman Suarsa mempergunakan payung sebagai peraga untuk keindahan dalam berekspresi yang dilakukan oleh para penari Bali,” kata Riksa.

Tari Tedung Sari | Foto: Disbud Buleleng

Penampilan terakhir yaitu Tari Teruna Jaya yang mengisahkan seorang pemuda yang menginjak dewasa dengan tampilan ekspresi kuat, emosional tinggi, serta ulahnya yang energik dalam memikat hati seseorang wanita. Tari Teruna Jaya termasuk tari putra keras yang biasanya ditarikan oleh penari putri. Tari ini merupakan ciptaan Pan Wandres dalam bentuk kebyar legong yang kemudian disempurnakan oleh Gde Manik.

Harapan Kaum Muda dan Kaum Tua

Dari kaum muda, Made Wira Okta Atmadi, pemilik Sanggar Seni Suara Mustika, menitipkan harapannya untuk Bulfest ke depannya. Melihat antusiasme dari berbagai komunitas seni, ia berharap agar durasi penyelenggaraan Bulfest dapat diperpanjang. Hal ini akan membuka peluang lebih luas bagi seniman-seniman lain yang juga ingin berpartisipasi dan unjuk kebolehan.

”Mudah-mudahan ke depannya kegiatan seperti ini bisa diperpanjang lagi harinya. Biar apa? Biar seniman-seniman yang lain dapat kesempatan untuk tampil kembali,” katanya.

Tari Trunajaya | Foto: Disbud Buleleng

Sementara, Putu Sirkayasa, Kelian Sekaa Angklung Kebyar Shanti mewakili kaum tua, mengatakan senang ketika sekaa angklungnya pertama kali pentas di Bulfest. Karena sebelumnya belum pentas ditunjuk oleh Dinas Kebudayaan Buleleng. Sirkayasa berharap dari Bulfest ini bisa menarik daya minat generasi muda terjun ke seni angklung, pasalnya di Desa Ambengan sekaa angklung didominasi para lansia.

”Bisa memotivasi anak-anak agar mau menekuni seni angklung. Sayang sekali jika gamelan yang sudah ada tak pernah dimainkan, setidaknya digunakan untuk kegiatan ngayah di desa pakraman,” tutupnya. [T]

Reporter/Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: angklungangklung kebyarbanyuningbuleleng festivalbulfestBulfest 2025desa ambengan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendaki Jangan “Ngae Daki” — Catatan Mendaki Sekaligus “Ngayah” ke Puncak Gunung Lesung

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [15-Habis]—Di Labuan Bajo Saya Hanya Numpang Lewat

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [15-Habis]—Di Labuan Bajo Saya Hanya Numpang Lewat

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [15-Habis]—Di Labuan Bajo Saya Hanya Numpang Lewat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co