DUA sekaa angklung kebyar yang mebarung (tampil berhadap-hadapan) di panggung Buleleng Festival (Bulfest) 2025 sungguh mendapat sambutan meriah dari penikmat angklung di Bali Utara. Mereka memang tampil memukau di Sasana Budaya Singaraja, Sabtu malam, 23 Agustus 2025.
Di sayap panggung sisi kanan tampak para penabuh, remaja laki-laki, dari Sanggar Seni Suara Mustika, Desa Banyuning, Singaraja. Sanggar Seni Suara Mustika itu berdiri tahun 2016, dan usianya masih tergolong belia, 9 tahun. Sementara di sayap kiri terlihat para penabuh remaja bercampur lansia laki-laki. Mereka dari Sekaa Angklung Kebyar Shanti yang sudah berdiri dari tahun 1970, dari Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada, Buleleng.

Sekaa Angklung Kebyar Shanti dari Desa Ambengan, Sukasada | Foto: Disbud Buleleng

Sanggar Seni Suara Mustika, Desa Banyuning, Singaraja | Foto: Disbud Buleleng
Angklung Kebyar Sanggar Seni Suara Mustika mengawali penampilannya dengan mempersembahkan Tabuh Kreasi Githa Candra, salah satu karya musik instrumental yang terinspirasi dari kejadian yang dialami penata karawitan, Made Wira Okta Atmadi. Karya ini menggambarkan suasana saat bulan purnama yang mekarkan suasana hati, tak pernah jemu memandang, sinarnya terpancar mengusir gelap.
Mulanya ide garapan Githa Candra ini diciptakan ke dalam media Gong Kebyar, sekarang disadur ke dalam gamelan angklung. Komposisi tabuh ini menggunakan media ungkap gamelan angklung kebyar khas Buleleng. Garapan ini tergolong kreasi baru dan menonjolkan unsur melodi yang cenderung manis. Apalagi gamelan itu dipadukan dengan instrumen jembe dan konga. Ini membuat tabuh itu terkesan baru dan inovatif jika dibanding komposisi karawitan tradisi pada umumnya.
”Mungkin ada perbedaan pada saat penggunaan media ungkap yang berbeda. Jika menggunakan barungan gamelan gong kebyar garapan ini terkesan lebih tajam,” ucap Okta.
Sanggar Seni Suara Mustika menggunakan angklung kebyar khas Buleleng sebagai media ungkapnya dan hal itu memberikan vibra yang lebih panjang dan berbeda. Vibra atau gaung gamelan atau bisa disebut juga getaran bunyi yang dikeluarkan oleh gamelan, dan hal itu dapat memengaruhi karakter garapan yang dibawakan.

Tari Wiranjaya | Foto: Disbud Buleleng
Sajian Sanggar Seni Suara Mustika yang kedua, Tari Wiranjaya yang diciptakan oleh Ketut Merdana pada tahun 1947. Nama Wiranjaya sebagai sebuah komposisi auditif dan koreografis diberikan secara aklamatif ketika Sekaa Gong Banda Sawitra dari Desa Kedis melakukan pementasan musik tradisi di Jakarta, tepatnya di Taman Ismail Marzuki pada tahun 1975. Wiranjaya adalah versi pendek dari Kebyar Buleleng Dauh Enjung, keduanya secara kompositoris terkonstruksi secara organik, memungkinkan terjadinya penyederhanaan dalam konteks durasi.
”Secara tematik, Tari Wiranjaya mengisahkan kehidupan brahmacari Laksmana dan Sahadewa yang sedang belajar memanah,” tutur Okta.
Penampilan ketiga Tari Kreasi Toyaning Lango yang mengisahkan pertemuan antara air laut dan air sungai. Sebuah kekuatan suci tercipta dari banyak aliran yang menyatu. Kekuatan ini hadir bukan karena rupa, tapi untuk satu tujuan mulia untuk membersihkan.
Kami mengalir, kami berkumpul, kami bersatu, kami semua sama, tak penting aku cantik atau tidak, tampan atau tidak, yg penting kekuatanku menginginkan semua membawa keajaiban, aku adalah tempat spesial jika dibutuhkan, aku melumpuhkan bahkan melunturkan Mala, bahkan aku pembersih dan aku juga bisa disebut apapun bahkan termasuk Tirta sudamala.

Tari Kreasi Toyaning Lango | Foto: Disbud Buleleng
Sementara itu, Sekaa Angklung Kebyar Shanti, Desa Ambengan, mengawali penampilannya dengan memperdengarkan Tabuh Kreasi Bayu Sutha, sebuah komposisi tabuh gamelan yang menggambarkan perjalanan spiritual manusia dalam mencari keseimbangan dan harmoni dengan alam semesta. Menurut, pembina tabuh Wayan Riksa, ada dua kata yaitu Bayu artinya angin atau udara, sedangkan Sutha berarti kebenaran atau kebijaksanaan. Tabuh ini diciptakan pada tahun 1982 oleh seorang seniman Pasek Suasana dan Wayan Dira.
”Komposisi ini dimulai dengan nada-nada yang lembut dan tenang, menggambarkan keadaan jiwa yang damai dan harmonis,” kata Riksa.
Berikutnya, mereka mempersembahkan Tari Tedung Sari. Tedung artinya payung, dan Sari diartikan inti yang suci. Banyak hal yang dapat ditiru dari arti dan makna sebuah payung. Salah satunya sebagai penyejuk, penahan hujan serta penolak teriknya matahari. Hal inilah yang menginspirasi seniman muda Nyoman Suarsa untuk menciptakan Tari Tedung Sari itu, di mana properti payung yang keseharian sebagai penyejuk dan juga sebagai penadah derasnya air hujan.
”Jadi Nyoman Suarsa mempergunakan payung sebagai peraga untuk keindahan dalam berekspresi yang dilakukan oleh para penari Bali,” kata Riksa.

Tari Tedung Sari | Foto: Disbud Buleleng
Penampilan terakhir yaitu Tari Teruna Jaya yang mengisahkan seorang pemuda yang menginjak dewasa dengan tampilan ekspresi kuat, emosional tinggi, serta ulahnya yang energik dalam memikat hati seseorang wanita. Tari Teruna Jaya termasuk tari putra keras yang biasanya ditarikan oleh penari putri. Tari ini merupakan ciptaan Pan Wandres dalam bentuk kebyar legong yang kemudian disempurnakan oleh Gde Manik.
Harapan Kaum Muda dan Kaum Tua
Dari kaum muda, Made Wira Okta Atmadi, pemilik Sanggar Seni Suara Mustika, menitipkan harapannya untuk Bulfest ke depannya. Melihat antusiasme dari berbagai komunitas seni, ia berharap agar durasi penyelenggaraan Bulfest dapat diperpanjang. Hal ini akan membuka peluang lebih luas bagi seniman-seniman lain yang juga ingin berpartisipasi dan unjuk kebolehan.
”Mudah-mudahan ke depannya kegiatan seperti ini bisa diperpanjang lagi harinya. Biar apa? Biar seniman-seniman yang lain dapat kesempatan untuk tampil kembali,” katanya.

Tari Trunajaya | Foto: Disbud Buleleng
Sementara, Putu Sirkayasa, Kelian Sekaa Angklung Kebyar Shanti mewakili kaum tua, mengatakan senang ketika sekaa angklungnya pertama kali pentas di Bulfest. Karena sebelumnya belum pentas ditunjuk oleh Dinas Kebudayaan Buleleng. Sirkayasa berharap dari Bulfest ini bisa menarik daya minat generasi muda terjun ke seni angklung, pasalnya di Desa Ambengan sekaa angklung didominasi para lansia.
”Bisa memotivasi anak-anak agar mau menekuni seni angklung. Sayang sekali jika gamelan yang sudah ada tak pernah dimainkan, setidaknya digunakan untuk kegiatan ngayah di desa pakraman,” tutupnya. [T]
Reporter/Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole











![Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [15-Habis]—Di Labuan Bajo Saya Hanya Numpang Lewat](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/08/wirya.-sepeda15-75x75.jpeg)















