SAMPAI detik ini, pertanyaan itu masih mengganggu kepala saya. Apa itu Osmosia? Mengapa kata ini terdengar asing, seolah bukan berasal dari bahasa manapun? Saya mencarinya di kamus, nihil. Saya menelusuri memori, tetap kosong. Namun, justru kekosongan itulah yang membuatnya menggoda. Osmosia, sebuah kata yang seperti hendak menutup diri, tapi di saat bersamaan mengundang kita untuk mendekat.
Tanggal 23 Juni 2025. Malam hari di Seririt. Kedai Cana—sebuah tempat yang akrab bagi para penikmat kopi, musik, di Seririt—malam itu berubah fungsi. Layar putih terpasang, kursi-kursi ditata, dan suasana yang biasanya riuh dengan obrolan santai, kini berubah menjadi ruang menonton sederhana. Ada lima film pendek yang ditayangkan. Namun dari kelimanya, hanya satu yang benar-benar mencuri perhatian saya, Osmosia.
“Ini film eksperimental,” kata teman saya.
Eksperimental. Kata itu saja sudah cukup untuk membuat rasa penasaran saya melonjak. Selama ini, film yang saya kenal lebih banyak mengalir dengan cerita lurus—ada awal, konflik, dan penyelesaian. Namun eksperimental? Saya belum pernah sungguh-sungguh menyelami dunia itu. Maka dengan mobil putih, saya melaju menuju kedai, menatap jalanan malam dan membayangkan seperti apa rupa sebuah film yang disebut eksperimental?
Udara Seririt malam itu sejuk, tapi tidak menusuk. Saya membantu sebentar mempersiapkan pemutaran film, lalu menunggu. Waktu berjalan lambat. Di kedai, saya dan teman saya duduk, nongkrong, menatap jam, menunggu lagi. Rasanya seperti menanti sebuah peristiwa yang tidak bisa ditebak.
Pukul 19.30 WITA, akhirnya panggilan itu datang. Semua lampu dimatikan, layar menyala, suasana mendadak hening. Tidak ada hujan deras seperti tiga hari sebelumnya—malam itu, alam seolah ikut memberi restu agar film diputar dengan lancar.
Film dimulai. Bukan dengan gambar, melainkan dengan suara. Suara lantang, seperti sambutan untuk seseorang yang akan naik ke panggung. Tetapi panggung itu tidak pernah benar-benar muncul. Yang tampak justru layar kecil dengan rasio 9:16, berwarna biru. Di atasnya, ukiran Karang Boma, bergetar seperti hologram yang hampir pecah.
Layar itu memunculkan wajah-wajah. Arsip lama. Suara pembawa acara. Rekaman pemakaman. Nama yang berulang disebut – I Gde Dharna, seorang seniman Bali. Semuanya seperti potongan memori yang tidak utuh, kenangan yang dibiarkan retak, dan kita dipaksa menatapnya.
Ada rasa ganjil. Saya tak tahu apakah ini awal yang dimaksud, atau sekadar prolog. Namun sejak menit itu, saya tahu Osmosia bukan film yang mau memanjakan penontonnya.
Layar berganti merah menyala. Ruangan terasa ikut dipenuhi warna itu. Seorang perempuan berdiri di tengah padang gersang. Tatapan pertamanya membuat saya mengira dia adalah roh jahat, semacam entitas yang siap menakut-nakuti. Tetapi dugaan saya segera runtuh.
Dengan lantang, ia memperkenalkan dirinya sebagai Tumbuhan Merah. Dari mulutnya mengalun sebuah bacaan yang setengah nyanyian setengah mantra.
Gambar padi muncul, subak mengalir, simbol-simbol agraris Bali berkelebat seperti doa visual. Musik yang mengiringinya adalah pertemuan dua dunia, opera barat dan kidung Bali. Asing, tapi akrab. Seperti suara dari masa depan yang dibangun di atas ingatan masa lalu.
Potongan simbol lain berloncatan. Api yang melahap karya seni di dalam gua. Anak-anak yang berkisah tentang ayah mereka. Fragmen-fragmen yang kemudian bersatu menjadi adegan opera penuh warna.
Semua terasa seperti ritual—tapi ritual yang asing, tak pernah saya hadiri sebelumnya. Setiap gerak, setiap simbol, seolah punya arti. Namun tak ada keterangan. Tak ada teks yang membantu saya memahami.
Di situlah tantangannya. Penonton dipaksa untuk menafsirkan sendiri. Dan otak saya pun mulai bekerja liar. Saya membayangkan bahwa Osmosia adalah tentang awal pembentukan dunia. Sebuah kisah mitologis yang dikisahkan kembali melalui simbol dan suara. Apakah itu tafsir yang benar? Entahlah. Mungkin benar, mungkin meleset jauh. Tetapi justru di situlah letaknya. Film ini membuka pintu, dan kita yang memilih jalan.
Akhir film tiba tanpa kesimpulan. Tidak ada narasi yang merangkum, tidak ada teks penutup yang menjelaskan “ini maksudnya”. Yang tersisa hanyalah ruang kosong.
Saya teringat pada cara Junji Ito, mangaka horor Jepang, menutup kisah-kisahnya. Misteri selalu dibiarkan menggantung, membuat pembaca dihantui pertanyaan yang tak pernah selesai. Bedanya, jika Junji Ito menanamkan rasa takut, Osmosia justru menanamkan rasa hening.

Pemutaran film Osmosia di Seririt | Foto: Singaraja Menonton
Film ini bukan untuk memberi jawaban, melainkan untuk mengajak penontonnya berdialog dengan dirinya sendiri. Bukan sekadar tontonan, tapi percakapan batin yang masih berlangsung lama setelah layar padam.
Saya harus mengakui keberanian sutradara Fioretti Vera dan B.M Anggana. Mereka tidak mengikuti jalur dokumenter konvensional. Mereka mencampurkan arsip, opera, simbol-simbol alam, dan karakter seperti Tumbuhan Merah yang terasa mistis sekaligus puitis.
Adegan-adegan itu bukan sekadar rangkaian gambar, tapi semacam puisi visual yang bergerak. Saya masih mengingat layar biru kecil dengan wajah-wajah yang bergetar. Saya masih terbayang padi yang menari di layar, seakan-akan hendak berbicara kepada kita.
Namun di balik kekaguman itu, saya juga menemukan tantangan. Ada momen ketika peralihan dari arsip ke opera terasa terlalu tiba-tiba. Saya sempat tersesat, kehilangan pijakan. Beberapa simbol juga dibiarkan terlalu lama, hingga pikiran saya melayang ke hal lain.
Mungkin, jika sedikit saja ada pegangan—sepotong lirik, satu kalimat penghubung yang mengikat simbol dengan kisah I Gde Dharna—saya akan merasa lebih dekat. Tidak sekadar menatap bayangan, tetapi benar-benar menggenggam tangan tokoh yang diceritakan.
Osmosia rasanya seperti mimpi yang direkam kamera. Mimpi yang muncul saat kita demam. Kadang kaki menapak di tanah, kadang melayang entah kemana.
Film ini tidak menjawab pertanyaan “kenapa” atau “mengapa”. Film itu hanya memberikan jejak suara, warna, potongan wajah, simbol-simbol. Dan kita, para penonton, yang harus merangkai sendiri maknanya.
Apakah Osmosia bercerita tentang warisan seni I Gde Dharna? Tentang kehilangan? Tentang alam yang perlahan kehabisan suara? Mungkin ya, mungkin tidak. Yang jelas, film ini berhasil menanamkan rasa ingin tahu yang tidak habis setelah lampu kembali menyala.
Pukul 22.10 WITA, semua film sudah selesai. Diskusi dibuka. Saya berharap ada pencerahan. Tapi ternyata tidak banyak yang bisa saya tangkap. Para pembuat film tampaknya memang ingin Osmosia tetap menjadi misteri.
Mungkin memang begitu seharusnya. Tidak semua karya seni diciptakan untuk dijelaskan. Ada yang hanya untuk dirasakan, dipertanyakan, dan akhirnya dibiarkan menggantung.
Malam semakin larut. Saya pulang dengan mobil putih yang sama. Jalanan sepi. Dari balik kaca mobil, saya menatap lampu jalan yang sesekali menyala redup.
Dalam hati saya bergumam, mungkin saya tidak akan pernah tahu arti sesungguhnya dari Osmosia. Dan mungkin, memang begitu cara film ini bekerja. Tidak ingin dipahami tuntas. Tapi ingin kita terus memikirkannya.
Dan saya pun tersenyum kecil. Karena bukankah itu tujuan dari karya seni yang baik? Bukan sekadar menyenangkan mata, tapi juga mengganggu pikiran. [T]
Penulis: Gede Yoga Wismantara
Editor: Adnyana Ole
Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.
- BACA JUGA:



























