SAYA masuk kamar hotel melati yang lokasinya tidak jauh dari SPBU Utama Raya itu dengan tubuh lunglai. Pada Juni 2021 saya juga menginap di hotel murah tersebut, ketika saya bersepeda menuju ke Mataram.
Setelah mandi, saya keluar kamar untuk makan malam. Letak warungnya persis di sebelah hotel. Saya hanya berjalan beberapa langkah saja.
Kondisi raga saya berbeda jauh dengan ketika bersepeda ke Mataram pada Juni 2021 lalu. Dari Gresik hingga hotel tersebut, praktis saya tidak mengalami nyeri dan ngilu sama sekali. Saya sangat menikmati setiap kayuhan.
Tapi kali ini saya merasa tersiksa. Saya bersepeda tanpa kegembiraan. Bagaimana mungkin saya bisa meneruskan hingga Labuan Bajo. Baru mencapai jarak kurang dari 170 kilometer saja saya sudah hampir KO.
Ketika sudah kembali ke kamar, tubuh saya balur dengan minyak oles. Minyak tersebut direkomendasikan oleh kawan yang membantu penyembuhan lutut kiri saya yang cedera.
Awalnya, tubuh saya terasa hangat. Sejenak kemudian, karena hembusan angin dari fan kamar, saya kedinginan hingga menggigil. Saya segera mengambil jaket dan memeluk guling agar hangat. Rasa dingin itu berangsur hilang. Nyeri dan ngilu di beberapa bagian tubuh agak berkurang.
Sekira pukul 21.00 WIB saya mulai mengatupkan mata. Tapi rasa kantuk tidak kunjung datang. Beberapa jam kemudian baru saya bisa tidur, tapi tidak nyenyak. Beberapa kali saya terjaga.
Saya bangun sekitar pukul 05.30 WIB, dengan tubuh yang masih lemas. Praktis saya hanya tidur tidak lebih dari 3 jam. Karena badan kurang fit, saya putuskan hari itu istirahat dulu. Saya segera menuju ke resepsionis untuk minta perpanjangan sehari lagi.
“Bayarnya nanti siang saja, menunggu staf yang masuk pagi. Karena setelah ini kami pergantian shift,” kata resepsionis.
Saya kembali ke kamar. Mencoba untuk tidur lagi. Sambil rebahan, saya kembali membalur tubuh dengan minyak oles.

Hotel dekat SPBU | Foto: Dok. Wirya
Perjalanan saya ke Mataram pada Juni 2021, melalui rute dengan pitstop yang sama. Tapi saat itu saya bisa tidur dengan nyenyak, sehingga tubuh fit saat bangun keesokan hari.
Saya mencoba untuk melepaskan kemelekatan pada target, beban dan kekhawatiran. Saya ingin mengembalikan esensi bersepeda: mendapatkan kegembiraan. Beberapa menit kemudian saya tertidur pulas.
Saya terbangun pukul 07.15 WIB dengan tubuh terasa bugar. Setelah mandi dan makan nasi goreng jatah hotel, saya kembali menemukan semangat baru. Maka saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Asembagus.
Semula saya menargetkan perjalanan dari Gresik ke Denpasar tuntas dalam 3 hari. Tapi rasanya tidak mungkin dengan kondisi tubuh saya saat itu. Tak apalah, jika memang harus 4 hari.
Ketika mengeluarkan sepeda dari dalam kamar, saya baru tahu jika baut sadel sisi kiri kendor. Karena posisi bautnya di dalam spiral dan tidak punya kunci, saya mencoba mengencangkan dengan telunjuk. Tapi hasilnya tidak maksimal.
Saya meninggalkan hotel pukul 07.35 WIB. Sepeda saya kayuh perlahan untuk menjaga agar ngilu di pergelangan kaki dan nyeri di telapak tangan dan paha kiri tidak kambuh lagi.
Hingga belasan kilometer, saya hampir tidak merasakan nyeri dan ngilu lagi. Bisa jadi karena saya kembali menemukan kegembiraan dan menikmati setiap kayuhan. Saya berharap agar tubuh saya benar-benar fit, minimal hingga sampai Denpasar. Sebab saya baru akan melakukan recovery di ibukota Provinsi Bali tersebut.
Sejak dari hotel hingga 8 kilometer kemudian, pinggiran jalan aspal banyak yang meliuk. Kerusakan aspal kemungkinan akibat dihajar kendaraan bermuatan berat.
Sialnya, lalu-lintas di jalur menuju Bali tersebut banyak dilewati truk-truk besar dan panjang. Saya tidak punya pilihan, harus melewati pinggir jalan yang bergelombang itu meksipun sangat tidak nyaman.
Jika saya mengambil jalur agak ke tengah yang relatif lebih rata, berisiko dihantam truk dan kendaraan besar lainn. Saya tidak punya pilihan lagi, memilih tidak nyaman tapi tetap aman.
Tidak lama kemudian, saya sampai di monumen 1000 kilometer Panarukan pada pukul 10.25 WIB. Saya sudah meninggalkan hotel kecil di dekat SPBU Utama Raya sejauh 40,77 kilometer.
Ngilu pada pergelangan kaki kiri dan nyeri di telapak tangan terkadang masih muncul, tapi tidak parah. Nyeri di paha kiri juga sudah jauh berkurang. Meskipun demikian saya belum berani ngebut, kecepatan rata-rata hanya 17 kilometer per jam.
Beberapa kilometer sebelum masuk Kota Situbondo, saya mendengar suara berdecit di sadel. Setelah saya periksa, ternyata mur yang longgar tadi hilang. Saya berencana untuk mencari mur serupa di Kota Situbondo.
Sekitar pukul 11.00 WIB saya masuk Kota Situbondo. Saya segera mencari bengkel untuk membeli mur sadel. Di pinggir jalan utama kota tersebut ada beberapa bengkel sepeda motor. Saya memilih satu di antaranya.
Dalam waktu tidak sampai 15 menit mur sadel sudah terpasang dengan kuat, meskipun dengan bentuk yang tidak sama. Saya lanjutkan perjalanan menuju Asembagus, setelah membuat beberapa foto landmark Kota Situbondo.
Sesampai di Kecamatan Kapongan, Kabupaten Situbondo, pada pukul 11.55 WIB, saya makan siang dengan menu spesial, gule kepala ikan kakap. Ternyata harga makanan itu lumayan mahal. Ya sudahlah, sekalian untuk merayakan kembalinya kegembiraan dalam bersepeda.
Hari masih siang ketika saya sampai di Asembagus. Saya lihat jarum jam di arloji menunjukkan pukul 12.45 WIB.
Meskipun demikian, saya tak hendak meneruskan perjalanan, karena masih harus menghadapi tanjakan di Hutan Baluran.
Saya harus berhemat tenaga dan tidak memaksakan diri untuk mengantisipasi munculnya nyeri dan ngilu di tubuh. Saya harus bersepeda dengan gembira.
Perjalanan hari kedua, tanggal 11 November 2022, berakhir di Asembagus. Hari itu saya hanya menyelesaikan 76,57 kilometer saja. [T]
Penulis: Made Wirya
Editor: Jaswanto
- BACA CERITA SEBELUMNYA:
![Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [4]–Kegembiraan Datang Nyeri pun Hilang](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/08/wirya.-sepeda4.1-750x375.jpeg)


























