KETIKA perang Mahabharata meletus di Kurukshetra, kebenaran yang sebelumnya samar menjadi jelas. Kita bisa melihat siapa yang memilih berdiri di pihak Kurawa dan siapa yang berada di pihak Pandawa. Ironisnya, beberapa tokoh agung dan luhur justru memilih berada di pihak yang secara moral kalah: Kurawa.
Empat tokoh itu adalah:
Bhisma – kakek agung yang disegani karena kebijaksanaannya.
Drona – guru besar panah dan perang, yang mencintai Arjuna sebagai murid kesayangan.
Karna – putra Kunti, kakak tiri Pandawa, yang sepanjang hidupnya merasa sebagai orang luar.
Salya – raja Madra, paman Pandawa, yang terjebak dalam tipu daya politik Duryodhana.
Mengapa mereka berpihak ke Kurawa? Jawabannya tidak sederhana. Kita perlu melihat dari tiga lapis: konteks sosial-politik, ikatan pribadi, dan nilai yang mereka pegang.
Bhisma: Sumpah yang Mengikat di Atas Segalanya
Bhisma adalah simbol kesetiaan pada sumpah. Sejak muda ia berikrar untuk mendukung takhta Hastinapura tanpa memandang siapa yang memegangnya. Sumpah ini ia ambil demi memastikan ayahnya, Raja Santanu, dapat menikahi Dewi Satyawati.
Ketika Hastinapura dikuasai Duryodhana, meski ia tahu Pandawa adalah pihak yang benar, ia tetap memegang sumpahnya. Bhisma memilih kesetiaan pada janji di atas kesetiaan pada kebenaran.
Refleksi: Dalam konteks modern, kita sering melihat orang yang terjebak dalam kontrak politik, loyalitas jabatan, atau sumpah dinas yang membuatnya membela pihak salah demi menjaga konsistensi formal. Bhisma adalah gambaran bahwa kesetiaan tanpa kebijaksanaan bisa menjadi pedang bermata dua.
Drona: Hutang Budi dan Kewajiban Profesional
Drona lahir dari keluarga brahmana miskin dan pernah dihina karena kemiskinannya. Hidupnya berubah ketika ia diundang mengajar di istana Hastinapura. Ia mendapat kehormatan, gaji, dan perlindungan dari Raja.
Secara pribadi ia mencintai Arjuna seperti anak sendiri. Namun secara profesional, ia adalah guru yang digaji kerajaan. Ketika Duryodhana berkuasa, secara struktur ia menjadi pelayan Kurawa. Hutang budi dan rasa terikat pada pemberi nafkah membuatnya tidak bisa membelot ke Pandawa.
Refleksi: Di zaman sekarang, banyak profesional, akademisi, atau aparatur negara yang mengetahui mana yang benar, tetapi terikat kontrak dan penghidupan. Dilema etis seperti ini muncul di birokrasi, korporasi, hingga perguruan tinggi: loyal pada pemberi gaji, atau loyal pada kebenaran?
Karna: Luka Batin dan Solidaritas Sosial
Karna lahir sebagai anak Kunti dari Dewa Surya sebelum pernikahannya. Ia dibuang dan dibesarkan oleh keluarga kusir. Meski berbakat luar biasa, ia sering dihina karena status sosialnya.
Ketika Duryodhana memahkotainya sebagai raja Angga, Karna merasakan pengakuan dan persahabatan yang tidak ia dapatkan dari Pandawa. Meski tahu Pandawa adalah saudara kandungnya, ia tetap memilih solidaritas kepada sahabat yang menerima dirinya di masa sulit.
Refleksi: Di masa kini, luka batin karena diskriminasi sosial bisa membentuk loyalitas emosional yang sulit ditembus oleh kebenaran rasional. Banyak orang bertahan di pihak salah karena merasa utang emosional pada mereka yang mengangkat harga dirinya.
Salya: Terjebak dalam Tipu Daya
Salya, raja Madra sekaligus paman Pandawa, awalnya berniat membantu Pandawa. Namun Duryodhana menipunya dengan jamuan megah sehingga Salya, terikat pada etika ksatria untuk membalas budi, justru harus menjadi kusir Karna di pihak Kurawa.
Refleksi: di masa kini, banyak orang terjebak manipulasi halus dan politik pencitraan, sehingga tanpa sadar membela pihak yang keliru. Fenomena ini terjadi di politik, bisnis, bahkan lingkungan adat.
Refleksi Kekinian
Konteks Lokal Bali
Di Bali, konflik sosial atau politik adat sering memperlihatkan pola Bhisma, Drona, Karna, dan Salya:
- Bhisma Bali: Tokoh adat atau pemangku yang terikat awig-awig meski tahu keputusan itu tidak adil.
- Drona Bali: Aparat desa atau ASN yang ikut kebijakan atasan walau bertentangan dengan hati nurani.
- Karna Bali: Warga atau pemuda yang membela kelompok tertentu karena pernah dibantu, meski kelompok itu keliru.
- Salya Bali: Tokoh yang awalnya berpihak ke benar, namun terseret karena jebakan diplomasi atau pencitraan.
Konteks Nasional Indonesia
Di tingkat nasional, kita melihat pola yang sama dalam politik:
- Bhisma Indonesia: Politisi atau pejabat yang tetap setia pada partai meski kebijakan partai merugikan rakyat.
- Drona Indonesia: Profesional atau aparat penegak hukum yang patuh pada instruksi atasan walau tahu salah.
- Karna Indonesia: Aktivis atau pengusaha yang membela figur tertentu karena pernah memberi modal atau dukungan.
- Salya Indonesia: Tokoh publik yang awalnya berpihak pada reformasi, tapi berubah arah karena terjebak manuver politik.
Konteks Global
Secara global, fenomena serupa muncul:
- Bhisma Dunia: Negara yang tetap mendukung aliansinya walau aliansi itu melakukan pelanggaran HAM.
- Drona Dunia: Ilmuwan yang bekerja untuk korporasi besar dan memproduksi riset bias demi kontrak.
- Karna Dunia: Negara atau kelompok yang tetap mendukung pihak salah karena pernah diselamatkan dari krisis.
- Salya Dunia: Pemimpin dunia yang awalnya berpihak pada perdamaian, tapi termakan diplomasi licik sehingga mendukung perang.
Pemetaan dalam Peta Kesadaran Hawkins
David R. Hawkins dalam Power vs. Force memetakan kesadaran manusia dari level terendah (Shame, 20) hingga tertinggi (Enlightenment, 700–1000). Meskipun keempat tokoh Mahabharata ini adalah ksatria dengan kapasitas tinggi, keputusan mereka di medan perang menunjukkan bahwa tingkat kesadaran tidak selalu stabil.
Bhisma – Courage (200) → Loyalty/Attachment
Bhisma memiliki keberanian moral, tetapi tertahan oleh keterikatan pada sumpah. Energinya tidak sepenuhnya bebas untuk mengikuti kebenaran universal. Untuk naik level, ia perlu bergerak ke Love (500), di mana kasih dan dharma menjadi panduan.
Drona – Pride (175) → Fear (100)
Drona menjaga status sosial dan menghindari kehilangan penghidupan. Pride dan Fear menahan kenaikan kesadarannya ke Courage. Ia memilih keamanan pribadi di atas kebenaran.
Karna – Anger (150) → Courage (200)
Kemarahan karena penolakan sosial mendorongnya berani berjuang, tetapi keberanian ini diarahkan pada loyalitas pribadi, bukan pada dharma. Ia berpotensi naik lebih tinggi jika melampaui luka batin.
Salya – Neutrality (250) → Guilt (30)
Awalnya netral, Salya jatuh drastis ke rasa bersalah setelah terjebak manipulasi. Guilt memiliki energi rendah yang melemahkan kemampuan mengambil keputusan bijak.
Pola Umum dari Peta Hawkins
Jika dipetakan:
- Bhisma: Courage (200) stabil tapi terikat.
- Drona: Pride (175) turun ke Fear (100).
- Karna: Anger (150) naik ke Courage (200).
- Salya: Neutrality (250) jatuh ke Guilt (30).
Pesannya jelas: bahkan tokoh agung pun bisa turun level jika keputusan diwarnai ego, keterikatan, atau manipulasi.
Memilih Pandawa dalam Diri Kita
Perang Mahabharata disamping sebagai ithiasa yang artinya sebuah sejarah yang benar terjadi sekitar 3000 tahun sebelum Masehi, juga adalah cermin batin. Bhisma, Drona, Karna, dan Salya hidup dalam diri kita semua:
- Kita pernah menjadi Bhisma ketika memilih diam demi menjaga janji atau loyalitas.
- Kita pernah menjadi Drona ketika mengikuti perintah meski hati menolak.
- Kita pernah menjadi Karna ketika membela sahabat yang keliru demi rasa terima kasih.
- Kita pernah menjadi Salya ketika terseret manipulasi yang rapi disamarkan.
Pesan dari Hawkins: untuk berada di pihak Pandawa (kebenaran), kita harus menjaga kesadaran di atas Courage dan terus naik menuju Love, Joy, dan Peace, karena di sanalah keputusan bebas dari rasa takut, gengsi, hutang budi, dan manipulasi.
Memilih Pandawa berarti memilih berdiri di sisi yang benar, meski sulit, meski berisiko.
Karena hidup adalah sebuah pilihan, maka memilihlah secara bijak. [T]
Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:


























