SORE itu, di Klinik Gizi Sahabat, saya sedang sibuk rapat daring via zoom dengan OP (Organisasi Profesi) Persagi Wilayah Bali. Persagi itu adalah wadah perkumpulan para teman sejawat ahli gizi wilayah Bali.
Tiba tiba pintu diketuk dan masukklah asisten dokter dengan senyum manisnya sambil berkata, “Bli Eka, ada pasien konsul gizi ya, dengan keluhan di lambung!”
“Owh, oke, Tut, terima kasih,” kata saya kepada Ketut, asisten Pak Dokter yang sedang bertugas hari itu.
Masuklah pasien dengan tinggi hampir 170 cm dan berat badan 68 Kg. Sebut saja namanya Kadek. Ia ditemani oleh ibunya yang berperawakan sedang dan umur hampir setengah abad, dengan raut muka yang ceria.
“Silakan masuk, Bu, silakan duduk!” sapa saya. Itu sapaan rutin kepada setiap pasien yang datang ke Klinik Gizi Sahabat.
Setelah meminta identitas pasien, saya mulai menghitung data status Gizi pasien, dan berat badan ideal dari pasien. Data status gizi pasien dapat diperoleh dengan mengitung berat badan dan dibandingkan dengan tinggi badan (kuadrat), lalu akan diperolah hasil perhitungan Indeks Massa Tubuh yang kita kenal dengan IMT. Dengan hitungan itu, diperolehlah data dari Status Gizi Pasien.
Kadek sendiri ada dalam skor status gizi 22,99 yang berarti masih dalam status gizi baik atau normal serta dengan berat badan yang ideal.
Setelah menjelaskan terkait dengan status gizi dan berat badan idealnya, saya pun lanjut menanyakan terkait dengan keluhan dari pasien.
“Bagaimana kabar, Dek? Sehat? Keluhan yang kadek rasakan sekarang apa?” tanya saya sambil mencatat detail dari keluhan pasien.
“Malam, Pak, keluhan saya ada mual-mual dan sesak, Pak? Empat hari lalu sampai masuk ke UGD akibat gak bisa napas dan sesak, jadi harus pakai oksigen biar bisa kembali lagi bernapas dengan baik, Pak!” kata Kadek.
Dari data recall (data hasil wawancara dan diskusi terkait pola hidup, pola makan dll) dapat diperolah data, Kadek aktivitas sehari-harinya sebagai salah satu mahasiswa semester 4 di Universitas Pendidikan Ganesha, salah satu universitas yang favorit dan terkenal di Bali dan di Bali Utara khususnya.
Pola makan Kadek sedikit berantakan karena sedang melakukan diet dengan makan hanya sekali dalam sehari, dan tidak konsumsi nasi putih. Padahal pada umumnya kalaua tidak makan nasi putih berasa kayak belum makan.
Nah, ini yang akan kita bicarakan. Kadek suka makan rujak. Rujak merupakan kuliner buah-buahan yang dipotong-potong kecil dengan kombinasi bumbu asam manis sebagai pelengkap rasa, dan tentunya bisa buat kita ngiler dan ingin nambah terus.
Apakah rujak bisa jadi biang kerok? Apakah rujak tidak diperbolahkan dikonsumsi?
Rujak tentu saja boleh dikonsumsi. Itu kan warisan kuliner kita secara turun temurun.
Persoalannya pada Kadek adalah, makan rujak pada saat pagi dan dalam keadaan perut kosong. Jadi ini bisa menjadi pemicu timbul naiknya asam lambung kita, yang bisa menyebabkan mual-mual dan bisa sesak napas.
Makan rujak boleh saja, tapi disarankan pagi kita harus sarapan dulu. Baru bangun biasakan minum air putih hangat satu gelas biasa. Lakukan aktivitas pagi, lalu setelah itu sempatkan sarapan.
Sarapan pagi penting untuk menjaga stamina dan konsentrasi kita terlebih pada mahasiswa yang sedang dalam fase menuntut ilmu.
“Berarti saya gak boleh makan rujak, Pak?“ tanya Kadek.
Boleh kok tetap konsumsi rujak, tapi dengan catatan sarapan dulu pagi-pagi. Rujaknya bolehlah di siang hari setelah makan. Tentunya dengan porsi rujak yang jangan berlebih.
“Bagaimana dengan diet saya, Pak?“ tanya Kadek kembali.
Diet dengan hanya 1 kali makan dalam sehari tentu saya tidak rekomendasikan. Pola makan yang direkomendasikan adalah 3 kali makan dalam sehari dan yang paling penting adalah pengaturan dari porsi makan yang kita makan tiap kali kita makan.
Boleh kita lakukan Cheat Day 1kali dalam seminggu, atau makan bebas sekali seminggu. Istilahnya ini adalah bonus setelah kita melakukan pola diet yang bagus dan benar. Tetapi perlu diingat dan dicatat, hanya 1 kali dalam seminggu jangan keblablasan.
“Bagaimana dengan saya yang tidak konsumsi nasi, Pak? Apakah masih bisa saya terapkan?“ tanya Kadek dengan muka yang serius.
Saya sebagai salah satu konselor gizi di Klinik Gizi Sahabat, tentu sangat senang dengan pasien yang kooperatif dan menjelaskan dengan detail terkait pola makan dan pola aktifitasnya, karena dengan hal tersebut saya dapat mengkaji dengan lebih detail dan dapat merekomendasikan pola yang lebih baik untuk bisa diterapkan di rumah.
Kembali ke persoalan tidak konsumsi nasi, oke, kalau tidak konsumsi nasi. Boleh saja kok. Tetapi, yang tidak boleh adalah tidak konsumsi karbohidrat.
Nasi sebagai salah satu sumber karbohidrat kompleks bisa kita ganti kok dengan jagung, ubi, singkong, kentang atau sumber karbohidrat komplek lainnya. Serta sumber karbohidrat sederhana seperti gula, madu yang sifatnya mudah cerna. Ini memberikan energi yang cepat tetapi juga cepat hilang. Jenis karbohidrat seperti ini wajib untuk dibatasi karena bisa meningkatkan kadar gula darah yang cepat.
Karbohidrat itu penting kok, untuk sumber makanan dari sel-sel tubuh kita, untuk regenerasi sel kita juga. Memang mau umur masih muda, tetapi mukanya sudah kelihatan tua? Tentu tidak kan?
Pada dasarnya tubuh kita memerlukan semua zat gizi untuk menjalankan fungsinya secara lebih optimal. Berikan tubuh kita semua zat gizi yang dibutuhkan, jangan memberikan semua yang kita inginkan dengan mengabaikan pola-pola yang seharusnya kita terapkan.
Semua makanan punya fungsi dan perannya masing masing dalam tubuh kita, makanan itu tidak ada yang jelek dan kita jangan mendewakan salah satu jenis makanan saja. Pola makanmu yang sekarang akan menentukan pola hidupmu ke depan.
Salam Sehat! [T]
Penulis: Gede Eka Subiarta
Editor: Adnyana Ole


























