14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harapan Era Baru dan Kebahagiaan Palestina  Lewat Lagu “When the Ship Comes In”

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
July 22, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

Kata-kata memenuhi kepalaku, dan jatuh ke lantai,
bahwa jika Tuhan ada di pihak kita,
dia akan menghentikan perang berikutnya.

-,Bob Dylan

PENINDASAN yang dilakukan bangsa Israel atas bangsa Palestina yang merdeka dan berdaulat, sebuah episode kelam manusia bersaudara keturunan Ibrahim AS. Motif peristiwa perang ini sulit dijelaskan oleh nalar orang beriman, karena ini sebuah agenda “jahat dan jahat” dari saudara kepada saudaranya.

Sejarah dan fakta konflik Israel dan Palestina telah terjadi sejak abad ke-20, sudah merentang di tiga abad yang berbeda. Kisah pilu Palestina di awali pada 29-31 Agustus 1897 saat Theodor Herzl memimpin Kongres Zionis Pertama. Mereka menyepakati langkah-langkah untuk mendirikan negara Yahudi di Palestina yang saat itu dikuasai Turki Utsmani.

Sejak itu orang Arab Palestina mulai terusir dari tanah airnya, imigran Yahudi mulai berdatangan dengan membeli tanah-tanah secara paksa dan teror kepada rakyat palestina. Pendanaan kuat dari bankir-bankir Yahudi di Eropa menyokong gerakan ini.

Melalui dana itu, imigran Yahudi semakin banyak dan masif berdatangan ke Palestina dan membeli tanah-tanah warga Arab yang sudah berabad-abad tinggal lebih dulu di Palestina. Orang Yahudi menjadi tuan-tuan tanah di tanah air orang Palestina. 

Konflik sampai hari ini terus terjadi hingga pecah drama pembantaian rakyat Palestina, Palestina akhirnya melakukan perlawanan besar-besaran yang dipimpin oleh Hamas, namun tetap tidak seimbang. Israel melakukan serangan secara membabi buta, sejumlah rumah sakit bahkan dihancurkan, sehingga menyebabkan akses terhadap pelayanan kesehatan sangat sulit dijangkau.

Rakyat Palestina terpaksa pindah serta mengamankan diri ke daerah Rafah yang masih diserang dan dibombardir terus-menerus oleh Israel dengan keji. Sejumlah cara dilakukan oleh berbagai negara untuk menghentikan serangan Israel terhadap Palestina.

Tidak hanya PBB dan negara-negara yang berusaha menghentikan Israel, tetapi juga muncul gerakan BDS (Boycott, Divestment and Sanctions) dari masyarakat untuk memboikot merek-merek yang diketahui mendanai Israel. Afrika Selatan bahkan membawa kasus ini ke International Court of Justice (ICJ), tetapi tidak kunjung membuahkan hasil yang signifikan (https://law.ugm.ac.id/dialektika-4-kejahatan-perang-dan-kemanusiaan-oleh-israel-terhadap-palestina/).

Sejak berdiri negara Zionis Israel, atas dukungan Inggeris dan Amerika Serikat, konflik di Timur Tengah terus memanas dan berkobar sampai hari ini, banyak para Alim dan cerdik pandai mengatakan bahwa konflik ini tidak akan selesai, sampai akhir zaman nanti, Wallahualambissawab (hanya Allah SWT yang mengetahuinya). Kita manusia sebagai makhluk yang lemah tetap untuk terus mengikhtiarkan perdamaian, dan menghentikan penindasan, pembantaian terhadap bangsa Palestina ini.

​​​​​***

Bila kita potret perjuangan rakyat Palestina dengan lirik “When the Ship Comes In” lagu karya Bob Dylan seorang musisi berdarah Yahudi peraih Nobel 2016 bidang sastra,  mengekspresikan harapan akan datangnya masa depan yang lebih baik, setelah masa-masa sulit. Lagu ini sebenarnya sering ditafsirkan sebagai metafora untuk gerakan hak-hak sipil dan harapan akan perubahan sosial. Lagu saya gunakan sebagai spirit untuk terjadinya perubahan eskalasi peperangan, menjadi hidup damai dan tentram. Tujuan menuliskan ini juga harapan saya sebagai doa, untuk rakyat Palestina agar segera terbebas dari belenggu kekejaman zionis Israel, dan perubahan. 

Liriknya yang kuat dan optimis, serta musiknya yang khas folk, menjadikannya salah satu lagu yang paling dikenal dari Bob Dylan. Lagu ini menggunakan metafora kapal yang datang sebagai simbol perubahan dan harapan, khususnya dalam konteks perjuangan hak-hak sipil dan perlawanan terhadap penindasan.

Lagu “When the Ship Comes In” ditulis pada tahun 1963 dan dirilis dalam album “The Times They Are a-Changin”. Liriknya menggambarkan kemenangan atas kekuatan yang menindas dan datangnya era baru yang lebih adil. Liriknya secara jelas menyebutkan musuh yang kalah dan “mati”, yang bisa diinterpretasikan sebagai kekuatan penindas, ketidakadilan, atau sistem yang korup. “Musuh yang kalah dan mati” adalah zionis Israel dalam tulisan ini.

Lirik lagu ini saya paksakan sebagai harapan baru bagi rakyat Palestina. Saya sadari mungkin ini sangat keliru, di satu sisi saya merasakan spirit lagu ini bila kita simak dan maknai secara bebas adalah bagaimana perjuangan untuk menggulingkan seorang lalim tidak membuat seseorang menjadi “jahat”, tetapi sebuah ikhtiar yang mulia. Mungkin para fanatik lirik-lirik Bob Dylan akan mencibir kekeliruan ini, tetapi naskah ini saya anggap sebagai doa untuk datangnya harapan masa depan yang lebih baik.

Lagu ini bila kita maknai secara subyektif, ini jelas bukan pencarian spiritual sama sekali, seperti dikemukakan oleh para pengulas lagu ini. “When the Ship Comes In” lagu tentang perjuangan abadi antara mereka yang punya dan mereka yang tidak punya.

“Saat kapal datang”, frasa ini simbolisasi atau metafora untuk kedatangan masa depan yang lebih baik, atau momen kemenangan dan pembebasan dari kesulitan. Kapal dapat mewakili harapan, pembaruan, atau perubahan positif. Beberapa lirik dalam lagu ini yang dapat mewakili situasi kondisi rakyat Palestina.

Lirik lagu ini juga mengandung unsur perlawanan terhadap penindasan dan ketidakadilan. Kata-kata seperti the hurricane “angin badai,” the sea will split “laut yang terbelah,” dan For the chains of the sea will have busted in the night “rantai yang putus” menunjukkan perjuangan dan pembebasan dari belenggu, ini merujuk pada orang-orang yang telah menderita atau tertindas, dan sekarang bersatu dalam harapan akan datangnya masa depan yang bahagia.

Lirik “and the sands will roll out a carpet of gold” dapat kita maknai the sands will be a-glowin (pasir akan menyala), sebagai gambaran visual yang cerah dan penuh harapan, menandakan akhir dari kegelapan dan awal dari sesuatu yang baru dan positif.

“That the whole wide world is ‘watchin’” (Dunia sedang menyaksikan ‘kekejaman’), sepadan dengan kalimat And the waters all around will start to rise dalam suatu ulasan lirik lagu ini (dan air di sekeliling akan mulai naik), dapat dimaknai gelombang perubahan yang tak terhindarkan, atau kekuatan alam yang mendukung harapan dan pembaruan. Saat ini mata dunia melihat jahat dan jahatnya zionis Israel, dan para sekutunya Amerika Serikat dan Inggeris yang selalu menggunakan hak vetonya di PBB. Negara Iran, China, Rusia, Korea Utara mulai breaksi secara keras atas kelaliman Zionis atas Palestina dalam pemberitaan.

“Oh, the fishes will laugh as they swim out of the path” (ikan-ikan akan tertawa saat berenang keluar dari jalurnya) dapat dimaknai And the old ones will be smiling (orang-orang tua akan tersenyum), menunjukkan harapan untuk masa depan yang lebih baik bagi semua generasi, termasuk mereka yang telah lama menderita.

“And the seagulls, they’ll be smiling”  (dan burung camar akan tersenyum) dapat dimaknai atau metaphora dari And the young ones will be singin (dan anak-anak muda akan bernyanyi), lirik ini melambangkan semangat optimis dan vitalitas generasi muda yang akan menyambut masa depan dengan sukacita.

Perjuangan rakyat Palestina terus bergelora untuk sampai pada pembebasan dari penindasan, dan belenggu masa lalu seperti disimbolkan dalam lirik  for the chains of the sea will have busted in the night (dan rantai akan putus). Dengan angin di belakang kita dan matahari di mata depan kita, gambaran tentang perjalanan perjuangan yang didukung oleh kekuatan alam dan harapan yang membara.

Menutup tulisan ini  dengan merenungi dan merasakan penderitaan rakyat Palestina, dua ayat janji Allah SWT dalam surat ke-94, Alam Nasroh atau Surat Al Insyirah, bahwa “sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,”.

Perjuangan Palestina telah menjadi salah satu konflik terpanjang dan paling rumit dalam sejarah dunia. Konflik ini telah menyebabkan penderitaan yang tak terhitung bagi rakyat Palestina, termasuk pembantaian, pemerkosaan, kehilangan nyawa, penghancuran rumah dan infrastruktur, serta berbagai pelanggaran hak asasi manusia. Semoga konflik kedua bangsa bersaudara dengan niat doa yang tulus apa pun, siapa pun latar belakang kepercayaan kita segera berakhir penindasan dan datangnya era baru yang lebih adil. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Demi Waktu yang Terus Berjalan, Aku Adalah Harimu
Citra Sebuah Kota Bukan Sekadar Jargon
Pulau dan Kepulauan di Nusantara: Nama, Identitas, dan Pengakuan
Kita Hanyalah Setetes Air dan Butiran Debu | Refleksi dari Lagu “Dust in the Wind”
Mungkinkah Bumi Tanpa Konflik? Jawabnya Bersama Angin | Dari ”Blowing in The Wind” Bob Dylan
Tags: Bod DylanlaguPalestina
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Pesan Kehidupan: Refleksi  atas Pembongkaran Bangunan di Pantai Bingin

Next Post

Kebijakan “Publisher Rights”: Perusahaan Pers Harusnya Tak Lagi Berdarah Karena Punya Jatah

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Aturan Turunan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi: Kebijakan “Omon-Omon”?

Kebijakan “Publisher Rights”: Perusahaan Pers Harusnya Tak Lagi Berdarah Karena Punya Jatah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co