3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harapan Era Baru dan Kebahagiaan Palestina  Lewat Lagu “When the Ship Comes In”

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
July 22, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

Kata-kata memenuhi kepalaku, dan jatuh ke lantai,
bahwa jika Tuhan ada di pihak kita,
dia akan menghentikan perang berikutnya.

-,Bob Dylan

PENINDASAN yang dilakukan bangsa Israel atas bangsa Palestina yang merdeka dan berdaulat, sebuah episode kelam manusia bersaudara keturunan Ibrahim AS. Motif peristiwa perang ini sulit dijelaskan oleh nalar orang beriman, karena ini sebuah agenda “jahat dan jahat” dari saudara kepada saudaranya.

Sejarah dan fakta konflik Israel dan Palestina telah terjadi sejak abad ke-20, sudah merentang di tiga abad yang berbeda. Kisah pilu Palestina di awali pada 29-31 Agustus 1897 saat Theodor Herzl memimpin Kongres Zionis Pertama. Mereka menyepakati langkah-langkah untuk mendirikan negara Yahudi di Palestina yang saat itu dikuasai Turki Utsmani.

Sejak itu orang Arab Palestina mulai terusir dari tanah airnya, imigran Yahudi mulai berdatangan dengan membeli tanah-tanah secara paksa dan teror kepada rakyat palestina. Pendanaan kuat dari bankir-bankir Yahudi di Eropa menyokong gerakan ini.

Melalui dana itu, imigran Yahudi semakin banyak dan masif berdatangan ke Palestina dan membeli tanah-tanah warga Arab yang sudah berabad-abad tinggal lebih dulu di Palestina. Orang Yahudi menjadi tuan-tuan tanah di tanah air orang Palestina. 

Konflik sampai hari ini terus terjadi hingga pecah drama pembantaian rakyat Palestina, Palestina akhirnya melakukan perlawanan besar-besaran yang dipimpin oleh Hamas, namun tetap tidak seimbang. Israel melakukan serangan secara membabi buta, sejumlah rumah sakit bahkan dihancurkan, sehingga menyebabkan akses terhadap pelayanan kesehatan sangat sulit dijangkau.

Rakyat Palestina terpaksa pindah serta mengamankan diri ke daerah Rafah yang masih diserang dan dibombardir terus-menerus oleh Israel dengan keji. Sejumlah cara dilakukan oleh berbagai negara untuk menghentikan serangan Israel terhadap Palestina.

Tidak hanya PBB dan negara-negara yang berusaha menghentikan Israel, tetapi juga muncul gerakan BDS (Boycott, Divestment and Sanctions) dari masyarakat untuk memboikot merek-merek yang diketahui mendanai Israel. Afrika Selatan bahkan membawa kasus ini ke International Court of Justice (ICJ), tetapi tidak kunjung membuahkan hasil yang signifikan (https://law.ugm.ac.id/dialektika-4-kejahatan-perang-dan-kemanusiaan-oleh-israel-terhadap-palestina/).

Sejak berdiri negara Zionis Israel, atas dukungan Inggeris dan Amerika Serikat, konflik di Timur Tengah terus memanas dan berkobar sampai hari ini, banyak para Alim dan cerdik pandai mengatakan bahwa konflik ini tidak akan selesai, sampai akhir zaman nanti, Wallahualambissawab (hanya Allah SWT yang mengetahuinya). Kita manusia sebagai makhluk yang lemah tetap untuk terus mengikhtiarkan perdamaian, dan menghentikan penindasan, pembantaian terhadap bangsa Palestina ini.

​​​​​***

Bila kita potret perjuangan rakyat Palestina dengan lirik “When the Ship Comes In” lagu karya Bob Dylan seorang musisi berdarah Yahudi peraih Nobel 2016 bidang sastra,  mengekspresikan harapan akan datangnya masa depan yang lebih baik, setelah masa-masa sulit. Lagu ini sebenarnya sering ditafsirkan sebagai metafora untuk gerakan hak-hak sipil dan harapan akan perubahan sosial. Lagu saya gunakan sebagai spirit untuk terjadinya perubahan eskalasi peperangan, menjadi hidup damai dan tentram. Tujuan menuliskan ini juga harapan saya sebagai doa, untuk rakyat Palestina agar segera terbebas dari belenggu kekejaman zionis Israel, dan perubahan. 

Liriknya yang kuat dan optimis, serta musiknya yang khas folk, menjadikannya salah satu lagu yang paling dikenal dari Bob Dylan. Lagu ini menggunakan metafora kapal yang datang sebagai simbol perubahan dan harapan, khususnya dalam konteks perjuangan hak-hak sipil dan perlawanan terhadap penindasan.

Lagu “When the Ship Comes In” ditulis pada tahun 1963 dan dirilis dalam album “The Times They Are a-Changin”. Liriknya menggambarkan kemenangan atas kekuatan yang menindas dan datangnya era baru yang lebih adil. Liriknya secara jelas menyebutkan musuh yang kalah dan “mati”, yang bisa diinterpretasikan sebagai kekuatan penindas, ketidakadilan, atau sistem yang korup. “Musuh yang kalah dan mati” adalah zionis Israel dalam tulisan ini.

Lirik lagu ini saya paksakan sebagai harapan baru bagi rakyat Palestina. Saya sadari mungkin ini sangat keliru, di satu sisi saya merasakan spirit lagu ini bila kita simak dan maknai secara bebas adalah bagaimana perjuangan untuk menggulingkan seorang lalim tidak membuat seseorang menjadi “jahat”, tetapi sebuah ikhtiar yang mulia. Mungkin para fanatik lirik-lirik Bob Dylan akan mencibir kekeliruan ini, tetapi naskah ini saya anggap sebagai doa untuk datangnya harapan masa depan yang lebih baik.

Lagu ini bila kita maknai secara subyektif, ini jelas bukan pencarian spiritual sama sekali, seperti dikemukakan oleh para pengulas lagu ini. “When the Ship Comes In” lagu tentang perjuangan abadi antara mereka yang punya dan mereka yang tidak punya.

“Saat kapal datang”, frasa ini simbolisasi atau metafora untuk kedatangan masa depan yang lebih baik, atau momen kemenangan dan pembebasan dari kesulitan. Kapal dapat mewakili harapan, pembaruan, atau perubahan positif. Beberapa lirik dalam lagu ini yang dapat mewakili situasi kondisi rakyat Palestina.

Lirik lagu ini juga mengandung unsur perlawanan terhadap penindasan dan ketidakadilan. Kata-kata seperti the hurricane “angin badai,” the sea will split “laut yang terbelah,” dan For the chains of the sea will have busted in the night “rantai yang putus” menunjukkan perjuangan dan pembebasan dari belenggu, ini merujuk pada orang-orang yang telah menderita atau tertindas, dan sekarang bersatu dalam harapan akan datangnya masa depan yang bahagia.

Lirik “and the sands will roll out a carpet of gold” dapat kita maknai the sands will be a-glowin (pasir akan menyala), sebagai gambaran visual yang cerah dan penuh harapan, menandakan akhir dari kegelapan dan awal dari sesuatu yang baru dan positif.

“That the whole wide world is ‘watchin’” (Dunia sedang menyaksikan ‘kekejaman’), sepadan dengan kalimat And the waters all around will start to rise dalam suatu ulasan lirik lagu ini (dan air di sekeliling akan mulai naik), dapat dimaknai gelombang perubahan yang tak terhindarkan, atau kekuatan alam yang mendukung harapan dan pembaruan. Saat ini mata dunia melihat jahat dan jahatnya zionis Israel, dan para sekutunya Amerika Serikat dan Inggeris yang selalu menggunakan hak vetonya di PBB. Negara Iran, China, Rusia, Korea Utara mulai breaksi secara keras atas kelaliman Zionis atas Palestina dalam pemberitaan.

“Oh, the fishes will laugh as they swim out of the path” (ikan-ikan akan tertawa saat berenang keluar dari jalurnya) dapat dimaknai And the old ones will be smiling (orang-orang tua akan tersenyum), menunjukkan harapan untuk masa depan yang lebih baik bagi semua generasi, termasuk mereka yang telah lama menderita.

“And the seagulls, they’ll be smiling”  (dan burung camar akan tersenyum) dapat dimaknai atau metaphora dari And the young ones will be singin (dan anak-anak muda akan bernyanyi), lirik ini melambangkan semangat optimis dan vitalitas generasi muda yang akan menyambut masa depan dengan sukacita.

Perjuangan rakyat Palestina terus bergelora untuk sampai pada pembebasan dari penindasan, dan belenggu masa lalu seperti disimbolkan dalam lirik  for the chains of the sea will have busted in the night (dan rantai akan putus). Dengan angin di belakang kita dan matahari di mata depan kita, gambaran tentang perjalanan perjuangan yang didukung oleh kekuatan alam dan harapan yang membara.

Menutup tulisan ini  dengan merenungi dan merasakan penderitaan rakyat Palestina, dua ayat janji Allah SWT dalam surat ke-94, Alam Nasroh atau Surat Al Insyirah, bahwa “sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,”.

Perjuangan Palestina telah menjadi salah satu konflik terpanjang dan paling rumit dalam sejarah dunia. Konflik ini telah menyebabkan penderitaan yang tak terhitung bagi rakyat Palestina, termasuk pembantaian, pemerkosaan, kehilangan nyawa, penghancuran rumah dan infrastruktur, serta berbagai pelanggaran hak asasi manusia. Semoga konflik kedua bangsa bersaudara dengan niat doa yang tulus apa pun, siapa pun latar belakang kepercayaan kita segera berakhir penindasan dan datangnya era baru yang lebih adil. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Demi Waktu yang Terus Berjalan, Aku Adalah Harimu
Citra Sebuah Kota Bukan Sekadar Jargon
Pulau dan Kepulauan di Nusantara: Nama, Identitas, dan Pengakuan
Kita Hanyalah Setetes Air dan Butiran Debu | Refleksi dari Lagu “Dust in the Wind”
Mungkinkah Bumi Tanpa Konflik? Jawabnya Bersama Angin | Dari ”Blowing in The Wind” Bob Dylan
Tags: Bod DylanlaguPalestina
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Pesan Kehidupan: Refleksi  atas Pembongkaran Bangunan di Pantai Bingin

Next Post

Kebijakan “Publisher Rights”: Perusahaan Pers Harusnya Tak Lagi Berdarah Karena Punya Jatah

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Aturan Turunan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi: Kebijakan “Omon-Omon”?

Kebijakan “Publisher Rights”: Perusahaan Pers Harusnya Tak Lagi Berdarah Karena Punya Jatah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co