2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Avidya: Ketidaktahuan yang Dijalin dari Berbagai Kemungkinan —  Catatan Reflektif Pameran Avidya di Tat Art Space, Denpasar

Made Chandra by Made Chandra
July 20, 2025
in Esai
Avidya: Ketidaktahuan yang Dijalin dari Berbagai Kemungkinan —  Catatan Reflektif Pameran Avidya di Tat Art Space, Denpasar

Pameran seni rupa di Tat Art Space, Denpasar

KITA hendaknya tahu bahwa fetish para seniman di era kontemporer adalah gejolak untuk mendobrak sesuatu, serta menghadirkan satu sensasi sebagai pemantik awal sebuah diskusi. Kemapanan adalah satu hal yang nihil, tentu dalam seni kontemporer peristiwa terus harus dirangkai sebagai sesuatu yang bergerak dan tak memiliki titik pemberangkatan yang juga pula pasti. Ia bisa ditafsirkan dari berbagai sisi, baik senimannya, karyanya, mediumnya hingga peristiwanya.

Ketika Pak Gede Jaya Putra (Dekde) menghubungi saya untuk ikut hadir dalam sebuah acara pameran yang akan ia gagas beberapa minggu ke depan, ia menawarkan sebuah  pengalaman dalam melihat praktik eksperimentasi artistik yang berakar dari singgungan antara karya seni rupa dan peristiwa pertunjukan.

Gagasan tersebut ia bingkai dalam satu terma baru: “Mempertunjukkan Seni Rupa”— sebuah istilah yang nampaknya ingin bermain-main dalam membongkar dan merekonstruksi sebuah format konvensional dalam memproduksi dan mengelola peristiwa seni.

Terma tersebut sekilas nampak seirama dengan apa yang sudah kita ketahui tentang seni performatif. Keduanya memang sama-sama berupaya mengaburkan batas-batas antara seniman, seni, dan karya seni. Namun, jika seni performatif lahir dari para perupa yang menjadikan tubuh dan aksinya sebagai medium utama dalam penciptaan peristiwa seni, maka “Mempertunjukkan Seni Rupa” justru bekerja sebaliknya: ia adalah upaya untuk bertolak dari objek seni rupa yang sudah ada, lalu membuka kemungkinan bagaimana objek tersebut dapat hidup kembali melalui respon tubuh, gestur, suara, dan laku para seniman pertunjukan.

Dengan kata lain, karya seni rupa tidak lagi diperlakukan sebagai benda mati yang terpancang pasif dalam ruang galeri yang steril dan diam. Sebaliknya, ia ditantang untuk hadir sebagai partitur, sebagai mitra kolaboratif dalam produksi makna. Inisiatif ini adalah upaya untuk mengaktifkan ruang persentasi sebagai medan laku, bukan semata ruang pajang—sebuah pendekatan yang mencoba menjawab kebekuan yang kerap melekat dalam konvensi sebuah peristiwa seni rupa.

Mungkin terdengar seperti lelucon yang tengah menggelitik isi pikiran kita, tentang bagaimana ini bisa dihadirkan sebagai apa yang kita bisa sebut sebagai “ peristiwa seni”, dan apa yang membedakan dengan peristiwa-peristiwa seni lainnya? Tentu saya sendiri tak boleh larut dalam apa yang menjadi gagasan ideal dalam pameran ini, ada celah-celah yang masih berbekas sebagai sebuah pertanyaan, ketika hadir dan menyaksikan bagaimana gagasan itu dapat terwujud dalam pameran berjudul “Avidya” yang dilaksanakan di Tat Art Space, Sabtu 19 Juli 2025.

Pameran ini sendiri menghadirkan lima kelompok yang menghadirkan karya rupa kolaboratif yang kemudian direspon dan dihadirkan sebagai media baru oleh para seniman pertunjukan. Masing-masing kelompok  memiliki karya dan kecenderungannya masing-masing dalam menerjemahkan gagasan dan idealisasi konsep dari pameran yang bertajuk Avidya ini.

Ketidaktahuan menjadi semacam jargon utama dalam peristiwa ini. Para seniman dan koresponden saling berupaya menerjemahkan pengalaman dengan versi mereka masing-masing: ada yang merespon sebuah patung dengan jalinan bunyi dan gerak yang saling bersilangan, ada juga yang berpuisi sembari baju yang dilumuri lelehan cat,  pun versi lain mempertunjukan sebuah taman penuh sampah yang menganggu persepsi kita tentang keindahan seni. Berbagai versi tersebut terbagi dalam tiga konteks kecenderungan yang menjadi ranah utama capaian gagasan ini, baik (kolaborasi) yang berkutat pada ranah negosiasi yang berimbang antara para seniman, karya rupa dan peristiwa, atau tegangan yang terjadi antara salah satu unsur (dominasi), hingga usaha dalam membangun ulang kembali batasan-batasan dalam mendefinisikan sebuah peristiwa seni (dekonstrusksi).

Beragam dan luasnya medan tafsir yang dihadirkan dalam pameran ini layaknya  pisau bermata dua—menjadi keuntungan sekaligus kelemahan yang patut dicermati secara kritis. Di satu sisi, keluasan interpretasi memberi keleluasaan bagi para seniman untuk mengeksplorasi ide, medium, dan pendekatan artistik secara lebih personal dan eksperimental. Ini memungkinkan hadirnya karya-karya segar, yang tidak terbatasi oleh tema yang terlalu sempit atau arahan kuratorial yang kaku.

Namun, di sisi lain, kebebasan ini juga dapat menjadi jebakan. Ketika kerangka konseptual dibaca dan dipahami dengan terlalu longgar, para seniman berisiko kehilangan arah dalam menafsirkan gagasan yang diusung, sehingga karya yang dihasilkan bisa melenceng dan terlihat banal dari substansi diskursus yang ingin dibangun. Dalam kondisi tersebut, “kebebasan” justru dapat berubah menjadi “kelatahan”. Dengan demikian, tantangan terbesar dari medan tafsir yang luas bukanlah kebebasan itu sendiri, melainkan bagaimana kebebasan tersebut dikelola dan dipertanggungjawabkan secara estetis dan konseptual, baik oleh seniman dengan pemahaman kerangka kuratorialnya.

Hal ini menjadi penting ketika sebuah gagasan dimaksudkan untuk terbaca sebagai sebuah pemahaman baru, sehingga terhindar dari kebanalan. Tentu kita perlu mencermati bagaimana sebuah gagasan diartikulasikan dalam medium, konteks, dan relasi antar karya, agar ia dapat melampaui persepsi klise atau pengulangan estetika semata. Dengan demikian, pemahaman baru yang ditawarkan bukan hanya segar secara visual, tetapi juga signifikan dalam memperluas horizon berpikir penonton.

 pada akhirnya, tentu untuk melakukan hal yang ideal pada eksperimen perdana adalah hal yang tidak mungkin, namun dengan adanya medan kritik untuk melihat apa yang dihasilkan sebagai sebuah wujud konkret, dapat sejalan dengan apa yang menjadi tujuan dari gagasan tersebut, kita bisa melihat sejauh apa proses dan kemungkinan baru yang dapat diolah dalam peristiwa-persitiwa mempertunjukan seni rupa selanjutnya. Hingga idealisasi bentuk dan format yang akan tercipta pada percobaan-percobaan lainnya akan lebih mudah untuk dicapai.

Memperjuangkan sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya adalah keberanian yang tak boleh luput dari ruang apresiasi, jarangnya kubangan diskursus yang menegosiasikan hal-hal yang sering kali dianggap sebagai hal yang tidak penting, menjadi tantangan tersendiri bagi para penggiatnya, tak terkecuali teman-teman pada pameran ini, yang mencoba bereksperimen dalam sebuah laboratorium bernama Avidya. Ia adalah ketidaktahuan yang lahir dari berbagai kemungkinan, ia harus dialami, dirasakan, dan dirumuskan. [T]

Penulis dan Foto-foto: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis MADE CHANDRA

Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi
Melihat Lapisan Skena Seni Rupa Bali: Dari Under-Upper 2000-an, hingga Post-Pandemic
Study of Mechanical Reproduction: Melihat Kembali Peran Fotografi Sebagai Karya Seni yang Terbebas dari Konvensi Klasik
I ❤ Bali : Masyarakat Bali yang Merasa Asing di Tanahnya Sendiri
Bali Berkisah : Apa yang Bisa Dibicarakan tentang Seni Rupa di Bali?
Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KOSAKATA: Rumah Baru bagi Kata dan Suara di Jakarta Barat

Next Post

PEDOMAN ORANG BALI DALAM BERTEMAN

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

PEDOMAN ORANG BALI DALAM BERTEMAN

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co