12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Avidya: Ketidaktahuan yang Dijalin dari Berbagai Kemungkinan —  Catatan Reflektif Pameran Avidya di Tat Art Space, Denpasar

Made Chandra by Made Chandra
July 20, 2025
in Esai
Avidya: Ketidaktahuan yang Dijalin dari Berbagai Kemungkinan —  Catatan Reflektif Pameran Avidya di Tat Art Space, Denpasar

Pameran seni rupa di Tat Art Space, Denpasar

KITA hendaknya tahu bahwa fetish para seniman di era kontemporer adalah gejolak untuk mendobrak sesuatu, serta menghadirkan satu sensasi sebagai pemantik awal sebuah diskusi. Kemapanan adalah satu hal yang nihil, tentu dalam seni kontemporer peristiwa terus harus dirangkai sebagai sesuatu yang bergerak dan tak memiliki titik pemberangkatan yang juga pula pasti. Ia bisa ditafsirkan dari berbagai sisi, baik senimannya, karyanya, mediumnya hingga peristiwanya.

Ketika Pak Gede Jaya Putra (Dekde) menghubungi saya untuk ikut hadir dalam sebuah acara pameran yang akan ia gagas beberapa minggu ke depan, ia menawarkan sebuah  pengalaman dalam melihat praktik eksperimentasi artistik yang berakar dari singgungan antara karya seni rupa dan peristiwa pertunjukan.

Gagasan tersebut ia bingkai dalam satu terma baru: “Mempertunjukkan Seni Rupa”— sebuah istilah yang nampaknya ingin bermain-main dalam membongkar dan merekonstruksi sebuah format konvensional dalam memproduksi dan mengelola peristiwa seni.

Terma tersebut sekilas nampak seirama dengan apa yang sudah kita ketahui tentang seni performatif. Keduanya memang sama-sama berupaya mengaburkan batas-batas antara seniman, seni, dan karya seni. Namun, jika seni performatif lahir dari para perupa yang menjadikan tubuh dan aksinya sebagai medium utama dalam penciptaan peristiwa seni, maka “Mempertunjukkan Seni Rupa” justru bekerja sebaliknya: ia adalah upaya untuk bertolak dari objek seni rupa yang sudah ada, lalu membuka kemungkinan bagaimana objek tersebut dapat hidup kembali melalui respon tubuh, gestur, suara, dan laku para seniman pertunjukan.

Dengan kata lain, karya seni rupa tidak lagi diperlakukan sebagai benda mati yang terpancang pasif dalam ruang galeri yang steril dan diam. Sebaliknya, ia ditantang untuk hadir sebagai partitur, sebagai mitra kolaboratif dalam produksi makna. Inisiatif ini adalah upaya untuk mengaktifkan ruang persentasi sebagai medan laku, bukan semata ruang pajang—sebuah pendekatan yang mencoba menjawab kebekuan yang kerap melekat dalam konvensi sebuah peristiwa seni rupa.

Mungkin terdengar seperti lelucon yang tengah menggelitik isi pikiran kita, tentang bagaimana ini bisa dihadirkan sebagai apa yang kita bisa sebut sebagai “ peristiwa seni”, dan apa yang membedakan dengan peristiwa-peristiwa seni lainnya? Tentu saya sendiri tak boleh larut dalam apa yang menjadi gagasan ideal dalam pameran ini, ada celah-celah yang masih berbekas sebagai sebuah pertanyaan, ketika hadir dan menyaksikan bagaimana gagasan itu dapat terwujud dalam pameran berjudul “Avidya” yang dilaksanakan di Tat Art Space, Sabtu 19 Juli 2025.

Pameran ini sendiri menghadirkan lima kelompok yang menghadirkan karya rupa kolaboratif yang kemudian direspon dan dihadirkan sebagai media baru oleh para seniman pertunjukan. Masing-masing kelompok  memiliki karya dan kecenderungannya masing-masing dalam menerjemahkan gagasan dan idealisasi konsep dari pameran yang bertajuk Avidya ini.

Ketidaktahuan menjadi semacam jargon utama dalam peristiwa ini. Para seniman dan koresponden saling berupaya menerjemahkan pengalaman dengan versi mereka masing-masing: ada yang merespon sebuah patung dengan jalinan bunyi dan gerak yang saling bersilangan, ada juga yang berpuisi sembari baju yang dilumuri lelehan cat,  pun versi lain mempertunjukan sebuah taman penuh sampah yang menganggu persepsi kita tentang keindahan seni. Berbagai versi tersebut terbagi dalam tiga konteks kecenderungan yang menjadi ranah utama capaian gagasan ini, baik (kolaborasi) yang berkutat pada ranah negosiasi yang berimbang antara para seniman, karya rupa dan peristiwa, atau tegangan yang terjadi antara salah satu unsur (dominasi), hingga usaha dalam membangun ulang kembali batasan-batasan dalam mendefinisikan sebuah peristiwa seni (dekonstrusksi).

Beragam dan luasnya medan tafsir yang dihadirkan dalam pameran ini layaknya  pisau bermata dua—menjadi keuntungan sekaligus kelemahan yang patut dicermati secara kritis. Di satu sisi, keluasan interpretasi memberi keleluasaan bagi para seniman untuk mengeksplorasi ide, medium, dan pendekatan artistik secara lebih personal dan eksperimental. Ini memungkinkan hadirnya karya-karya segar, yang tidak terbatasi oleh tema yang terlalu sempit atau arahan kuratorial yang kaku.

Namun, di sisi lain, kebebasan ini juga dapat menjadi jebakan. Ketika kerangka konseptual dibaca dan dipahami dengan terlalu longgar, para seniman berisiko kehilangan arah dalam menafsirkan gagasan yang diusung, sehingga karya yang dihasilkan bisa melenceng dan terlihat banal dari substansi diskursus yang ingin dibangun. Dalam kondisi tersebut, “kebebasan” justru dapat berubah menjadi “kelatahan”. Dengan demikian, tantangan terbesar dari medan tafsir yang luas bukanlah kebebasan itu sendiri, melainkan bagaimana kebebasan tersebut dikelola dan dipertanggungjawabkan secara estetis dan konseptual, baik oleh seniman dengan pemahaman kerangka kuratorialnya.

Hal ini menjadi penting ketika sebuah gagasan dimaksudkan untuk terbaca sebagai sebuah pemahaman baru, sehingga terhindar dari kebanalan. Tentu kita perlu mencermati bagaimana sebuah gagasan diartikulasikan dalam medium, konteks, dan relasi antar karya, agar ia dapat melampaui persepsi klise atau pengulangan estetika semata. Dengan demikian, pemahaman baru yang ditawarkan bukan hanya segar secara visual, tetapi juga signifikan dalam memperluas horizon berpikir penonton.

 pada akhirnya, tentu untuk melakukan hal yang ideal pada eksperimen perdana adalah hal yang tidak mungkin, namun dengan adanya medan kritik untuk melihat apa yang dihasilkan sebagai sebuah wujud konkret, dapat sejalan dengan apa yang menjadi tujuan dari gagasan tersebut, kita bisa melihat sejauh apa proses dan kemungkinan baru yang dapat diolah dalam peristiwa-persitiwa mempertunjukan seni rupa selanjutnya. Hingga idealisasi bentuk dan format yang akan tercipta pada percobaan-percobaan lainnya akan lebih mudah untuk dicapai.

Memperjuangkan sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya adalah keberanian yang tak boleh luput dari ruang apresiasi, jarangnya kubangan diskursus yang menegosiasikan hal-hal yang sering kali dianggap sebagai hal yang tidak penting, menjadi tantangan tersendiri bagi para penggiatnya, tak terkecuali teman-teman pada pameran ini, yang mencoba bereksperimen dalam sebuah laboratorium bernama Avidya. Ia adalah ketidaktahuan yang lahir dari berbagai kemungkinan, ia harus dialami, dirasakan, dan dirumuskan. [T]

Penulis dan Foto-foto: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis MADE CHANDRA

Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi
Melihat Lapisan Skena Seni Rupa Bali: Dari Under-Upper 2000-an, hingga Post-Pandemic
Study of Mechanical Reproduction: Melihat Kembali Peran Fotografi Sebagai Karya Seni yang Terbebas dari Konvensi Klasik
I ❤ Bali : Masyarakat Bali yang Merasa Asing di Tanahnya Sendiri
Bali Berkisah : Apa yang Bisa Dibicarakan tentang Seni Rupa di Bali?
Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KOSAKATA: Rumah Baru bagi Kata dan Suara di Jakarta Barat

Next Post

PEDOMAN ORANG BALI DALAM BERTEMAN

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

PEDOMAN ORANG BALI DALAM BERTEMAN

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co