23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Avidya: Ketidaktahuan yang Dijalin dari Berbagai Kemungkinan —  Catatan Reflektif Pameran Avidya di Tat Art Space, Denpasar

Made Chandra by Made Chandra
July 20, 2025
in Esai
Avidya: Ketidaktahuan yang Dijalin dari Berbagai Kemungkinan —  Catatan Reflektif Pameran Avidya di Tat Art Space, Denpasar

Pameran seni rupa di Tat Art Space, Denpasar

KITA hendaknya tahu bahwa fetish para seniman di era kontemporer adalah gejolak untuk mendobrak sesuatu, serta menghadirkan satu sensasi sebagai pemantik awal sebuah diskusi. Kemapanan adalah satu hal yang nihil, tentu dalam seni kontemporer peristiwa terus harus dirangkai sebagai sesuatu yang bergerak dan tak memiliki titik pemberangkatan yang juga pula pasti. Ia bisa ditafsirkan dari berbagai sisi, baik senimannya, karyanya, mediumnya hingga peristiwanya.

Ketika Pak Gede Jaya Putra (Dekde) menghubungi saya untuk ikut hadir dalam sebuah acara pameran yang akan ia gagas beberapa minggu ke depan, ia menawarkan sebuah  pengalaman dalam melihat praktik eksperimentasi artistik yang berakar dari singgungan antara karya seni rupa dan peristiwa pertunjukan.

Gagasan tersebut ia bingkai dalam satu terma baru: “Mempertunjukkan Seni Rupa”— sebuah istilah yang nampaknya ingin bermain-main dalam membongkar dan merekonstruksi sebuah format konvensional dalam memproduksi dan mengelola peristiwa seni.

Terma tersebut sekilas nampak seirama dengan apa yang sudah kita ketahui tentang seni performatif. Keduanya memang sama-sama berupaya mengaburkan batas-batas antara seniman, seni, dan karya seni. Namun, jika seni performatif lahir dari para perupa yang menjadikan tubuh dan aksinya sebagai medium utama dalam penciptaan peristiwa seni, maka “Mempertunjukkan Seni Rupa” justru bekerja sebaliknya: ia adalah upaya untuk bertolak dari objek seni rupa yang sudah ada, lalu membuka kemungkinan bagaimana objek tersebut dapat hidup kembali melalui respon tubuh, gestur, suara, dan laku para seniman pertunjukan.

Dengan kata lain, karya seni rupa tidak lagi diperlakukan sebagai benda mati yang terpancang pasif dalam ruang galeri yang steril dan diam. Sebaliknya, ia ditantang untuk hadir sebagai partitur, sebagai mitra kolaboratif dalam produksi makna. Inisiatif ini adalah upaya untuk mengaktifkan ruang persentasi sebagai medan laku, bukan semata ruang pajang—sebuah pendekatan yang mencoba menjawab kebekuan yang kerap melekat dalam konvensi sebuah peristiwa seni rupa.

Mungkin terdengar seperti lelucon yang tengah menggelitik isi pikiran kita, tentang bagaimana ini bisa dihadirkan sebagai apa yang kita bisa sebut sebagai “ peristiwa seni”, dan apa yang membedakan dengan peristiwa-peristiwa seni lainnya? Tentu saya sendiri tak boleh larut dalam apa yang menjadi gagasan ideal dalam pameran ini, ada celah-celah yang masih berbekas sebagai sebuah pertanyaan, ketika hadir dan menyaksikan bagaimana gagasan itu dapat terwujud dalam pameran berjudul “Avidya” yang dilaksanakan di Tat Art Space, Sabtu 19 Juli 2025.

Pameran ini sendiri menghadirkan lima kelompok yang menghadirkan karya rupa kolaboratif yang kemudian direspon dan dihadirkan sebagai media baru oleh para seniman pertunjukan. Masing-masing kelompok  memiliki karya dan kecenderungannya masing-masing dalam menerjemahkan gagasan dan idealisasi konsep dari pameran yang bertajuk Avidya ini.

Ketidaktahuan menjadi semacam jargon utama dalam peristiwa ini. Para seniman dan koresponden saling berupaya menerjemahkan pengalaman dengan versi mereka masing-masing: ada yang merespon sebuah patung dengan jalinan bunyi dan gerak yang saling bersilangan, ada juga yang berpuisi sembari baju yang dilumuri lelehan cat,  pun versi lain mempertunjukan sebuah taman penuh sampah yang menganggu persepsi kita tentang keindahan seni. Berbagai versi tersebut terbagi dalam tiga konteks kecenderungan yang menjadi ranah utama capaian gagasan ini, baik (kolaborasi) yang berkutat pada ranah negosiasi yang berimbang antara para seniman, karya rupa dan peristiwa, atau tegangan yang terjadi antara salah satu unsur (dominasi), hingga usaha dalam membangun ulang kembali batasan-batasan dalam mendefinisikan sebuah peristiwa seni (dekonstrusksi).

Beragam dan luasnya medan tafsir yang dihadirkan dalam pameran ini layaknya  pisau bermata dua—menjadi keuntungan sekaligus kelemahan yang patut dicermati secara kritis. Di satu sisi, keluasan interpretasi memberi keleluasaan bagi para seniman untuk mengeksplorasi ide, medium, dan pendekatan artistik secara lebih personal dan eksperimental. Ini memungkinkan hadirnya karya-karya segar, yang tidak terbatasi oleh tema yang terlalu sempit atau arahan kuratorial yang kaku.

Namun, di sisi lain, kebebasan ini juga dapat menjadi jebakan. Ketika kerangka konseptual dibaca dan dipahami dengan terlalu longgar, para seniman berisiko kehilangan arah dalam menafsirkan gagasan yang diusung, sehingga karya yang dihasilkan bisa melenceng dan terlihat banal dari substansi diskursus yang ingin dibangun. Dalam kondisi tersebut, “kebebasan” justru dapat berubah menjadi “kelatahan”. Dengan demikian, tantangan terbesar dari medan tafsir yang luas bukanlah kebebasan itu sendiri, melainkan bagaimana kebebasan tersebut dikelola dan dipertanggungjawabkan secara estetis dan konseptual, baik oleh seniman dengan pemahaman kerangka kuratorialnya.

Hal ini menjadi penting ketika sebuah gagasan dimaksudkan untuk terbaca sebagai sebuah pemahaman baru, sehingga terhindar dari kebanalan. Tentu kita perlu mencermati bagaimana sebuah gagasan diartikulasikan dalam medium, konteks, dan relasi antar karya, agar ia dapat melampaui persepsi klise atau pengulangan estetika semata. Dengan demikian, pemahaman baru yang ditawarkan bukan hanya segar secara visual, tetapi juga signifikan dalam memperluas horizon berpikir penonton.

 pada akhirnya, tentu untuk melakukan hal yang ideal pada eksperimen perdana adalah hal yang tidak mungkin, namun dengan adanya medan kritik untuk melihat apa yang dihasilkan sebagai sebuah wujud konkret, dapat sejalan dengan apa yang menjadi tujuan dari gagasan tersebut, kita bisa melihat sejauh apa proses dan kemungkinan baru yang dapat diolah dalam peristiwa-persitiwa mempertunjukan seni rupa selanjutnya. Hingga idealisasi bentuk dan format yang akan tercipta pada percobaan-percobaan lainnya akan lebih mudah untuk dicapai.

Memperjuangkan sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya adalah keberanian yang tak boleh luput dari ruang apresiasi, jarangnya kubangan diskursus yang menegosiasikan hal-hal yang sering kali dianggap sebagai hal yang tidak penting, menjadi tantangan tersendiri bagi para penggiatnya, tak terkecuali teman-teman pada pameran ini, yang mencoba bereksperimen dalam sebuah laboratorium bernama Avidya. Ia adalah ketidaktahuan yang lahir dari berbagai kemungkinan, ia harus dialami, dirasakan, dan dirumuskan. [T]

Penulis dan Foto-foto: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis MADE CHANDRA

Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi
Melihat Lapisan Skena Seni Rupa Bali: Dari Under-Upper 2000-an, hingga Post-Pandemic
Study of Mechanical Reproduction: Melihat Kembali Peran Fotografi Sebagai Karya Seni yang Terbebas dari Konvensi Klasik
I ❤ Bali : Masyarakat Bali yang Merasa Asing di Tanahnya Sendiri
Bali Berkisah : Apa yang Bisa Dibicarakan tentang Seni Rupa di Bali?
Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KOSAKATA: Rumah Baru bagi Kata dan Suara di Jakarta Barat

Next Post

PEDOMAN ORANG BALI DALAM BERTEMAN

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

PEDOMAN ORANG BALI DALAM BERTEMAN

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co