23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PEDOMAN ORANG BALI DALAM BERTEMAN

Sugi Lanus by Sugi Lanus
July 20, 2025
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

—Catatan Harian Sugi Lanus, 20 Juli 2024

APAKAH orang Bali dan Nusantara (era Jawa Kuno) punya pedoman dalam pergaulan atau berteman?

Pedoman pergaulan atau pertemanan termuat secara rinci dalam kitab SARASAMUSCAYA. Kitab ini menjadi bacaan dan pedoman etika era Kerajaan Majapahit, khususnya menjadi bacaan para bangsawan dan para bhujangga (pendeta). Diperkirakan isi teks ajaran ini merupakan warisan dari periode keemasan Medang atau sekitar 5 abad sebelum berdiri Majapahit.

Kitab ini menganjurkan “setiap orang harus terjun ke dalam pergaulan”. Sebab dengan pergaulan yang tepat kita akan bisa mengembangkan diri kita sesuai dengan dharma dan swadharma. Pergaulan yang sehat membuat kemanusiaan kita bertumbuh. Sebaliknya, tanpa koridor atau pedoman dalam pergaulan yang tepat, maka pergaulan atau pertemanan akan membawa seseorang ke jurang adharma — dalam kenistaan atau kehancuran. Mengingat pergaulan mengandung resiko membawa seseorang dalam jurang adharma, kitab ini pun memberikan ajaran atau tuntunan dalam bergaul.

Di Bali kitab SARASAMUSCAYA diwarisi dalam bentuk lontar manuskrip/naskah yang ditulis di atas rontar. Pedoman bergaul dimuat dalam Sloka 300-314 dan pedoman menghindari pergaulan dengan orang dursila dimuat dalam Sloka 328-357.

Di bawah ini terjemahan dari Sloka 300-314 kitab suci SARASAMUSCAYA:

•⁠  ⁠Setiap orang harus terjun ke dalam pergaulan. Karena lewat pergaulanlah orang cepat memperoleh kepandaian dan menularkan kepandaian. Karena itu bersungguh-sungguhlah bergaul dengan orang pandai. Seperti halnya membuat minyak wangi dari bau bunga, maka bau bunga itu akan meresap kepada kain, air, minyak karena persentuhannya. (Sloka 300)

•⁠  ⁠Oleh karenanya, akan menjadi rendahlah budi seseorang jika ia bergaul dengan orang yang hina budi. Jika mereka bergaul dengan yang madya budi maka seperti itu pulalah budi mereka, sedang-sedang saja. Namun jika seseorang bergaul dengan orang yang utama budi, maka utama budilah yang akan diperolehnya. (Sloka 301)

•⁠  ⁠⁠Meskipun sedikit kepandaian seseorang, apabila bergaul dengan orang yang bijaksana maka kepandaian itu akan semakin bertambah, bagaikan setetes minyak yang jatuh di air, akan menyebar dan meluaskan minyak itu di dalam air. (Sloka 302)

•⁠  ⁠⁠Betapa pun kita punya keahlian dan kepandaian namun jika bergaul dengan orang yang tak punya dasar kebijakan, maka terpendamlah keahlian itu, tidak kelihatan manfaatnya. Tak beda dengan bayangan gajah pada cermin kecil, menjadi kecil pulalah bayangan gajah itu sebesar cerminnya. (Sloka 303)

•⁠  ⁠Janganlah kita sampai tidak mempunyai ilmu pengetahuan. Siapkan diri dan kejarlah ilmu, janganlah sampai terlibat pada perbuatan yang menimbulkan dosa. Tanpa punya ilmu orang akan menemui musuh dalam dirinya sendiri. (Sloka 304)

•⁠  ⁠Yang patut diusahakan dalam bergaul, bergaullah dengan para sadhu (orang yang berbudi utama dan pengatahuan suci). Kalau menjalin hubungan kekeluargaan jalin pulalah dengan sang sadhu. Begitu pula dalam berdebat, berdebatlah dengan sang sadhu karena akibatnya tak mungkin akan merendahkan budi. (Sloka 305).

•⁠  ⁠Adapun tingkah laku sang sadhu adalah tidak sombong waktu dipuji, tidak kecil hati kalau dicela, tidak mudah terpengaruh oleh rasa marah, tidak akan berkata-kata kasar, tetap teguh iman dan suci hatinya. (Sloka 306)

•⁠  ⁠Seorang sadhu tak akan memikirkan kesalahan orang lain, tidak akan mempercakapkan kejelekan orang, tak akan mengeluarkan kata-kata kasar dalam menanggapi celaan dan hinaan orang. Dalam hatinya yang dilihat hanyalah kebajikan dan perbuatan baik orang dan selalu berpikiran positif. Demikianlah perilaku orang sadhu yang juga disebut purusottama (yang memahami dan mencapai hakikat utama). (Sloka 307)

•⁠  ⁠Sang sadhu juga disebut upasama. Seperti halnya padi, ia merunduk karena beratnya buah. Atau seperti dahan kayu yang juga merunduk karena lebatnya buah. (Sloka 308).

•⁠  ⁠Orang sadhu tak akan menceritakan keburukan orang lain apalagi dibelakang orang tersebut, selalu berusaha untuk menolong orang-orang yang kesusahan, tidak diliputi kemarahan dan kebencian. Sangat pantaslah orang bijaksana itu untuk dihormati. (Sloka 309)

•⁠  ⁠Ada pun manusia berbudi seperti ini adalah mereka yang punya wibawa karena dipenuhi kebijaksanaan, terpelajar dan berpengetahuan, tidak sombong, berbudi lembut, tidak kasar dan tidak diliputi amarah, ia dihormati dan dituruti perintahnya. (Sloka 310)

•⁠  ⁠Kalau pun tidak mampu mengikuti tingkah laku sang sadhu seluruhnya, karena memang sangat berat dan banyak syaratnya, sebagian diikuti sudah baik. Sesuaikan dengan kemampuan diri sendiri, walau pun sedikit pastilah akan banyak menolong. (Sloka 311)

•⁠  ⁠Lagi pula bukan saja manusia dan makhluk hidup lain yang mencintai sang sadhu, bahkan sang hyang atma pun cinta kasih kepada sang sadhu. (Sloka 312).

•⁠  ⁠Orang yang berbuat bajik kepada orang lain, bukan karena hasrat akan pahala namun lebih sebagai kewajiban diri sang sadhu. Prilaku bajik yang jauh dari motif-motif pahala seperti ini merupakan tindakan cerdas, terpelajar dan bijaksana. Itulah sifat seorang maha purusa. (Sloka 313).

•⁠  ⁠Kesimpulannya usahakan dengan sebaiknya meniru  perbuatan orang sadhu itu dengan tekun dan teguh. Harta kekayaan tidak selayaknya dipegang teguh jika bertentangan dengan kebajikan, sebab ia dapat datang atau pergi dan sulit untuk dijaga. Lagi pula bukannya orang yang tidak berharta dinamakan miskin. Walau tanpa harta, jika kaya moralitas, bajik dan susila, inilah sesungguhnya yang dinamakan kaya. Meskipun ada orang yang kaya harta namun jahat, amoral dan asusila, mereka inilah yang disebut miskin.  (Sloka 314).

Kitab suci SARASAMUSCAYA selanjutnya dalam Sloka 328 sampai Sloka 357 menjelaskan bermacam kategori orang yang perlu dihindari dalam pergaulan. Diantaranya adalah orang suka berbohong, orang yang tergantung minuman beralkohol (termasuk yang mempromosikan atau mengajak-ajak orang lain sebagai minuman alkohol sebagai minuman harian), orang yang omongannya menyakitkan dan tidak punya pertimbangan rasa dalam berkata dan berbuat.

Sloka 328 sampai Sloka 357 memberikan berbagai metafora untuk menjelaskan bagaimana orang dursila atau manusia yang tidak punya rasa bersalah selayaknya dijauhi, wajib tidak didukung, dan dihindari atau dijauhi. Dijelaskan jika masyarakat dipimpin oleh orang dursila atau tidak punya kejujuran dan prilaku berbudi, maka masyarakat berada dalam jurang kehancuran, atau bisa jadi telah masuk jurang tetapi belum tersadar.

Sayangnya kitab suci SARASAMUSCAYA yang diwarisi di Bali ini, sebagai kitab tuntunan hidup di era sebelum diperkenalkannya sekolah modern, tidak lagi dijadikan panduan oleh para orang tua, guru-guru, serta pemimpin di Bali. Ketidakseriusan dalam mempelajari dan menyebarkan isi kitab ini adalah kerugian besar bagi Bali. [T]

Penulis: Sugi Lanus
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis SUGI LANUS

BALI DIRUSAK JADI KANDANG BEBEK
ORANG BALI AKAN LAHIR KEMBALI DI BALI?
MEDITASI [1] :  ORANG BALI MEMIKIRKAN PIKIRAN
Tags: baliorang balisarasamuscaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Avidya: Ketidaktahuan yang Dijalin dari Berbagai Kemungkinan —  Catatan Reflektif Pameran Avidya di Tat Art Space, Denpasar

Next Post

Koster Senang Karena Seniman Menggarap Karya Seni Berdasar Kearifan Lokal di Daerah Masing-masing

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Koster Senang Karena Seniman Menggarap Karya Seni Berdasar Kearifan Lokal di Daerah Masing-masing

Koster Senang Karena Seniman Menggarap Karya Seni Berdasar Kearifan Lokal di Daerah Masing-masing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co