12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PEDOMAN ORANG BALI DALAM BERTEMAN

Sugi Lanus by Sugi Lanus
July 20, 2025
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

—Catatan Harian Sugi Lanus, 20 Juli 2024

APAKAH orang Bali dan Nusantara (era Jawa Kuno) punya pedoman dalam pergaulan atau berteman?

Pedoman pergaulan atau pertemanan termuat secara rinci dalam kitab SARASAMUSCAYA. Kitab ini menjadi bacaan dan pedoman etika era Kerajaan Majapahit, khususnya menjadi bacaan para bangsawan dan para bhujangga (pendeta). Diperkirakan isi teks ajaran ini merupakan warisan dari periode keemasan Medang atau sekitar 5 abad sebelum berdiri Majapahit.

Kitab ini menganjurkan “setiap orang harus terjun ke dalam pergaulan”. Sebab dengan pergaulan yang tepat kita akan bisa mengembangkan diri kita sesuai dengan dharma dan swadharma. Pergaulan yang sehat membuat kemanusiaan kita bertumbuh. Sebaliknya, tanpa koridor atau pedoman dalam pergaulan yang tepat, maka pergaulan atau pertemanan akan membawa seseorang ke jurang adharma — dalam kenistaan atau kehancuran. Mengingat pergaulan mengandung resiko membawa seseorang dalam jurang adharma, kitab ini pun memberikan ajaran atau tuntunan dalam bergaul.

Di Bali kitab SARASAMUSCAYA diwarisi dalam bentuk lontar manuskrip/naskah yang ditulis di atas rontar. Pedoman bergaul dimuat dalam Sloka 300-314 dan pedoman menghindari pergaulan dengan orang dursila dimuat dalam Sloka 328-357.

Di bawah ini terjemahan dari Sloka 300-314 kitab suci SARASAMUSCAYA:

•⁠  ⁠Setiap orang harus terjun ke dalam pergaulan. Karena lewat pergaulanlah orang cepat memperoleh kepandaian dan menularkan kepandaian. Karena itu bersungguh-sungguhlah bergaul dengan orang pandai. Seperti halnya membuat minyak wangi dari bau bunga, maka bau bunga itu akan meresap kepada kain, air, minyak karena persentuhannya. (Sloka 300)

•⁠  ⁠Oleh karenanya, akan menjadi rendahlah budi seseorang jika ia bergaul dengan orang yang hina budi. Jika mereka bergaul dengan yang madya budi maka seperti itu pulalah budi mereka, sedang-sedang saja. Namun jika seseorang bergaul dengan orang yang utama budi, maka utama budilah yang akan diperolehnya. (Sloka 301)

•⁠  ⁠⁠Meskipun sedikit kepandaian seseorang, apabila bergaul dengan orang yang bijaksana maka kepandaian itu akan semakin bertambah, bagaikan setetes minyak yang jatuh di air, akan menyebar dan meluaskan minyak itu di dalam air. (Sloka 302)

•⁠  ⁠⁠Betapa pun kita punya keahlian dan kepandaian namun jika bergaul dengan orang yang tak punya dasar kebijakan, maka terpendamlah keahlian itu, tidak kelihatan manfaatnya. Tak beda dengan bayangan gajah pada cermin kecil, menjadi kecil pulalah bayangan gajah itu sebesar cerminnya. (Sloka 303)

•⁠  ⁠Janganlah kita sampai tidak mempunyai ilmu pengetahuan. Siapkan diri dan kejarlah ilmu, janganlah sampai terlibat pada perbuatan yang menimbulkan dosa. Tanpa punya ilmu orang akan menemui musuh dalam dirinya sendiri. (Sloka 304)

•⁠  ⁠Yang patut diusahakan dalam bergaul, bergaullah dengan para sadhu (orang yang berbudi utama dan pengatahuan suci). Kalau menjalin hubungan kekeluargaan jalin pulalah dengan sang sadhu. Begitu pula dalam berdebat, berdebatlah dengan sang sadhu karena akibatnya tak mungkin akan merendahkan budi. (Sloka 305).

•⁠  ⁠Adapun tingkah laku sang sadhu adalah tidak sombong waktu dipuji, tidak kecil hati kalau dicela, tidak mudah terpengaruh oleh rasa marah, tidak akan berkata-kata kasar, tetap teguh iman dan suci hatinya. (Sloka 306)

•⁠  ⁠Seorang sadhu tak akan memikirkan kesalahan orang lain, tidak akan mempercakapkan kejelekan orang, tak akan mengeluarkan kata-kata kasar dalam menanggapi celaan dan hinaan orang. Dalam hatinya yang dilihat hanyalah kebajikan dan perbuatan baik orang dan selalu berpikiran positif. Demikianlah perilaku orang sadhu yang juga disebut purusottama (yang memahami dan mencapai hakikat utama). (Sloka 307)

•⁠  ⁠Sang sadhu juga disebut upasama. Seperti halnya padi, ia merunduk karena beratnya buah. Atau seperti dahan kayu yang juga merunduk karena lebatnya buah. (Sloka 308).

•⁠  ⁠Orang sadhu tak akan menceritakan keburukan orang lain apalagi dibelakang orang tersebut, selalu berusaha untuk menolong orang-orang yang kesusahan, tidak diliputi kemarahan dan kebencian. Sangat pantaslah orang bijaksana itu untuk dihormati. (Sloka 309)

•⁠  ⁠Ada pun manusia berbudi seperti ini adalah mereka yang punya wibawa karena dipenuhi kebijaksanaan, terpelajar dan berpengetahuan, tidak sombong, berbudi lembut, tidak kasar dan tidak diliputi amarah, ia dihormati dan dituruti perintahnya. (Sloka 310)

•⁠  ⁠Kalau pun tidak mampu mengikuti tingkah laku sang sadhu seluruhnya, karena memang sangat berat dan banyak syaratnya, sebagian diikuti sudah baik. Sesuaikan dengan kemampuan diri sendiri, walau pun sedikit pastilah akan banyak menolong. (Sloka 311)

•⁠  ⁠Lagi pula bukan saja manusia dan makhluk hidup lain yang mencintai sang sadhu, bahkan sang hyang atma pun cinta kasih kepada sang sadhu. (Sloka 312).

•⁠  ⁠Orang yang berbuat bajik kepada orang lain, bukan karena hasrat akan pahala namun lebih sebagai kewajiban diri sang sadhu. Prilaku bajik yang jauh dari motif-motif pahala seperti ini merupakan tindakan cerdas, terpelajar dan bijaksana. Itulah sifat seorang maha purusa. (Sloka 313).

•⁠  ⁠Kesimpulannya usahakan dengan sebaiknya meniru  perbuatan orang sadhu itu dengan tekun dan teguh. Harta kekayaan tidak selayaknya dipegang teguh jika bertentangan dengan kebajikan, sebab ia dapat datang atau pergi dan sulit untuk dijaga. Lagi pula bukannya orang yang tidak berharta dinamakan miskin. Walau tanpa harta, jika kaya moralitas, bajik dan susila, inilah sesungguhnya yang dinamakan kaya. Meskipun ada orang yang kaya harta namun jahat, amoral dan asusila, mereka inilah yang disebut miskin.  (Sloka 314).

Kitab suci SARASAMUSCAYA selanjutnya dalam Sloka 328 sampai Sloka 357 menjelaskan bermacam kategori orang yang perlu dihindari dalam pergaulan. Diantaranya adalah orang suka berbohong, orang yang tergantung minuman beralkohol (termasuk yang mempromosikan atau mengajak-ajak orang lain sebagai minuman alkohol sebagai minuman harian), orang yang omongannya menyakitkan dan tidak punya pertimbangan rasa dalam berkata dan berbuat.

Sloka 328 sampai Sloka 357 memberikan berbagai metafora untuk menjelaskan bagaimana orang dursila atau manusia yang tidak punya rasa bersalah selayaknya dijauhi, wajib tidak didukung, dan dihindari atau dijauhi. Dijelaskan jika masyarakat dipimpin oleh orang dursila atau tidak punya kejujuran dan prilaku berbudi, maka masyarakat berada dalam jurang kehancuran, atau bisa jadi telah masuk jurang tetapi belum tersadar.

Sayangnya kitab suci SARASAMUSCAYA yang diwarisi di Bali ini, sebagai kitab tuntunan hidup di era sebelum diperkenalkannya sekolah modern, tidak lagi dijadikan panduan oleh para orang tua, guru-guru, serta pemimpin di Bali. Ketidakseriusan dalam mempelajari dan menyebarkan isi kitab ini adalah kerugian besar bagi Bali. [T]

Penulis: Sugi Lanus
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis SUGI LANUS

BALI DIRUSAK JADI KANDANG BEBEK
ORANG BALI AKAN LAHIR KEMBALI DI BALI?
MEDITASI [1] :  ORANG BALI MEMIKIRKAN PIKIRAN
Tags: baliorang balisarasamuscaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Avidya: Ketidaktahuan yang Dijalin dari Berbagai Kemungkinan —  Catatan Reflektif Pameran Avidya di Tat Art Space, Denpasar

Next Post

Koster Senang Karena Seniman Menggarap Karya Seni Berdasar Kearifan Lokal di Daerah Masing-masing

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Koster Senang Karena Seniman Menggarap Karya Seni Berdasar Kearifan Lokal di Daerah Masing-masing

Koster Senang Karena Seniman Menggarap Karya Seni Berdasar Kearifan Lokal di Daerah Masing-masing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co