2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PEDOMAN ORANG BALI DALAM BERTEMAN

Sugi Lanus by Sugi Lanus
July 20, 2025
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

—Catatan Harian Sugi Lanus, 20 Juli 2024

APAKAH orang Bali dan Nusantara (era Jawa Kuno) punya pedoman dalam pergaulan atau berteman?

Pedoman pergaulan atau pertemanan termuat secara rinci dalam kitab SARASAMUSCAYA. Kitab ini menjadi bacaan dan pedoman etika era Kerajaan Majapahit, khususnya menjadi bacaan para bangsawan dan para bhujangga (pendeta). Diperkirakan isi teks ajaran ini merupakan warisan dari periode keemasan Medang atau sekitar 5 abad sebelum berdiri Majapahit.

Kitab ini menganjurkan “setiap orang harus terjun ke dalam pergaulan”. Sebab dengan pergaulan yang tepat kita akan bisa mengembangkan diri kita sesuai dengan dharma dan swadharma. Pergaulan yang sehat membuat kemanusiaan kita bertumbuh. Sebaliknya, tanpa koridor atau pedoman dalam pergaulan yang tepat, maka pergaulan atau pertemanan akan membawa seseorang ke jurang adharma — dalam kenistaan atau kehancuran. Mengingat pergaulan mengandung resiko membawa seseorang dalam jurang adharma, kitab ini pun memberikan ajaran atau tuntunan dalam bergaul.

Di Bali kitab SARASAMUSCAYA diwarisi dalam bentuk lontar manuskrip/naskah yang ditulis di atas rontar. Pedoman bergaul dimuat dalam Sloka 300-314 dan pedoman menghindari pergaulan dengan orang dursila dimuat dalam Sloka 328-357.

Di bawah ini terjemahan dari Sloka 300-314 kitab suci SARASAMUSCAYA:

•⁠  ⁠Setiap orang harus terjun ke dalam pergaulan. Karena lewat pergaulanlah orang cepat memperoleh kepandaian dan menularkan kepandaian. Karena itu bersungguh-sungguhlah bergaul dengan orang pandai. Seperti halnya membuat minyak wangi dari bau bunga, maka bau bunga itu akan meresap kepada kain, air, minyak karena persentuhannya. (Sloka 300)

•⁠  ⁠Oleh karenanya, akan menjadi rendahlah budi seseorang jika ia bergaul dengan orang yang hina budi. Jika mereka bergaul dengan yang madya budi maka seperti itu pulalah budi mereka, sedang-sedang saja. Namun jika seseorang bergaul dengan orang yang utama budi, maka utama budilah yang akan diperolehnya. (Sloka 301)

•⁠  ⁠⁠Meskipun sedikit kepandaian seseorang, apabila bergaul dengan orang yang bijaksana maka kepandaian itu akan semakin bertambah, bagaikan setetes minyak yang jatuh di air, akan menyebar dan meluaskan minyak itu di dalam air. (Sloka 302)

•⁠  ⁠⁠Betapa pun kita punya keahlian dan kepandaian namun jika bergaul dengan orang yang tak punya dasar kebijakan, maka terpendamlah keahlian itu, tidak kelihatan manfaatnya. Tak beda dengan bayangan gajah pada cermin kecil, menjadi kecil pulalah bayangan gajah itu sebesar cerminnya. (Sloka 303)

•⁠  ⁠Janganlah kita sampai tidak mempunyai ilmu pengetahuan. Siapkan diri dan kejarlah ilmu, janganlah sampai terlibat pada perbuatan yang menimbulkan dosa. Tanpa punya ilmu orang akan menemui musuh dalam dirinya sendiri. (Sloka 304)

•⁠  ⁠Yang patut diusahakan dalam bergaul, bergaullah dengan para sadhu (orang yang berbudi utama dan pengatahuan suci). Kalau menjalin hubungan kekeluargaan jalin pulalah dengan sang sadhu. Begitu pula dalam berdebat, berdebatlah dengan sang sadhu karena akibatnya tak mungkin akan merendahkan budi. (Sloka 305).

•⁠  ⁠Adapun tingkah laku sang sadhu adalah tidak sombong waktu dipuji, tidak kecil hati kalau dicela, tidak mudah terpengaruh oleh rasa marah, tidak akan berkata-kata kasar, tetap teguh iman dan suci hatinya. (Sloka 306)

•⁠  ⁠Seorang sadhu tak akan memikirkan kesalahan orang lain, tidak akan mempercakapkan kejelekan orang, tak akan mengeluarkan kata-kata kasar dalam menanggapi celaan dan hinaan orang. Dalam hatinya yang dilihat hanyalah kebajikan dan perbuatan baik orang dan selalu berpikiran positif. Demikianlah perilaku orang sadhu yang juga disebut purusottama (yang memahami dan mencapai hakikat utama). (Sloka 307)

•⁠  ⁠Sang sadhu juga disebut upasama. Seperti halnya padi, ia merunduk karena beratnya buah. Atau seperti dahan kayu yang juga merunduk karena lebatnya buah. (Sloka 308).

•⁠  ⁠Orang sadhu tak akan menceritakan keburukan orang lain apalagi dibelakang orang tersebut, selalu berusaha untuk menolong orang-orang yang kesusahan, tidak diliputi kemarahan dan kebencian. Sangat pantaslah orang bijaksana itu untuk dihormati. (Sloka 309)

•⁠  ⁠Ada pun manusia berbudi seperti ini adalah mereka yang punya wibawa karena dipenuhi kebijaksanaan, terpelajar dan berpengetahuan, tidak sombong, berbudi lembut, tidak kasar dan tidak diliputi amarah, ia dihormati dan dituruti perintahnya. (Sloka 310)

•⁠  ⁠Kalau pun tidak mampu mengikuti tingkah laku sang sadhu seluruhnya, karena memang sangat berat dan banyak syaratnya, sebagian diikuti sudah baik. Sesuaikan dengan kemampuan diri sendiri, walau pun sedikit pastilah akan banyak menolong. (Sloka 311)

•⁠  ⁠Lagi pula bukan saja manusia dan makhluk hidup lain yang mencintai sang sadhu, bahkan sang hyang atma pun cinta kasih kepada sang sadhu. (Sloka 312).

•⁠  ⁠Orang yang berbuat bajik kepada orang lain, bukan karena hasrat akan pahala namun lebih sebagai kewajiban diri sang sadhu. Prilaku bajik yang jauh dari motif-motif pahala seperti ini merupakan tindakan cerdas, terpelajar dan bijaksana. Itulah sifat seorang maha purusa. (Sloka 313).

•⁠  ⁠Kesimpulannya usahakan dengan sebaiknya meniru  perbuatan orang sadhu itu dengan tekun dan teguh. Harta kekayaan tidak selayaknya dipegang teguh jika bertentangan dengan kebajikan, sebab ia dapat datang atau pergi dan sulit untuk dijaga. Lagi pula bukannya orang yang tidak berharta dinamakan miskin. Walau tanpa harta, jika kaya moralitas, bajik dan susila, inilah sesungguhnya yang dinamakan kaya. Meskipun ada orang yang kaya harta namun jahat, amoral dan asusila, mereka inilah yang disebut miskin.  (Sloka 314).

Kitab suci SARASAMUSCAYA selanjutnya dalam Sloka 328 sampai Sloka 357 menjelaskan bermacam kategori orang yang perlu dihindari dalam pergaulan. Diantaranya adalah orang suka berbohong, orang yang tergantung minuman beralkohol (termasuk yang mempromosikan atau mengajak-ajak orang lain sebagai minuman alkohol sebagai minuman harian), orang yang omongannya menyakitkan dan tidak punya pertimbangan rasa dalam berkata dan berbuat.

Sloka 328 sampai Sloka 357 memberikan berbagai metafora untuk menjelaskan bagaimana orang dursila atau manusia yang tidak punya rasa bersalah selayaknya dijauhi, wajib tidak didukung, dan dihindari atau dijauhi. Dijelaskan jika masyarakat dipimpin oleh orang dursila atau tidak punya kejujuran dan prilaku berbudi, maka masyarakat berada dalam jurang kehancuran, atau bisa jadi telah masuk jurang tetapi belum tersadar.

Sayangnya kitab suci SARASAMUSCAYA yang diwarisi di Bali ini, sebagai kitab tuntunan hidup di era sebelum diperkenalkannya sekolah modern, tidak lagi dijadikan panduan oleh para orang tua, guru-guru, serta pemimpin di Bali. Ketidakseriusan dalam mempelajari dan menyebarkan isi kitab ini adalah kerugian besar bagi Bali. [T]

Penulis: Sugi Lanus
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis SUGI LANUS

BALI DIRUSAK JADI KANDANG BEBEK
ORANG BALI AKAN LAHIR KEMBALI DI BALI?
MEDITASI [1] :  ORANG BALI MEMIKIRKAN PIKIRAN
Tags: baliorang balisarasamuscaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Avidya: Ketidaktahuan yang Dijalin dari Berbagai Kemungkinan —  Catatan Reflektif Pameran Avidya di Tat Art Space, Denpasar

Next Post

Koster Senang Karena Seniman Menggarap Karya Seni Berdasar Kearifan Lokal di Daerah Masing-masing

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Koster Senang Karena Seniman Menggarap Karya Seni Berdasar Kearifan Lokal di Daerah Masing-masing

Koster Senang Karena Seniman Menggarap Karya Seni Berdasar Kearifan Lokal di Daerah Masing-masing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co