WAYAN Koster, Sang Gubernur Bali itu, berada di tengah-tengah riuh anak-anak muda di areal tribun panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali di Denpasar, Jumat malam, 27 Juni 2025. Ini momentum yang tepat. Ada ribuan anak-anak muda, dan ada seorang gubernur di tengahnya.
Jumat malam itu adalah malam kedua lomba baleganjur serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 tahun 2025. Malam itu milik anak-anak muda Bali. Malam itu dimiliki juga oleh Wayan Koster.
Baleganjur adalah seni karawitan Bali yang sejak beberapa tahun belakangan pamornya terus naik sebagai seni musik sekaligus seni pertunjukan yang sangat digemari anak muda. Seluruh hal-hal baik dari baleganjur, seperti dinamika musiknya, atraktif geraknya, dan aura semangatnya, seakan-akan semuanya sudah klop dengan jiwa anak muda Bali. Seakan ada anggapan baru dalam pergaulan generasi Z (Gen Z) di Bali: Bahwa bukan anak muda Bali jika tak main baleganjur, atau tak menonton baleganjur.
Dan, Wayan Koster, Sang Gubernur itu, ada di tengah-tengah ribuan anak muda yang mencintai keseniannya sendiri. Baleganjur adalah pemerastu anak muda. Dan Wayan Koster tentu saja mengambil peran di tengah persatuan anak-anak muda Bali itu.

Penampilan satu tim baleganjur dalam lomba baleganjur Pesta Kesenian Bali, Jumat 27 Juni 2025 | Foto: Tim Kreatif PKB 2025
Di PKB, lomba baleganjur adalah salah satu lomba bergengsi yang rutin diselenggarakan pada Pesta Kesenian Bali. Lihatlah, tribun panggung Ardha Candra selalu penuh sesak saat lomba baleganjur diadakan. Anak-anak muda saling menilai, saling memuji, juga saling memberi masukan, ketika di atas panggung sebuah tim baleganjur beraksi dengan penuh gairah.
Koster menumui anak muda, itu baik. Ia berjalan menyapa anak-anak muda yang berderet-deret duduk di tribun penonton. Ia melambaikan tangan. Anak-anak muda menyambutnya. Baleganjur jadi ajang anak-anak muda menemukan pemimpinnya. Baleganjur menjadi ajang pemimpin menemukan masyarakatnya.
Anak-anak muda meminta foto bersama. Wayan Koster meladeninya dengan senyum sumringah. Anak-anak pun ikut berebut berfoto didampingi orang tua mereka. Koster, selain meladeni foto bersama, juga tahu cara menyenangkan anak-anak. Koster memeluk anak-anak itu. Baleganjur telah menjadi euforia anak muda sekaligus menciptakan ruang untuk bertemu dengan siapa saja.

Penampilan satu tim baleganjur dalam lomba baleganjur Pesta Kesenian Bali, Jumat 27 Juni 2025 | Foto: Tim Kreatif PKB 2025
Di atas panggung, secara begiliran tampil empat tium baleganjur yang datang dari kabupaten di Bali. Dari Karangasem ada Sekaa Baleganjur Bala Datu, Banjar Dinas Delod Yeh Kawan, Desa Talibeng, Kecamatan Sidemen. Dari Gianyar tampil Sekaa Gong Yowana Giri Puspa, Banjar Kedisan Kaja, Desa Kedisan, Kecamatan Tegalalang.
Tampil juga Sekaa Baleganjur Cerik Mangan Gigis, Banjar Kelodan, Desa Nyalian, Kecamatan Banjarangkan, yang jadi duta Kabupaten Klungkung. Dan, dari Bangli tampil Komunitas Seni Pajenengan Agung, Banjar Jehem Kaja, Desa Jehem, Kecamatan Tembuku.
Wayan Koster menonton anak-anak muda itu dari dekat, bagaimana mereka mencintai keseniannya. Anak-anak muda itu mempertunjukan kepiawiannya secara langsung di hadapan gubernur mereka. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























