9 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sariasih dan Manisnya Jaja Sengait Gula Pedawa 

I Gede Teddy Setiadi by I Gede Teddy Setiadi
May 16, 2025
in Kuliner
Sariasih dan Manisnya Jaja Sengait Gula Pedawa 

Sariasih dan Manisnya Jaja Sengait Gula Pedawa 

ADA beberapa buah tangan yang bisa kalian bawa pulang untuk dijadikan oleh-oleh saat berkunjung ke Singaraja Bali. Salah satunya adalah Jaja Sengait Gula Pedawa yang tentunya tidak boleh dilewatkan.

Meskipun jajanan (kue) atau camilan kekinian makin menjamur, Jaja Sengait Gula Pedawa ini masih memiliki penggemar di kalangan warga desa maupun kota.

Jaja, atau kue, ini sempat hampir punah dan jarang ditemui di pasar-pasar. Namun jaja sengait belakangan mulai mendapatkan tempat di tengah-tengah masyarakat karena jaja sengait ini memiliki rasa yang khas perpaduan rasa gurih dan manis.

Rasa gurih pada jaja sengait gula pedawa berasal dari ubi jalar sebagai bahan utamanya, sementara rasa yang manis berasal dari gula Pedawa (gula aren dari Desa Pedawa) yang terkenal, melegenda mulai dari rasa maupun aromanya yang sangat khas. Sehingga gula ini cukup terkenal di masyarakat Bali, wisatawan domestik maupun mancanegara.

Untuk mengobati kerinduan para penggemar aja sengait gula pedawa ini, kini para pelaku UMKM di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, mulai kembali giat memproduksi jaja sengait. Selain untuk meningkatkan perekonomian, produksi jaja senggait ini juga bertujuan untuk melestarikan gula Pedawa yang menjadi identitas masyarakat Desa Pedawa.

Gula Pedawa

Wayan Sariasih, ibu rumah tangga asal Desa Padawa ini berhasil mengubah hobinya yang senang membuat jajanan tradisional menjadikan peluang bisnis yang baik. Berawal dari ide anak pertamanya yang sangat suka dengan jaja senggait, dirinya mengaku terdorong dan berani mencoba produksi sendiri dan menjadikannya sebuah bisnis.

“Awalnya Ide bisnis ini datang dari anak pertama saya, namun karena dia bekerja sehingga tidak bisa memproduksi sendiri akhirnya saya ditawari ide untuk membuat sendiri, mungkin karena melihat latar belakang saya yang juga sering menjual jajanan tradisional kepada tetangga dekat rumah jika ada hari raya,” kata Sariasih.

Sebagai ibu rumah tangga yang ingin meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga apalagi ditengah situasi ekonomi seperti saat ini dirinya memanfaatkan keterampilan membuat jajan sebagai bisnis yang dapat membantu perekonomian keluarganya.

 Tidak hanya untuk diri dan keluarganya,  Sariasih mengaku mempunyai harapan agar di kemudian hari dapat mempekerjakan lebih banyak ibu-ibu rumah tangga di lingkungan masyarakat Desa Pedawa.

Selain Sariasih memang sudah ada beberapa masyarakat yang juga produksi jaje senggait gula pedawa ini, namun belum banyak yang memiliki pasar sampai keluar desa, mereka kebanyakan hanya menjual di warung-warung desa atau di desa tetangga saja.

Melihat hal itu, ia dibantu oleh anaknya untuk memikirkan bagaimana cara agar jaja sengait  yang diproduksi oleh pelaku usaha kecil di Desa Pedawa ini bisa menembus pasar di luar desa.

Terinsipirasi dari jajanan masa kini seperti pie susu yang banyak dijadikan oleh-oleh wisatawan yang berlibur ke Bali, ia memutuskan untuk mengurus Nomor Ijin Berusaha (NIB) serta sertifikat sertifikasi bagi industri yang memproduksi makanan terlebih dahulu agar produk yang ia produksi dapat ditawarkan ke berbagai toko-toko modern atau outlet oleh-oleh yang tersebar di beberapa daerah di Bali.

Dengan bermodalkan nama besar gula aren Pedawa yang sudah memilki nama cukup terkenal di Bali maupun wisatawan luar Bali, ia optimis jika jaje senggait gula pedawa dapat diterima di kalangan masyarakat Bali maupun luar Bali.

Dengan melakukan promosi yang gencar yang dibantu oleh anak dan keluarganya, kini senggait gula pedawa yang dibuat oleh Ibu Sariasih sudah bisa masuk ke toko-toko modern, restoran, kedai kedai kopi dan juga beberapa tempat wisata.

Selain akan lebih gencar lagi melakukan promosi dan penawaran kerja sama ke tempat-tempat lain, Sariasih mempunyai harapan kedepannya ingin bekerja sama dengan ibu-ibu lain yang juga produksi produk yang sama agar semua pelaku usaha kecil di Pedawa ini bisa menjadi mitra kerja tanpa merasa bersaing.

“Astungkara atas izin Tuhan yang berstana di Desa Pedawa memberikan rejeki, saya yakin jaja senggait ini laris dan dapat diterima oleh masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut Sariasih menceritakan jika proses pembuatan jaje senggait gula pedawa yang di produksi sangat mengedepankan kualitas, baik dari pemilihan bahan baku ubi jalar yang harus kualitasnya baik, mencampurkannya dengan gula aren asli Desa Pedawa, tanpa bahan pengawet dan menggunaan minyak goreng premium.

Proses pembuatannya pun dijaga dengan baik, mulai dari kebersihan alat-alat yang dipakai memarut ubi, mesin pemotong yang juga harus bersih, proses mencuci ubi, sampai dengan takaran gula aren yang harus pas agar manisnya pas dan sama rata, sampai dengan proses pencetakan adonan dan pengemasan diperhatikan dengan baik agar bersih dan sesuai standar.

Pohon aren di Desa Pedawa

Selain dari segi memilih bahan baku yang berkualitas, Tingkat kematangan senggait juga sangat mempengaruhi rasa jaja sengait itu sendiri. Jangan sampai api yang digunakan terlalu besar dan pada saat menggoreng juga agar tidak terlalu lama. Sehingga hasil perpaduan antara ubi yang di campur dengan gula Pedawa itu mendapatkan cita rasa yang pas yaitu gurih dan manis.

Memang terlihat sederhana dan mudah, tetapi membuat jaja sengait juga memerlukan sedikit keahlian tersendiri. Layaknya seorang koki yang harus meracik bumbu masakan agar pas dilidah para penikmatnya.

Seorang yang membuat jaja sengait juga harus memperhatikan betul komposisi atau berapa takaran yang pas agar sengait itu bisa gurih dan manis.

Tidak hanya itu, membuat jaja sengait juga harus memunculkan rasa manis gula Pedawa yang harus lebih mendominasi karena disanalah terletak ciri khas rasanya disbanding dengan yang lain.

Selanjutnya, untuk meningkatkan daya saing yang harus berkelanjutan agar produksi jaje senggait ini tetap bisa bertahan dan bersaing di pasaran adalah dengan cara peningkatan kualitas produk dengan tidak menurunkan kualitas dari rasa jaje senggait gula pedawa itu sendiri, sehingga jaje senggait yang dibuat oleh masyarakat pedawa memiliki ciri kas tersendiri dari pada jajanan lainnya, apalagi rasa gula pedawa yang sangat disukai ini dapat dijadikan nilai tambah sendiri.

Target pasar yang tepat juga perlu dilakukan seperti memahami kebutuhan dan preferensi dari masyarakat, membangun merek yang kuat dan positif, serta membuat kemasan dengan model masa kini dan modern.

Tidak hanya itu, bahan baku menjadi paling penting dan menjadi input utama dalam proses keberlangsungan produksi jaje senggait ini. Tanpa bahan baku industri ini pasti tidak bisa berjalan. Maka ketersedian bahan baku diupayakan harus tetap tersedia.

Sehingga dengan cara tersebut, jaja sengait gula pedawa ini diharapkan siap bersaing dengan produk lainnya yang sudah lebih dulu beredar di pasaran, bahkan harapannya jaje senggait pedawa ini akan terus menjadi pilihan wisatawan untuk dijadikan oleh-oleh khas Bali.

Untuk saat ini Sariasih masih mendapatkan bahan baku terutama gula aren dari masyarakat yang masih berfrofesi ngiris (proses pencarian air nira dari pohon air yang dijadikan gula).

Meskipun harga gula aren pedawa lumayan mahal tetapi dirinya mengaku tidak mau mencampur gula pedawa ini dengan gula pasir ataupun pemanis lainnya untuk kepentingan menekan biaya produksi. Hal itu dilakukan karena ingin mengedepankan kualitas dan rasa asli dari gula pedawa yang diolah menjadi jaja sengait.

Di Desa Pedawa sendiri, meski dikenal sebagai penghasil gula aren yang baik dan sudah cukup terkenal, namun untuk saat ini Gula Pedawa produksinya sudah mulai menurun dikarenakan adanya permintaan yang begitu tinggi dan juga banyak kebun pohon aren yang beralih fungsi.

Setelah tergolong menjadi salah satu produk The Spirit Of Sobean dari Pemkab Buleleng, permintaan pasar yang cukup tinggi, serta mulai banyaknya masyarakat yang memerlukan produk gula pedawa ini, kini banyak dari masyarakat sudah mulai Kembali menggeluti profesi ngiris, dan juga merawat pohon aren yang sudah ada.

Pada tahun 2023 lalu Pemerintah Desa bersama komunitas pencinta alam telah melakukan revitalisi pohon aren. Selain ingin mengembalikan dan melestarikan romansa manisnya gula pedawa, secara faktor ekologis pohon aren ini dapat menjaga sumber-sumber air di sekitarnya.

Kini, melalui bangkitnya usaha lokal yang menggunakan bahan baku gula Pedawa banyak tersisip harapan semoga pohon aren asli yang ditanam di desa Pedawa ini bisa Kembali bangkit, bukan hanya karena memiliki nilai ekonomis tetapi juga mengembalikan historis Desa Pedawa yang dulunya bernama Gunung Sari yang masyarakatnya hidup dan berpenghasilan dari menjual gula Pedawa. [T]

Penulis: I Gede Teddy Setiadi
Editor: Adnyana Ole

Tari Sakral Jejumputan di Pura Sekaa Juragan, Desa Pedawa: Tidak Boleh Difoto
Reboisasi Desa Pedawa: Usaha Menguatkan Citra Pedawa Sebagai Penghasil Gula Aren  
“Pada Weng”, Kami Bangga dengan Desa Pedawa
Tags: Desa Pedawakuliner tradisional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Narasi Naïve Visual’ Ni Komang Atmi Kristia Dewi

Next Post

Literasi Film untuk Keluarga: Anak-anak Menonton Sekaligus Belajar

I Gede Teddy Setiadi

I Gede Teddy Setiadi

Lahir di Desa Pedawa. Kini tinggal di Singaraja

Related Posts

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
0
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

Read moreDetails

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

Read moreDetails

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
Literasi Film untuk Keluarga: Anak-anak Menonton Sekaligus Belajar

Literasi Film untuk Keluarga: Anak-anak Menonton Sekaligus Belajar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co