7 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sariasih dan Manisnya Jaja Sengait Gula Pedawa 

I Gede Teddy Setiadi by I Gede Teddy Setiadi
May 16, 2025
in Kuliner
Sariasih dan Manisnya Jaja Sengait Gula Pedawa 

Sariasih dan Manisnya Jaja Sengait Gula Pedawa 

ADA beberapa buah tangan yang bisa kalian bawa pulang untuk dijadikan oleh-oleh saat berkunjung ke Singaraja Bali. Salah satunya adalah Jaja Sengait Gula Pedawa yang tentunya tidak boleh dilewatkan.

Meskipun jajanan (kue) atau camilan kekinian makin menjamur, Jaja Sengait Gula Pedawa ini masih memiliki penggemar di kalangan warga desa maupun kota.

Jaja, atau kue, ini sempat hampir punah dan jarang ditemui di pasar-pasar. Namun jaja sengait belakangan mulai mendapatkan tempat di tengah-tengah masyarakat karena jaja sengait ini memiliki rasa yang khas perpaduan rasa gurih dan manis.

Rasa gurih pada jaja sengait gula pedawa berasal dari ubi jalar sebagai bahan utamanya, sementara rasa yang manis berasal dari gula Pedawa (gula aren dari Desa Pedawa) yang terkenal, melegenda mulai dari rasa maupun aromanya yang sangat khas. Sehingga gula ini cukup terkenal di masyarakat Bali, wisatawan domestik maupun mancanegara.

Untuk mengobati kerinduan para penggemar aja sengait gula pedawa ini, kini para pelaku UMKM di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, mulai kembali giat memproduksi jaja sengait. Selain untuk meningkatkan perekonomian, produksi jaja senggait ini juga bertujuan untuk melestarikan gula Pedawa yang menjadi identitas masyarakat Desa Pedawa.

Gula Pedawa

Wayan Sariasih, ibu rumah tangga asal Desa Padawa ini berhasil mengubah hobinya yang senang membuat jajanan tradisional menjadikan peluang bisnis yang baik. Berawal dari ide anak pertamanya yang sangat suka dengan jaja senggait, dirinya mengaku terdorong dan berani mencoba produksi sendiri dan menjadikannya sebuah bisnis.

“Awalnya Ide bisnis ini datang dari anak pertama saya, namun karena dia bekerja sehingga tidak bisa memproduksi sendiri akhirnya saya ditawari ide untuk membuat sendiri, mungkin karena melihat latar belakang saya yang juga sering menjual jajanan tradisional kepada tetangga dekat rumah jika ada hari raya,” kata Sariasih.

Sebagai ibu rumah tangga yang ingin meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga apalagi ditengah situasi ekonomi seperti saat ini dirinya memanfaatkan keterampilan membuat jajan sebagai bisnis yang dapat membantu perekonomian keluarganya.

 Tidak hanya untuk diri dan keluarganya,  Sariasih mengaku mempunyai harapan agar di kemudian hari dapat mempekerjakan lebih banyak ibu-ibu rumah tangga di lingkungan masyarakat Desa Pedawa.

Selain Sariasih memang sudah ada beberapa masyarakat yang juga produksi jaje senggait gula pedawa ini, namun belum banyak yang memiliki pasar sampai keluar desa, mereka kebanyakan hanya menjual di warung-warung desa atau di desa tetangga saja.

Melihat hal itu, ia dibantu oleh anaknya untuk memikirkan bagaimana cara agar jaja sengait  yang diproduksi oleh pelaku usaha kecil di Desa Pedawa ini bisa menembus pasar di luar desa.

Terinsipirasi dari jajanan masa kini seperti pie susu yang banyak dijadikan oleh-oleh wisatawan yang berlibur ke Bali, ia memutuskan untuk mengurus Nomor Ijin Berusaha (NIB) serta sertifikat sertifikasi bagi industri yang memproduksi makanan terlebih dahulu agar produk yang ia produksi dapat ditawarkan ke berbagai toko-toko modern atau outlet oleh-oleh yang tersebar di beberapa daerah di Bali.

Dengan bermodalkan nama besar gula aren Pedawa yang sudah memilki nama cukup terkenal di Bali maupun wisatawan luar Bali, ia optimis jika jaje senggait gula pedawa dapat diterima di kalangan masyarakat Bali maupun luar Bali.

Dengan melakukan promosi yang gencar yang dibantu oleh anak dan keluarganya, kini senggait gula pedawa yang dibuat oleh Ibu Sariasih sudah bisa masuk ke toko-toko modern, restoran, kedai kedai kopi dan juga beberapa tempat wisata.

Selain akan lebih gencar lagi melakukan promosi dan penawaran kerja sama ke tempat-tempat lain, Sariasih mempunyai harapan kedepannya ingin bekerja sama dengan ibu-ibu lain yang juga produksi produk yang sama agar semua pelaku usaha kecil di Pedawa ini bisa menjadi mitra kerja tanpa merasa bersaing.

“Astungkara atas izin Tuhan yang berstana di Desa Pedawa memberikan rejeki, saya yakin jaja senggait ini laris dan dapat diterima oleh masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut Sariasih menceritakan jika proses pembuatan jaje senggait gula pedawa yang di produksi sangat mengedepankan kualitas, baik dari pemilihan bahan baku ubi jalar yang harus kualitasnya baik, mencampurkannya dengan gula aren asli Desa Pedawa, tanpa bahan pengawet dan menggunaan minyak goreng premium.

Proses pembuatannya pun dijaga dengan baik, mulai dari kebersihan alat-alat yang dipakai memarut ubi, mesin pemotong yang juga harus bersih, proses mencuci ubi, sampai dengan takaran gula aren yang harus pas agar manisnya pas dan sama rata, sampai dengan proses pencetakan adonan dan pengemasan diperhatikan dengan baik agar bersih dan sesuai standar.

Pohon aren di Desa Pedawa

Selain dari segi memilih bahan baku yang berkualitas, Tingkat kematangan senggait juga sangat mempengaruhi rasa jaja sengait itu sendiri. Jangan sampai api yang digunakan terlalu besar dan pada saat menggoreng juga agar tidak terlalu lama. Sehingga hasil perpaduan antara ubi yang di campur dengan gula Pedawa itu mendapatkan cita rasa yang pas yaitu gurih dan manis.

Memang terlihat sederhana dan mudah, tetapi membuat jaja sengait juga memerlukan sedikit keahlian tersendiri. Layaknya seorang koki yang harus meracik bumbu masakan agar pas dilidah para penikmatnya.

Seorang yang membuat jaja sengait juga harus memperhatikan betul komposisi atau berapa takaran yang pas agar sengait itu bisa gurih dan manis.

Tidak hanya itu, membuat jaja sengait juga harus memunculkan rasa manis gula Pedawa yang harus lebih mendominasi karena disanalah terletak ciri khas rasanya disbanding dengan yang lain.

Selanjutnya, untuk meningkatkan daya saing yang harus berkelanjutan agar produksi jaje senggait ini tetap bisa bertahan dan bersaing di pasaran adalah dengan cara peningkatan kualitas produk dengan tidak menurunkan kualitas dari rasa jaje senggait gula pedawa itu sendiri, sehingga jaje senggait yang dibuat oleh masyarakat pedawa memiliki ciri kas tersendiri dari pada jajanan lainnya, apalagi rasa gula pedawa yang sangat disukai ini dapat dijadikan nilai tambah sendiri.

Target pasar yang tepat juga perlu dilakukan seperti memahami kebutuhan dan preferensi dari masyarakat, membangun merek yang kuat dan positif, serta membuat kemasan dengan model masa kini dan modern.

Tidak hanya itu, bahan baku menjadi paling penting dan menjadi input utama dalam proses keberlangsungan produksi jaje senggait ini. Tanpa bahan baku industri ini pasti tidak bisa berjalan. Maka ketersedian bahan baku diupayakan harus tetap tersedia.

Sehingga dengan cara tersebut, jaja sengait gula pedawa ini diharapkan siap bersaing dengan produk lainnya yang sudah lebih dulu beredar di pasaran, bahkan harapannya jaje senggait pedawa ini akan terus menjadi pilihan wisatawan untuk dijadikan oleh-oleh khas Bali.

Untuk saat ini Sariasih masih mendapatkan bahan baku terutama gula aren dari masyarakat yang masih berfrofesi ngiris (proses pencarian air nira dari pohon air yang dijadikan gula).

Meskipun harga gula aren pedawa lumayan mahal tetapi dirinya mengaku tidak mau mencampur gula pedawa ini dengan gula pasir ataupun pemanis lainnya untuk kepentingan menekan biaya produksi. Hal itu dilakukan karena ingin mengedepankan kualitas dan rasa asli dari gula pedawa yang diolah menjadi jaja sengait.

Di Desa Pedawa sendiri, meski dikenal sebagai penghasil gula aren yang baik dan sudah cukup terkenal, namun untuk saat ini Gula Pedawa produksinya sudah mulai menurun dikarenakan adanya permintaan yang begitu tinggi dan juga banyak kebun pohon aren yang beralih fungsi.

Setelah tergolong menjadi salah satu produk The Spirit Of Sobean dari Pemkab Buleleng, permintaan pasar yang cukup tinggi, serta mulai banyaknya masyarakat yang memerlukan produk gula pedawa ini, kini banyak dari masyarakat sudah mulai Kembali menggeluti profesi ngiris, dan juga merawat pohon aren yang sudah ada.

Pada tahun 2023 lalu Pemerintah Desa bersama komunitas pencinta alam telah melakukan revitalisi pohon aren. Selain ingin mengembalikan dan melestarikan romansa manisnya gula pedawa, secara faktor ekologis pohon aren ini dapat menjaga sumber-sumber air di sekitarnya.

Kini, melalui bangkitnya usaha lokal yang menggunakan bahan baku gula Pedawa banyak tersisip harapan semoga pohon aren asli yang ditanam di desa Pedawa ini bisa Kembali bangkit, bukan hanya karena memiliki nilai ekonomis tetapi juga mengembalikan historis Desa Pedawa yang dulunya bernama Gunung Sari yang masyarakatnya hidup dan berpenghasilan dari menjual gula Pedawa. [T]

Penulis: I Gede Teddy Setiadi
Editor: Adnyana Ole

Tari Sakral Jejumputan di Pura Sekaa Juragan, Desa Pedawa: Tidak Boleh Difoto
Reboisasi Desa Pedawa: Usaha Menguatkan Citra Pedawa Sebagai Penghasil Gula Aren  
“Pada Weng”, Kami Bangga dengan Desa Pedawa
Tags: Desa Pedawakuliner tradisional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Narasi Naïve Visual’ Ni Komang Atmi Kristia Dewi

Next Post

Literasi Film untuk Keluarga: Anak-anak Menonton Sekaligus Belajar

I Gede Teddy Setiadi

I Gede Teddy Setiadi

Lahir di Desa Pedawa. Kini tinggal di Singaraja

Related Posts

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
Literasi Film untuk Keluarga: Anak-anak Menonton Sekaligus Belajar

Literasi Film untuk Keluarga: Anak-anak Menonton Sekaligus Belajar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana
Esai

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

by Angga Wijaya
August 6, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

by Chusmeru
August 6, 2026
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co