2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Pada Weng”, Kami Bangga dengan Desa Pedawa

Workshop Menulis FH Unipas Singaraja by Workshop Menulis FH Unipas Singaraja
October 22, 2019
in Esai
“Pada Weng”, Kami Bangga dengan Desa Pedawa

Tarian khas Desa Pedawa. (Foto diambil dari FB/Putu Yuli Supriyandana/Foto dan Vidio Budaya

Oleh: Tiara Sukra, siswa SMAN Bali Mandara

___

Fakultas Hukum Universitas Panji Sakti (Unipas) Singaraja menyelenggarakan workshop penulisan kreatif pada Sabtu 28 September 2019. Hasil workshop dipilih tiga terbaik, dan inilah salah satunya:

___

“E, mai singgah malu. Ngamah malu awake” Terdengar kasar, tapi begitulah khasnya. Aku bangga dengan bahasanya. Kami sadar, kami hidup dengan segala ciptaan-Nya. Kami menganggapnya semua sama. Begitulah “Pada Weng”.

Gunung Sari, begitu orang dulu mengenal desaku. Tak ada sawah, hanya puluhan atap rumah menjadi permadani bukitnya. Tak ada ladang, hanya barisan pohon aren menjadi mata pencahariannya. Sejuk angin dari pohon cengkeh menjadi penghasil musiman warganya.

Bali Aga melekat pada nama Desa Pedawa. Sebagai masyarakat asli, akupun baru tau bahwa desaku ini dahulu bernama Gunung Sari. Tapi beruntunglah aku memiliki kakek yang mau membagi kisahnya padaku. Banyak nama dulunya Gunung Tambleg, Gunung Sari dan kini berubah menjadi Desa Pedawa.

Menurut cerita dari kakekku Tambleg berarti bodoh dan lugu, nama ini diberikan karena pemikiran warga desa yang masih sederhana. Bertahun-tahun kemudian, kata kakekku Gunung Tambleg berubah nama lagi, menjadi Gunung Sari. Nama tersebut berhubungan dengan kehidupan masyarakatnya dominan sebagai penyadap nira yang diolah menjadi gula. Seiring berjalannya waktu Nama Gunung Tambleg tidak pernah dipakai lagi, sedangkan nama Gunung Sari sering disebut saat ada upacara agama saja.

Kakekku juga bercerita tentang orang-orang Pedawa meninggal dulu, kata kakek  jasadnya tidak dikubur melainkan hanya ditaruh di bawah pohon kayu, dengan di beri bekal atau kita sebut takilan. Sedangkan jika anak-anak yang meninggal biasanya dilempar jasadnya ke lobang kayu yang besar, yang terletak di dekat desa.

Pada suatu hari datanglah seorang raja bernama Raja Bima diiring oleh pendeta atau Dukuh Manca Bila untuk menertibkan tata cara penguburan mayat termasuk dengan kelengkapan upacara sederhana. Begitu yang diceritakan oleh kakekku.

Sederhana dan tua, begitulah Pedawa. Aku tinggal di daerah kubu jauh dari pusat desa. istimewahnya tinggal di kubu adalah jauh dari keramaian, kicauan burung dan kokokan ayam menjadi alarm suara khas sahabat dari pagi meminta kami untuk bangun dan menjalani hari. Ibuku memasak, ayahku seperti biasa menyadap nira. Sedangkan aku mengawali hari dengan singkong rebus yang lembut dengan manisnya balutan gula Pedawa. Ibuku sangat ahli membuatnya, caranya cukup mudah singkong yang sudah di kupas dan dicuci bersih lalu dimasukkan dalam rebusan nira yang akan dijadikan gula.

Ya, gula Pedawa menjadi ciri khas desaku, rasanya yang manis tak berbias menjadi idola setiap orang yang menikmatinya. Tapi sayangnya, jumlah pohon aren yang ada sudah berkurang jumlahnya. Hal ini disebabkan karena adanya harga hasil panen cengkeh yang lebih menjanjikan setiap 6 bulan sekali. Dan faktanya kini hasil panen cengkeh tak semenjanjikan untuk tiap harinya seperti gula aren yang bisa diproduksi dan dipasarkan setiap hari. Jejeran pohon cengkeh mengitari rumahku.

Aku pernah bertanya pada ibuku, mengapa kami tak punya sawah, padahal ada lumbung padi di atas bale bengong yang biasa kami duduki. Dengan santai ibuku menjawab, bahwasanya sebelum adanya pohon nira sebagai penghasilan utama Pedawa memang pernah menjadi penghasil beras. Ini berarti Pedawa memang pernah ada sawah, termasuk tempat tinggalku sekarang dulunya adalah sawah. Pantas saja bentuk tanah disni berundag-undag seperti sawah, semenjak sudah tak ada air yang mengalir ke sawah akibat aliran air yang semakin mengecil akhirnya tak bisa lagi ditanami padi.

Masih banyak hal yang menarik lainnya di desaku ini. Pedawa juga memiliki adat budaya dan dapat dijadikan tempat wisata menarik sebagai desa tua atau Bali Aga. Pagi itu minggu libur sekolahku, Purnama Kapat kemarin baru saja usai dilaksanaknnya persembahyangan di pura Desa. Paman mengajakku ke pura lagi untuk menonton balih-balihan. Terekam jelas disini, wajah-wajah tua masih memakai pakaian khas tempo dulu. Kamen panjang hingga menutupi mata kaki, kebaya khas berwarna-warni kalem. Berbeda dengan daa/trunanya, era globalisasi tampak jelas sudah mereka terpengaruh, namun dengan gaya yang modern sederhana.

Biasanya pada upacara agama ini para teruna akan menarikan sebuah tarian yang biasa kita sebut “mebaris” dengan membawa tombak dan pakaiannya cukup simple menggunakan pakaian adat sehari-hari saja diiringi gamelan khas. Ada juga tarian rejang, rejang ini ditarikan oleh para daa/teruni desa Pedawa saat ada upacara agama saja. Tarian ini sangat di sakralkan sehingga tempat ditarikan tarian ini yaitu di pura. Pakain dan payasannya pun sederhana rembang panjang menutupi dari leher ke depan hingga lutut biasanya, ditambah perhiasan sederhana seperti bros dan subeng di telinga.

Penghias kepalanya mengunakan gelungan ditambah hiasan bunga palsu. Seusai menontonnya, paman mengajakku berjalan-jalan sebentar. Tempat pertama yang kami datangi adalah Rumah adat desa Pedawa, yang lebih dikenal sebagai Rumah Bandung Rangki, rumah ini jauh dari kata modern. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu dengan tiang kayu, beratapkan ilalang,didalamnya hanya terdapat satu ruangan. Kamar tidur dan dapur menjadi satu, tak ada listrik, di luarnya ada toilet, di halamnnya ada bale bengong sama persis seperti punyaku dirumah dan lumbung padi diatasnya. Rumah ini menjadi tempat wisata yang masih dilestarikan, karena jumlahnya yang bisa dihitung.

Orang-orang Pedawa sudah meninggalkan rumah ini karena bentuknya yang sangat tradisional dan memilih rumah modern. Dan tempat wisata yang cukup populer dan tergolong baru saat ini dalah Kubu Hobit. seperti namanya, tempat ini memang menjadi objek selfi yang menarik. Pemiliknya adalah orang Pedawa asli. Banya artis yang sudah berkunung disini, lokal sampai nasional. contohnya Citra Kirana, Indro warkop dan masih banyak lagi.

Tak hanya itu, Pedawa juga memiliki permainan khas seperti Sapi gerumbung dan megangsingan. Tapi karena termakan teknologi permainan ini sudah langka dan jarang ditemukan, biasanya warga hanya akan bermain gangsing setiap sore hanya untuk menghilangkan penat. Ada juga tradisi yang 47 tahun lamanya sempat ditinggalkan, yaitu tradisi ngaga. Ngaga berarti menanam padi di tanah kering atau tidak digenangi air sma sekali. Tradisi ini dihidupkan lagi pada tahun 2019 di areal tegalan oleh Pangempon Pura Pura Pucak Sari, Dusun Insakan, Desa Pedawa. Kegiatan ini dilakukan kembali bertujuan menjaga pasokan gabah padi gaga yang digunakan saat pujawali di Pura Pucak Sari.

Seusai ku menghabiskan hari minggu dengan pamanku, pulang kami kerumah menjadi penutup akhir pekanku. Tiba ku di rumah. Ayah tengah asyik duduk menyangih pengiris dengan batu yang halus karena tlah lama digunakan, sembari menikmati daun sirih yang sudah memerahi gigi dimulutnya. Sedangkan ibu seperti biasa mencetak gula aren yang sudah matang. Aku mencintai desaku, dengan kesederhanaanya. Bahasa yang hanya desaku yang punya, gula Pedawanya, adat budayanya, serta orang-orang di dalamnya. [T]

Tags: bali agabulelengDesa PedawaUniversitas Panji Sakti Singarajaworkshop
Share846TweetSendShareSend
Previous Post

Joker dan Saat-saat Menjadi Waras adalah Sebuah Tantangan

Next Post

Peluncuran Novel Rahasia Salinem di UWRF 2019: Representasi Narasi Samping Sejarah dan Perempuan

Workshop Menulis FH Unipas Singaraja

Workshop Menulis FH Unipas Singaraja

Workshop Menulis Kreatif Fakultas Hukum Universitas Panji Sakti (Unipas) Singaraja

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Peluncuran Novel Rahasia Salinem di UWRF 2019: Representasi Narasi Samping Sejarah dan Perempuan

Peluncuran Novel Rahasia Salinem di UWRF 2019: Representasi Narasi Samping Sejarah dan Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co