2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Pada Weng”, Kami Bangga dengan Desa Pedawa

Workshop Menulis FH Unipas Singaraja by Workshop Menulis FH Unipas Singaraja
October 22, 2019
in Esai
“Pada Weng”, Kami Bangga dengan Desa Pedawa

Tarian khas Desa Pedawa. (Foto diambil dari FB/Putu Yuli Supriyandana/Foto dan Vidio Budaya

Oleh: Tiara Sukra, siswa SMAN Bali Mandara

___

Fakultas Hukum Universitas Panji Sakti (Unipas) Singaraja menyelenggarakan workshop penulisan kreatif pada Sabtu 28 September 2019. Hasil workshop dipilih tiga terbaik, dan inilah salah satunya:

___

“E, mai singgah malu. Ngamah malu awake” Terdengar kasar, tapi begitulah khasnya. Aku bangga dengan bahasanya. Kami sadar, kami hidup dengan segala ciptaan-Nya. Kami menganggapnya semua sama. Begitulah “Pada Weng”.

Gunung Sari, begitu orang dulu mengenal desaku. Tak ada sawah, hanya puluhan atap rumah menjadi permadani bukitnya. Tak ada ladang, hanya barisan pohon aren menjadi mata pencahariannya. Sejuk angin dari pohon cengkeh menjadi penghasil musiman warganya.

Bali Aga melekat pada nama Desa Pedawa. Sebagai masyarakat asli, akupun baru tau bahwa desaku ini dahulu bernama Gunung Sari. Tapi beruntunglah aku memiliki kakek yang mau membagi kisahnya padaku. Banyak nama dulunya Gunung Tambleg, Gunung Sari dan kini berubah menjadi Desa Pedawa.

Menurut cerita dari kakekku Tambleg berarti bodoh dan lugu, nama ini diberikan karena pemikiran warga desa yang masih sederhana. Bertahun-tahun kemudian, kata kakekku Gunung Tambleg berubah nama lagi, menjadi Gunung Sari. Nama tersebut berhubungan dengan kehidupan masyarakatnya dominan sebagai penyadap nira yang diolah menjadi gula. Seiring berjalannya waktu Nama Gunung Tambleg tidak pernah dipakai lagi, sedangkan nama Gunung Sari sering disebut saat ada upacara agama saja.

Kakekku juga bercerita tentang orang-orang Pedawa meninggal dulu, kata kakek  jasadnya tidak dikubur melainkan hanya ditaruh di bawah pohon kayu, dengan di beri bekal atau kita sebut takilan. Sedangkan jika anak-anak yang meninggal biasanya dilempar jasadnya ke lobang kayu yang besar, yang terletak di dekat desa.

Pada suatu hari datanglah seorang raja bernama Raja Bima diiring oleh pendeta atau Dukuh Manca Bila untuk menertibkan tata cara penguburan mayat termasuk dengan kelengkapan upacara sederhana. Begitu yang diceritakan oleh kakekku.

Sederhana dan tua, begitulah Pedawa. Aku tinggal di daerah kubu jauh dari pusat desa. istimewahnya tinggal di kubu adalah jauh dari keramaian, kicauan burung dan kokokan ayam menjadi alarm suara khas sahabat dari pagi meminta kami untuk bangun dan menjalani hari. Ibuku memasak, ayahku seperti biasa menyadap nira. Sedangkan aku mengawali hari dengan singkong rebus yang lembut dengan manisnya balutan gula Pedawa. Ibuku sangat ahli membuatnya, caranya cukup mudah singkong yang sudah di kupas dan dicuci bersih lalu dimasukkan dalam rebusan nira yang akan dijadikan gula.

Ya, gula Pedawa menjadi ciri khas desaku, rasanya yang manis tak berbias menjadi idola setiap orang yang menikmatinya. Tapi sayangnya, jumlah pohon aren yang ada sudah berkurang jumlahnya. Hal ini disebabkan karena adanya harga hasil panen cengkeh yang lebih menjanjikan setiap 6 bulan sekali. Dan faktanya kini hasil panen cengkeh tak semenjanjikan untuk tiap harinya seperti gula aren yang bisa diproduksi dan dipasarkan setiap hari. Jejeran pohon cengkeh mengitari rumahku.

Aku pernah bertanya pada ibuku, mengapa kami tak punya sawah, padahal ada lumbung padi di atas bale bengong yang biasa kami duduki. Dengan santai ibuku menjawab, bahwasanya sebelum adanya pohon nira sebagai penghasilan utama Pedawa memang pernah menjadi penghasil beras. Ini berarti Pedawa memang pernah ada sawah, termasuk tempat tinggalku sekarang dulunya adalah sawah. Pantas saja bentuk tanah disni berundag-undag seperti sawah, semenjak sudah tak ada air yang mengalir ke sawah akibat aliran air yang semakin mengecil akhirnya tak bisa lagi ditanami padi.

Masih banyak hal yang menarik lainnya di desaku ini. Pedawa juga memiliki adat budaya dan dapat dijadikan tempat wisata menarik sebagai desa tua atau Bali Aga. Pagi itu minggu libur sekolahku, Purnama Kapat kemarin baru saja usai dilaksanaknnya persembahyangan di pura Desa. Paman mengajakku ke pura lagi untuk menonton balih-balihan. Terekam jelas disini, wajah-wajah tua masih memakai pakaian khas tempo dulu. Kamen panjang hingga menutupi mata kaki, kebaya khas berwarna-warni kalem. Berbeda dengan daa/trunanya, era globalisasi tampak jelas sudah mereka terpengaruh, namun dengan gaya yang modern sederhana.

Biasanya pada upacara agama ini para teruna akan menarikan sebuah tarian yang biasa kita sebut “mebaris” dengan membawa tombak dan pakaiannya cukup simple menggunakan pakaian adat sehari-hari saja diiringi gamelan khas. Ada juga tarian rejang, rejang ini ditarikan oleh para daa/teruni desa Pedawa saat ada upacara agama saja. Tarian ini sangat di sakralkan sehingga tempat ditarikan tarian ini yaitu di pura. Pakain dan payasannya pun sederhana rembang panjang menutupi dari leher ke depan hingga lutut biasanya, ditambah perhiasan sederhana seperti bros dan subeng di telinga.

Penghias kepalanya mengunakan gelungan ditambah hiasan bunga palsu. Seusai menontonnya, paman mengajakku berjalan-jalan sebentar. Tempat pertama yang kami datangi adalah Rumah adat desa Pedawa, yang lebih dikenal sebagai Rumah Bandung Rangki, rumah ini jauh dari kata modern. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu dengan tiang kayu, beratapkan ilalang,didalamnya hanya terdapat satu ruangan. Kamar tidur dan dapur menjadi satu, tak ada listrik, di luarnya ada toilet, di halamnnya ada bale bengong sama persis seperti punyaku dirumah dan lumbung padi diatasnya. Rumah ini menjadi tempat wisata yang masih dilestarikan, karena jumlahnya yang bisa dihitung.

Orang-orang Pedawa sudah meninggalkan rumah ini karena bentuknya yang sangat tradisional dan memilih rumah modern. Dan tempat wisata yang cukup populer dan tergolong baru saat ini dalah Kubu Hobit. seperti namanya, tempat ini memang menjadi objek selfi yang menarik. Pemiliknya adalah orang Pedawa asli. Banya artis yang sudah berkunung disini, lokal sampai nasional. contohnya Citra Kirana, Indro warkop dan masih banyak lagi.

Tak hanya itu, Pedawa juga memiliki permainan khas seperti Sapi gerumbung dan megangsingan. Tapi karena termakan teknologi permainan ini sudah langka dan jarang ditemukan, biasanya warga hanya akan bermain gangsing setiap sore hanya untuk menghilangkan penat. Ada juga tradisi yang 47 tahun lamanya sempat ditinggalkan, yaitu tradisi ngaga. Ngaga berarti menanam padi di tanah kering atau tidak digenangi air sma sekali. Tradisi ini dihidupkan lagi pada tahun 2019 di areal tegalan oleh Pangempon Pura Pura Pucak Sari, Dusun Insakan, Desa Pedawa. Kegiatan ini dilakukan kembali bertujuan menjaga pasokan gabah padi gaga yang digunakan saat pujawali di Pura Pucak Sari.

Seusai ku menghabiskan hari minggu dengan pamanku, pulang kami kerumah menjadi penutup akhir pekanku. Tiba ku di rumah. Ayah tengah asyik duduk menyangih pengiris dengan batu yang halus karena tlah lama digunakan, sembari menikmati daun sirih yang sudah memerahi gigi dimulutnya. Sedangkan ibu seperti biasa mencetak gula aren yang sudah matang. Aku mencintai desaku, dengan kesederhanaanya. Bahasa yang hanya desaku yang punya, gula Pedawanya, adat budayanya, serta orang-orang di dalamnya. [T]

Tags: bali agabulelengDesa PedawaUniversitas Panji Sakti Singarajaworkshop
Share846TweetSendShareSend
Previous Post

Joker dan Saat-saat Menjadi Waras adalah Sebuah Tantangan

Next Post

Peluncuran Novel Rahasia Salinem di UWRF 2019: Representasi Narasi Samping Sejarah dan Perempuan

Workshop Menulis FH Unipas Singaraja

Workshop Menulis FH Unipas Singaraja

Workshop Menulis Kreatif Fakultas Hukum Universitas Panji Sakti (Unipas) Singaraja

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Peluncuran Novel Rahasia Salinem di UWRF 2019: Representasi Narasi Samping Sejarah dan Perempuan

Peluncuran Novel Rahasia Salinem di UWRF 2019: Representasi Narasi Samping Sejarah dan Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co