12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Peluncuran Novel Rahasia Salinem di UWRF 2019: Representasi Narasi Samping Sejarah dan Perempuan

tatkala by tatkala
October 22, 2019
in Lingkungan
Peluncuran Novel Rahasia Salinem di UWRF 2019: Representasi Narasi Samping Sejarah dan Perempuan

Oleh: Wisnu Suryaning Adji, Co-Author Rahasia Salinem

____

Buku Rahasia Salinem akan diluncurkan pada Ubud Writers and Readers Festival 2019 pada hari Jumat 25 Oktober 2019. Selain launching, nantinya juga akan ada dramatic reading, bedah naskah, kemudian bedah teknis. Berikut saya lampirkan e-flyer dan materi untuk acara tersebut. Untuk RSVP kehadiran, silakan klik link berikut: http://bit.ly/rahasiasalinemuwrf

____

Novel ini ditulis oleh dua orang, dan rasanya tulisan ini tidak lengkap jika saya tidak menjelaskan bagaimana penulisan novel Rahasia Salinem diawali. Novel ini bukan novel sejarah kalau yang dimaksud adalah novel yang secara langsung bercerita tentang sejarah Indonesia dalam kacamata narasi arus utama kesejarahan. Sebaliknya, novel ini memandang sejarah sebagai sebuah narasi samping, yaitu bagaimana sejarah memiliki efek bukan hanya terhadap wacana kebangsaan melainkan juga manusia-manusia yang hidup di dalamnya—narasi lain kejadian yang terjadi di luar narasi besar namun terkena imbasnya. Jadi, mungkin, lebih tepat jika saya menyebut Rahasia Salinem adalah novel keluarga yang berlatar sejarah.

Tokoh Salinem sebagai protagonis utama novel ini (meminjam istilah Bernard Batubara dalam resensinya) adalah baut kecil bagi keutuhan sebuah keluarga yang terseret dalam arus sejarah Indonesia di Surakarta pada 1924 sampai 1969. Namun, novel ini ditulis dalam dua latar waktu utama yaitu potongan masa kehidupan Salinem antara 1923-1978, dan potongan masa kehidupan Tyo—cucunya—pada 2013-2019.

Cerita tersebut bergerak akibat dua benda yang menyimpan misteri yaitu Bumbu Pecel dan sebuah tembang yang ternyata menyimpan rahasia kehidupan Salinem di masa lalu. Cerita-cerita kehidupan Salinem yang nyaris hilang terkubur saat kematiannya di tahun 2013 ternyata muncul kembali seiring penemuan tembang itu oleh Tyo, sang cucu. Cerita berlanjut akibat adanya perbedaan persepsi dalam kepala Tyo dan kenyataan yang sebenarnya terjadi atas tokoh Salinem. Tyo yang selama hidupnya menyakini bahwa Salinem adalah nenek kandungnya menemukan fakta bahwa ternyata Salinem tidak lebih dari pembantu rumah tangga keluarga mereka. Bagaimana ini bisa terjadi? Saya mempersilakan Anda untuk membaca langsung saja novel tersebut agar saya tidak perlu memberi bocoran.

Di sanalah Tyo menemukan bagaimana perempuan-perempuan dalam keluarga mereka berperan dalam mengalirkan sejarah keluarga kecil mereka ke masa depan.

Tidak bisa saya pungkiri, sebagai penulis laki-laki, menemukan sudut pandang perempuan dan memunculkannya dalam naskah bukanlah perkara sederhana. Keuntungan yang saya pegang adalah tokoh Salinem (sesungguhnya) adalah tokoh yang benar-benar pernah hidup di kenyataan. Salinem adalah nenek angkat Brilliant Yotenega (Mas Ega) yang bersama saya menjadi co-author novel ini.

Ini adalah salah satu perihal yang sering ditanyakan oleh pembaca, bagaimana dua orang menulis novel secara sekaligus? Tentu saja, jawaban sederhananya adalah pembagian tugas. Dalam hal ini, Mas Ega adalah pemilik cerita asli dari tokoh Salinem (seluruh data tentang sosok asli Salinem dan jalan hidupnya saya dapatkan dari Mas Ega), dan saya adalah penulis yang bertugas merangkai ulang jalan cerita sehingga menjadi novel fiksi. Jadi, apakah novel ini biografi? Kami dengan tegas menyatakan: Bukan. Novel ini bukanlah karya biografi, dan statusnya tetap boleh dianggap sepenuhnya fiksi.

Akan tetapi, status nonfiksional dari tokoh Salinem-lah yang membuat saya mampu menangkap data secara sederhana (walau tidak berarti mudah) untuk kemudian dikonversi sebagai sebuah novel fiksi.

Memang, kali pertama Mas Ega menghubungi saya untuk membantu penulisan kisah Salinem, pertanyaan awal saya adalah Apakah kisah ini sebuah catatan biografi? Dan, lewat berbagai pembicaraan, akhirnya disepakati untuk merilisnya dalam bentuk novel fiksi. Hal utama yang dipertahankan adalah semangat dan jiwa dari sosok Salinem yang gambarannya saya dapatkan melalui proses riset yang melibatkan keluarga besar Mas Ega. Kami berdua sangat berterima kasih pada keluarga. Untuk selanjutnya, (sebagaimana karya fiksi lain) saya memiliki kebebasan untuk mengekspresikan bentuk cerita dan tulisan yang dipergunakan.

Salah satunya adalah pilihan untuk merepresentasi perempuan-perempuan dalam novel ini sebagai sosok-sosok yang kontekstual dengan kondisi perempuan di zaman kekinian, walau penceritaannya terjadi di masa lalu. Sosok-sosok perempuan dalam novel ini digambarkan memiliki kesadaran penuh tentang diri mereka sendiri dan mampu menempatkan diri dalam konteks kehidupan di masa itu. Perempuan-perempuan dalam novel ini digambarkan sebagai sosok yang mandiri. Ini bukan hal yang mudah mengingat pada tahun-tahun tersebut kesetaraan peran bukanlah isu yang sudah dibicarakan secara luas dalam masyarakat Jawa. Secara umum, paradigma mengenai perempuan di masa itu adalah (tidak dapat dipungkiri masih terjebak dalam) pengabdian dan ketundukan pada suami semata. Sementara, kebalikannya, paradigma yang saya gunakan dalam novel ini adalah kerja sama antara dua gender di dalam konteks keluarga Jawa.

Demi kepentingan cerita, isu-isu keperempuanan dalam Rahasia Salinem tidak saya munculkan secara langsung melalui kalimat, namun dihidupkan melalui adegan-adegan yang saya harap mampu merepresentasi bagaimana kerjasama kedua gender adalah hal yang lebih utama dibanding dikotomi perempuan-lakilaki yang sangat patriarkal. Misal: muncul adegan-adegan Gusti Kartinah—majikan sekaligus sahabat tokoh Salinem—bekerja sama dengan suaminya—Gusti Soekatmo dalam membangun bisnis percetakan; dan bagaimana sosok Salinem turut mengambil peran dalam perjuangan kemerdekaan sebagai penyelundup senjata pada masa pendudukan Jepang di Surakarta; selain, adegan-adegan lainnya.

Walau begitu, novel ini tidak secara khusus ditujukan sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya patriarki Jawa (unsur-unsur perlawanan kepada budaya patriarki muncul secara subtil dalam novel ini), justru novel ini mencoba mencari jalan tengah antara peran laki-laki dan perempuan sebagai bentuk kerja sama yang mutual. Perempuan-perempuan dalam novel ini dibangun sebagai sosok-sosok yang kuat sambil tetap menjaga agar kekuatan perempuan tidak menjurus kepada pemojokan sosok laki-laki. Saya menghindari stereotipikal laki-laki penindas, sebagaimana saya juga menghindar stereotipikal perempuan yang lemah. Sejarah sudah membuktikan bahwa di tengah budaya yang patriarkis tetap ada sosok-sosok perempuan kuat yang memiliki peran besar.

Dalam novel ini digambarkan bagaimana sosok Salinem (dan, Gusti Kartinah) ikut serta dalam narasi kecil sejarah dan bertahan di sana. Peristiwa-peristiwa sejarah tidak hanya berpengaruh kepada sebuah bangsa, melainkan pengaruh itu meresap hingga ke titik-titik terkecilnya: Manusia. Perang Kemerdekaan, Masa Pendudukan Jepang, Peristiwa ’65, dan berbagai kejadian besar lain telah mengubah dan berimbas kepada kehidupan orang-orang yang hidup di sana. Di antara orang-orang itu, ada peran perempuan.

Tentu saja, ini jadi menimbulkan pertanyaan: Benarkah relasi kuasa lakilaki-perempuan yang berimbang memang ada dalam budaya Jawa saat itu? Sekali lagi, kacamata kesejarahan yang saya gunakan adalah kacamata mikro, sejarah yang dipandang dalam konteks keluarga dan pribadi-pribadi yang saling bersinggungan di dalamnya. Saya berpegang pada kemungkinan bahwa budaya adalah sesuatu yang sifatnya transaksional dan melalui proses penyaringan ketika akan diadaptasi dalam konteks mikro. Budaya umum yang muncul secara patriarkis belum tentu menghasilkan bentuk keluarga yang seragam patriarkisnya. Tetap dapat dimungkinkan adanya keluarga-keluarga yang egaliter sebagaimana yang saya temukan ketika riset novel ini dilakukan.

Toh, kalaupun novel ini tidak berdasarkan sosok dan keluarga yang nyata, fiksi memang bermain di ranah-ranah kemungkinan.

Apakah pembaca menilai secara serupa? Jujur saja, saya tidak tahu. Namun, kami berharap agar Novel Rahasia Salinem dapat memberikan manfaat dan menjadi wacana baru mengenai kesetaraan peran perempuan dan laki-laki yang tidak lagi terjebak dalam dikotomi gender melainkan dipandang melalui kacamata kemanusiaan yang lebih luas. [T]

Tags: Bukuresensi bukuUbud Writers and Readers Festival
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

“Pada Weng”, Kami Bangga dengan Desa Pedawa

Next Post

Bunut Bolong, Antara Pertemuan, Cinta dan Kenangan

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

by tatkala
August 21, 2026
0
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

Read moreDetails

Beach Cleaning di Pantai Mertasari, Aksi Peduli Lingkungan Mahasiswa Fakultas Vokasi IPB Internasional

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
June 11, 2026
0
Beach Cleaning di Pantai Mertasari, Aksi Peduli Lingkungan Mahasiswa Fakultas Vokasi IPB Internasional

KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi...

Read moreDetails

Belajar Tentang Laut Bersama Para Ahli di Peninsula Island, Bali

by Nyoman Budarsana
June 6, 2026
0
Belajar Tentang Laut Bersama Para Ahli di Peninsula Island, Bali

KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan bersama WWF-Indonesia, Konservasi Indonesia, GIZ Indonesia, CTI-CFF, Coral Triangle Center, Yayasan Pesisir Lestari, dan Coca-Cola Europacific...

Read moreDetails

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

by Son Lomri
April 21, 2026
0
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

Read moreDetails

Kolaborasi Internasional Tanam 1000 Pohon di Kawasan Danau Tamblingan

by tatkala
March 29, 2026
0
Kolaborasi Internasional Tanam 1000 Pohon di Kawasan Danau Tamblingan

SEBANYAK lebih dari 100 orang melakukan penanaman pohon di kawasan Danau Tamblingan, Buleleng, Bali, Sabtu, 28 Maret 2026. Mereka berasal...

Read moreDetails

Ni Luh Djelantik dan Ribuan Bibit Pohon: Dari Rumah Aspirasi ke Hutan Desa

by Radha Dwi Pradnyani
February 22, 2026
0
Ni Luh Djelantik dan Ribuan Bibit Pohon: Dari Rumah Aspirasi ke Hutan Desa

RUMAH kecil bernomor 76 di pinggir Jalan Sudirman, Singaraja, tepatnya di Kelurahan Banyuasri, Kabupaten Buleleng, Bali, siang itu mendadak ramai....

Read moreDetails

Pemimpin Desa Luang Barat dan Timur, Maluku Barat Daya, Belajar Konservasi Penyu di TCEC Bali Bersama WWF

by tatkala
September 1, 2025
0
Pemimpin Desa Luang Barat dan Timur, Maluku Barat Daya, Belajar Konservasi Penyu di TCEC Bali Bersama WWF

TIGA orang perwakilan pemimpin Desa Luang Barat dan Desa Luang  Timur, Maluku Barat Daya, mengikuti kegiatan Sekolah Lapang di Turtle...

Read moreDetails

Minimalkan Sampah, Ini 5 “Pangeling-eling” untuk Umat saat “Ngusaba Kadasa” di Pura Batur

by tatkala
March 23, 2025
0
Minimalkan Sampah, Ini 5 “Pangeling-eling” untuk Umat saat “Ngusaba Kadasa” di Pura Batur

NGUSABA Kadasa Pura Ulun Danu Batur tahun Saka 1947 (tahun 2025) akan dimulai pada Tilem Kasanga, 28 Maret 2025. Selama...

Read moreDetails

Kolaborasi Internasional Tanam Pohon di Pedawa: PBJ Undiksha, Universitas Iwate Jepang dan Kayoman

by tatkala
March 19, 2025
0
Kolaborasi Internasional Tanam Pohon di Pedawa: PBJ Undiksha, Universitas Iwate Jepang dan Kayoman

INI benar-benar kolaborasi internasional antara mahasiswa dan komunitas di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng-Bali. Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jepang (PBJ)...

Read moreDetails

12.000 Pohon untuk Kurangi Emisi Karbon – Ini Program HUT ke-12 AirNav Indonesia

by tatkala
September 3, 2024
0
12.000 Pohon untuk Kurangi Emisi Karbon – Ini Program HUT ke-12 AirNav Indonesia

PERUBAHAN iklim semakin mendesak perhatian global, didorong oleh emisi karbon yang kian meningkat. Hal ini tak hanya mengancam lingkungan, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Bunut Bolong, Antara Pertemuan, Cinta dan Kenangan

Bunut Bolong, Antara Pertemuan, Cinta dan Kenangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co