2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berjalan Terus dalam Dialog:  Ulasan Pameran “Resonansi Waktu” di Museum Sonobudoyo Yogyakarta

Sectio Agung by Sectio Agung
April 26, 2025
in Ulas Rupa
Berjalan Terus dalam Dialog:  Ulasan Pameran “Resonansi Waktu” di Museum Sonobudoyo Yogyakarta

Pameran "Resonansi Waktu" di Museum Sonobudoyo Yogyakarta

WAKTU sebagai suatu yang berjalan lurus adalah sebuah pandangan yang kiranya perlu untuk digugat terus. Cara melihat waktu serupa ini tentu berguna untuk membagi-baginya – memberinya label detik, menit, dan jam. Sederhananya untuk bisa mengendalikan.

Keinginan untuk mengendalikan, yang khas cara melihat setiap hal dalam logika modern, perlu dibaca ulang. Menempatkan kembali diri kita, manusia, bukan sebagai pusat dari segalanya menurut saya bijak untuk dilakukan. Bagaimana jadinya jika waktu tidak berjalan lurus? Bagaimana jika waktu itu terlipat dan yang kita anggap sebagai yang sekarang maupun yang dulu ada dalam satu tempat? Barangkali kita jadi terheran-heran, barangkali juga, kita bisa menyingkap hal-hal baru yang tidak kita sadari sebelumnya.

Pada sebuah pameran yang diadakan pada tahun 1981, bertajuk Westkunst, Zeitegnossische Kunst seit 1939 (Seni Barat, Seni Kontemporer sejak 1939), ditampilkan karya-karya seni Barat yang dianggap paling mewakili zamannya. Tiap periode dibagi-bagi dan dibuatkan ruang sendiri. Pengunjung museum pun datang dan seakan diajak menyusuri sejarah seni yang berprogres, yang maju, yang terus berkembang secara formal.[1] Pendekatan kuratorial yang menampilkan seni sebagai suatu progres historis formal merupakan bentuk sikap mereka yang melihat bahwa seni Avant Garde setelah perang dunia kedua kehilangan semangat beserta daya pembebasannya, seni Avant Garde kemudian menjadi “seni museum“.[2]  Sungguhpun sekadar seni museum orang-orang Westkunst tetap percaya ada yang abadi pada kualitas intrinsik sang karya maupun seniman.

Salah satu karya dalam pameran “Resonansi Waktu” di Museum Sonobudoyo Yogyakarta

Melangkah jauh, pada tanggal 25 April 2025, digelar sebuah pameran yang berbeda sekali pendekatannya dengan Westkunst, bertajuk Resonansi Waktu di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Menampilkan 48 karya dari 31 seniman pameran ini dikuratori oleh Dianna Raa‘difah. Utamanya, pameran ini berupaya untuk menampilkan karya-karya seniman muda dan tua. Pameran ini, meski dengan panel-panel yang serupa lorong seperti pada Westkunst, akan tetapi tidak berupaya menampilkan karya dalam sebuah liniearitas dan progres. Alih-alih pameran dirancang sebagai sebuah ruang terlipat dimana seniman muda dan tua menubuh dengan narasi pameran. Sang kurator tampaknya percaya pada yang formal dalam sebuah karya terdapat pula kandungan yang historis, dengan kesan dan rasanya sendiri yang sangat terkait dengan seniman beserta lingkunganya.

Karya-karya lintas generasi dari seniman semacam Widayat dan Nasirun hingga Flea Aura dan Andika Namaste marak meriah dalam pameran ini.

Pada salah sebuah instalasi karya Widayat, berjudul Topeng Primitif (1999) tampak sebuah dua potong kayu yang digambari dengan tinta membentuk semacam topeng tribal yang kasar dan asing tetapi matang. Dunia pada karya Widayat merupakan sebuah dunia yang luwes dan arkais. Simbol-simbolnya signifikan dan ramai. Kadang juga terasa mistis. Gaya dekoratif tribal serupa dapat ditemukan pula pada karya Widayat lain yang diapamerkan disini berjudul Sedang Mancing Kebelet Kencing. Karya ini bermedium kanvas dengan hasil cukilan kayu, menampilkan figur seorang seperti berdiri kencing dengan latar dekorasi ikan dan air.

Pengunjung menikmati  pameran “Resonansi Waktu” di Museum Sonobudoyo Yogyakarta

Dunia lain tampak pada sebuah karya lain yang teramat menarik hati dari seorang seniman muda. Sebuah lukisan oleh Flea Aura yang berjudul When Time are Spirals, Nothing is Linear Anymore: Spiraling Through What Was Never Ends (2025) yang didominasi warna merah dan figure tengkorak serta mahluk seperti buaya. Lukisan ini mengesankan objek-objek yang terbakar dengan api sebagai sebuah simbol emosi dan kekerasan waktu. Waktu maka menjadi sebagai suatu yang mampu membakar dengan ingatan dan harapan sekarang maupun masa lalu.

Pameran ini membawa pengunjungnya untuk berjalan terus dalam dialog dan komunikasi lintas generasi ini. Ruang ke ruang meriah dengan dialog karya-karya yang menempatinya.

Di ruang yang paling tengah – dan yang paling besar, dalam alur pameran terdapat sebuah intalasi kain yang begitu megahnya. Sebuah bendera digantung dari Kolektif Jalan Gelap yang berjudul Limbicium Seiklus (2024) berukuran 3 x 3 meter. Karya ini secara cermat membawa ilmu pengetahuan neurologi mengenai kebahagiaan dan menjelaskan proses otak dalam penciptaan rasa bahagia dan tautan trauma dan kebahagian dibentuk dengan grafik-grafik khas mereka. Mereka tidak takut kelihatan memesinkan kerja emosional manusia dengan menghadirkan ilmu neurologi melainkan melalui karya mereka, kerja emosi manusia malahan terlihat begitu dalamnya. Tidak dapat dipungkiri, ilmu neurologi adalah sebagian dari beberapa cabang ilmu yang berkembangnya amat pesat di masa sekarang. Bagi saya, maka, respon mereka terhadap ilmu pengetahuan bukan saja menunjukkan kedalaman sang seniman, melainkan juga merupakan sebuah tanda; seniman sebagi produk zaman yang mana.

Mengutip dari teks kuratorial, sang kurator berupaya membangun semacam jembatan yang ia harapkan bekerja secara harmonis. Oleh sebab itu, ruang karya-karya berada tidak diusahakan untuk terlihat kontras antar generasinya.

Pengunjung membaca teks pameran “Resonansi Waktu” di Museum Sonobudoyo Yogyakarta  

Saya memuji upaya kurator yang saya rasa telah mengonsepsi waktu sebagai suatu yang luwes dan cair, konsep waktu yang amat kiwari.

Sebab seperti yang saya lihat disini, karya-karya berkomunikasi bukan untuk saling setuju dan saling memberi pengetahuan satu sama lain. Karya-karya dalam ruang yang tidak beraturan kronologisnya, yang terlipat keterkaitan waktunya, justru menunjukkan sebuah khaos yang meletup-letupkan sebuah penawaran baru. Pameran ini bagi saya telah berhasil dalam menggerakkan hati dan membuat tersenyum senang dalam menciptakan dialog berisik antar seniman. Sahut-sahutan yang dari awal hingga akhirnya membangun antusiasme kepada siapa saja yang melaluinya, dengan begitu dialog ini harmonis dengan caranya sendiri. [T]


[1] Poinsot, J. M. (1996). Large exhibitions: a sketch of a typology. In Thinking about exhibitions.

[2]Calvocoressi, R. (1981). Cologne: Westkunst. The Burlington Magazine, 123(943), 634–638. http://www.jstor.org/stable/880388

Penulis: Sectio Agung
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
I ❤ Bali : Masyarakat Bali yang Merasa Asing di Tanahnya Sendiri
Catatan Pendek Sekali: Pameran Tunggal Naela Ali, The Beauty of The Mundane
ARTSUBS: Seniman, Platform dan Pasar
Tags: museum sonobudoyoPameran Seni RupaSeni RupaYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Harmoni di Yogyakarta: Galungan yang Melampaui Batas Geografis

Next Post

Sudah Saatnya Membangun “Eco Office” di Tempat Kerja

Sectio Agung

Sectio Agung

Sekarang sedang belajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta program studi Tata Kelola Seni. Penulis tertarik dalam bidang filsafat dan kritik seni. IG @sectioa

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Sudah Saatnya Membangun “Eco Office” di Tempat Kerja

Sudah Saatnya Membangun “Eco Office” di Tempat Kerja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co