23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berjalan Terus dalam Dialog:  Ulasan Pameran “Resonansi Waktu” di Museum Sonobudoyo Yogyakarta

Sectio Agung by Sectio Agung
April 26, 2025
in Ulas Rupa
Berjalan Terus dalam Dialog:  Ulasan Pameran “Resonansi Waktu” di Museum Sonobudoyo Yogyakarta

Pameran "Resonansi Waktu" di Museum Sonobudoyo Yogyakarta

WAKTU sebagai suatu yang berjalan lurus adalah sebuah pandangan yang kiranya perlu untuk digugat terus. Cara melihat waktu serupa ini tentu berguna untuk membagi-baginya – memberinya label detik, menit, dan jam. Sederhananya untuk bisa mengendalikan.

Keinginan untuk mengendalikan, yang khas cara melihat setiap hal dalam logika modern, perlu dibaca ulang. Menempatkan kembali diri kita, manusia, bukan sebagai pusat dari segalanya menurut saya bijak untuk dilakukan. Bagaimana jadinya jika waktu tidak berjalan lurus? Bagaimana jika waktu itu terlipat dan yang kita anggap sebagai yang sekarang maupun yang dulu ada dalam satu tempat? Barangkali kita jadi terheran-heran, barangkali juga, kita bisa menyingkap hal-hal baru yang tidak kita sadari sebelumnya.

Pada sebuah pameran yang diadakan pada tahun 1981, bertajuk Westkunst, Zeitegnossische Kunst seit 1939 (Seni Barat, Seni Kontemporer sejak 1939), ditampilkan karya-karya seni Barat yang dianggap paling mewakili zamannya. Tiap periode dibagi-bagi dan dibuatkan ruang sendiri. Pengunjung museum pun datang dan seakan diajak menyusuri sejarah seni yang berprogres, yang maju, yang terus berkembang secara formal.[1] Pendekatan kuratorial yang menampilkan seni sebagai suatu progres historis formal merupakan bentuk sikap mereka yang melihat bahwa seni Avant Garde setelah perang dunia kedua kehilangan semangat beserta daya pembebasannya, seni Avant Garde kemudian menjadi “seni museum“.[2]  Sungguhpun sekadar seni museum orang-orang Westkunst tetap percaya ada yang abadi pada kualitas intrinsik sang karya maupun seniman.

Salah satu karya dalam pameran “Resonansi Waktu” di Museum Sonobudoyo Yogyakarta

Melangkah jauh, pada tanggal 25 April 2025, digelar sebuah pameran yang berbeda sekali pendekatannya dengan Westkunst, bertajuk Resonansi Waktu di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Menampilkan 48 karya dari 31 seniman pameran ini dikuratori oleh Dianna Raa‘difah. Utamanya, pameran ini berupaya untuk menampilkan karya-karya seniman muda dan tua. Pameran ini, meski dengan panel-panel yang serupa lorong seperti pada Westkunst, akan tetapi tidak berupaya menampilkan karya dalam sebuah liniearitas dan progres. Alih-alih pameran dirancang sebagai sebuah ruang terlipat dimana seniman muda dan tua menubuh dengan narasi pameran. Sang kurator tampaknya percaya pada yang formal dalam sebuah karya terdapat pula kandungan yang historis, dengan kesan dan rasanya sendiri yang sangat terkait dengan seniman beserta lingkunganya.

Karya-karya lintas generasi dari seniman semacam Widayat dan Nasirun hingga Flea Aura dan Andika Namaste marak meriah dalam pameran ini.

Pada salah sebuah instalasi karya Widayat, berjudul Topeng Primitif (1999) tampak sebuah dua potong kayu yang digambari dengan tinta membentuk semacam topeng tribal yang kasar dan asing tetapi matang. Dunia pada karya Widayat merupakan sebuah dunia yang luwes dan arkais. Simbol-simbolnya signifikan dan ramai. Kadang juga terasa mistis. Gaya dekoratif tribal serupa dapat ditemukan pula pada karya Widayat lain yang diapamerkan disini berjudul Sedang Mancing Kebelet Kencing. Karya ini bermedium kanvas dengan hasil cukilan kayu, menampilkan figur seorang seperti berdiri kencing dengan latar dekorasi ikan dan air.

Pengunjung menikmati  pameran “Resonansi Waktu” di Museum Sonobudoyo Yogyakarta

Dunia lain tampak pada sebuah karya lain yang teramat menarik hati dari seorang seniman muda. Sebuah lukisan oleh Flea Aura yang berjudul When Time are Spirals, Nothing is Linear Anymore: Spiraling Through What Was Never Ends (2025) yang didominasi warna merah dan figure tengkorak serta mahluk seperti buaya. Lukisan ini mengesankan objek-objek yang terbakar dengan api sebagai sebuah simbol emosi dan kekerasan waktu. Waktu maka menjadi sebagai suatu yang mampu membakar dengan ingatan dan harapan sekarang maupun masa lalu.

Pameran ini membawa pengunjungnya untuk berjalan terus dalam dialog dan komunikasi lintas generasi ini. Ruang ke ruang meriah dengan dialog karya-karya yang menempatinya.

Di ruang yang paling tengah – dan yang paling besar, dalam alur pameran terdapat sebuah intalasi kain yang begitu megahnya. Sebuah bendera digantung dari Kolektif Jalan Gelap yang berjudul Limbicium Seiklus (2024) berukuran 3 x 3 meter. Karya ini secara cermat membawa ilmu pengetahuan neurologi mengenai kebahagiaan dan menjelaskan proses otak dalam penciptaan rasa bahagia dan tautan trauma dan kebahagian dibentuk dengan grafik-grafik khas mereka. Mereka tidak takut kelihatan memesinkan kerja emosional manusia dengan menghadirkan ilmu neurologi melainkan melalui karya mereka, kerja emosi manusia malahan terlihat begitu dalamnya. Tidak dapat dipungkiri, ilmu neurologi adalah sebagian dari beberapa cabang ilmu yang berkembangnya amat pesat di masa sekarang. Bagi saya, maka, respon mereka terhadap ilmu pengetahuan bukan saja menunjukkan kedalaman sang seniman, melainkan juga merupakan sebuah tanda; seniman sebagi produk zaman yang mana.

Mengutip dari teks kuratorial, sang kurator berupaya membangun semacam jembatan yang ia harapkan bekerja secara harmonis. Oleh sebab itu, ruang karya-karya berada tidak diusahakan untuk terlihat kontras antar generasinya.

Pengunjung membaca teks pameran “Resonansi Waktu” di Museum Sonobudoyo Yogyakarta  

Saya memuji upaya kurator yang saya rasa telah mengonsepsi waktu sebagai suatu yang luwes dan cair, konsep waktu yang amat kiwari.

Sebab seperti yang saya lihat disini, karya-karya berkomunikasi bukan untuk saling setuju dan saling memberi pengetahuan satu sama lain. Karya-karya dalam ruang yang tidak beraturan kronologisnya, yang terlipat keterkaitan waktunya, justru menunjukkan sebuah khaos yang meletup-letupkan sebuah penawaran baru. Pameran ini bagi saya telah berhasil dalam menggerakkan hati dan membuat tersenyum senang dalam menciptakan dialog berisik antar seniman. Sahut-sahutan yang dari awal hingga akhirnya membangun antusiasme kepada siapa saja yang melaluinya, dengan begitu dialog ini harmonis dengan caranya sendiri. [T]


[1] Poinsot, J. M. (1996). Large exhibitions: a sketch of a typology. In Thinking about exhibitions.

[2]Calvocoressi, R. (1981). Cologne: Westkunst. The Burlington Magazine, 123(943), 634–638. http://www.jstor.org/stable/880388

Penulis: Sectio Agung
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
I ❤ Bali : Masyarakat Bali yang Merasa Asing di Tanahnya Sendiri
Catatan Pendek Sekali: Pameran Tunggal Naela Ali, The Beauty of The Mundane
ARTSUBS: Seniman, Platform dan Pasar
Tags: museum sonobudoyoPameran Seni RupaSeni RupaYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Harmoni di Yogyakarta: Galungan yang Melampaui Batas Geografis

Next Post

Sudah Saatnya Membangun “Eco Office” di Tempat Kerja

Sectio Agung

Sectio Agung

Sekarang sedang belajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta program studi Tata Kelola Seni. Penulis tertarik dalam bidang filsafat dan kritik seni. IG @sectioa

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Sudah Saatnya Membangun “Eco Office” di Tempat Kerja

Sudah Saatnya Membangun “Eco Office” di Tempat Kerja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co