4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lebaran : Sebuah Praktik Komunikasi Keluarga

Wisnu Widjanarko by Wisnu Widjanarko
April 3, 2025
in Esai
Mempertanyakan Cinta : Meniti Rasa, Menata Jiwa

Wisnu Widjanarko

Prolog

Sebagaimana diketahui bersama, Hari Raya Idulfitri merupakan salah satu perayaan hari besar bagi umat islam di seluruh dunia. Setelah satu bulan menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadan, maka tepat ketika memasuki bulan baru, yakni Syawal, maka dengan sepenuh sukacita dan rasa syukur penuh khidmat dirayakan sebagai momen yang  kerap disebut ‘hari kemenangan’ sebagai perlambang keberhasilan manusia mengalahkan hawa nafsu, memperkuat kedekatan kepada yang Illahi, sekaligus mengokohkan kepekaan sosial yang religius melalui keberbagian kepada mereka yang papa.

Namun, bagi umat Islam di Indonesia, Idulfitri – yang kerap juga disebut Hari Lebaran – memiliki arti tersendiri. Tidak hanya memiliki makna sebagai artikulasi keagamaan semata, melainkan juga sebagai sebuah ekspresi sosiokultural, yakni momen silaturahmi bersama keluarga, kerabat dan handai taulan.  Idulfitri atau Lebaran juga identik dengan ‘mudik’ atau yang tafsir bebasnya adalah berkumpulnya seluruh anggota keluarga yang sudah ‘berpencar’ kembali ke rumah orangtua di kampung halaman. Rumah mereka yang dituakan, yang biasanya sunyi tetiba ramai riuh kedatangan anak-anak, cucu bahkan cicit!  Semua berikhtiar dengan apa yang ada, mengupayakan hari raya menjadi momen yang berkesan bagi seluruh anggota keluarga.

Fenomena Lebaran tentunya menarik untuk dilihat dari berbagai cara pandang, termasuk perspektif keilmuan sosial humaniora.  Sebagai sebuah perilaku manusia, tentunya dinamika yang berlangsung selama hari raya ini dapat disimak dari ragam dimensi, sebut saja dari aspek sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, hingga kebijakan publik. Namun, secara khusus, artikel ini akan melihatnya dari sudut pandang studi komunikasi keluarga, khususnya dalam ‘membaca’ Lebaran sebagai praktik komunikasi keluarga yang khas menjadi kisah dari nusantara.

Mudik sebagai Penegasan Identitas Keluarga

Betapa luar biasanya fenomena mudik! Dia mampu menghadirkan energi tersendiri bagi seseorang – bahkan masyarakat – untuk meluangkan waktu dan mengerahkan sumberdaya yang dimiliki untuk dalam satu kurun waktu yang sama menuju satu titik, yakni rumah di mana dia berasal. Rela berjuang untuk mendapatkan tiket moda transportasi umum, tetap semangat walau berada dalam kemacetan, serta tentunya dengan tingkatan relatifnya, semua juga menyisihkan simpanannya untuk membawa buah tangan atau ‘THR’ untuk kerabat – biasanya anak-anak kecil – yang dibagikan di hari raya. Tidak hanya yang mudik yang berjuang, yang menjadi tuan rumah pun tidak kalah mengupayakannya. Mulai dari mempersiapkan rumah agar nyaman dikunjungi oleh semua kerabat,  menyajikan hidangan dan/atau kudapan khas hari raya, setidaknya ini menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam mempersiapkan kedatangan keluarga dan handai taulan yang akan datang bersilaturahim.

Mengapa semuanya mengikhtiarkan? Mudik dalam perspektif komunikasi keluarga bisa dikatakan sebagai momen untuk menegaskan identitas sebagai anggota keluarga. Keluarga tidak hanya dimaknai sebagai sebuah struktur formal serta pemeranan fungsi normatif semata, melainkan juga sebagai ruang interaksi di mana keberbagian dan kepemilikan menjadi penanda sebagai anggota keluarga. Sebagai struktur formal, mereka yang sudah beranjak dewasa dan sudah berkeluarga, tentunya sudah memiliki kehidupannya masing-masing. Mereka telah menjadi ‘keluarga yang lain’ dengan menjadi suami atau istri termasuk mungkin telah menjadi orangtua bagi anak-anaknya.

Mudik menjadi penegasan identitas, bahwa meskipun telah menjadi ‘seseorang’ dengan kisahnya masing-masing, mereka tetaplah anak yang memiliki orangtua, tempat di mana kasih sayang dan restunya menjadi segalanya. Tidak hanya sebagai anak, melainkan juga sebagai seorang kakak atau adik, di mana mudik menjadi momen mendaur masa yang efektif untuk semakin merekatkan atau boleh jadi memulihkan interaksi yang kian tergerus oleh kesibukan serta kedirian masing-masing setelah dewasa. Mudik menjadi ruang dan waktu di mana relasi dalam keluarga atau keluarga besar – bila sudah memiliki anak dan cucu – disegarkan kembali akan akar kesejarahan hidup bermula, mengumpulkan yang berserak yang dipersatukan atas pertalian darah serta perkawinan, untuk satu tujuan sederhana, yakni tetap adanya rasa memiliki sebagai keluarga. Hal ini berlaku juga bagi orangtua, di mana kehadiran anak-menantu, cucu hingga cicit menjadi penanda akan diri mereka telah mengantarkan anak-anaknya berproses dan mendewasa. Walhasil, menjadi rasa bahagia tersendiri melihat kedatangan mereka, terlepas dari apa dan bagaimana pencapaiannya masing-masing.

Mudik sebagai Ruang dan Waktu Interaksi Keluarga

Tentu saja, mudik tidak bisa tidak menjadi ruang dan waktu berinteraksi, mulai dari mempersiapkan mudik, selama mudik di hari raya, termasuk setelahnya, semuanya akan melibatkan adanya pertukaran informasi dan interaksi antaranggota keluarga, termasuk membangun makna bersama. Selama mempersiapkan, anggota keluarga dengan seluruh jejaringnya akan saling bertukar informasi, sebut saja, kapan akan datang, siapa saja yang akan datang, apa dan bagaimana rencana selama di rumah keluarga. Begitu pula, ketika selama mudik, tentu menjadi puncak interaksi itu sendiri. Mulai dari mempersiapkan salat id, mempersiapkan hidangan dan kudapan, perbincangan dengan keluarga inti beserta keluarga besar hingga kerabat dan tetangga, serta sekembalinya, bercerita kembali selama perjalanan pulang tentang apa-apa yang baru saja dialaminya dan menjadi refleksi dan bagian dari otentisitas saat menjalankan kehidupannya masing-masing setelah pulang.

Interaksi yang berlangsung selama mudik diantara anggota keluarga sangatlah dinamis, senantiasa terikat konteks dalam menuju apa yang dikehendaki oleh keluarga secara otentik. Perbincangan akan menjadi sesuatu yang positif, konstruktif, dan membahagiakan ketika atmosfer komunikasi berlangsung secara supportif. Sebagaimana sebaliknya, berpotensi menjadi sesuatu yang negatif dan destruktif, ketika yang diperbincangkan melampaui batas-batas demarkasi anggota keluarga yang lain, sesuatu yang sensitif diperbincangkan, termasuk ketika iklim komunikasi cenderung kompetitif. Sehingga, menahan diri untuk tidak mempertanyakan sesuatu yang potensial menggerus kenyamanan anggota keluarga lain penting adanya. Sebut saja, pencapaian salah satu anggota keluarga akan dimaknai sebagai rasa syukur ketika disampaikan dalam proporsi sebagai informasi semata, namun akan menjadi pemantik rasa iri bagi yang lain, ketika itu diglorifikasi atau menjadi terlalu memenuhi panggung komunikasi selama persamuhan keluarga tersebut.

Hal tersebut terjadi, karena mereka yang mudik adalah individu-individu yang tidak lagi ‘anak kecil’ meskipun di rumah tempat mereka bermula akan selalu menjadi ‘anak kecil’ bagi orangtua. Mudik menjadi medan interaksi yang akan mempengaruhi bagaimana kelanjutan hubungan antaranggota keluarga, karena setiap pesan yang dipertukarkan akan dapat mempengaruhi kualitas serta kenyamanan dalam mengidentifikasi diri sebagai anggota keluarga. Sehingga, penting adanya  meletakkan setiap informasi yang dipertukarkan adalah selalu ketika dia bermakna dan berdampak positif sebagai anggota keluarga. Satu dua hari bersama yang intens sebagai satu keluarga, akan menjadi energi yang sangat positif, ketika semua meletakkan diri memanfaatkan mudik sebagai momen penyegaran hubungan yang dapat memperkuat jati diri sebagai anggota keluarga.   

Epilog

Mudik sejatinya menjadi ruang medan simbolik yang tercipta melalui interaksi antaranggota, sekaligus menjadi sebuah kekuatan yang mengokohkannya.  Ketika seluruh anggota keluarga memahami dan mengambil peran yang seyogyanya dilakukan, maka  keberadaannya akan menjadi manfaat dan kebermaknaan bagi anggota keluarga yang lain.  Mudik juga merupakan energi cinta bagi keluarga, di mana mudik menjadi artikulasi paling nyata akan kepekaan yang disertai sikap kesalingan diantara seluruh anggota keluarga yang telah mengupayakan untuk bisa datang untuk mudik Lebaran.

Tidaklah heran bila mudik bisa dikatakan sebagai sebuah praktik komunikasi keluarga.  Sejalan dengan pemikiran Widjanarko, Runtiko & Marhaeni (2023) bahwa menjadi keluarga hakikatnya adalah berkomunikasi, sebagai sebuah proses berkeluarga melalui interaksi yang dilandasi oleh keberbagian makna pada individu-individu yang berada di dalamnya. Mudik tidak akan terjadi, saat proses berkeluarga tidak terjadi Mudik tidak akan terjadi, bila tanpa interaksi. Sebagaimana mudik hanya akan menjadi imaji belaka, manakala tiada makna akan keluarga padanya.  Sehingga, tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa mudik sungguh sebuah momentum luar biasa dalam meneguhkan atau menemukan kembali, sekaligus  merayakan kebersyukuran sebagai keluarga. [T]

Penulis: Wisnu Widjanarko
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Lebaran: Sarana Komunikasi Sosial, Ekspresi, Ritual, dan Instrumental
Lebaran, Masyarakat Tradisional, dan Komunikasi
Mudik Tanpa Tiket: Pulang dalam Ingatan, Bukan dalam Langkah

Tags: Idul FitriIdulfitriIslamLebaranmudik lebaranMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kembang Rampe dan Kebodohan yang Dipelihara

Next Post

Kisah Kasih Sisa Nasi di Malam Hari

Wisnu Widjanarko

Wisnu Widjanarko

Dosen Psikologi Komunikasi dan Komunikasi Keluarga pada Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Puasa Sehat Ramadan: Menu Apa yang Sebaiknya Dipilih Saat Sahur dan Berbuka?

Kisah Kasih Sisa Nasi di Malam Hari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co