25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lebaran : Sebuah Praktik Komunikasi Keluarga

Wisnu Widjanarko by Wisnu Widjanarko
April 3, 2025
in Esai
Mempertanyakan Cinta : Meniti Rasa, Menata Jiwa

Wisnu Widjanarko

Prolog

Sebagaimana diketahui bersama, Hari Raya Idulfitri merupakan salah satu perayaan hari besar bagi umat islam di seluruh dunia. Setelah satu bulan menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadan, maka tepat ketika memasuki bulan baru, yakni Syawal, maka dengan sepenuh sukacita dan rasa syukur penuh khidmat dirayakan sebagai momen yang  kerap disebut ‘hari kemenangan’ sebagai perlambang keberhasilan manusia mengalahkan hawa nafsu, memperkuat kedekatan kepada yang Illahi, sekaligus mengokohkan kepekaan sosial yang religius melalui keberbagian kepada mereka yang papa.

Namun, bagi umat Islam di Indonesia, Idulfitri – yang kerap juga disebut Hari Lebaran – memiliki arti tersendiri. Tidak hanya memiliki makna sebagai artikulasi keagamaan semata, melainkan juga sebagai sebuah ekspresi sosiokultural, yakni momen silaturahmi bersama keluarga, kerabat dan handai taulan.  Idulfitri atau Lebaran juga identik dengan ‘mudik’ atau yang tafsir bebasnya adalah berkumpulnya seluruh anggota keluarga yang sudah ‘berpencar’ kembali ke rumah orangtua di kampung halaman. Rumah mereka yang dituakan, yang biasanya sunyi tetiba ramai riuh kedatangan anak-anak, cucu bahkan cicit!  Semua berikhtiar dengan apa yang ada, mengupayakan hari raya menjadi momen yang berkesan bagi seluruh anggota keluarga.

Fenomena Lebaran tentunya menarik untuk dilihat dari berbagai cara pandang, termasuk perspektif keilmuan sosial humaniora.  Sebagai sebuah perilaku manusia, tentunya dinamika yang berlangsung selama hari raya ini dapat disimak dari ragam dimensi, sebut saja dari aspek sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, hingga kebijakan publik. Namun, secara khusus, artikel ini akan melihatnya dari sudut pandang studi komunikasi keluarga, khususnya dalam ‘membaca’ Lebaran sebagai praktik komunikasi keluarga yang khas menjadi kisah dari nusantara.

Mudik sebagai Penegasan Identitas Keluarga

Betapa luar biasanya fenomena mudik! Dia mampu menghadirkan energi tersendiri bagi seseorang – bahkan masyarakat – untuk meluangkan waktu dan mengerahkan sumberdaya yang dimiliki untuk dalam satu kurun waktu yang sama menuju satu titik, yakni rumah di mana dia berasal. Rela berjuang untuk mendapatkan tiket moda transportasi umum, tetap semangat walau berada dalam kemacetan, serta tentunya dengan tingkatan relatifnya, semua juga menyisihkan simpanannya untuk membawa buah tangan atau ‘THR’ untuk kerabat – biasanya anak-anak kecil – yang dibagikan di hari raya. Tidak hanya yang mudik yang berjuang, yang menjadi tuan rumah pun tidak kalah mengupayakannya. Mulai dari mempersiapkan rumah agar nyaman dikunjungi oleh semua kerabat,  menyajikan hidangan dan/atau kudapan khas hari raya, setidaknya ini menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam mempersiapkan kedatangan keluarga dan handai taulan yang akan datang bersilaturahim.

Mengapa semuanya mengikhtiarkan? Mudik dalam perspektif komunikasi keluarga bisa dikatakan sebagai momen untuk menegaskan identitas sebagai anggota keluarga. Keluarga tidak hanya dimaknai sebagai sebuah struktur formal serta pemeranan fungsi normatif semata, melainkan juga sebagai ruang interaksi di mana keberbagian dan kepemilikan menjadi penanda sebagai anggota keluarga. Sebagai struktur formal, mereka yang sudah beranjak dewasa dan sudah berkeluarga, tentunya sudah memiliki kehidupannya masing-masing. Mereka telah menjadi ‘keluarga yang lain’ dengan menjadi suami atau istri termasuk mungkin telah menjadi orangtua bagi anak-anaknya.

Mudik menjadi penegasan identitas, bahwa meskipun telah menjadi ‘seseorang’ dengan kisahnya masing-masing, mereka tetaplah anak yang memiliki orangtua, tempat di mana kasih sayang dan restunya menjadi segalanya. Tidak hanya sebagai anak, melainkan juga sebagai seorang kakak atau adik, di mana mudik menjadi momen mendaur masa yang efektif untuk semakin merekatkan atau boleh jadi memulihkan interaksi yang kian tergerus oleh kesibukan serta kedirian masing-masing setelah dewasa. Mudik menjadi ruang dan waktu di mana relasi dalam keluarga atau keluarga besar – bila sudah memiliki anak dan cucu – disegarkan kembali akan akar kesejarahan hidup bermula, mengumpulkan yang berserak yang dipersatukan atas pertalian darah serta perkawinan, untuk satu tujuan sederhana, yakni tetap adanya rasa memiliki sebagai keluarga. Hal ini berlaku juga bagi orangtua, di mana kehadiran anak-menantu, cucu hingga cicit menjadi penanda akan diri mereka telah mengantarkan anak-anaknya berproses dan mendewasa. Walhasil, menjadi rasa bahagia tersendiri melihat kedatangan mereka, terlepas dari apa dan bagaimana pencapaiannya masing-masing.

Mudik sebagai Ruang dan Waktu Interaksi Keluarga

Tentu saja, mudik tidak bisa tidak menjadi ruang dan waktu berinteraksi, mulai dari mempersiapkan mudik, selama mudik di hari raya, termasuk setelahnya, semuanya akan melibatkan adanya pertukaran informasi dan interaksi antaranggota keluarga, termasuk membangun makna bersama. Selama mempersiapkan, anggota keluarga dengan seluruh jejaringnya akan saling bertukar informasi, sebut saja, kapan akan datang, siapa saja yang akan datang, apa dan bagaimana rencana selama di rumah keluarga. Begitu pula, ketika selama mudik, tentu menjadi puncak interaksi itu sendiri. Mulai dari mempersiapkan salat id, mempersiapkan hidangan dan kudapan, perbincangan dengan keluarga inti beserta keluarga besar hingga kerabat dan tetangga, serta sekembalinya, bercerita kembali selama perjalanan pulang tentang apa-apa yang baru saja dialaminya dan menjadi refleksi dan bagian dari otentisitas saat menjalankan kehidupannya masing-masing setelah pulang.

Interaksi yang berlangsung selama mudik diantara anggota keluarga sangatlah dinamis, senantiasa terikat konteks dalam menuju apa yang dikehendaki oleh keluarga secara otentik. Perbincangan akan menjadi sesuatu yang positif, konstruktif, dan membahagiakan ketika atmosfer komunikasi berlangsung secara supportif. Sebagaimana sebaliknya, berpotensi menjadi sesuatu yang negatif dan destruktif, ketika yang diperbincangkan melampaui batas-batas demarkasi anggota keluarga yang lain, sesuatu yang sensitif diperbincangkan, termasuk ketika iklim komunikasi cenderung kompetitif. Sehingga, menahan diri untuk tidak mempertanyakan sesuatu yang potensial menggerus kenyamanan anggota keluarga lain penting adanya. Sebut saja, pencapaian salah satu anggota keluarga akan dimaknai sebagai rasa syukur ketika disampaikan dalam proporsi sebagai informasi semata, namun akan menjadi pemantik rasa iri bagi yang lain, ketika itu diglorifikasi atau menjadi terlalu memenuhi panggung komunikasi selama persamuhan keluarga tersebut.

Hal tersebut terjadi, karena mereka yang mudik adalah individu-individu yang tidak lagi ‘anak kecil’ meskipun di rumah tempat mereka bermula akan selalu menjadi ‘anak kecil’ bagi orangtua. Mudik menjadi medan interaksi yang akan mempengaruhi bagaimana kelanjutan hubungan antaranggota keluarga, karena setiap pesan yang dipertukarkan akan dapat mempengaruhi kualitas serta kenyamanan dalam mengidentifikasi diri sebagai anggota keluarga. Sehingga, penting adanya  meletakkan setiap informasi yang dipertukarkan adalah selalu ketika dia bermakna dan berdampak positif sebagai anggota keluarga. Satu dua hari bersama yang intens sebagai satu keluarga, akan menjadi energi yang sangat positif, ketika semua meletakkan diri memanfaatkan mudik sebagai momen penyegaran hubungan yang dapat memperkuat jati diri sebagai anggota keluarga.   

Epilog

Mudik sejatinya menjadi ruang medan simbolik yang tercipta melalui interaksi antaranggota, sekaligus menjadi sebuah kekuatan yang mengokohkannya.  Ketika seluruh anggota keluarga memahami dan mengambil peran yang seyogyanya dilakukan, maka  keberadaannya akan menjadi manfaat dan kebermaknaan bagi anggota keluarga yang lain.  Mudik juga merupakan energi cinta bagi keluarga, di mana mudik menjadi artikulasi paling nyata akan kepekaan yang disertai sikap kesalingan diantara seluruh anggota keluarga yang telah mengupayakan untuk bisa datang untuk mudik Lebaran.

Tidaklah heran bila mudik bisa dikatakan sebagai sebuah praktik komunikasi keluarga.  Sejalan dengan pemikiran Widjanarko, Runtiko & Marhaeni (2023) bahwa menjadi keluarga hakikatnya adalah berkomunikasi, sebagai sebuah proses berkeluarga melalui interaksi yang dilandasi oleh keberbagian makna pada individu-individu yang berada di dalamnya. Mudik tidak akan terjadi, saat proses berkeluarga tidak terjadi Mudik tidak akan terjadi, bila tanpa interaksi. Sebagaimana mudik hanya akan menjadi imaji belaka, manakala tiada makna akan keluarga padanya.  Sehingga, tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa mudik sungguh sebuah momentum luar biasa dalam meneguhkan atau menemukan kembali, sekaligus  merayakan kebersyukuran sebagai keluarga. [T]

Penulis: Wisnu Widjanarko
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Lebaran: Sarana Komunikasi Sosial, Ekspresi, Ritual, dan Instrumental
Lebaran, Masyarakat Tradisional, dan Komunikasi
Mudik Tanpa Tiket: Pulang dalam Ingatan, Bukan dalam Langkah

Tags: Idul FitriIdulfitriIslamLebaranmudik lebaranMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kembang Rampe dan Kebodohan yang Dipelihara

Next Post

Kisah Kasih Sisa Nasi di Malam Hari

Wisnu Widjanarko

Wisnu Widjanarko

Dosen Psikologi Komunikasi dan Komunikasi Keluarga pada Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Puasa Sehat Ramadan: Menu Apa yang Sebaiknya Dipilih Saat Sahur dan Berbuka?

Kisah Kasih Sisa Nasi di Malam Hari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co