4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Nyegara-Gunung” dan Tari Nelayan yang Jadi Renungan | Catatan “Les Ngembak Festival 2025”

Son Lomri by Son Lomri
April 2, 2025
in Panggung
“Nyegara-Gunung” dan Tari Nelayan yang Jadi Renungan | Catatan “Les Ngembak Festival 2025”

Tari Nelayan pada Les Ngembak festival 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy

DI Desa Les, gunung dan laut saling berhadapan. Sebab itulah nyegara-gunung dalam Les Ngembak Festival, Minggu, 30 Maret 2025, diabadikan sebagai akar filosofis—ruh festival mereka, ketika mengenalkan diri sebagai desa wisata.

Melalui pembicaraan pariwisata, merawat alam menjadi fokus utamanya. Kalau alam baik, keindahannya akan tetap bertahan. Sebab alam yang sehat, di luar maupun dari dalam, membuat segenap makhluk yang hidup di sana akan sejahtera. Termasuk manusianya.

Dan melalui pembicaraan pariwisata, cara pandang materialistik cukup menjalar di masyarakat. Masyarakat merasa diri mesti mengurangi buang sampah sembarang, agar desa mereka tetap bersih. Agar terus-terus menjadi daerah pariwisata—yang mendatangkan banyak orang, dan menaburkan uang di setiap jajanan lokal .

Tetapi saya yakin, bukan hanya sekadar uang yang dicari oleh masyarakat Desa Les. Tetapi juga kesehatan alamnya yang mereka hormati sejak dulu. Sehingga, membahas laut atau gunung, berarti pula membahas keselamatan manusianya.

Seperti yang dikatakan oleh Muhidin M. Dahlan dalam opininya “Sastra dan Bagaimana Tentara Memandang Laut” di Jawa Pos: “..Barangsiapa kehilangan air, dia kehilangan tanah, barangsiapa kehilangan laut dia kehilangan darat.”

Melalui nukilan di atas, juga spirit Les Ngembak Festival itu, narasi membahas gunung bahwa tak melulu membahas kemolekan pohon-pohon dan hewan-hewannya di dalam hutan. Juga tentang laut, tidak sekadar dibahas bentuk keseksian bibir pantainya, atau kemolekan lautnya yang biru, yang menjadi jingga yang indah ketika sore.  

Tetapi juga membahas perjuangan masyarakat dalam memperlakukan berkat Tuhan itu dengan agung.

Tari Nelayan pada Les Ngembak festival 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy

Sepanjang 5 kilometer pantai terbentang di Desa Les, sepanjang itu masyarakat menggunakannya sebagai wisata desa. Laut terbentang dan biru, dimanfaatkan pula sebagai tempat melaut, menangkap ikan, menghidupi anak dan istri.

Pada satu waktu, ya, di Les Ngembak Festival itu, di sela hujan masih turun, Tari Nelayan ditarikan oleh tiga perempuan masih remaja desa, yakni Kadek Ayu Pratiwi Asih, Luh Anindya Trisna Putri, dan Luh Manis Sri Ayuni. Mereka membawakan satu kontemplasi sangat dalam bagaimana hubungan masyarakat desa dengan laut—sangat kuat.

Tari Nelayan diciptakan I Ketut Merdana di desa Kedis, Kecamatan Busungbiu, Buleleng pada tahun 1960. Sesuai namanya, gerakan yang dihadirkan diadopsi dari gerakan-gerakan nelayan Bali dalam menjalankan aktivitas menangkap ikan. 

Melalalui tarian itu juga, kita membayangkan kembali laut bukan barang mati. Tetapi laut juga hidup seperti gunung yang menumbuhkan pohon-pohon, meneteskan air bening, biasa disebut air terjun.

Laut memberi banyak ikan dan garam—yang menjadi masyarakat desa kuat dan kreatif. Sebab itulah, ia harus diurus. Dimanfaatkan secara baik dan organik. Tak boleh dirusak. Kesadaran material semacam itu, memiliki efek yang baik. Masyarakat seperti meyakini jika rusak alam, rusak diri sendiri.

“Dulu, sempat ada masyakat yang ngambil ikan dengan cara dibom. Tapi itu dulu, sekarang sudah nggak. Laut kita sekarang cukup bersih, apalagi setelah menjadi keunikan desa dalam pariwisata. Setidaknya kesadaran untuk menjaga laut atau gunung itu sudah mulai muncul,” kata Gede Adi Wistara, Perbekel Desa Les di sela acara.

Tari Nelayan pada Les Ngembak festival 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy

Di atas panggung, Kadek Ayu Pratiwi Asih, Luh Anindya Trisna Putri, dan Luh Manis Sri Ayuni—masih menarikan tari nelayan. Di dalam tarian itu, ketiganya memiliki peran masing-masing. Seperti Ayu, ia memiliki peran atau tugas untuk menyimpan ikan.

Sementara Anindya berperan sebagai nelayan yang menangkap ikan, dan Manis Sri bertugas untuk mendayung kapal. Di sana juga ada adegan bagaimana salah satu mereka terluka tangannya. Hal itu membuat para pentonton membayangkan kembali bahwa laut, menjadi tempat berjuangnya masyarakat pesisir.

Luka reda. Ketiga penari itu setelah duduk melingkar, mengobati, mereka berdiri. Kemudian menari lagi hingga selesai…

Melalui gerakan yang dinamis, seperti mendayung, menebar jala, dan menarik ikan, tarian ini mencerminkan keuletan masyarakat di desa itu dalam mencari nafkah di laut. Tarian ini setidaknya menggambarkan  Desa Les sebagai desa dengan potensi bahari yang dimiliki. Kaya.

Tari Nelayan pada Les Ngembak festival 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy

Laut dan gunung sebagai potensi besar masyarakat untuk kembali melakukan hal-hal yang kreatif dan asik. Melalui festival ini, narasi nyegara-gunung kembali dihidupkan.

“Laut menjadi bagian penting harus dirawat dengan kesadaran yang penuh. Menjaganya secara kultural (dengan aktivitas budaya), bukan sekadar kampanye: mari merawat alam dengan cara tidak buang sampah sembarang di laut!” kata Nyoman Nadiana, ketua pelaksana festival. [T]

Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

“Les Ngembak Festival 2025” di Desa Les: Ini Bukan Hanya Soal Pariwisata
Belajar Tari Nelayan Bersama Maestro Ni Ketut Arini
Tahun 1951 di Desa Kedis Pernah Tercipta Tari Pancasila, Kini Dihidupkan Lagi
Tags: bulelengDesa LesLes Fest Ngembak GeniTari Nelayan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Puisi ke Melodi: Jejak Puitis Chairil Anwar dalam Musik Banda Neira

Next Post

Film “Mungkin Kita Perlu Waktu” Tayang 15 Mei 2025 di Bioskop

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails
Next Post
Film “Mungkin Kita Perlu Waktu” Tayang 15 Mei 2025 di Bioskop

Film “Mungkin Kita Perlu Waktu” Tayang 15 Mei 2025 di Bioskop

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co