USAI Hari Raya Nyepi, setelah mengurus acara Les Ngembak Festival di Desa Les, Tejakula, saya sedikit bisa meluangkan waktu untuk berkunjung dan santai di Pagi Motley Studio, di Desa Sembiran.
Hujan yang mengguyur acara Les Ngembak Festival membuat energi saya sebagai panitia terkuras seakan selalu ingin tenggelam dalam meditasi, seperti Nyepi.
Untuk itulah, pagi, Rabu, 2 April 2025, setelah selesai bersih-bersih rumah, saya berkendara ke Desa Sembiran. Lima belas menit ditempuh untuk sampai di Pagi Motley Studio.
Saya bersama Andika Putra (owner Pagi Motley Studio) mencoba kuliner lokal yang sudah sangat dikenal di seantero dunia. Babi guling, ya nasi babi guling.


Babi Guling Luh Eva di Jalan Raya Singaraja-Amlapura, Desa Sembiran, Tejakula, Buleleng bagin timur | Foto: Don
Berjarak cuma 500 meter dari Studio Pagi Motley, saya mencoba kuliner khas orang Bali dari generasi ke generasi ini. Babi Guling Luh Eva, begitu tulisan di sebuah penanda samping jalan.
Luh Eva memang sudah sangat dikenal sebagai penjual babi guling di beberapa tempat di kawasan Tejakula. Ia berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain semenjak puluhan.
“Memasak dan berjualan makanan adalah hobi yang menurun dari ibu saya,” tutur Luh Eva.
Saya memesan nasi guling dan Luh Eva mempersilahkan untuk memilih apa saja daging yang akan dipilih. Urutan (semacam sosis) babi asap, daging gorengan, sate, sayur daun singkong, lawar putih sampai lawar barak (lawar merah) sudah siap untuk disajikan. Sambal sereh dan sambal cabai cincangnya yang khas konon menjadi favorit langganan.
Satu porsi sudah disajikan. Saya duduk di lantai dan mencoba dan melahap satu persatu. Tanpa bermaksud menjadi seorang pengamat kuliner atau penilai, sebagai orang Bali dan Buleleng saya bisa merasakan: sambalnya cadas, berani.
Seperti hidup harus berani mengambil resiko , seperti bisnis selalu menantang. Sambal serehnya hangat dan aroma minyak tanusan-nya khas (minyak kelapa tradisional) dan menggoda.

Satu porsi Babi Guling Luh Eva | Foto: Don
Satu persatu saya lahap bersama urutan babi dan ditutup dengan kulit yang pastinya bersuara “kriuk”.
Para pencinta babi guling tampak mengantre. Tua, muda dan gen Z. Tes kriuk, begitu suara yang saya dengar sambil melahap kulit terakhir.
Hanya Rp 25.000 per porsi. Ini menarik dan seperti istilah kekinian: worth it banget!
Babi Guling Luh Eva buka dari jam 8 pagi dan berjualan di tempat berbeda pada sore harinya. Ini membuat Babi Guling Luh Eva dikenal luas, setidaknya di seantero Tejakula.
Sekali lagi teori promosi bersponsor menggunakan sosial media terpatahkan. Konsistensi dari puluhan tahun membuat Babi Guling Bu Eva jadi salah satu babi guling favorit di Buleleng bagian timur. Tak hanya didatangi pelanggan dan berjualan di beberapa tempat, Luh Eva juga melayani catering untuk acara.

Babi Guling Luh Eva di Jalan Raya Singaraja-Amlapura, Desa Sembiran, Tejakula, Buleleng bagin timur | Foto: Don
Setelah piring bersih saya iseng bertanya, berapa omset per hari, Bu?
Dengan senyum sambil ketawa, Luh Eva berkata, “Ya kadang-kadang 8 juta. Ya, per hari bersih 4 jutaan,” katanya.
Saya langsung bilang sambil bercanda, “Waduh ini gaji anggota DPR,”.
Luh Eva tentu bukan anggota DPR. Namun ia bikin rakyat senang, karena makanannya enak dan pelayanan ramah. Jauh dari isu korupsi karena ini pedagang nasi dari hati untuk siapa pun yang mau membeli. Cobalah. [T]
Penulis: Nyoman Nadiana
Editor: Adnyana Ole