3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Putu Ria Wijayanti | Tentang Kesetiaan pada Babi

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 8, 2021
in Persona
Putu Ria Wijayanti | Tentang Kesetiaan pada Babi

Ria Wijayanti

Dia bernama Putu Ria Wijayanti.  Nama di akun facebook, Ria Laksana Wijaya. Jangan tanya kenapa nama akun dia seperti itu. Itu tak begitu penting untuk ditanyakan. Yang penting adalah postingan foto, video dan kata-kata dia di laman itu.

Hampir semua postingan dia berkaitan dengan babi. Ya, babi. Postingan tentang anak-anak dia, kadang-kadang saja. Postingan tentang gaya hidupnya yang lain juga tak banyak. Tentang suami, jarang (mungkin tak pernah) terlihat.

Bacalah salah satu postingan dia yang cukup anyar:

“Kalau dulu babi bali keluar Bali, kini saatnya babi luar masuk ke Bali” Mungkin banyak yang berfikir, mengeluarkan ternak babi, dari Bali keluar Bali, itu mudah. Padahal tidak.

Semua ada proses dan prosedurnya. Harus melewati ijin 3 instansi, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Balai Karantina, dan Balai Besar Veteriner. Apalagi semanjak virus ASF melanda. Setiap babi yang akan dikirim harus diseleksi dan uji laboratorium. Tidak uji sampel 1 babi untuk 1 pengiriman. Tapi 1 babi 1 uji lab. Ibarat PSBB saat ini, babi juga harus di-PCR bebas virus, baru boleh terbang. Kalau dari 70 ekor babi yang akan dikirim, 1 saja dinyatakan positif, maka pengiriman tidak dapat dilakukan.

Kami peternak dan pengirim taat menjalani itu karena kami juga paham, agar virus ini tidak menyebar pada rekan-rekan peternak lainnya di wilayah lintas rute pengiriman babi. Kami tidak mau jadi pembunuh bagi rekan rekan sesama peternak.

Prinsip saling melindungi ini ternyata tidak dimiliki oleh semua pelaku usaha di bidang per-babi-an. Ketika harga melambung, banyak pula yang tutup mata terima barang antah berantah tanpa berkas, dokumen apalagi uji lab, yang penting bisnis tetap jalan.

Resiko terbesarnya adalah wabah yang mulai redup akan kembali naik daun. Dan perjuangan akan makin berat untuk membuat populasi babi di Bali jadi stabil seperti sedia kala. Gerakan bersih-bersih tidak akan bisa efektif.

Ini bukan masalah babi bali atau babi luar Bali. Tapi bagaimana kita bisa menekan penyebaran virus agar peternak babi bisa bangkit lagi.”

***

Dengan postingan semacam itu, Anda pasti menebak-nebak, Ria Wijayanti adalah seorang peternak babi. Tebakan itu tepat. Tapi ibu muda ini bukanlah peternak babi biasa.

Dia bukanlah peternak yang awal tahun beli bibit babi, lalu sehari-hari memberi makan babi, pertengahan tahun panen babi, lalu raup untung, lalu beli bibit babi lagi, jual lagi, untung lagi, begitu seterusnya. Ria bukanlah peternak yang monoton semacam itu.

Sungguh bangga dia disebut sebagai pemelihara babi. Tapi sesungguhnya, yang membuat ia menikmati kebanggaan, adalah karena dia tak melulu sebagai pemelihara, di dalamnya dia mengkombinasikan berbagai aktivitas, antara lain jadi pebisnis, pekerja sosial, penyebar edukasi, pemberi pencerahan, dan sesekali juga menulis puisi.

Semua itu dilakukan dengan niat dan tujuan yang tak semata-mata untung besar, melainkan bagaimana membuat babi di Bali tetap menjadi ternak utama, ternak yang dicintai, ternak yang memberi hidup bagi warga Bali. Itu adalah kebanggaan.

Dengan kombinasi seperti itu, dalam rangkaian gerak setiap hari, dia bisa sekaligus menjadi pengusaha, peternak, penggerak kelompok, pemerhati lingkungan, penebar inspirasi, juga sebagai seorang istri dan ibu dari tiga putri. Dia bisa melakukan semua itu dengan sukacita seakan-akan tanpa beban, bahkan masih bisa bikin postingan di media sosial.

Postingannya pun bukan postingan ecek-ecek. Bukan keluh-kesah untung-rugi, bukan juga pamer gagal dan sukses. Secara gamblang, dia biasanya menulis tentang bagaimana babi harus diperjuangkan terus-menerus.

Semua ini dilakukan dengan kesadaran bahwa sebagai peternak babi, dia sangat sadar bahwa dia tak bisa asyik-asyik sendiri. Ia harus “membagi diri”, sekaligus berbagi kepada orang. Maka dari itu, ia membangun komunitas bersama peternak babi yang lain.

Adalah Kelompok Ternak Babi Antoya Sari Alam yang dia dirikan beberapa tahun lalu. Awalnya, anggotanya sedikit. Banyak yang tanya-tanya; Eh, ngapain ikut komunitas semacam itu? Tapi kini, ketika para peternak tahu manfaat berkomunitas yang benar, komunitas ini kini beranggotakan peternak babi dari berbagai tipe. Ada peternak besar, peternak rumah tangga, peternak kecil, peternak muda, peternak tua, dan sebagai-sebagainya.

Komunitas ini penting. Ini bukan menghimpun kekuatan agar satu kelompok peternak bisa mengalahkan kolompok peternak lain. Bukan. Komunitas ini adalah ajang saling berbagi pengetahuan, terutama pengetahuan tentang ternak babi, penyakitnya, pakannya, perawatannya dan lain-lain.

“Jika babi diserang penyait, kita tak bisa menanggulangi sendirian. Tak akan berhasil. Peternak lain, juga harus diperhataikan. Jika babi kita sehat, babi lain sakit, babi yang sehat bisa ikut ditulari sakit. Artinya, penanggulangan harus dilakukan bersama-sama,” kata Ria.

Memelihara babi memang susah-susah gampang. Air, limbah, kotoran, adalah sumber penyakit. Sehingga, penyebaran pengetahuan soal pengelolaan air dan limbah juga penting dilakukan secara bersama-sama.

“Jika kandang kita sendiri saja yang bersih, sementara yang lain tidak, maka yang bersih pun bisa kena penyakit!” kata Ria.

Untuk itulah, sesama peternak babi harus peduli yang lain juga. Seberapa kuat pun seorang peternak menjaga peternakan sendiri, tapi tak peduli peternak lain, peternak itu juga akan kena akibatnya.

“Kenapa kita (peternak babi) bisa jatuh dan bangkrut, ya karena kita bergerak sendiri,” tegas Ria.

Pengetahuan bersama tentang proses penjualan juga harus disebarkan. Kalau peternak-peternak kecil, misalnya peternak rumah tangga yang beternak sendrian, tidak mendapatkan informasi soal harga yang benar, maka mereka mudah dibohongi.

Pembeli atau pengepul bilang harga babi sekian-sekian, peternak akan ikut saja. “Bahkan ada juga orang yang tega-teganya membohongi peternak tua. Dibilang harga 18 ribu per kilogram, padahal harga masih 25 ribu perkilogram,” cerita Ria.

Di tengah-tengah kesibukan dia memelihara babi, dan juga menjadi Ketua KSU  Pudak Sabe di Desa Patemon, Seririt, Buleleng, dan juga memimpin CV ASA yang memroduksi pakan ternak, dan juga sibuk lain-lain sebagai ibu rumah tangga, Ria Wijayanti ternyata juga aktif sebagai sekretaris dalam organisasi PHMI, yakni Perhimpunan Peternak Monogastrik Indonesia.

PHMI jauh-jauh dari urusan politik praktis dan sama sekali tak bermuatan politik. Organisasi ini lebih banyak bergerak dalam bidang pembinaan peternak babi yang menjadi anggota PHMI yang tersebar di seluruh Bali. Ada di Tabanan, Kintamni, Negara, dan desa-desa lain.

Awalnya, memang kelompok lebih fokus pada kegiatan jual beli babi. Namun bagaimana bisa melakukan jual-beli jika peternak gagal panen karena edukasi tentang peternakan babi tak bisa didapat dengan benar?

Maka itu, organisasi ini pun gencar melakukan edukasi, terutama soal penanggulangan virus dan penyakit yang belakangan kerap menghantui peternak. Kalau satu peternak babinya kena virus atau penyakit, infonya akan disebarkan di grup media sosial, lalu secara organisasi mereka akan saling bekerjasama untuk menanggulanginya.

“Kami kerjasama dengan beberapa pihak, termasuk doker hewan. Itu free. Peternak tak usah bayar,” tegasnya.

Ngomong-ngomong, Ria sendiri pelihara babi berapa?

“Saya pelihara babi sampai 500 ekor,” katanya.

Wah banyak juga ya.

Tunggu dulu. Babi sebanyak itu tidak dia pelihara sendiri. Sebelumnya memang babi milik dia ditempatkan dalam satu peternakan, namun sejak akhir 2020 beberapa induk dan babi dalam fase penggemukan “dilemparkan” kepada teman-temannya sesama peternak..

Artinya, babi dia lebih banyak dipelihara peternak lain. Sistemnya bisa bagi hasil, bisa juga dengan sistem lain yang sama-sama menguntungkan. Selain karena ia ingin lebih fokus mengurus bisnis, juga karena banyak peternak pada akhir tahun lalu bangkrut karena babi mereka mati terdampak virus.  

“Dalam kondisi seperti ini, cari keuntungan sendiri, saya enggak!” ujarnya.

Prinsipnya, jika peternak tak punya modal sendiri, sessama peternak harus membantu. Ada juga yang punya modal, tapi masih trauma dan takut membeli bibit. Mereka itu harus dibantu. Mereka tak perlu keluar modal, tapi tetap bisa beternak babi. Maka, peternak yang punya babi banyak, diberikan ke peternak lain dengan sistem ngadas atau bagi hasil.

“Mereka, para peternak babi, harus bangkit. Kalau tak ada yang peduli, babi bisa punh di Bali. Jika babi di Bali punah, itu aneh!” katanya.

Kalau babi para peternak sudah besar, Ria juga kerap membantu distribusi agar mereka bisa mendapatkan harga yang layak dan benar. Namun jika peternak mendapatkan harga yang lebih tinggi, misalnya dari pedagang babi guling di suatu daerah, maka dia akan membiarkan peternak itu menjual ke pembeli yang bersedia mengambil babi dengan harga yang lebih tinggi.

“Jadi, tak ada monopoli. Yang dibngun kepercayaan. Peternak harus mendapatkan untung, dan semakin banyak untungnya, mereka semakin suka pelihara babi!” kata dia.

Bisnis babi itu unik. Tentu saja. Permintaan babi tak bisa dikelola sendiri karena semua proses harus berjalan kontinyu, terus-menerus. Tak bisa juga distribusi terjadi antara orang perorang, misalnya antara pedagang babi guling dengan peternak babi, yang itu-itu saja. Semua harus dilakukan secara bersama-sama, berjaringan, saling membagi info, saling membantu penyaluran.

Dan semua itu memerlukan kesetiaan. Kesetiaan seorang peternak babi, buakn sekadar kesetiaan dalam berjualan, namun kesetiaan untuk membuat babi tetap menjadi tuan rumah di Bali, tidak ada “babi tamu” dari luar, misalnya karena stok babi di Bali menipis, atau bahkan punah.

DATA PUTU RIA WIJAYANTI

  • Tempat, Tanggal Lahir : Denpasar, 21 Februari 1987
  • Ketua KSU. PUDAK SABE, Desa Patemon – Seririt
  • Pimpinan CV. ASA (Antoya Sari Alam), Produksi Pakan Ternak
  • Founder Kelompok Ternak Babi Antoya Sari Alam
  • Sekretaris di PHMI, Perkumpulan Peternak Hewan Monogastrik Indonesia
  • Owner Babiasa Kuliner, Produksi kuliner olahan babi
  • Owner PT. Berkah Abadi Baliagro Indonesia [Peternakan Babi]
  • Owner PT. Maha Jnana Medika Nusantara [pengobatan dan treatmen kesehatan babi]
  • Pendidikan S1 Ekonomi Manajemen Pemasaran
  • Suami: Didin Lukas Cahyono, ST(Cukup 1 saja 😁)
  • Anak 3 perempuan (Jangan tanya apa mau buat 1 lagi, siapa tahu yg terakhir laki-laki 😆)
  • Orang Tua: Ida Pandita Nabe Rsi Agung Dwija Bharadwaja
  • Alamat : Griya Taman Tunjung Mekar, Desa Patemon, Kec. Seririt Kab. Buleleng Bali

Tags: babibabi balibalipeternakanternak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Terpapar Umbu Landu Paranggi | Kisah Aliran Kepenyairan di Bali

Next Post

Sastra Indonesia di Bali | Sebelum dan Semasa Umbu Landu Paranggi

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Sastra Indonesia di Bali | Sebelum dan Semasa Umbu Landu Paranggi

Sastra Indonesia di Bali | Sebelum dan Semasa Umbu Landu Paranggi

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co