2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merobek Romantisme Tentang Kota pada Pameran Foto “Singaraja Pagi Hari” di Pasar Intaran

Son Lomri by Son Lomri
March 11, 2025
in Pameran
Merobek Romantisme Tentang Kota pada Pameran Foto “Singaraja Pagi Hari” di Pasar Intaran

Pameran foto di Pasar Intaran

DI TENGAH orang-orang berdiri menyimak kota pada sebuah foto, seekor anjing masuk seolah juga hendak menyimak kota dalam foto itu.

Penuh kasih. Seorang lelaki dengan rambut panjang sambil tersenyum, menyapa anjing putih itu dengan menghampirinya di salah satu dinding yang tak jauh dari beberapa poto itu tercantel.

 Lelaki itu menepuk-nepuk areal pantat anjing—tiga centi dari lubang anus. Menepuk-nepuk badan anjing, lalu mengelus-elusnya.

Anjing itu menurut. Mereka menjadi teman baru barangkali, dan merayakan kota diam-diam, pada pameran foto dengan tajuk Singaraja Pagi Hari di Pasar Intaran, Desa Bengkala, Buleleng-Bali, Minggu siang, 9 Maret 2025.

Pengunjung pameran foto Singaraja Pagi Hari di Pasar Intaran | Foto: tatkala.co/Son

Ada 11 foto tentang Kota Singaraja yang ditangkap 10 forografer di sela-sela pagi, yang dipajang dalam pameran itu. Antara lain, “Pagi yang Hangat di Bali Utara” oleh Putu Eka, “Menyusuri Heningnya Ombak” oleh Tony Atama,  “Soenda Ketjil” dan “Aktifitas Singaraja di Pagi Hari” oleh Budi Susila Darma.

“Arus Lintas” oleh  Eka Candra, “Bangun Pagi Menuju Mimpi” oleh Dila Cintia, “Pantulan Waktu di Museum” oleh Kadek Gopala Sai Wiswadara  Arista, dan “Pantai Panimbangan” oleh Dek Dodi.

Kemudian, ada juga “Turis Meken” oleh Deka, “Tradisi dan Interaksi Masyarakat” oleh Zero Garo, dan “Pedagang di Jl. Sawo Depan Pasar Anyar Singaraja” oleh Yahya Umar. 

Anjing dan seorang lelaki di ruang pameran | Foto: tatkala.co/Son

Pameran itu diselenggarakan dalam merayakan Kota Singaraja pada ulang tahunnya ke-421. Acara ini digagas Pasar Intaran dan Nutur di Natah.

Foto-foto itu tercantel di dinding pameran yang terbuat dari bambu, alias gedek. Masing-masing foto berukuran 14 R, dengan frame daur ulang plastik yang diproduksi Rumah Plastik Mandiri.

Kurator pameran, Anggara Mahendra, melalui catatan pengantar pameran menjelaskan, pameran itu seperti “pagi” yang diinterpretasikan oleh para perekam citra tentang Singaraja.

“Selayang pandang ini ibarat bersalaman untuk perkenalan pertama, sebelum kita mengenal lebih dalam dan berdiskusi tentang kota ini,” kata Anggara Mahendra dari catatannya tentang pameran.

Pengunjung pameran | Foto: Khumairoh

Selain pameran, di Pasar Intaran juga berlangsung, seperti biasa, berbagai macam aktivitas yang riuhnya terdengar melalui celah lubang dinding hingga ke ruang pameran.

Mereka yang berbincang di luar, berpindah tempat ke ruang pameran setelah pameran dibuka siang hari. Di ruangan itu, tak hanya ada pameran foto, tetapi juga ada baju-baju dari pewarna alam yang diproduksi Pagi Motley. Baju-baju itu tergantung di samping foto-foto yang dipamerkan.

Para pengunjung, selain menyaksikan pameran foto, juga sekaligus bisa membeli pakaian. Atau, setelah itu, bisa dianjutkan dengan mengobrol tentang romantisme kota setelah melihat foto-foto yang dipamerkan.

Misalnya mengobrolkan tentang sunrise ketika melihat foto berjudul “Pagi yang Hangat di Bali Utara”. Foto itu menggambarkan pemandangan basah kabut pagi di sela bebatuan dan air laut yang sedang tenang di Pelabuhan Tua Buleleng.

Warna biru dari langit dan laut yang dikecup manis kabut pagi terlihat jelas dalam foto karya Putu Eka itu. Apalagi tampak batu-batu berwarna hijau diselimuti lumut-lumut waktu. Putu Eka seakan berhasil menangkap berkat Tuhan dari sudut kota ini melalui kameranya.

Dila Cintia sedang menjelaskan hasil potretnya yang berjudul “Bangun Pagi Menuju Mimpi”. | Foto: tatkala.co/Son

Sedang di pintu sebelah utara, Dila Cintia sedang menjelaskan hasil jepretannya tentang “Bangun Pagi Menuju Mimpi”. Di dalam fotonya, seorang anak berbaju sekolah dengan tas di punggungnya—sambil menjinjing totebag di tangan kiri. Anak itu berjalan menuju sekolah seperti sedang memasuki dunia mimpi. Dua orang menyambut anak itu seumuran, sesama pelajar.

“Di sana, mereka seperti penuh kehangatan saling sapa di pintu masuk sekolah,” kata Dila Cintia. Melalui fotonya, Dila seakan menegaskan, di pagi hari, kota ini dibangun dari mimpi-mimpi.

Kota Tua yang Tak Lagi Puitik

Tak hanya dibangun dari mimpi, kota ini juga dibangun dari kerja-kerja. Setidaknya itulah yang dilukiskan Tony Atama melalui foto “Menyusuri Heningnya Ombak”. Ia  berhasil mengabadikan sebuah momen seseorang sedang membawa pengunjung dengan jukungnya, untuk merasakan ombak laut utara di pagi hari.

Sementara Eka Candra, menangkap dua mobil angkot berwarna biru dan satu truk sedang membawa bahan-bahan material, melintas di depan sebuah patung ikonik Singaraja. Eka Candra memberi nama fotonya dengan judul; “Arus Lintas”.

Itu gambaran pekerja di jalan sedang mengayuh hidup. Sedang di sela riuh pasar tradisional tengah kota, Deka dan Zero Caro mengabadikan aktivitas jual beli di pasar dengan judul “Turis Meken” (artinya turis sedang ke pasar) dan “Tradisi dan Interaksi Masyarakat”.

Nyaris semua foto-foto itu memperlihatkan keindahan dan keramahan, juga optimisme. Buah-buah dijajakan di pasar. Ikan-ikan dijajakan di pasar. Kota dibangun dari orang-orang menaruh hidupnya di pasar. Kerja-kerja di laut. Dan dikuatkan dengan mimpi anak-anak manusia pergi belajar.

Tapi semua itu seakan dirobek oleh Yahya Umar dengan kamera bututnya. Hasil jepretannya mencolok mata, menohok. Merobek semua warna tentang kota romantik yang ditangkap para fotografer.

Yahya Umar dan foto karyanya | Foto: tatkala.co/Son

Fotonya diberi judul tak mendayu-dayu, “Pedagang di Jl. Sawo Depan Pasar Anyar Singaraja”. Judul seakan memberi ketegasan bahwa kota ini dibangun dari derita manusia di antara embun-embun pagi yang dingin.

Yahya Umar adalah seorang wartawan senior kawakan juga adalah seorang penyair. Melalui kaca mata puitiknya, lelaki itu seakan menelanjangi kota ini secara brutal dari para penganut eksotisme, melalui gambar yang jujur.

“Saya moto dari hape biasa saja,” kata Yahya Umar. “Sebuah kebetulan waktu itu, saat pergi belanja ke pasar dengan istri. Saya melihat ibu itu, dan saya memotretnya!”

Di foto itu, seorang ibu tengah mengantuk menjajakan daun singkong, daun kelor dan beberapa jagung di sebuah bakul. Perempuan yang tampak paruh baya itu berjualan di dekat tempat bak sampah yang menggunung sampah-sampah, yang barangkali, secara kasarnya—anjing liar lebih dulu mencari makan di sana pada malam hari sebelumnya.

Salah satu pengunjung pameran memandangi foto itu cukup terhenyak. “Hanya poto ini yang beda,” kata Ge Jyo, salah satu pengunjung masih SMA, menunjuk foto itu. “Ibunya jualan dekat tempat sampah, apa gak kebauan?”

“Tapi sekarang, tidak ada lagi yang jualan di sana. Foto ini diambil beberapa bulan lalu,” kata Yahya Umar, menghaluskan sudut pandangnya sebelum orang-orang berfikir lebih liar.

Ketika Yahya Umar bicara, anjing yang tadi ikut menyimak pameran tampak bengong. Barangkali ia ingin ikut bicara. Tapi orang-orang tak peduli. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • Liputan ini terselenggara atas kerjasama Pasar Intaran dan tatkala.co
Dari Yogya ke Pasar Intaran, Bertemu Kejutan Bernama Bulan Bahasa Bali
Di Pasar Intaran, Anak-anak Riang Menyanyi dalam Wimbakara Karaoke Gending Bali, Bulan Bahasa Bali
Menyusuri Rasa dan Tradisi: Sate Keladi di Pasar Intaran
Pasar Intaran, Pasar Minggu, Pasar Ekonomi Kreatif di Bali Utara
Tags: Kota Singarajapameran fotoPasar Intaran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dodit Artawan: Merayakan Bali dalam Hiruk Pikuk Kemacetan

Next Post

BALI: Bakal Amblas Lantaran Investor

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

Read moreDetails
Next Post
BALI: Bakal Amblas Lantaran Investor

BALI: Bakal Amblas Lantaran Investor

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co