13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Awas Zombie Medsos!

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 21, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA waktu lalu ramai betul film tentang zombie macam Resident Evil, World War Z, dari Korea juga ada Train to Busan, sampai Army of The Dead. Itu belum film zombie lainnya yang bermacam-macam; yang jumlahnya melimpah.

 Herannya, senang juga saya menontonnya. Pada suatu titik saya merenung dan membatin, jangan-jangan secara tidak sadar saya juga melihatnya di dunia nyata.  Sekawanan organisme manusia yang bergerak tanpa kesadaran, menulari dan mematikan bagi mereka yang waras.

Jadi begini para pembaca yang budiman, kita pasti pernah merasa tiba-tiba terhenyak, ternyata sudah menghabiskan berjam-jam hanya untuk scrolling alias menggulir media sosial tanpa sadar. Atau pernah melihat betapa ramai para netizen saling serang di kolom komentar hanya karena perbedaan pendapat yang sepele saja? Atau pernah merasa sulit lepas dari layar meskipun kepala sudah terasa berat dan penat? Hati-hati saudara, bisa jadi, kita semua sedang terjangkit wabah yang saya pikir, bolehlah saya sebut sebagai wabah zombie digital. Zombie Media Sosial.

Media Sosial: Tempat Berkembangnya “Zombie” Digital

Coba perhatikan kebiasaan masyarakat kita saat ini ketika bermain media sosial. Banyak dari kita mengunggah apa saja tanpa berpikir panjang. Bahkan seringkali kita juga mengkonsumsi informasi secara brutal tanpa mengecek kebenarannya, dan saling memangsa dalam debat panas yang sering kali tak ada manfaatnya dan akhirnya tidak ada juntrungnya pula.

Di sini secara tidak sadar, kita telah berubah menjadi zombie digital. Cirinya adalah tak berpikir, mudah marah, dan menyebarkan konten beracun bahkan mematikan. Jean Twenge, seorang psikolog dari San Diego State University, dalam bukunya iGen (2017) mengungkapkan bahwa media sosial telah mengubah cara kita berpikir dan bertindak. Sementara itu, Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (2010) menegaskan bahwa internet, terutama media sosial, membuat kita kehilangan fokus dan berpikir dangkal.

Karakter zombie digital ini semakin nyata. Mereka adalah indivi du yang terus menggulir layar tanpa tujuan jelas, tenggelam dalam budaya saling memangsa seperti cancel culture dan cyber bullying. Mereka tidak lagi berpikir jernih, hanya bereaksi berdasarkan dorongan emosi sesaat, layaknya zombie yang hanya mengikuti naluri tanpa kesadaran. Mereka juga gemar pamer dan flexing demi validasi sosial, tidak lagi peduli apakah yang ditampilkan itu nyata atau sekadar ilusi, demi engagement. Lebih parah lagi, mereka kecanduan media sosial yang menyebabkan kecemasan sosial jika tidak online dalam beberapa jam saja.

Lebih jauh lagi, bagi mereka yang sudah terjangkit akan sulit berpikir kritis. Jika sebuah informasi datang dalam format yang menarik atau sesuai dengan bias mereka, tanpa ragu mereka langsung menyebarkannya tanpa verifikasi. Mereka bergerak dalam kawanan, mengikuti arus tren tanpa bertanya apakah hal tersebut benar, apakah ini baik, atau apakah penting?

Kenapa Ini Bisa Menular?

Dalam Surveillance Capitalism, Shoshana Zuboff (2019) menjelaskan bahwa media sosial sebenarnya dirancang untuk mengontrol perilaku kita. Algoritma dibuat agar kita semakin betah berlama-lama, semakin agresif dalam berinteraksi, dan semakin ketergantungan.

Lalu, bagaimana Efeknya? Polarisasi makin tajam, kebencian makin meluas, dan kesadaran kita semakin terkikis. Ketika satu orang mulai bertindak seperti zombie digital macam berkomentar tanpa berpikir, menyebarkan hoaks, atau mengikuti tren bodoh dan remeh-temeh, maka orang lain pun cenderung ikut saja. Fenomena ini disebut sebagai efek sosial, di mana perilaku destruktif di media sosial bisa menyebar seperti virus. Seperti zombie yang menggigit korbannya dan mengubahnya menjadi zombie lain, kebiasaan buruk di dunia digital juga menular dengan cepat.

Sebelum kita sadar, kita sudah terjebak dalam lingkaran setan digital yang membuat kita semakin kehilangan kendali atas diri sendiri. Di sisi lain, kecanduan media sosial juga diperburuk dengan efek FOMO (Fear of Missing Out). Kita takut ketinggalan informasi, takut tidak ikut tren, takut tidak dianggap eksis. Akibatnya, kita terus menggulir layar, terus bereaksi tanpa berpikir, terus larut dalam dunia digital yang tak lagi sehat.

Hindari Terjebak di Dunia Zombie Digital

Langkah pertama saya kira adalah dengan menyadari kebiasaan digital kita. Sebelum memposting atau membagikan sesuatu, renungkan atau tanyakan dulu, apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini tidak menyakiti orang lain? Jangan hanya menjadi robot yang otomatis bereaksi tanpa berefleksi. Kurangi paparan konten beracun dengan membatasi waktu bermain media sosial dan berhenti mengikuti akun yang hanya memicu emosi negatif. Jika sebuah akun hanya membuat emosi, jengkel, panas hati, marah, iri, atau cemas, mengapa kita masih harus mengikutinya?

Kita tentu juga bisa membangun ruang digital yang lebih sehat dengan menciptakan kebiasaan berinteraksi yang lebih bermakna, bukan sekadar ikut tren tanpa arah. Gunakan media sosial dengan tujuan jelas. Alih-alih membuang waktu tanpa tujuan pasti, manfaatkan platform ini untuk belajar, mengembangkan diri, mencari inspirasi, atau membangun koneksi yang positif. Jangan biarkan algoritma mengambil alih hidup kita. Sebuah studi dari University of Pennsylvania menunjukkan bahwa membatasi penggunaan media sosial hanya 30 menit per hari dapat mengurangi kecemasan dan depresi secara signifikan. Nah, ada harapan bukan?

Salah satu cara lain untuk keluar dari jeratan zombie digital adalah dengan menerapkan detoks media sosial. Coba sekali tempo tantang diri untuk tidak membuka media sosial selama sehari penuh. Kemudian Anda rasakan bagaimana tubuh dan pikiran bereaksi. Jika ada rasa gelisah atau khawatir ketinggalan info, itu tanda bahwa kita sudah sangat bergantung, sudah kecanduan. Dengan rutin melakukan detoks, kita bisa mulai kembali mengendalikan cara kita menggunakan media sosial, bukan malah sebaliknya.

Selain itu, biasakan berpikir kritis sebelum bereaksi. Jika melihat berita viral, cek dulu sumbernya. Jika melihat tren yang sedang ramai, pikirkan dulu manfaatnya. Jangan langsung tergerak hanya karena dorongan emosi atau tekanan sosial. Kita bukan zombie yang mengikuti arus kesana kemari tanpa kesadaran, bukan?

Jangan Sampai Kesadaran Kita Dimakan Hidup-Hidup

Sekali lagi mari kita sadari, bahwa media sosial seharusnya menjadi alat untuk memperluas wawasan, bukan jebakan yang mengubah kita menjadi zombie. Jika kita terus-menerus dikendalikan oleh algoritma dan emosi sesaat, maka sejatinya kita telah kehilangan esensi sebagai manusia sehat. Saatnya kita semua bangun dan kembali mengendalikan diri. Jangan sampai kita benar-benar berubah menjadi zombie digital. Dimulai dengan sadar akan kebiasaan kita sendiri, lalu pelan-pelan kita perbaiki.

Dunia digital masih bisa menjadi tempat yang sehat, jika kita bisa menggunakannya dengan bijak. Nah, para pembaca yang budiman semua di sini, saya yakin tentu masih punya kesadaran. Atau jangan-jangan, sudah berubah? Salam sehat digital. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Pembatasan Media Sosial Kebijakan Tepat, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi
“Brain Rot” pada Anak: Virus Era Digital
Dunia Maya atau Dunia Nyata? Tren Media Sosial 2025
Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma
Dunia Tanpa Ampun: Ketika Jejak Digital Menghakimi Anda
Tags: digitalmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Ibu-ibu Pakis Bali “Mesatua” di Bulan Bahasa Bali: Ada yang Galak, Ada yang Monyer

Next Post

Bendesa Adat di Bali Adu Kecakapan Memberi  “Sambrama Wacana”

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Bendesa Adat di Bali Adu Kecakapan Memberi  “Sambrama Wacana”

Bendesa Adat di Bali Adu Kecakapan Memberi  “Sambrama Wacana”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co