2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Awas Zombie Medsos!

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 21, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA waktu lalu ramai betul film tentang zombie macam Resident Evil, World War Z, dari Korea juga ada Train to Busan, sampai Army of The Dead. Itu belum film zombie lainnya yang bermacam-macam; yang jumlahnya melimpah.

 Herannya, senang juga saya menontonnya. Pada suatu titik saya merenung dan membatin, jangan-jangan secara tidak sadar saya juga melihatnya di dunia nyata.  Sekawanan organisme manusia yang bergerak tanpa kesadaran, menulari dan mematikan bagi mereka yang waras.

Jadi begini para pembaca yang budiman, kita pasti pernah merasa tiba-tiba terhenyak, ternyata sudah menghabiskan berjam-jam hanya untuk scrolling alias menggulir media sosial tanpa sadar. Atau pernah melihat betapa ramai para netizen saling serang di kolom komentar hanya karena perbedaan pendapat yang sepele saja? Atau pernah merasa sulit lepas dari layar meskipun kepala sudah terasa berat dan penat? Hati-hati saudara, bisa jadi, kita semua sedang terjangkit wabah yang saya pikir, bolehlah saya sebut sebagai wabah zombie digital. Zombie Media Sosial.

Media Sosial: Tempat Berkembangnya “Zombie” Digital

Coba perhatikan kebiasaan masyarakat kita saat ini ketika bermain media sosial. Banyak dari kita mengunggah apa saja tanpa berpikir panjang. Bahkan seringkali kita juga mengkonsumsi informasi secara brutal tanpa mengecek kebenarannya, dan saling memangsa dalam debat panas yang sering kali tak ada manfaatnya dan akhirnya tidak ada juntrungnya pula.

Di sini secara tidak sadar, kita telah berubah menjadi zombie digital. Cirinya adalah tak berpikir, mudah marah, dan menyebarkan konten beracun bahkan mematikan. Jean Twenge, seorang psikolog dari San Diego State University, dalam bukunya iGen (2017) mengungkapkan bahwa media sosial telah mengubah cara kita berpikir dan bertindak. Sementara itu, Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (2010) menegaskan bahwa internet, terutama media sosial, membuat kita kehilangan fokus dan berpikir dangkal.

Karakter zombie digital ini semakin nyata. Mereka adalah indivi du yang terus menggulir layar tanpa tujuan jelas, tenggelam dalam budaya saling memangsa seperti cancel culture dan cyber bullying. Mereka tidak lagi berpikir jernih, hanya bereaksi berdasarkan dorongan emosi sesaat, layaknya zombie yang hanya mengikuti naluri tanpa kesadaran. Mereka juga gemar pamer dan flexing demi validasi sosial, tidak lagi peduli apakah yang ditampilkan itu nyata atau sekadar ilusi, demi engagement. Lebih parah lagi, mereka kecanduan media sosial yang menyebabkan kecemasan sosial jika tidak online dalam beberapa jam saja.

Lebih jauh lagi, bagi mereka yang sudah terjangkit akan sulit berpikir kritis. Jika sebuah informasi datang dalam format yang menarik atau sesuai dengan bias mereka, tanpa ragu mereka langsung menyebarkannya tanpa verifikasi. Mereka bergerak dalam kawanan, mengikuti arus tren tanpa bertanya apakah hal tersebut benar, apakah ini baik, atau apakah penting?

Kenapa Ini Bisa Menular?

Dalam Surveillance Capitalism, Shoshana Zuboff (2019) menjelaskan bahwa media sosial sebenarnya dirancang untuk mengontrol perilaku kita. Algoritma dibuat agar kita semakin betah berlama-lama, semakin agresif dalam berinteraksi, dan semakin ketergantungan.

Lalu, bagaimana Efeknya? Polarisasi makin tajam, kebencian makin meluas, dan kesadaran kita semakin terkikis. Ketika satu orang mulai bertindak seperti zombie digital macam berkomentar tanpa berpikir, menyebarkan hoaks, atau mengikuti tren bodoh dan remeh-temeh, maka orang lain pun cenderung ikut saja. Fenomena ini disebut sebagai efek sosial, di mana perilaku destruktif di media sosial bisa menyebar seperti virus. Seperti zombie yang menggigit korbannya dan mengubahnya menjadi zombie lain, kebiasaan buruk di dunia digital juga menular dengan cepat.

Sebelum kita sadar, kita sudah terjebak dalam lingkaran setan digital yang membuat kita semakin kehilangan kendali atas diri sendiri. Di sisi lain, kecanduan media sosial juga diperburuk dengan efek FOMO (Fear of Missing Out). Kita takut ketinggalan informasi, takut tidak ikut tren, takut tidak dianggap eksis. Akibatnya, kita terus menggulir layar, terus bereaksi tanpa berpikir, terus larut dalam dunia digital yang tak lagi sehat.

Hindari Terjebak di Dunia Zombie Digital

Langkah pertama saya kira adalah dengan menyadari kebiasaan digital kita. Sebelum memposting atau membagikan sesuatu, renungkan atau tanyakan dulu, apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini tidak menyakiti orang lain? Jangan hanya menjadi robot yang otomatis bereaksi tanpa berefleksi. Kurangi paparan konten beracun dengan membatasi waktu bermain media sosial dan berhenti mengikuti akun yang hanya memicu emosi negatif. Jika sebuah akun hanya membuat emosi, jengkel, panas hati, marah, iri, atau cemas, mengapa kita masih harus mengikutinya?

Kita tentu juga bisa membangun ruang digital yang lebih sehat dengan menciptakan kebiasaan berinteraksi yang lebih bermakna, bukan sekadar ikut tren tanpa arah. Gunakan media sosial dengan tujuan jelas. Alih-alih membuang waktu tanpa tujuan pasti, manfaatkan platform ini untuk belajar, mengembangkan diri, mencari inspirasi, atau membangun koneksi yang positif. Jangan biarkan algoritma mengambil alih hidup kita. Sebuah studi dari University of Pennsylvania menunjukkan bahwa membatasi penggunaan media sosial hanya 30 menit per hari dapat mengurangi kecemasan dan depresi secara signifikan. Nah, ada harapan bukan?

Salah satu cara lain untuk keluar dari jeratan zombie digital adalah dengan menerapkan detoks media sosial. Coba sekali tempo tantang diri untuk tidak membuka media sosial selama sehari penuh. Kemudian Anda rasakan bagaimana tubuh dan pikiran bereaksi. Jika ada rasa gelisah atau khawatir ketinggalan info, itu tanda bahwa kita sudah sangat bergantung, sudah kecanduan. Dengan rutin melakukan detoks, kita bisa mulai kembali mengendalikan cara kita menggunakan media sosial, bukan malah sebaliknya.

Selain itu, biasakan berpikir kritis sebelum bereaksi. Jika melihat berita viral, cek dulu sumbernya. Jika melihat tren yang sedang ramai, pikirkan dulu manfaatnya. Jangan langsung tergerak hanya karena dorongan emosi atau tekanan sosial. Kita bukan zombie yang mengikuti arus kesana kemari tanpa kesadaran, bukan?

Jangan Sampai Kesadaran Kita Dimakan Hidup-Hidup

Sekali lagi mari kita sadari, bahwa media sosial seharusnya menjadi alat untuk memperluas wawasan, bukan jebakan yang mengubah kita menjadi zombie. Jika kita terus-menerus dikendalikan oleh algoritma dan emosi sesaat, maka sejatinya kita telah kehilangan esensi sebagai manusia sehat. Saatnya kita semua bangun dan kembali mengendalikan diri. Jangan sampai kita benar-benar berubah menjadi zombie digital. Dimulai dengan sadar akan kebiasaan kita sendiri, lalu pelan-pelan kita perbaiki.

Dunia digital masih bisa menjadi tempat yang sehat, jika kita bisa menggunakannya dengan bijak. Nah, para pembaca yang budiman semua di sini, saya yakin tentu masih punya kesadaran. Atau jangan-jangan, sudah berubah? Salam sehat digital. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Pembatasan Media Sosial Kebijakan Tepat, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi
“Brain Rot” pada Anak: Virus Era Digital
Dunia Maya atau Dunia Nyata? Tren Media Sosial 2025
Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma
Dunia Tanpa Ampun: Ketika Jejak Digital Menghakimi Anda
Tags: digitalmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Ibu-ibu Pakis Bali “Mesatua” di Bulan Bahasa Bali: Ada yang Galak, Ada yang Monyer

Next Post

Bendesa Adat di Bali Adu Kecakapan Memberi  “Sambrama Wacana”

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Bendesa Adat di Bali Adu Kecakapan Memberi  “Sambrama Wacana”

Bendesa Adat di Bali Adu Kecakapan Memberi  “Sambrama Wacana”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co