23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Awas Zombie Medsos!

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 21, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA waktu lalu ramai betul film tentang zombie macam Resident Evil, World War Z, dari Korea juga ada Train to Busan, sampai Army of The Dead. Itu belum film zombie lainnya yang bermacam-macam; yang jumlahnya melimpah.

 Herannya, senang juga saya menontonnya. Pada suatu titik saya merenung dan membatin, jangan-jangan secara tidak sadar saya juga melihatnya di dunia nyata.  Sekawanan organisme manusia yang bergerak tanpa kesadaran, menulari dan mematikan bagi mereka yang waras.

Jadi begini para pembaca yang budiman, kita pasti pernah merasa tiba-tiba terhenyak, ternyata sudah menghabiskan berjam-jam hanya untuk scrolling alias menggulir media sosial tanpa sadar. Atau pernah melihat betapa ramai para netizen saling serang di kolom komentar hanya karena perbedaan pendapat yang sepele saja? Atau pernah merasa sulit lepas dari layar meskipun kepala sudah terasa berat dan penat? Hati-hati saudara, bisa jadi, kita semua sedang terjangkit wabah yang saya pikir, bolehlah saya sebut sebagai wabah zombie digital. Zombie Media Sosial.

Media Sosial: Tempat Berkembangnya “Zombie” Digital

Coba perhatikan kebiasaan masyarakat kita saat ini ketika bermain media sosial. Banyak dari kita mengunggah apa saja tanpa berpikir panjang. Bahkan seringkali kita juga mengkonsumsi informasi secara brutal tanpa mengecek kebenarannya, dan saling memangsa dalam debat panas yang sering kali tak ada manfaatnya dan akhirnya tidak ada juntrungnya pula.

Di sini secara tidak sadar, kita telah berubah menjadi zombie digital. Cirinya adalah tak berpikir, mudah marah, dan menyebarkan konten beracun bahkan mematikan. Jean Twenge, seorang psikolog dari San Diego State University, dalam bukunya iGen (2017) mengungkapkan bahwa media sosial telah mengubah cara kita berpikir dan bertindak. Sementara itu, Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (2010) menegaskan bahwa internet, terutama media sosial, membuat kita kehilangan fokus dan berpikir dangkal.

Karakter zombie digital ini semakin nyata. Mereka adalah indivi du yang terus menggulir layar tanpa tujuan jelas, tenggelam dalam budaya saling memangsa seperti cancel culture dan cyber bullying. Mereka tidak lagi berpikir jernih, hanya bereaksi berdasarkan dorongan emosi sesaat, layaknya zombie yang hanya mengikuti naluri tanpa kesadaran. Mereka juga gemar pamer dan flexing demi validasi sosial, tidak lagi peduli apakah yang ditampilkan itu nyata atau sekadar ilusi, demi engagement. Lebih parah lagi, mereka kecanduan media sosial yang menyebabkan kecemasan sosial jika tidak online dalam beberapa jam saja.

Lebih jauh lagi, bagi mereka yang sudah terjangkit akan sulit berpikir kritis. Jika sebuah informasi datang dalam format yang menarik atau sesuai dengan bias mereka, tanpa ragu mereka langsung menyebarkannya tanpa verifikasi. Mereka bergerak dalam kawanan, mengikuti arus tren tanpa bertanya apakah hal tersebut benar, apakah ini baik, atau apakah penting?

Kenapa Ini Bisa Menular?

Dalam Surveillance Capitalism, Shoshana Zuboff (2019) menjelaskan bahwa media sosial sebenarnya dirancang untuk mengontrol perilaku kita. Algoritma dibuat agar kita semakin betah berlama-lama, semakin agresif dalam berinteraksi, dan semakin ketergantungan.

Lalu, bagaimana Efeknya? Polarisasi makin tajam, kebencian makin meluas, dan kesadaran kita semakin terkikis. Ketika satu orang mulai bertindak seperti zombie digital macam berkomentar tanpa berpikir, menyebarkan hoaks, atau mengikuti tren bodoh dan remeh-temeh, maka orang lain pun cenderung ikut saja. Fenomena ini disebut sebagai efek sosial, di mana perilaku destruktif di media sosial bisa menyebar seperti virus. Seperti zombie yang menggigit korbannya dan mengubahnya menjadi zombie lain, kebiasaan buruk di dunia digital juga menular dengan cepat.

Sebelum kita sadar, kita sudah terjebak dalam lingkaran setan digital yang membuat kita semakin kehilangan kendali atas diri sendiri. Di sisi lain, kecanduan media sosial juga diperburuk dengan efek FOMO (Fear of Missing Out). Kita takut ketinggalan informasi, takut tidak ikut tren, takut tidak dianggap eksis. Akibatnya, kita terus menggulir layar, terus bereaksi tanpa berpikir, terus larut dalam dunia digital yang tak lagi sehat.

Hindari Terjebak di Dunia Zombie Digital

Langkah pertama saya kira adalah dengan menyadari kebiasaan digital kita. Sebelum memposting atau membagikan sesuatu, renungkan atau tanyakan dulu, apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini tidak menyakiti orang lain? Jangan hanya menjadi robot yang otomatis bereaksi tanpa berefleksi. Kurangi paparan konten beracun dengan membatasi waktu bermain media sosial dan berhenti mengikuti akun yang hanya memicu emosi negatif. Jika sebuah akun hanya membuat emosi, jengkel, panas hati, marah, iri, atau cemas, mengapa kita masih harus mengikutinya?

Kita tentu juga bisa membangun ruang digital yang lebih sehat dengan menciptakan kebiasaan berinteraksi yang lebih bermakna, bukan sekadar ikut tren tanpa arah. Gunakan media sosial dengan tujuan jelas. Alih-alih membuang waktu tanpa tujuan pasti, manfaatkan platform ini untuk belajar, mengembangkan diri, mencari inspirasi, atau membangun koneksi yang positif. Jangan biarkan algoritma mengambil alih hidup kita. Sebuah studi dari University of Pennsylvania menunjukkan bahwa membatasi penggunaan media sosial hanya 30 menit per hari dapat mengurangi kecemasan dan depresi secara signifikan. Nah, ada harapan bukan?

Salah satu cara lain untuk keluar dari jeratan zombie digital adalah dengan menerapkan detoks media sosial. Coba sekali tempo tantang diri untuk tidak membuka media sosial selama sehari penuh. Kemudian Anda rasakan bagaimana tubuh dan pikiran bereaksi. Jika ada rasa gelisah atau khawatir ketinggalan info, itu tanda bahwa kita sudah sangat bergantung, sudah kecanduan. Dengan rutin melakukan detoks, kita bisa mulai kembali mengendalikan cara kita menggunakan media sosial, bukan malah sebaliknya.

Selain itu, biasakan berpikir kritis sebelum bereaksi. Jika melihat berita viral, cek dulu sumbernya. Jika melihat tren yang sedang ramai, pikirkan dulu manfaatnya. Jangan langsung tergerak hanya karena dorongan emosi atau tekanan sosial. Kita bukan zombie yang mengikuti arus kesana kemari tanpa kesadaran, bukan?

Jangan Sampai Kesadaran Kita Dimakan Hidup-Hidup

Sekali lagi mari kita sadari, bahwa media sosial seharusnya menjadi alat untuk memperluas wawasan, bukan jebakan yang mengubah kita menjadi zombie. Jika kita terus-menerus dikendalikan oleh algoritma dan emosi sesaat, maka sejatinya kita telah kehilangan esensi sebagai manusia sehat. Saatnya kita semua bangun dan kembali mengendalikan diri. Jangan sampai kita benar-benar berubah menjadi zombie digital. Dimulai dengan sadar akan kebiasaan kita sendiri, lalu pelan-pelan kita perbaiki.

Dunia digital masih bisa menjadi tempat yang sehat, jika kita bisa menggunakannya dengan bijak. Nah, para pembaca yang budiman semua di sini, saya yakin tentu masih punya kesadaran. Atau jangan-jangan, sudah berubah? Salam sehat digital. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Pembatasan Media Sosial Kebijakan Tepat, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi
“Brain Rot” pada Anak: Virus Era Digital
Dunia Maya atau Dunia Nyata? Tren Media Sosial 2025
Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma
Dunia Tanpa Ampun: Ketika Jejak Digital Menghakimi Anda
Tags: digitalmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Ibu-ibu Pakis Bali “Mesatua” di Bulan Bahasa Bali: Ada yang Galak, Ada yang Monyer

Next Post

Bendesa Adat di Bali Adu Kecakapan Memberi  “Sambrama Wacana”

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Bendesa Adat di Bali Adu Kecakapan Memberi  “Sambrama Wacana”

Bendesa Adat di Bali Adu Kecakapan Memberi  “Sambrama Wacana”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co