3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Demokrasi dan Tantularisme

I Wayan Westa by I Wayan Westa
January 29, 2025
in Esai
“Tajen”:  Dari I Pudak, Marakata, hingga  Geertz

I Wayan Westa

         // Tantular, dialah sesungguhnya Bapak Pluralisme  dari zaman Majapahit yang melahirkan kata tua Nusantara, menggoreskan sesanti perajut keragaman: bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa//   

SUATU hari, di sebuah jejaring sosial saya menemukan sebuah pamflet “nirmaya”, ajakan untuk satu “perjuangan” yang monolitik, yang amat keras untuk menyatakan perang pada pluralisme. Seakan-akan pluralisme itu barang haram. Saya tidak terkejut di sebuah negara yang menganut paham demokrasi,  ini pastilah suara yang sah-sah saja.

Namun bukankah senyatanya asas dasar persatuan  Nusantara itu dibangun  dalam  semangat pluralisme. Dan peradaban kita juga dirajut   dari  geo-kultur   begitu  beragam. Mosaik dengan warna-warni memesona. Nusantara dibangun dari  ratusan suku, ratusan bahasa daerah, puluhan keyakinan “animisme Nusantara’, yang sampai kini tetap hidup, dengan kekhasan adat yang unik. Satu indigenous yang kelak kemudian  menjadi gen  peradaban Nusantara.

Masih terang kita ingat, kejadian  di Balinuraga, Lampung , perusakan rumah ibadah di Jogjakarta, perusakan Pura di kaki Gunung Rinjani, hingga rasisme yang membuat darah mendidih. Korban pun berjatuhan, dan negara kerap terlambat hadir. Rasa takut  entah dilindungi  oleh siapa?   Rasa aman entah didapat dari mana?

Ini pertanyaan besar yang mesti segera dicarikan solusi.  Karena di situ,  rasa “kekitaan”  telah apus, tanpa sadar  kita menyandarkan  diri pada doktrin-doktrin kaku,  tidak lentur menghadapi perubahan zaman, menjadi pengalang bagi nyala jiwa. Kita tidak sadar bahwa akar dari peradaban yang  terus betumbuh adalah pluralisme yang hidup. Di situ, dalam keanekaragaman kultur  lahir semangat untuk merawat, merangkul semua, sebagai bagian hidup bersama. Semangat untuk menegakkan, memuliakan ayat-ayat kemanusian. Dan jadilah Nusantara sebagai langit bersama di mana semua keyakinan, seluruh identitas kultural  dan agama  menjadi anyaman mosaik daya budi kebangsaan nan megah.

Apa yang kita perlu pelajari kemudian  dari Bali? Bali adalah persemaian pluralisme yang mesti kita rawat terus-menerus, karena  denyut sejati Nusantara kecil itu cuma bisa dirasakan di pulau mungil ini. Di sini segala ras, suku, agama bisa hidup berdampingan. Kelenturan serta sifat adaptif kebudayaannya memungkinkan Bali melakukan semua itu. Kendati setelah dua kali dentuman bom, orang Bali terpaksa “diajari” curiga pada pendatang.  Slogan perlawanan  dengan motto “ajeg Bali” pun muncul, bak lagu “hit”  melambung popular, di mana akhirnya redup dalam hiruk-pikuk pesta, upacara, lingkungan yang rusak,  deraan korban HIV AIDS, korupsi, kemiskinan, serta kian langkanya lapangan kerja di Bali.

Tentang toleransi, kerukunan, penghormatan pada mereka yang berbeda  bukanlah sesuatu yang dilakoni setengah hati orang Bali. Ungkapan “manusa pada”, yang dimaknai sebagai manusia sebumi memberi rujukan penting tentang arus utama cita-cita orang Bali. Cakrawala ini melampaui pandangan sempit tentang “penjara-penjara” ras, agama, dan suku dan ego kultural lainnya. Simak jua madah-madah pujian yang dilantunkan para pendeta saat memuja surya saban pagi, bukankah mereka mendoa untuk kerahayuan tiga dunia; bumi-langit-akasa.

Melihat Bali  lebih intim, segara tergambar di benak,  bahwa dalam spirit itu orang Bali memandang yang  berbeda itu sebagai “nyama” bertemali doa-doa yang dilantunkan saban hari itu. Kata “nyama” bukanlah ungkapan bersayap,  sekadar tata krama, alih-alih  basa-basi semata. Kendati belakangan diakui, kosa kata ini dinodai pikiran teramat  kumal, anti kerukunan, anti kebhinekaan. Dan jujur Bali juga tak kurang gelap dirajam tragedi kemanusian yang  kerap amat akut  ̶  mulai dari konflik raja-raja setelah  monarki Gelgel melemah hingga tragedi tahun 1965.

Namun ada yang tak pernah  padam di Bali,  ia tak membiarkan dirinya menjadi paria dengan cara menolak perbedaan, tentu. Pulau ini sudah sejak zaman silam menjadi rumah para penjunjung nilai kemanusiaan. Di sebuah dusun kecil, Budakeling, desa yang terletak di ujung timur Kabupaten Karangasem, orang bisa mencatat banyak hal tentang semangat ke-Nusantara-an.

Di situ terperlihara semangat yang tidak dibalut  kepentingan  suku, ras, dan agama. Bahkan ada cerita paska Gunung Agung meletus, para brahmin di Budakeling ikut menyokong pembangunan rumah ibadah saudara Muslim yang rusak.

Namun dalam perjalanan sejarah, monoteisme bolehlah dituduh  sebagai pandangan yang  merengut banyak korban. Bagaimana tidak, agama formal misalnya;  turut menscrening agama-agama asli Nusantara untuk “dimodernkan”  dengan agama yang lebih realistik, monoteistik,  di mana negara berperan besar meregulasi jadi serba seragam.

Meski diingat bahwa spirit Nusantara yang dibangun raja-raja Majapahit, yang menghasilkan sinkritisme Siwa-Buddha, begitu juga Nusantara yang dibangun raja-raja Islam Mataram tidaklah atas dasar agama. Sebagaimana Nusantara kecil yang masih hidup kini di Bali, ia tidak dibangun atas landasan agama. Nusantara itu sebagaimana disaksikan kini di Bali dibangun dari spirit geo-historis, geo-kultural dengan pengutamaan menghormati manusia sebumi, “manusa pada.” Ini adalah ajaran yang dialirkan para leluhur.

Inilah demokrasi ala Bali, demokrasi yang tak cuma menuntut hak, demokrasi di mana semua orang merasa dihargai sekaligus  didudukan setara. Demokrasi di mana setiap person dihargai sama rata. Praktik real ini bisa kita simak dalam paruman  atau rapat-rapat desa, di mana keputusan ditentukan dari yang terbaik, bukan karena kepentingan penguasa, atau perorangan. Demokrasi ala Bali sesungguhnya demokrasi yang bertujuan menemukan kebenaran tertinggi, kebenaran yang bisa memayungi kepentingan sumua orang, karena di situ tidak ada kepentingan pribadi yang dipolitisi, lalu memaksakan  kebenaran pribadi untuk orang banyak. Lalu muncul demokrasi kepentingan, yang pada akhirnya melahirkan dehumanisasi, penghilangan harkat manusia.

Betapa inti dari demokrasi, bila meminjam kata-kata Nehru, mantan Perdana Mentri India, dalam buku bertajuk, The Legacy Of Nehru (1984); “Demokrasi menyangkut kesamaan kesempatan bagi semua orang, seluas-luasnya, dalam hal penguasaan politik dan ekonomi. Ini juga menyangkut kebebasan perorangan untuk tumbuh dan menjadi yang terbaik menurut kecakapan dan kemampuannya.

Demokrasi melibatkan suatu toleransi terhadap orang lain, dan bahkan terhadap pendapat orang lain apabila mereka berbeda dengan Anda. Demokrasi mencakup suatu pencarian intensif untuk kebenaran tertinggi serta harkat menghargai, memuliakan insan hidup semesta.

Kembali pada pluralisme Nusantara yang sudah dijarit sedemikan indah menjadi mosaik dan pandangan hidup bangsa, kita kemudian teringat Mpu Tantular, dialah sesungguhnya Bapak Pluralisme dari jaman lampau, dari zaman Majapahit yang melahirkan kata tua Nusantara.

Tantularisme menjadi penting kita gemakan kini. Darinyalah pendiri republik ini menggali ungkapan  untuk keragaman bangsa:  bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. Tapi perlu dicatat, lebih dari sepuluh tahun Mpu Tantular memikirkan ramuan kalimat ajaib ini. Dari karya pertamanya yang sempat kita baca, Kakawin Arjuna Wijaya, ia baru menemukan formulasi; kalih sameka [ dua itu sama]. Kutipan lengkapnya  tertulis begini:

Ndan kantênanya haji tan hana bheda sang hyang/ hyang Buddha rakwa kalawan Śiwarājadewa/ kālih samêka sira sang pinakeșți dharma/ ring dharma sīma tuwi yan lêpas adwitiya/ [27.2]

Intinya tidak ada perbedaan di antara beliau/ Sang Hyang Buddha dengan Sang Hyang Siwarajadewa/ keduanya sama, itu yang menjadi tujuan dharma/ baik dalam dharma sima maupun dharma lepas, tidak ada bedanya.//

Tapi sepuluh tahun kemudian, saat  pujangga ini menulis Kakawin Sutasoma, Mpu Tantular menyempurnakan kembali hakikat yang berbeda itu, karena pada intinya yang tunggal itu berasal dari yang banyak, dan yang banyak berasal dari yang tunggal, maka tunggallah itu semua.

Begini Mpu Tantular menuliskan:

hyang  Buddha tan pahi lawan Śiwarājadewa// rwâneka dhatu winuwus wara Buddhawiśwa/ bhinêka rakwa ring apan kêna parwanôsen/ mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal/ bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa//

Hyang Buddha itu tak berbeda dengan Śiwarājadewa// Sejatinya dua perwujudan beliau  Buddha dan Siwa/ berbeda konon, tapi kapan dapat dibagi dua/ demikianlah hakikat Buddha dan Siwa, tunggal adanya/ berbeda itu tunggal, tidak ada kebenaran mendua//

Demokrasi Pancasila, demokrasi yang berdasarkan sila-sila Pancasila yang dilihat sebagai suatu keseluruhan yang utuh, boleh jadi diinspirasi oleh semangat egaliterisme dan humanisme modern, namun semangat pluralisme itu sendiri telahir dari  semangat sinkritisme Mpu Tantular, dari satu zaman gemilang bernama : Majapahit, hingga di satu titik  sang pujangga mengingatkan dengan amat sangat; panca sila ya gégén den teki hawya lupa. Pancasila itu patut dipegang teguh, jangan sampai dilupakan.

Tantularisme adalah gen kecerdasan kognisi bangsa ini, cahaya ilmu pemersatu bangsa. Ia tidak mengikat, tapi memayungi seluruh entitas bangsa dalam keragaman yang hidup, dalam jaritan nilai, semangat saling memuliakan, di jalan tunggal zat  maha agung, Ketuhanan Yang Maha Esa. [T]

Penulis: I Wayan Westa
Editor: Adnyana Ole

Sastra Bali dan Kebangkitan Daya Budi
“Tajen”:  Dari I Pudak, Marakata, hingga  Geertz
Kumbhakarņa Tattwa
Tags: demokrasiMpu Tantularsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seni Menjawab Pertanyaan Kapan Nikah Ala Imlek

Next Post

Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking :  Pura Taman Mumbul dan Pura Ratu Ayu Dalem Mumbul

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking :  Pura Taman Mumbul dan Pura Ratu Ayu Dalem Mumbul

Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking :  Pura Taman Mumbul dan Pura Ratu Ayu Dalem Mumbul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co