2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Jalan Malioboro, Tiba-Tiba Ingat Umbu

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
October 15, 2024
in Esai
Di Jalan Malioboro, Tiba-Tiba Ingat Umbu

Buku berjudul “Metiyem : Pisungsung Adiluhung untuk Umbu Landu Paranggi”.

SELASA         MALAM, 1 Oktober 2024, bersamaan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila, rombonganwidyawisata SMA Negeri 2 Kuta Selatan Shopping di Jalan Malioboro Yogyakarta. Jarak dari  Hotel Grage tempat rombongan menginap hanya sekitar 200 meter ke Jalan Malioboro. Cukup dengan berjalan kaki. Bila ingin merasakan sensasi becak, cukup dengan biaya Rp 20.000,00 sudah dapat menyusuri sepanjang  Jalan Malioboro sebagai ikon jalan legendaris bagi kota Pelajar Yogyakarta.

Menyusuri sepanjang Jalan Malioboro, tiba-tiba saya ingat dengan Umbu Landu Paranggi (ULP) yang pernah menggelandang di sini mengasuh rubrik Puisi  Koran Pelopor Yogyakarta (1969 – 1977). Mengingat ULP tiba-tiba saja saya teringat buku berjudul “Metiyem : Pisungsung Adiluhung untuk Umbu Landu Paranggi”. Buku ini  disusun oleh Imam Budhi Santosa, Mustofa W. Hasyim, Sutirman Eka Ardhana, dan Budi Sardjono, dengan Prolog Sapardi Djoko Damono dan epilog oleh Emha Ainun Nadjib. Mereka semua adalah anak-anak ULP yang setia berguru pada ningrat Sumba yang rela menanggalkan keningratannya, menggelandang di Yogyakarta. “Bersyukurlah Pelopor, Persada Studi Klub (PSK), dan Yogya. Bersyukurlah Bali Post, Sanggar Minum Kopi (SMK) dan Denpasar. Bersyukurlah Jawa dan Bali. Bersyukurlah Sumba punya Indonesia, punya seorang ULP”, demikian tulis Boedi Ismanto SA dalam Metiyem.

Penulis di Jalan Malioboro Yogyakarta | Foto: Dok. Nyoman Tingkat

Buku setebal 244 halaman ini memuat 7 bagian dengan rincian : Epilog, Jejak Tapak, Siut, Dengung, Gema, Desir, dan Epilog. Keseluruhan isinya menggambarkan pergumulan penulisnya dengan ULP yang membangun komunikasi lintas ilmu, lintas Perguruan Tinggi, lintas geografi, lintas etnis tanpa membedakan asal-usul. Bahkan ULP sendiri menanggalkan keningratannya sebagaimana Ki Hadjar Dewantara lebih memilih merakyat melalui Perguruan Taman Siswa. ULP merakyat -bahkan- menggelandang melalui pintu masuk ; puisi, karena kata Putri Suastini Koster, “Puisi membasuh jiwa yang keruh”. Dengan kalimat lain, puisi itu menjernihkan.

Menanggalkan keningratan bagi ULP sama dengan perjuangan Chairil Anwar yang hidup menggelandang di Jakarta padahal di kampungnya, ia adalah keluarga berada. Baik ULP dan Chairil Anwar menggelandang di jalur yang sama : puisi. Kedua-duanya juga datang ke Jawa, mula-mula untuk menuntut ilmu lalu bertualang di medan perjuangan kata-kata dengan puisi sebagai alas. “Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan”, tulis ULP dalam sajak Melodia. Sementara Chairil Anwar, menulis, “Rumahku dari unggun timbun sajak…”, dalam sajak berjudul “Rumahku” (1943).

Masuk akal setiap melintas di Jalan Malioboro saya ingat ULP karena Koran Pelopor yang diasuh memuat puisi untuk pemula dan senior dalam rubrik Persada Study Kub (PSK) dan Sabana. Pertama, Jalan Malioboro dengan Gunung Merapi-UGM-Keraton dan Pantai Parangtritis adalah satu garis mistis dengan kekuatan magis yang dapat diraih dengan jalan sunyi.  Emha Ainun Najib mengatakan, Malioboro berarti Wali yang mengembara ke Alam Sunyi melalui Margo Utomo. Jalan Margo Mulyo adalah jalan sastra purba dengan produk puisi.

Kedua, dari Jalan Malioboro ULP berhasil mendidik murid-muridnya dari berbagai daerah memetik buah sunyi yang ditulis dalam puisi, sebagai aksara bermakna. Kelak murid-murid itulah yang namanya tercatat dalam khasanah Sastra Indonesia, khususnya dalam bidang puisi. Sementara itu, ULP sudah bangga menjadi guru yang meneruskan cita-cita Ki Hadjar Dewantara dengan semangat saling asah, asih,asuh. Walaupun ULP gagal bersekolah di Perguruan Taman Siswa, ia dengan penuh wibawa memuliakan ajaran Ki Hadjar Dewantara untuk menjadi penggembala bagi anak-anak zaman di persimpangan jalan.

Ketiga, sebagai guru di Jalan Universitas Kehidupan, ULP selalu menghamba kepada sang anak dengan laku hidup prihatin menerapkan  tapabrata sebagaimana orang-orang Bali tempo doeloe meraih prestasi puncak kemanusiaan. Inilah yang disebut oleh Ida Pedanda Made Sidemen, dalam karyanya Selampah Laku,  “Tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin”. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, menyebut, “Orang Bali harus mengenali dirinya sendiri sebagai sumber kreativitas”.

Keempat, melalui Jalan Malioboro   melewati Margo Mulyo menuju Keraton, ULP akhirnya bersembunyi di Lembah Pujian Denpasar seraya menjadi penggembala bagi bibit-bibit unggul di Bali Post (1979-2022). Pembibitan dan pemupukan bibit unggul pada fase awal di Bali melalui Sanggar Minum Kopi (SMK). Inilah sekolah kehidupan yang berkearifan lokal dengan laku hidup, silayukti. Ibarat bermeditasi belajar ke dalam mem-Bali setelah melewati fase belajar ke luar men-Jawa.  

Pada akhirnya, ULP pun berserah diri di Bali. Pasrah tanpa pamrih setelah murid-muridnya rajin bercocok tanam lalu memetik buah ranum di taman yang indah. Murid yang berakhlak mulia adalah murid yang tahu membayar hutang budi, maka lahirlah, “Metiyem : Pisungsung Adiluhung untuk Umbu Landu Paranggi”. Saya bersyukur, dihadiahi buku ini oleh ULP dengan tulisan indah  melalui seorang teman, I Made Sujaya dosen di UPMI Denpasar (dulu : IKIP PGRI Bali).

Buku berjudul “Metiyem : Pisungsung Adiluhung untuk Umbu Landu Paranggi”. | Foto: Nyoman Tingkat

Begitulah, mengingat ULP di Malioboro terngiang dialog intensif kebudayaan dari pemuda rantau yang memantau perkembangan budaya bangsanya melalui jalan pendidikan, membangun jiwa bangsanya. Di Jalan inilah ladang luas kebudayaan disempitkan dalam rubrik-rubrik Koran Pelopor memuat parade puisi.

Puisi menjadi mantra Kebudayaan Nasional Indonesia yang telah diimpikan oleh Muhamad Yamin, 17 tahun sebelum Indonesia Merdeka, 28 Oktober 2028. ULP menyebut, Sumpah Pemuda adalah mahakarya puisi yang lahir dari proses kontemplasi di kedalaman. Diperoleh dengan menyelam penuh seluruh, tidak tergesa-gesa, apalagi  instan. Itulah api semangat Sumpah Pemuda yang pantang dipadamkan. Senyampang bulan Oktober, momentum bertanah air, berbangsa, dan berbahasa Indonesia layak untuk direfleksikan kembali.

Berguru pada ULP adalah dengan menjadi murid yang bersahaja di jalan sunyi di tengah riuh Malioboro. “Jadilah Wali yang mengembara dengan kata-kata : Sunyi, bekerjalah kau. Maka orang menyimpulkan, sebagai  penyair”, demikian kata Emha Ainun Nadjib murid yang berguru pada ULP di Jalan Kebudayaan, Malioboro. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Geblek Pari, Wisata Kuliner Rasa Alam Pedesaan di Kulon Progo
Heha Sky View, Taman Langitnya Yogyakarta
Berguru ke Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Shopping Puisi di Malioboro 
Yang Tercecer dari Borobudur dan Prambanan
Tags: Jalan Malioboro YogyakartaSMAN 2 Kuta SelatanUmbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

30 Tahun Kemudian: Reuni Alumni SMAN 1 Singaraja Bali Angkatan 1994

Next Post

Yang Tenang dan Yang Menang:  Catatan Pengamat Menuju Final Tajun Cup V

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Yang Tenang dan Yang Menang:  Catatan Pengamat Menuju Final Tajun Cup V

Yang Tenang dan Yang Menang:  Catatan Pengamat Menuju Final Tajun Cup V

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co