22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangga dengan Bahasa Madura

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
June 14, 2024
in Bahasa
Bangga dengan Bahasa Madura

PENULIS pantas kagum dan bangga jika orang-orang Madura di perantauan tidak melupakan tanah nenek moyangnya. Di sana, mereka dapat berbaur dengan masyarakat asli bahkan belajar menguasai bahasa daerah tempat mereka merantau tanpa menghilangkan bahasa asli mereka, Bahasa Madura.

Meski leluhur penulis berasal dari Tanah Madura, tapi hingga saat ini penulis tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Madura dengan baik. Namun ketika kebetulan bertamu di rumah orang yang berbahasa Madura, sebaik mungkin penulis akan berkomunikasi dalam bahasa Madura.

Ya, meski pelafalan bahasa Madura penulis kedengaran kaku, tapi setidaknya penulis masih berkesempatan untuk mempelajari tata bahasa Madura. Penulis ingin punya nilai lebih sebagai orang Madura.

Penulis lahir dan besar di sebuah kota yang terkenal dengan Gunung Bromonya. Keluarga penulis berasal dari Sumenep.

Tahun 1880-an, ketika pemerintah kolonial Belanda mengadakan program transmigrasi, kakek dan nenek buyut penulis ikut program tersebut sehingga mereka pun pindah ke sebuah wilayah yang berada di Jember, Puger nama desanya.

Di sana, mereka berprofesi sebagai petani. Perlu diketahui bahwa orang-orang Madura  sejak dulu memang ahli dalam mengelola tanah pertanian dengan hasil yang melimpah.

Tidak hanya cakap dalam mengolah tanah, mereka juga banyak menguasai ilmu pembibitan dan pengairan sehingga petani Jember pun lambat laun turut banyak yang menguasai ilmu pertanian.

Setelah berhasil mengajarkan ilmu tani di Jember, kakek nenek buyut penulis lalu hijrah ke utara: Banger, sekarang dikenal sebagai kota Probolinggo. Mereka membangun rumah dengan gaya rumah-rumah priyayi Sumenep. Pondasi rumah dibuat tinggi dan berundak. Di emperan teras terdapat pilar-pilar dan kanopi yang menjulur ke depan. Persis rumah lora-lora yang sering penulis lihat di foto tua.

Tak berselang lama kemudian, lahirlah anak-anak mereka. Tapi penulisng, kakek buyut meninggal dunia karena sakit. Enam tujuh tahun kemudian, nenek buyut menyusul beserta tiga orang anaknya yang lain akibat keracunan krathok.

Alhamdulillah, ketiga anaknya yang lain selamat dari maut, termasuk nenek penulis sendiri. Setelah kepergian ibunya, nenek penulis dan kakaknya merantau ke Surabaya, Malang, Situbondo, dan Bondowoso dengan bekerja sebagai babunya Londo dan Cina.

Setelah dewasa, kakak nenek penulis menikah dengan keturunan Sidi Waseso sehingga darinya kelak lahir kakak sepupu penulis yang menjadi Amangkurat di Keraton Astatinggi, Sumenep. Sedangkan dari nenek, lahirlah penulis. Tidak banyak yang tahu jika penulis masih memiliki darah keturunan keraton Sumenep. Termasuk para kiai di Jawa yang memiliki tali darah dengan keluarga penulis.

Cukuplah itu. Di sini, penulis tidak akan membahas tentang asal-usul keluarga. Bagi penulis, tidaklah penting meskipun penulis memiliki nasab dari adipati Sumenep. Penulis hanya ingin menjadi rakyat biasa sehingga mudah bergaul dengan orang lain tanpa sekat.

Nah, kembali ke bahasa Madura. Jujur, meski penulis keturunan orang Madura, namun penulis tampak kaku dalam pengucapan bahasa Madura. Akan tetapi, setelah penulis menikah dengan istri yang berasal dari lingkungan orang-orang berbahasa Madura, penulis  pun jadi terdorong untuk mempelajari bahasa Madura dengan baik dan benar.

Kerap kali penulis temukan banyak kesalahan pelafalan, baik yang diucapkan maupun yang berseliweran dalam rupa tulisan di media-media sosial. Adakalanya susunan kalimat dalam percakaan dan penulisan di media sosial berupa dialek gado-gado antara bahasa Madura Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.

Penulis merasa geli dan sering mengoreksi logat yang mereka ucapkan. Meski sebenarnya mereka bisa berkomunikasi dalam basa Madura, tapi betapa masih banyak orang-orang Madura yang berada di Madura sendiri maupun yang ada di daerah Tapal Kuda (Baca: Pantura, Jawa) yang tidak bisa menulis ejaan Madura dengan baik dan benar.

Berikut ini beberapa contoh kekeliuan penulisan yang sering penulis jumpai, berikut revisinya berdasarkan 2 kaidah ejaan bahasa Madura, yakni kaidah ejaan Madura sesuai hasil Sarasehan 1973 dan kaidah ejaan Madura hasil Konsinyasi (Kongres) Balai Bahasa Jawa Timur (2008-2011).

Lokah tapeh tak adere. Penulisan yang benar untuk kalimat tersebut adalah: “Loka tape tak adhara”, atau dengan ejaan yang baru — Loka tapè ta’ aḍârâ

Cek lopah: Ja’ loppa atau Jhâ’ loppa

Abe’en dibik: Ba’na dibi’ atau Bâ’na dhibi’

Emak sakek: Emma’ sake’ / Emma’ sakè’

Tolesannah lanjeng: Tolesanna lanjang / Tolèsanna lanjhâng

Bapak deteng deri sabe= Eppa’ dhateng dhari saba / Eppa’ ḍâteng ḍâri sabâ

Burawi ngakan ning berung= Burawi ngakan neng e barung / Bhurawi ngakan neng è bârung

Kyaeh bhuru deteng deri konjengan= Kyae buru rabu (dhateng) dhari onjangan / Kyaè bhuru rabu (ḍâteng) ḍâri onjhângan.

Catatan: ada yang menyebut Ma’ Kaè, karena orang Madura jaman doeloe menyebut Eppa’ dengan Mama’, Emma’ dengan Embu’. Jadi, dengan menisbatkan pada panggilan Eppa’ (lelaki), sebagian orang Madura menyebut Kyaè (lelaki sepuh yang terhormat) dengan sebutan Ma’ Kaè.

Lanjut, sekadar diketahui, berikut ini beberapa contoh macam-macam dialek bahasa Madura berdasarkan wilayah atau daerah masing-masing. Coba penulis kelompokkan menjadi 4 bagian: 1) Sumenep bagian timur, 2) Sumenep bagian barat dan Pamekasan, 3) Sampang, 4) Bangkalan.

Sebenarnya, perbedaan antara dialek Sumenep bagian timur, Sumenep bagian barat, Pamekasan, Sampang dan Bangkalan hanya terletak pada penyebutan kata ganti orang yang diajak bicara, yakni KAMU.

Masyarakat Sumenep bagian timur menyebut KAMU dengan ba’na/bâ’na (Baca: be’na), sementara mayoritas masyarakat Sumenep bagian barat (Lenteng ke selatan-ke utara dan ke barat) juga warga Pamekasan menyebut KAMU dengan kata: ba’en/bâ’en (baca: be’en).

Sedangkan masyarakat Sampang dan Bangkalan memiliki sebutan tersendiri yang sama sekali tidak mirip dengan penyebutan KAMU bagi orang Sumenep dan Pamekasan. Orang Sampang menyebut BA’NA atau BA’EN dengan KAKEH (baca: kakèh), sementara orang Bangkalan menggunakan Hedhah atau Hèḍâh (baca: hèdeh).

Di bawah ini 4 contoh kalimat atau okara percakapan bahasa Madura berdasarkan 4 dialek yang ada.

DIALEK SUMENEP TIMUR

Be’na alako apa jreya ma’ ta’ lem mare molae kelle’? (KELIRU)

Ba’na alako apa jareya ma’ ta’ gellem mare molae gella’? Atau, Bâ’na alako apa jârèya ma’ ta’ ghellem marè molaè ghellâ’? (BENAR)

DIALEK SUMENEP BARAT & PAMEKASAN

Be’en re lako nemmo pei, ce’ tuliyana kan la mare parkarana ciah! (KELIRU)

Ba’en re lako nemmo bai, ja’ duliyana kan la mare parkara jiyah! Atau, Bâ’en rè lako nemmo bhâi, jhâ’ dhuliyâna kan la marè parkara jiyâh! (BENAR)

DIALEK SAMPANG

Tettih kakeh entar ka tang bungkoh? (KELIRU)

Daddi kakeh entar ka tang bengko. Ada pula yang mengatakan tang bengko dengan “tang roma”. (BENAR berdasarkan ejaan hasil Sarasehan 1973).

Atau, jika ditulis berdasarkan ejaan yang baru (Kongres BBJT, 2013), maka menjadi: Dhâddhi kakèh èntar ka tang bengko.

DIALEK BANGKALAN

Hedeh ma’ puru dateng, de’emma bhai molae ghellak? (KELIRU)

Hedhah ma’ buru dhateng, dha’emma bai molae gella’? Atau, Hèḍâh ma’ bhuru ḍâteng, ḍâ’emma bhâi molaè ghellâ’? (BENAR)

Menulis kek gitu aja kok repot! Payah loe. Hhe..

Penulisan ejaan-ejaan di atas kadang membuat penulis geli. Pernah penulis bertanya kepada anak-anak santri dari Kuripan.

“Le, kamu orang mana?”

“Penulis orang Madura, Mas.”

“Madura mana?”

“Tidak tahu.”

“Masa loe enggak tau asal-usul loe? Atau jangan-jangan loe berasal dari Pluto, Conk!” umpatku sambil guyon.

Jawaban yang aneh. Ditanya berasal dari Madura mana, jawabnya tidak tahu. Lha kan aneh, to!? Mestinya, paling tidak dia pernah bertanya kepada orangtuanya agar memberitahukan asal-usul keluarganya.

Sebelum menutup, penulis merasa bangga dengan adanya media online yang fokus meramaikan bahasa Madura dengan penulisan yang baik dan benar pula. Seperti dimadura.id, alangkah baiknya jika dijadikan sarana untuk saling sharing dalam melestarikan Bahasa Madura, sehingga bahasa nenek moyang kita ini, sangkolan Bhâsa Madhurâ ini, tidak punah karena distorsi bahasa luar (asing).

Sekian, dan mari kita bersama-sama belajar bahasa dan budaya Madura, rawat serta lestarikan peninggalan nenek moyang yang telah mendirikan kerajaan di Madura ini dengan hati yang indah. [T]

Mobil Si Pino
Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya
Gemoy dan Omon-Omon: Bentuk Kedinamisan Bahasa
Tags: Bahasabahasa daerahBahasa MaduraMaduraOrang Madura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pj Bupati Buleleng: Pentingnya Kolaborasi dalam Program Percepatan Akses Keuangan Daerah

Next Post

Suami yang Baik atau Ayah yang Baik?

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

Read moreDetails

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

by I Made Sudiana
October 16, 2026
0
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

Read moreDetails

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

by I Made Sudiana
October 4, 2026
0
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

Read moreDetails

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails
Next Post
Suami yang Baik atau Ayah yang Baik?

Suami yang Baik atau Ayah yang Baik?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co