SEBUAH peternakan merupakan negara bagi sekumpulan hewan yang ada di dalamnya. Itu termasuk para sapi, ayam, kucing, burung, kuda, anjing dan babi. Dua hewan terakhir memegang kendali atas sebuah peternakan, atau setidaknya otak alias pemimpin dari peternakan itu adalah seekor Babi, dan para anjing dipercaya oleh Babi untuk menertibkan dan mengamankan sekumpulan hewan di peternakan. Sekali lagi kuingatkan bahwa sebuah peternakan, bagi para hewan, merupakan sebuah negara.
Syahdan, pemimpin para hewan, Babi, menerapkan peraturan baru berupa segala susu (yang diperah dari sapi di peternakan) dan apel (yang berasal dari perkebunan di peternakan) harus diserahkan ke sekumpulan Babi, sebab para Babi harus sehat dan cermat dalam merumuskan peraturan-peraturan di peternakan demi kesejahteraan bersama. Untuk itu mereka membutuhkan makanan serta minuman yang sehat, pula baik untuk otak.
Peraturan tersebut dirumuskan oleh sekumpulan Babi yang berunding, tanpa mengajak hewan-hewan lain untuk bersuara. Para hewan awalnya kebingungan sebab tanpa penjelasan, sekonyong-konyong apel dan susu yang mereka hasilkan serta panen tetiba dibawa ke istana Babi. Tentu pada mulanya, terdapat sebagian hewan bertanya, kenapa hak atau jatah mereka disunat?
Sebelum pertanyaan semacam itu benar-benar tersebar ke hewan-hewan lain, beberapa Babi dilepaskan ke luar istana untuk mengunjungi peternakan dan menjelaskan bahwa peraturan tersebut adalah peraturan yang bijak, sebab Babi membutuhkan makanan-minuman yang sehat untuk memikirkan “rakyatnya” di peternakan. Sapi, ayam, kucing, burung, dan kuda, tersenyum sekaligus membenarkan ucapan jubir Pemimpin Babi. Bahkan para hewan yang bekerja kasar di peternakan itu merasa tertolong sebab ada orang “Cerdas” yang memikirkan dan merumuskan peraturan bijak untuk mereka. Akan tetapi, ini bukan hanya tentang sepetak peternakan, sebab kembali kuingatkan bahwa peternakan itu, bagi para hewan, merupakan sebuah negara.
Merasa tak asing dengan cerita ringkas ini? Kalau iya, maka saya berasumsi ada dua kemungkinan. Kemungkinan yang pertama adalah karena kamu pernah membaca Animal Farm milik George Orwell—sebab kisah yang kuolah ulang itu adalah beberapa potongan kejadian yang ada di novel. Lalu kemungkinan yang kedua adalah karena kamu tinggal di Indonesia.
Lanjut bercerita tentang peternakan “asuhan” Babi. Sebetulnya kecerdasan—atau lebih tepatnya kepandaian bersiasat—Babi tak hanya sampai situ. Awal dari segala awal, Babi yang mula-mula mendeklarasikan dasar-dasar hukum yang tertulis serta—awalnya—disetujui oleh para hewan di peternakan itu, mengotak-atik rumusan hukum yang ada demi kenyamanan pribadinya (kelompoknya). Satu pedoman yang ia deklarasikan adalah “Semua hewan tidak boleh tidur di istana”, yang tiba-tiba berubah tanpa sepengetahuan para hewan menjadi, “Semua hewan tidak boleh tidur di istana dengan seprai”, dan yang menempati istana saat itu hanyalah sekawanan Babi. Ya, semua hukum bisa menjadi sangat lentur. Semua aturan niscaya untuk dilanggar. Syaratnya cuma satu: mengganti otak manusia dengan otak Babi.
Dan jangan lupa, peternakan itu, bagi para hewan, adalah sebuah negara. Yang diasuh oleh Babi serta yang di-Asu-Asu-kan oleh sebagian hewan yang sadar dan mengerti.
Kawan-kawan, Babi memang pandai bersiasat. Dalam novel Animal Farm, Babi tidak merumuskan berderet-deret aturan-aturan baru yang membuat bingung para hewan untuk berfokus pada kejanggalan yang mana dahulu. Tetapi bahkan jika skenario tersebut ada, saya sangat berharap, setidaknya, sekumpulan hewan di peternakan sadar dan mengerti, bahwa Babi mereka tengah dan akan senantiasa bersiasat. JANGAN TENGGELAM. TERUSLAH BERENANG. DAN MENELAN MESKI BELUM MENGERTI. [T]





























