6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Indonesia dari Pinggir: Memoar Perjalanan yang Mengagumkan

Jaswanto by Jaswanto
March 14, 2024
in Ulas Buku
Indonesia dari Pinggir: Memoar Perjalanan yang Mengagumkan

Sampul buku Indonesia dari Pinggir

1/

SAYA membaca catatan perjalanan Trinity di blog-nya. Juga buku kisah perjuangannya saat jalan-jalan, yang berjudul The Naked Traveler terbitan Bentang Pustaka tahun 2007. Saya juga menonton filmnya dengan judul yang sama—yang dibintangi Maudy Ayunda. Tapi entah, saya tidak tergerak sama sekali untuk melanjutkan atau mengikuti tulisan-tulisan Trinity. Saya mandek membaca The Naked Traveler, padahal, kabarnya, serinya berlanjut sampai berjilid-jilid—saya akui buku-buku Trinity memang laris.

Tapi mungkin karena gaya dan bahasa yang digunakan Trinity, atau mungkin malah hanya urusan selera saya saja. Trinity menggunakan bahasa yang sangat populer untuk mendeskripsikan atau menarasikan temuan-temuannya di banyak belahan dunia. Sedangkan saya tidak terlalu suka tiap hal yang terlalu populer! Mungkin karena itulah catatan-catatan Trinity tidak sampai membekas dan mendapat laci khusus di benak saya.

Maka belakangan saya berjumpa dengan Eric Weiner, si penggerutu yang keliling dunia untuk mencari negara paling bahagia. Eric melakukan misi yang ia ketahui dengan baik adalah misi yang menyenangkan, bukan misi bodoh anak lima tahun yang berputar-putar. Jadilah saya membaca kisah perjalanannya dalam buku The Geography of Bliss versi Indonesia tahun 2016.

Eric adalah penulis perjalanan yang dahsyat. Bukan hanya fokus kepada subtansi, tapi juga gayanya dalam menulis. Seperti kata Iqbal Aji Daryono, gaya tulisan orang itu “cerdas, tapi lentur, dengan ritme yang asyik, dan humor-humor tipis berkelas” yang membuat saya terbahak meski sudah berulang kali membacanya. Ia berkeliling dunia untuk mencari negara yang warganya paling bahagia, sembari menemui para pakar kebahagiaan, atau setidaknya orang-orang yang tampak mewakili hal tersebut, mengamati lanskap geografis maupun budaya yang membentuk kebahagiaan itu, dan sebagainya.

(Saya jatuh cinta kepada The Geography of Bliss, kepada Eric, dan saya ingin bisa menulis seperti dia. Meski belum bisa sampai hari ini—bahkan, sampai pada paragraf keempat dalam tulisan ini, saya gagal membuat Anda tertawa, atau setidaknya tersenyum tipis saja.)

Setelah membaca kisah seorang penggerutu yang berkeliling dunia mencari negara paling membahagiakan, saya tak membaca catatan perjalanan apa pun atau yang ditulis oleh siapa pun. Hingga saya menemukannya di majalah Tempo setahun yang lalu. Sebuah esai perjalanan berjudul “Benarkah Ada Mafia di Pulau Sisilia?”,  membuat saya kagum dan jatuh cinta. Penulisnya bernama Fatris Mf, seorang jurnalis lepas yang menulis perjalanan di banyak media.

Di internet saya melacaknya, dan berhenti di satu laman bernama DestinAsia Indonesia—di sini saya lumayan banyak menemukan tulisan Fatris. Dari laman tersebut pula yang membawa saya kepada satu nama lagi: Agustinus Wibowo, penulis perjalanan dan mantan jurnalis di Afghanistan.

Agustinus, penulis perjalanan yang tak hanya pandai menguliti akar perkara identitas dengan pendekatan antropologi dan sejarah yang telaten dan “ambisius”, melainkan juga menghadirkan kekayaan pengalaman personalnya yang sulit disaingi sebagai seorang penjelajah dan petualang. Begitu kata Iqbal Aji Daryono dalam tulisannya di buku Agustinus yang berjudul Kita dan Mereka. Ia, Agustinus, si penggali kedalaman seperti Jarred Diamond dan bertutur selincah Yuval Noah Harari itu.

Tapi ini bukan tentang Agustinus Wibowo atau tentang karya-karya yang dituliskannya—atau tentang Trinity, Eric, maupun Iqbal. Lupakan nama-nama itu. Ini tentang penulis perjalanan lainnya, yang juga teman Agustinus, Fatris Mf—yang tulisannya pertama kali saya jumpai dan baca di majalah Tempo itu.

Pada Oktober 2023, seorang teman pendiri sekaligus pemilik Penerbit Partikular, Juli Sastrawan, menerbitkan kumpulan catatan Fatris dengan judul “Indonesia dari Pinggir”. Dan inilah yang hendak kita bahas.

2/

Sebagaimana tertulis di sampul belakang buku tersebut, Indonesia dari Pinggir bagai jendela kecil yang mengajak kita bersama-sama melihat lebih dekat daerah-daerah yang jarang didengar keberadaannya, yang sama-samar bersuara, yang dianaktirikan pembangunan dan jauh dari Jakarta.

Indonesia dari Pinggir merupakan seri catatan perjalanan Fatris ke beberapa tempat dari timur hingga barat Indonesia. Beberapa tulisan dalam buku ini, dalam versi yang lebih pendek dan dengan judul yang berbeda pula, pernah diterbitkan di DestinAsia Indonesia—dan saya sudah membaca semuanya. Banyak tambahan, tentu saja. Tapi secara isi dan subtansi, tak berubah sama sekali.

Esai yang berjudul “Serat-Serat Sawu”,  misalnya, dalam versi lebih pendek di DestinAsia, saya rasa tulisan itu berjudul “Hikayat Para Pemburu Paus Lamalera”—dan lelucon dalam esai ini, tentang jurang yang kalau mobil jatuh, lima belas kali lagu Indonesia Raya belum sampai di dasarnya itu, juga muncul dalam esai berjudul “Nyanyian Tuhan di Larantuka”, yang menjadi esai pertama dalam buku Indonesia dari Pinggir.

Tak hanya itu saja, esai “Amis Darah dan Wangi Cendana” saya kira merupakan versi panjang dari esai “Kuda dan Identitas Kultural Sumba”. Dan “Cara Ambon Mencetak Penyanyi”, misalnya, tak lain dan tak bukan adalah versi pendek dari esai “Suara-Suara dari Ambon”. Sedangkan “Buru Baru”, sekadar menyebut satu esai lagi, tak akan salah jika saya mengatakan bahwa ini merupakan versi panjang dari esai “Pulau Buru, Antara Pram dan Emas”. Masih ada beberapa lagi sebenarnya, tapi sengaja tak saya sebutkan.

Dan beberapa tulisan dalam buku ini sebenarnya juga sudah diterbitkan di buku lain yang berjudul Lara Tawa Nusantara (2019), buku ketiga Fatris yang berisikan cerita perjalanannya dalam mengarungi tempat-tempat di Indonesia, seperti Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Lombok, dan Bali—baik di kota, pedalaman, maupun pesisirnya.

Saya memang belum membaca Lara Tawa Nusantara, tapi saya membaca beberapa resensi tentangnya. Dalam beberapa resensi yang saya baca, saya menemukan beberapa cerita yang sama dengan cerita yang ada di Indonesia dari Pinggir. Misalnya, tentang Suku Dayak di Kalimantan—yang mendapat stigma menakutkan dari orang Barat macam Carl Bock bahwa suku-suku yang mendiami pedalaman Kalimantan dan hidup di tepi sungai-sungai lebar itu pemenggal kepala.

Atau kisah tentang Kusasi, sosok orangutan yang pernah merangkul aktris Hollywood papan atas, Julia Roberts, di Camp Leakey di pedalaman Kalimantan Tengah dalam esai “Pertarungan Terakhir”. Juga mungkin, dalam Lara Tawa Nusantara, ada beberapa tulisan yang pernah diterbitkan di DestinAsia Indonesia—dalam versi yang lebih pendek, tentu saja.

Buku Indonesia dari Pinggir dibagi menjadi dua bab. Bab pertama berisi delapan esai; dan bab kedua berisi tujuh esai. Bab satu diberi tajuk “Membelakangi Timur”; sedangkan bab dua judul “Di Tengah Pusaran Angin” disematkan. Saya tak paham maksud penulis memberi judul demikian, tapi saya menduga bahwa itu berkaitan dengan isi tulisan di masing-masing bab. Misalnya, “Membelakangi Timur” karena isi tulisannya memang menyangkut perihal wilayah Timur Indonesia.

Namun, terlepas dari soal-soal di atas, buku ini bagi saya adalah teropong lain yang memperlihatkan kepada kita betapa banyak tempat—menjambret bahasa yang sering Fatris gunakan—yang seperti tak tergambar dalam peta, bahkan Google saja tidak mampu menerangkannya, karena saking tak berartinya bagi kita.

Dalam buku ini, banyak nama tempat yang asing dan terdengar aneh di telinga, seperti Kobror—pulau yang teronggok di tengah kungkungan Laut Aru (Arafura), kata Fatris, Dobo, Mamasa, dan nama-nama manusia yang terdengar tak kalah anehnya. Misalnya dalam esai “Tarian Kematian” yang membahas tentang Suku Dayak Tomun di Kalimantan, Anda akan menemukan lelaki yang bernama Kakap, Mesin, Ponten, Yamaha, Arab… “Orang-orang di sini tidak pernah pusing mencari nama untuk anaknya,” kata Kakap, sebagaimana dituliskan Fatris dalam esai tersebut.

Indonesia dari Pinggir, seperti buku atlas, membawa kita menjelajah Indonesia bagian Timur yang tak terbayangkan, dari wilayah Nusa Tenggara Timur, Larantuka, Sumba, Lembata, Ruteng, sampai ke Timor Timur; lalu melompat ke Ambon, Buru, Kobror, Kampung Bira, Mandar, Toraja, Mamasa, Wakatobi, sampai pedalaman hutan Kalimantan. Semua tempat yang disebutkan memiliki kisah, sejarah, dan budaya masing-masing. Tempat-tempat ini seperti bercerita dengan duka, tawa, dan ironinya. Ironi?

Jangan tertipu, meski ini buku tentang perjalanan, alih-alih mendapatkan gambaran tentang keindahan atau eksotisme sebuah pulau, misalnya, sebagaimana yang tergores dalam kanvas Hindia Molek, gambaran haru-biru orang Eropa tentang eksotisme Timur, Anda justru akan mendapat sesuatu di baliknya—sesuatu yang membuat kuduk berdiri, rasa simpati yang halus menelusup, keheranan, renungan, dan tawa yang getir.

Indonesia dari Pinggir bukan sakadar ensiklopedia nama-nama tempat, orang-orang, atau kebudayaan, apalagi brosur pariwisata. Lebih dari itu, ini adalah rekaman yang dalam tentang prilaku hidup manusia, seni-budaya, perubahan zaman, pergeseran nilai, hingga kepercayaan lokal—yang membuat yang muskil, yang keras, yang suci, dan juga yang kejam, dijalani.

Semua itu diramu dengan pendekatan antropologis-sosiologis, sejarah, dan pengalaman personal yang tak mungkin didapat oleh orang lain. Fatris menambahkannya dengan metafor-metafor, anekdot-anekdot, dan humor-humor gelap yang membuat Anda ngakak terbahak, sekaligus terbungkam menerima kenyataan bahwa masih banyak tempat yang tidak kecipratan sila kelima Pancasila—atau sekadar masuk radar pembangunan yang sering digaung-gaungkan.

Di Mamasa, misalnya, Fatris mencatat, infrastruktur seperti jalan raya adalah hal yang langka. Sepeda motor akan berjalan di pinggir-pinggir jurang yang setiap saat longsor, bahkan memasuki rimba dan tidak ada jalan yang layak sama sekali.

Tapi jangan salah, tulis Fatris lagi, di tempat destinasi andalan wisata Sulawesi Barat ini, jaringan 3G telah memenuhi tiap sudut ibu kota kabupaten bahkan sampai ke desa-desa gelap—mengalahkan jalan. Internet sepertinya lebih dulu memasuki Mamasa ketimbang jalan raya. “Berjalan kaki di tengah kota pun harus rela mengarungi lumpur yang meluap dari drainase yang nihil.”

Dan Timor Timur, atau Bumi Loro Sae dalam esai “Dua Sisi Timor”, adalah tragedi dan ironi yang lain. Esai yang memotret negara demokratis Timor Leste setelah merdeka, bebas menentukan nasibnya sendiri, dari Indonesia pada tahun 2002 itu, memberi gambaran baru kepada saya tentang wajah Indonesia yang lain. Timor Leste punya catatan sejarah yang buruk dengan negara yang kita bangga-banggakan ini. Catatan-catatan dan video tentang kejahatan perang, kekejaman—beredar di sana.

Indonesia, sekali lagi yang kita bangga-banggakan ini, yang dalam Preambule UUD-nya mengutuk praktik penjajahan, di mata Timor Leste justru adalah negeri penjajah dengan catatan yang sarkas—walaupun Pemerintah Indonesia tidak mengaku sebagai penjajah. Tapi bukankah Belanda, Inggris, Portugis, juga tidak pernah mengaku menjajah Indonesia?

Di bangku-bangku sekolah di Timor Lesta, tulis Fatris, sejarah kekerasan tersebut diajarkan dengan lebih detail. Dalam beberapa catatan perjuangan Timor Leste, Indonesia kerap disebut sebagai tiran, penjajah bengis dengan moncong senjata terarah ke mana saja. Dan semua itu, kepedihan panjang negeri mungil ini disimpan, dirawat dengan serius di Resistência Timorense Arquivo & Museu—museum terpenting di Dili. 

3/

Sampai di sini, saya pikir Fatris merupakan jelmaan wartawan sekaligus sastrawan—walaupun ia tidak memproduksi karya sastra. Pasalnya, catatan-catatan perjalanannya—di dalam buku ini maupun yang tersiar di berbagai media lainnya—selain mengandung unsur jurnalistik, juga bercitarasa seperti cerita pendek. Narasi-narasi Fatris mengalir tanpa putus. Akibatnya, saat membaca, saya urung berhenti.

Tak banyak penulis sebenarnya yang membuat saya semangat membaca. Tetapi, selain Mahfud Ikhwan tentu saja, Fatris berhasil membuat saya meluangkan waktu membaca lebih banyak dari biasanya. Indonesia dari Pinggir, bagi saya, adalah catatan perjalanan yang mengagumkan. Selain karena sudut pandangnya—Fatris lebih banyak menggunakan sudut pandang penduduk lokal, dan saya menyukai itu—dalam mendeskripsikan apa-apa yang ada, yang terjadi, dan bagaimana kini, juga cara berceritanya, pilihan katanya, humor-humor gelapnya, dan detail di setiap tulisannya, adalah berbagai hal yang menjadi alasan kekaguman itu.

Fatris tidak bermental kolonial sebagaimana, misalnya, meneer Henri Hubert van Kol waktu pelesiran ke Bali pada 1902—yang disebut-sebut sebagai turis pertama yang berkunjung ke Bali untuk tujuan pariwisata—yang kemudian menulis catatan perjalanan yang gemuk—setebal 826 halaman—yang berjudul Uit onze koloniën (From Our Colonies) itu—yang konon agak “kepleset”, penuh stereotip, dalam mendeskripsikan masyarakat yang ditemuinya. Dalam beberapa tulisan, Fatris justru membantah stereotip—walaupun kadang terlalu jujur, blak-blakan malah, saat menarasikan sosok yang ditemui atau tempat yang disinggahi.

Dengan latar belakang pendidikan yang ditempuh Fatris di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, ia sukses membuat tulisan yang rapi dan luas dalam memotret kehidupan dan suasana Indonesia yang sebenarnya—yang tak tampak di layar-layar gawai atau di akun-akun media sosial. Jika dahulu Alfred Russel Wallace merangkum perjalanannya di Nusantara pada abad ke-19 dengan kacamata biologis dan geografis dalam Malay Archipelago, Fatris menjadi orang yang meneruskan dan memperluas perspektifnya dari jendela antropologi, sosilogi, dan histori.

Buku Indonesia dari Pinggir jelas ingin membedakan diri dengan kebanyakan buku catatan perjalanan lainnya, baik dari model brosur pariwisata negara dan/atau terutama yang dibuat oleh orang Eropa di zaman bahula. Sebagaimana dikatakan Fatris, catatan orang Eropa—si Indonesianis yang berkulit pucat—yang ditulis mulai abad ke-16 dan dinilai ikut mendorong kolonialisme itu, hanya melihat “Nusantara, Hindia Belanda, Indonesia” sebagai suatu yang eksotis “tanpa ada penderitaan yang dikandungnya.” Dan tentu karena itulah, Indonesia dari Pinggir ingin memperlihatkan bahwa, di tengah-tengah semburan slogan-slogan pariwisata yang telah dimulai sejak masa kolonial itu, penderitaan, lara, itu ada.

Indonesia dari Pinggir, saya pikir, menjadi sebuah memoar perjalanan yang, sekali lagi, mengagumkan, jika bukan yang sempurna, yang tidak hanya menyiratkan soal tempat-tempat yang memang sudah kadung populer, tetapi juga mencoba melihat permasalahan yang terjadi di baliknya sebagai olok-olok. Sindiran, kritikan, satire, humor, sinisme, dan uneg-uneg adalah hal yang akan sering Anda jumpai di lembar demi lembar, baik yang datang dari Fatris maupun orang-orang yang ia temui sepanjang perjalanan.

Akhirnya, bagi saya, buku ini adalah sebuah manifestasi dari kelucuan, kegalauan, ironi, dan suara-suara orang-orang yang tidak terekspos—orang-orang dari pinggir—di negeri ini, yang tak jarang dapat menyentil “kemanusiaan” dalam diri kita. Saya pikir demikian.[T]

Membaca Puisi Penyair Kupu-Kupu : Ulasan Kumpulan Puisi I Made Suantha “Kukubur Hidup Hidup Puisiku Dalam Hidupku”
Sehat Ketawa ala Dokter Arya: Humoris, Kritis, dan Mencerahkan
Antologi Cerpen Singa Raja Berkisah: Cerpen Baik dan Cerpen Baik-Baik
Tags: catatan perjalananFatris MfIndonesia dari PinggirPenerbit PartikularUlas buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sahur Bersama di Masjid Jami’ Singaraja, Hal yang Ditunggu Saat Bulan Puasa

Next Post

Buleleng Terpilih untuk Terapkan Manajemen Talenta, Pengisian JPT Tanpa Seleksi Terbuka

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

by Dede Putra Wiguna
January 31, 2026
0
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima.” Demikian salah satu penggalan...

Read moreDetails

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
0
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih...

Read moreDetails

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

by Yahya Umar
January 26, 2026
0
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 DOKTER seperti apa...

Read moreDetails

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

by I Nengah Juliawan
January 20, 2026
0
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi "Memilih...

Read moreDetails

Mengepak di Tengah Badai 

by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
0
Mengepak di Tengah Badai 

Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” Penulis : A. Kusairi, dkk. Editor : Dyah Nkusuma...

Read moreDetails

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

by Luh Putu Anggreny
January 13, 2026
0
Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

ADA jenis luka yang tidak berdarah, tetapi bergaung lebih lama dari suara jeritan. Ia hidup dalam ingatan, dalam rasa bersalah...

Read moreDetails

Jeda di Secangkir Kopi

by Angga Wijaya
January 2, 2026
0
Jeda di Secangkir Kopi

SIANG di Dalung, Badung, Bali, di penghujung 2025, bergerak pelan. Jalanan tidak benar-benar lengang, tapi cukup memberi ruang bagi pikiran...

Read moreDetails
Next Post
Buleleng Terpilih untuk Terapkan Manajemen Talenta, Pengisian JPT Tanpa Seleksi Terbuka

Buleleng Terpilih untuk Terapkan Manajemen Talenta, Pengisian JPT Tanpa Seleksi Terbuka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co