23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemanfaatan Waktu dalam Perspektif Komunikasi

Chusmeru by Chusmeru
March 1, 2024
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

WAKTU untuk sebagian orang memiliki arti yang begitu penting. Jika ada pepatah mengatakan time flies like an arrow, maka tepat kiranya bila orang semestinya menghargai waktu. Namun ternyata waktu tidak sekadar hitungan detik, menit, jam, dan hari. Waktu memiliki makna bagaimana seseorang atau masyarakat berkomunikasi.

Kajian tentang pemanfaatan waktu biasa disebut dengan kronemik (chronemic). Waktu juga bukan sekadar arloji di tangan atau jam di dinding. Pemanfaatan waktu berkaitan dengan kehidupan biologis, sosial, psikologis, dan budaya suatu masyarakat. Tidak heran jika ada masyarakat suatu negara yang begitu memandang penting pemanfaatan waktu. Namun ada pula yang abai terhadap waktu.

Jauh sebelum masyarakat mengenal jam seperti sekarang, penggunaan waktu untuk berkomunikasi disesuaikan dengan tanda-tanda alam. Jika matahari mulai terbit, orang menyebutnya dini hari. Ketika matahari berada di atas kepala disebut tengah hari. Ada waktu yang disebut senja kala, yaitu saat matahari akan tenggelam. Malam hari ditandai dengan munculnya bintang dan rembulan.

Itulah kronemik sebelum teknologi jam digunakan. Karenanya pemanfaatan waktu berkomunikasi atas dasar pertanda alam tidak memiliki kepastian akurasinya. Masyarakat pun menggunakan kata “sekitar” atau “kira-kira” untuk menggambarkan waktu.

Kronemik menjadi penting dalam kajian komunikasi. Termasuk ke dalam bentuk komunikasi nonverbal, kronemik akan berpengaruh terhadap kualitas dan gaya komunikasi suatu masyarakat. Dengan pemahaman kronemik, orang dapat memaklumi pemanfaatan waktu dari orang lain yang berbeda negara maupun budaya.

Macam Kronemik

Pemanfaatan waktu dapat berbeda antara satu orang dengan yang lain berdasarkan latar belakang suku, bangsa, budaya, agama, usia, dan jenis kelamin. Perbedaan itu kemudian melahirkan bermacam waktu, seperti waktu biologis, sosiologis, psikologis, dan waktu kultural.

Waktu biologis berkaitan dengan bioritme kehidupan manusia, seperti makan, minum, tidur, dan prokreasi. Waktu jenis ini akan berpengaruh terhadap pola komunikasi orang dengan beragam latar belakangnya. Waktu yang dimanfaatkan untuk bekerja, makan, dan tidur seorang petani akan berbeda dengan buruh pabrik maupun pegawai negeri. Begitu pula waktu biologis antara laki-laki dan perempuan tentu saja berbeda, karena perempuan memiliki siklus waktu bulanan untuk menstruasi.

Waktu sosiologis berhubungan dengan aktivitas seseorang dalam kehidupan sosialnya. Setiap masyarakat memiliki waktu sosiologis yang dimanfaatkan warganya untuk saling berkomunikasi. Dalam masyarakat tradisional, kerja bakti menjadi bagian dari waktu sosiologis. Sedangkan dalam masyarakat modern, waktu ini ada dalam kegiatan semacam clubbing.

Kondisi kejiwaan seseorang merujuk pada waktu psikologis. Suasana suka maupun duka akan berdampak pada komunikasi yang dilakukan seseorang. Prosesi pemakaman kematian adalah waktu psikologis bagi seseorang; sehingga orang lain harus menyesuaikan gaya komunikasinya dengan situasi berkabung.

Sedangkan “tanggal muda” adalah waktu psikologis bagi orang yang bekerja di instansi pemerintah maupun swasta. Perjalanan ke suatu tempat yang dirindukan orang biasanya terasa lama, karena orang berada di waktu psikologis.

Waktu kultural adalah pemanfatan waktu oleh masyarakat untuk kegiatan-kegiatan ritual maupun tradisi. Masyarakat Indonesia memiliki waktu kultural seperti Sedekah Laut di sebagian besar masyarakat Pantai Selatan Jawa, Seren Taun pada masyarakat Sunda, upacara Melasti di Bali, dan tradisi Bakar Batu di masyarakat Papua.

Pelaksanaan tradisi-tradisi itu tak selalu sama waktu dan tanggalnya dalam kalender masehi. Mengapa? Karena yang digunakan adalah waktu kultural. Selalu lentur dalam pemanfaatannya, lantaran bergantung pada kesepakatan masyarakat.

Filosofi Waktu

Secara kultural masyarakat Indonesia memiliki Primbon yang kerap menjadi referensi penghitungan waktu bagi ritual atau tradisi. Primbon merupakan sejenis kitab atau buku berisi ramalan serta hari-hari yang dianggap baik untuk melakukan kegiatan. Masyarakat Bali menyebutnya sebagai Dewasa Ayu, yaitu hari baik untuk melaksanakan upacara adat, pertanian, maupun kegiatan lain.

Waktu budaya biasanya berkaitan dengan nilai dan filosofi yang dianut suatu masyarakat. Sebagaimana dengan bentuk budaya lain, waktu kultural bersifat dinamis. Ketiika terjadi perubahan nilai dan filosofi masyarakat, maka orientasi budaya terhadap waktu pun berubah.

Kaitan waktu dengan nilai dan filosofi masyarakat telah lama diteliti. LeVine dan Bartlett (dalam DeVito, 1997) melakukan studi tentang pemanfaatan waktu dan cara berjalan masyarakat di suatu negara. Eksperimen dilakukan dengan mengukur akurasi jam dan kecepatan berjalan orang dari berbagai negara di dunia.

Hasilnya, jam di Jepang adalah paling akurat di antara jam orang-orang di dunia. Sedangkan jam di Indonesia paling tidak akurat. Mengapa bisa diperoleh data yang sangat jauh berbeda antara Jepang dan Indonesia? Nilai dan filosofi masyarakatlah yang menentukan. Orang Jepang memandang tepat waktu sebagai pertanda sopan santun.

Sementara di Indonesia mengenal “jam karet” yang menjadi kebiasaan dalam berkegiatan. Maka jangan heran bila acara semacam seminar di kampus bisa terlambat sampai satu jam dari jadwal yang ditetapkan. Alasannya kadang sangat tidak rasional; menunggu pejabat kampus yang akan membuka acara dan melakukan pemukulan gong sebagai tanda acara dimulai.

Eksperimen selanjutnya dilakukan terhadap cara berjalan orang-orang di dunia. Hasilnya, lagi-lagi orang Jepang paling cepat berjalan. Dan lagi-lagi pula, orang Indonesia paling lambat berjalan. Sama dengan pemanfaatan waktu, cara berjalan juga berhubungan dengan nilai dan filosofi masyarakatnya.

 Orang Jepang memiliki budaya Kaizen, yang berisi nilai dan filosofi berkaitan dengan produktivitas, efektivitas, dan efisiensi. Budaya Kaizen memacu orang Jepang untuk selalu melakukan perubahan, disiplin, dan tepat waktu.

Sebaliknya, orang Indonesia mengenal prinsip seperti dianut masyarakat Jawa, alon-alon waton kelakon, gremet-gremet waton selamet; yang berarti pelan-pelan asalkan sampai dan terlaksana, serta tak perlu tergesa-gesa yang penting selamat. Grasa-grusu atau terburu-buru tidak dianjurkan bagi orang Indonesia. Satu prinsip yang akan kontradiksi dengan semangat perubahan secara cepat.

Sepertinya diperlukan reorientasi dan rekonstruksi nilai, tradisi, dan filosofi yang menghambat perubahan demi kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Revolusi mental yang pernah digagas Presiden Soekarno dan digaungkan kembali oleh Presiden Jokowi mestinya mengarah kepada perubahan nilai dan filosofi yang tidak lagi adaptif terhadap kemajuan.

Saatnya bangsa Indonesia menatap masa depan, kronemik yang akan datang. Tidak terjebak pada nostalgia yang sarat dengan filosofi pemanfaatan waktu yang tidak mendukung produktivitas, efektivitas, dan efisiensi.  [T]   

  • BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
Komunikasi sebagai Paket Komplet
Berkomunikasi Lewat Busana
Komunikasi itu di Mana Saja, Kapan Saja, Siapa Saja
Komunikasi Fatis: Memang Sekadar Basa-Basi

  

Tags: ilmu komunikasikomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berkunjung dan Belajar ke Subang, Kota Nanas

Next Post

Ramainya Lomba Mancing Air Deras di Desa Padangbulia

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Ramainya Lomba Mancing Air Deras di Desa Padangbulia

Ramainya Lomba Mancing Air Deras di Desa Padangbulia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co