2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemanfaatan Waktu dalam Perspektif Komunikasi

Chusmeru by Chusmeru
March 1, 2024
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

WAKTU untuk sebagian orang memiliki arti yang begitu penting. Jika ada pepatah mengatakan time flies like an arrow, maka tepat kiranya bila orang semestinya menghargai waktu. Namun ternyata waktu tidak sekadar hitungan detik, menit, jam, dan hari. Waktu memiliki makna bagaimana seseorang atau masyarakat berkomunikasi.

Kajian tentang pemanfaatan waktu biasa disebut dengan kronemik (chronemic). Waktu juga bukan sekadar arloji di tangan atau jam di dinding. Pemanfaatan waktu berkaitan dengan kehidupan biologis, sosial, psikologis, dan budaya suatu masyarakat. Tidak heran jika ada masyarakat suatu negara yang begitu memandang penting pemanfaatan waktu. Namun ada pula yang abai terhadap waktu.

Jauh sebelum masyarakat mengenal jam seperti sekarang, penggunaan waktu untuk berkomunikasi disesuaikan dengan tanda-tanda alam. Jika matahari mulai terbit, orang menyebutnya dini hari. Ketika matahari berada di atas kepala disebut tengah hari. Ada waktu yang disebut senja kala, yaitu saat matahari akan tenggelam. Malam hari ditandai dengan munculnya bintang dan rembulan.

Itulah kronemik sebelum teknologi jam digunakan. Karenanya pemanfaatan waktu berkomunikasi atas dasar pertanda alam tidak memiliki kepastian akurasinya. Masyarakat pun menggunakan kata “sekitar” atau “kira-kira” untuk menggambarkan waktu.

Kronemik menjadi penting dalam kajian komunikasi. Termasuk ke dalam bentuk komunikasi nonverbal, kronemik akan berpengaruh terhadap kualitas dan gaya komunikasi suatu masyarakat. Dengan pemahaman kronemik, orang dapat memaklumi pemanfaatan waktu dari orang lain yang berbeda negara maupun budaya.

Macam Kronemik

Pemanfaatan waktu dapat berbeda antara satu orang dengan yang lain berdasarkan latar belakang suku, bangsa, budaya, agama, usia, dan jenis kelamin. Perbedaan itu kemudian melahirkan bermacam waktu, seperti waktu biologis, sosiologis, psikologis, dan waktu kultural.

Waktu biologis berkaitan dengan bioritme kehidupan manusia, seperti makan, minum, tidur, dan prokreasi. Waktu jenis ini akan berpengaruh terhadap pola komunikasi orang dengan beragam latar belakangnya. Waktu yang dimanfaatkan untuk bekerja, makan, dan tidur seorang petani akan berbeda dengan buruh pabrik maupun pegawai negeri. Begitu pula waktu biologis antara laki-laki dan perempuan tentu saja berbeda, karena perempuan memiliki siklus waktu bulanan untuk menstruasi.

Waktu sosiologis berhubungan dengan aktivitas seseorang dalam kehidupan sosialnya. Setiap masyarakat memiliki waktu sosiologis yang dimanfaatkan warganya untuk saling berkomunikasi. Dalam masyarakat tradisional, kerja bakti menjadi bagian dari waktu sosiologis. Sedangkan dalam masyarakat modern, waktu ini ada dalam kegiatan semacam clubbing.

Kondisi kejiwaan seseorang merujuk pada waktu psikologis. Suasana suka maupun duka akan berdampak pada komunikasi yang dilakukan seseorang. Prosesi pemakaman kematian adalah waktu psikologis bagi seseorang; sehingga orang lain harus menyesuaikan gaya komunikasinya dengan situasi berkabung.

Sedangkan “tanggal muda” adalah waktu psikologis bagi orang yang bekerja di instansi pemerintah maupun swasta. Perjalanan ke suatu tempat yang dirindukan orang biasanya terasa lama, karena orang berada di waktu psikologis.

Waktu kultural adalah pemanfatan waktu oleh masyarakat untuk kegiatan-kegiatan ritual maupun tradisi. Masyarakat Indonesia memiliki waktu kultural seperti Sedekah Laut di sebagian besar masyarakat Pantai Selatan Jawa, Seren Taun pada masyarakat Sunda, upacara Melasti di Bali, dan tradisi Bakar Batu di masyarakat Papua.

Pelaksanaan tradisi-tradisi itu tak selalu sama waktu dan tanggalnya dalam kalender masehi. Mengapa? Karena yang digunakan adalah waktu kultural. Selalu lentur dalam pemanfaatannya, lantaran bergantung pada kesepakatan masyarakat.

Filosofi Waktu

Secara kultural masyarakat Indonesia memiliki Primbon yang kerap menjadi referensi penghitungan waktu bagi ritual atau tradisi. Primbon merupakan sejenis kitab atau buku berisi ramalan serta hari-hari yang dianggap baik untuk melakukan kegiatan. Masyarakat Bali menyebutnya sebagai Dewasa Ayu, yaitu hari baik untuk melaksanakan upacara adat, pertanian, maupun kegiatan lain.

Waktu budaya biasanya berkaitan dengan nilai dan filosofi yang dianut suatu masyarakat. Sebagaimana dengan bentuk budaya lain, waktu kultural bersifat dinamis. Ketiika terjadi perubahan nilai dan filosofi masyarakat, maka orientasi budaya terhadap waktu pun berubah.

Kaitan waktu dengan nilai dan filosofi masyarakat telah lama diteliti. LeVine dan Bartlett (dalam DeVito, 1997) melakukan studi tentang pemanfaatan waktu dan cara berjalan masyarakat di suatu negara. Eksperimen dilakukan dengan mengukur akurasi jam dan kecepatan berjalan orang dari berbagai negara di dunia.

Hasilnya, jam di Jepang adalah paling akurat di antara jam orang-orang di dunia. Sedangkan jam di Indonesia paling tidak akurat. Mengapa bisa diperoleh data yang sangat jauh berbeda antara Jepang dan Indonesia? Nilai dan filosofi masyarakatlah yang menentukan. Orang Jepang memandang tepat waktu sebagai pertanda sopan santun.

Sementara di Indonesia mengenal “jam karet” yang menjadi kebiasaan dalam berkegiatan. Maka jangan heran bila acara semacam seminar di kampus bisa terlambat sampai satu jam dari jadwal yang ditetapkan. Alasannya kadang sangat tidak rasional; menunggu pejabat kampus yang akan membuka acara dan melakukan pemukulan gong sebagai tanda acara dimulai.

Eksperimen selanjutnya dilakukan terhadap cara berjalan orang-orang di dunia. Hasilnya, lagi-lagi orang Jepang paling cepat berjalan. Dan lagi-lagi pula, orang Indonesia paling lambat berjalan. Sama dengan pemanfaatan waktu, cara berjalan juga berhubungan dengan nilai dan filosofi masyarakatnya.

 Orang Jepang memiliki budaya Kaizen, yang berisi nilai dan filosofi berkaitan dengan produktivitas, efektivitas, dan efisiensi. Budaya Kaizen memacu orang Jepang untuk selalu melakukan perubahan, disiplin, dan tepat waktu.

Sebaliknya, orang Indonesia mengenal prinsip seperti dianut masyarakat Jawa, alon-alon waton kelakon, gremet-gremet waton selamet; yang berarti pelan-pelan asalkan sampai dan terlaksana, serta tak perlu tergesa-gesa yang penting selamat. Grasa-grusu atau terburu-buru tidak dianjurkan bagi orang Indonesia. Satu prinsip yang akan kontradiksi dengan semangat perubahan secara cepat.

Sepertinya diperlukan reorientasi dan rekonstruksi nilai, tradisi, dan filosofi yang menghambat perubahan demi kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Revolusi mental yang pernah digagas Presiden Soekarno dan digaungkan kembali oleh Presiden Jokowi mestinya mengarah kepada perubahan nilai dan filosofi yang tidak lagi adaptif terhadap kemajuan.

Saatnya bangsa Indonesia menatap masa depan, kronemik yang akan datang. Tidak terjebak pada nostalgia yang sarat dengan filosofi pemanfaatan waktu yang tidak mendukung produktivitas, efektivitas, dan efisiensi.  [T]   

  • BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
Komunikasi sebagai Paket Komplet
Berkomunikasi Lewat Busana
Komunikasi itu di Mana Saja, Kapan Saja, Siapa Saja
Komunikasi Fatis: Memang Sekadar Basa-Basi

  

Tags: ilmu komunikasikomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berkunjung dan Belajar ke Subang, Kota Nanas

Next Post

Ramainya Lomba Mancing Air Deras di Desa Padangbulia

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Ramainya Lomba Mancing Air Deras di Desa Padangbulia

Ramainya Lomba Mancing Air Deras di Desa Padangbulia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co