14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemanfaatan Waktu dalam Perspektif Komunikasi

Chusmeru by Chusmeru
March 1, 2024
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

WAKTU untuk sebagian orang memiliki arti yang begitu penting. Jika ada pepatah mengatakan time flies like an arrow, maka tepat kiranya bila orang semestinya menghargai waktu. Namun ternyata waktu tidak sekadar hitungan detik, menit, jam, dan hari. Waktu memiliki makna bagaimana seseorang atau masyarakat berkomunikasi.

Kajian tentang pemanfaatan waktu biasa disebut dengan kronemik (chronemic). Waktu juga bukan sekadar arloji di tangan atau jam di dinding. Pemanfaatan waktu berkaitan dengan kehidupan biologis, sosial, psikologis, dan budaya suatu masyarakat. Tidak heran jika ada masyarakat suatu negara yang begitu memandang penting pemanfaatan waktu. Namun ada pula yang abai terhadap waktu.

Jauh sebelum masyarakat mengenal jam seperti sekarang, penggunaan waktu untuk berkomunikasi disesuaikan dengan tanda-tanda alam. Jika matahari mulai terbit, orang menyebutnya dini hari. Ketika matahari berada di atas kepala disebut tengah hari. Ada waktu yang disebut senja kala, yaitu saat matahari akan tenggelam. Malam hari ditandai dengan munculnya bintang dan rembulan.

Itulah kronemik sebelum teknologi jam digunakan. Karenanya pemanfaatan waktu berkomunikasi atas dasar pertanda alam tidak memiliki kepastian akurasinya. Masyarakat pun menggunakan kata “sekitar” atau “kira-kira” untuk menggambarkan waktu.

Kronemik menjadi penting dalam kajian komunikasi. Termasuk ke dalam bentuk komunikasi nonverbal, kronemik akan berpengaruh terhadap kualitas dan gaya komunikasi suatu masyarakat. Dengan pemahaman kronemik, orang dapat memaklumi pemanfaatan waktu dari orang lain yang berbeda negara maupun budaya.

Macam Kronemik

Pemanfaatan waktu dapat berbeda antara satu orang dengan yang lain berdasarkan latar belakang suku, bangsa, budaya, agama, usia, dan jenis kelamin. Perbedaan itu kemudian melahirkan bermacam waktu, seperti waktu biologis, sosiologis, psikologis, dan waktu kultural.

Waktu biologis berkaitan dengan bioritme kehidupan manusia, seperti makan, minum, tidur, dan prokreasi. Waktu jenis ini akan berpengaruh terhadap pola komunikasi orang dengan beragam latar belakangnya. Waktu yang dimanfaatkan untuk bekerja, makan, dan tidur seorang petani akan berbeda dengan buruh pabrik maupun pegawai negeri. Begitu pula waktu biologis antara laki-laki dan perempuan tentu saja berbeda, karena perempuan memiliki siklus waktu bulanan untuk menstruasi.

Waktu sosiologis berhubungan dengan aktivitas seseorang dalam kehidupan sosialnya. Setiap masyarakat memiliki waktu sosiologis yang dimanfaatkan warganya untuk saling berkomunikasi. Dalam masyarakat tradisional, kerja bakti menjadi bagian dari waktu sosiologis. Sedangkan dalam masyarakat modern, waktu ini ada dalam kegiatan semacam clubbing.

Kondisi kejiwaan seseorang merujuk pada waktu psikologis. Suasana suka maupun duka akan berdampak pada komunikasi yang dilakukan seseorang. Prosesi pemakaman kematian adalah waktu psikologis bagi seseorang; sehingga orang lain harus menyesuaikan gaya komunikasinya dengan situasi berkabung.

Sedangkan “tanggal muda” adalah waktu psikologis bagi orang yang bekerja di instansi pemerintah maupun swasta. Perjalanan ke suatu tempat yang dirindukan orang biasanya terasa lama, karena orang berada di waktu psikologis.

Waktu kultural adalah pemanfatan waktu oleh masyarakat untuk kegiatan-kegiatan ritual maupun tradisi. Masyarakat Indonesia memiliki waktu kultural seperti Sedekah Laut di sebagian besar masyarakat Pantai Selatan Jawa, Seren Taun pada masyarakat Sunda, upacara Melasti di Bali, dan tradisi Bakar Batu di masyarakat Papua.

Pelaksanaan tradisi-tradisi itu tak selalu sama waktu dan tanggalnya dalam kalender masehi. Mengapa? Karena yang digunakan adalah waktu kultural. Selalu lentur dalam pemanfaatannya, lantaran bergantung pada kesepakatan masyarakat.

Filosofi Waktu

Secara kultural masyarakat Indonesia memiliki Primbon yang kerap menjadi referensi penghitungan waktu bagi ritual atau tradisi. Primbon merupakan sejenis kitab atau buku berisi ramalan serta hari-hari yang dianggap baik untuk melakukan kegiatan. Masyarakat Bali menyebutnya sebagai Dewasa Ayu, yaitu hari baik untuk melaksanakan upacara adat, pertanian, maupun kegiatan lain.

Waktu budaya biasanya berkaitan dengan nilai dan filosofi yang dianut suatu masyarakat. Sebagaimana dengan bentuk budaya lain, waktu kultural bersifat dinamis. Ketiika terjadi perubahan nilai dan filosofi masyarakat, maka orientasi budaya terhadap waktu pun berubah.

Kaitan waktu dengan nilai dan filosofi masyarakat telah lama diteliti. LeVine dan Bartlett (dalam DeVito, 1997) melakukan studi tentang pemanfaatan waktu dan cara berjalan masyarakat di suatu negara. Eksperimen dilakukan dengan mengukur akurasi jam dan kecepatan berjalan orang dari berbagai negara di dunia.

Hasilnya, jam di Jepang adalah paling akurat di antara jam orang-orang di dunia. Sedangkan jam di Indonesia paling tidak akurat. Mengapa bisa diperoleh data yang sangat jauh berbeda antara Jepang dan Indonesia? Nilai dan filosofi masyarakatlah yang menentukan. Orang Jepang memandang tepat waktu sebagai pertanda sopan santun.

Sementara di Indonesia mengenal “jam karet” yang menjadi kebiasaan dalam berkegiatan. Maka jangan heran bila acara semacam seminar di kampus bisa terlambat sampai satu jam dari jadwal yang ditetapkan. Alasannya kadang sangat tidak rasional; menunggu pejabat kampus yang akan membuka acara dan melakukan pemukulan gong sebagai tanda acara dimulai.

Eksperimen selanjutnya dilakukan terhadap cara berjalan orang-orang di dunia. Hasilnya, lagi-lagi orang Jepang paling cepat berjalan. Dan lagi-lagi pula, orang Indonesia paling lambat berjalan. Sama dengan pemanfaatan waktu, cara berjalan juga berhubungan dengan nilai dan filosofi masyarakatnya.

 Orang Jepang memiliki budaya Kaizen, yang berisi nilai dan filosofi berkaitan dengan produktivitas, efektivitas, dan efisiensi. Budaya Kaizen memacu orang Jepang untuk selalu melakukan perubahan, disiplin, dan tepat waktu.

Sebaliknya, orang Indonesia mengenal prinsip seperti dianut masyarakat Jawa, alon-alon waton kelakon, gremet-gremet waton selamet; yang berarti pelan-pelan asalkan sampai dan terlaksana, serta tak perlu tergesa-gesa yang penting selamat. Grasa-grusu atau terburu-buru tidak dianjurkan bagi orang Indonesia. Satu prinsip yang akan kontradiksi dengan semangat perubahan secara cepat.

Sepertinya diperlukan reorientasi dan rekonstruksi nilai, tradisi, dan filosofi yang menghambat perubahan demi kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Revolusi mental yang pernah digagas Presiden Soekarno dan digaungkan kembali oleh Presiden Jokowi mestinya mengarah kepada perubahan nilai dan filosofi yang tidak lagi adaptif terhadap kemajuan.

Saatnya bangsa Indonesia menatap masa depan, kronemik yang akan datang. Tidak terjebak pada nostalgia yang sarat dengan filosofi pemanfaatan waktu yang tidak mendukung produktivitas, efektivitas, dan efisiensi.  [T]   

  • BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
Komunikasi sebagai Paket Komplet
Berkomunikasi Lewat Busana
Komunikasi itu di Mana Saja, Kapan Saja, Siapa Saja
Komunikasi Fatis: Memang Sekadar Basa-Basi

  

Tags: ilmu komunikasikomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berkunjung dan Belajar ke Subang, Kota Nanas

Next Post

Ramainya Lomba Mancing Air Deras di Desa Padangbulia

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Ramainya Lomba Mancing Air Deras di Desa Padangbulia

Ramainya Lomba Mancing Air Deras di Desa Padangbulia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co