2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Debat Cawapres: Penyakit Lupa, Gimik, dan Etika

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
January 22, 2024
in Esai
Kekuatan Politik Baru Itu Bernama Majelis Desa Adat

Gambar ilustrasi: tatkala.co

“Bapak, Ibu harap tenang”

Saya pikir kalimat tersebut akan selalu disampaikan oleh moderator sampai debat terakhir yang akan diselenggarakan Minggu, 4 Februari 2024. Tidak masalah, karena KPU memang membutuhkan moderator yang tidak pernah bosan mengingatkan pendukung yang sulit diatur—Hehe.

Oke, kembali ke topik semula. Minggu, 21 Januari 2024 KPU telah menyelenggarakan Debat Cawapres kedua yang mengangkat topik Pembangunan Berkelanjutan dan Lingkungan Hidup, Sumber Daya Alam dan Energi, Pangan, Agraria, Masyarakat Adat, dan Desa.

Tentu tema sebanyak itu dengan waktu yang sangat sempit tidak akan berhasil mengelaborasi secara maksimal gagasan yang dimiliki oleh masing-masing calon—pada akhirnya penampilan dari masing-masing calon hanya digunakan sebagai konten bagi para pendukung di sosial media.

Pertama dan Penting

Seperti biasa, segmen pertama debat kita akan dipertontonkan aksi para calon menyampaikan gagasannya (visi dan misi) secara ringkas dalam waktu 4 (empat) menit. Waktu yang terbatas ini memiliki fungsi untuk melatih para calon untuk menyampaikan hal-hal penting yang menjadi gagasan utama dalam tema yang telah ditentukan oleh penyelenggara.

Berbeda dengan debat sebelumnya, Cak Imin memberikan penampilan yang jauh lebih baik—gimik “slepet imin” sama sekali tidak disebut. Dalam pemaparan singkatnya, Cak Imin memaparkan hasil sensus pertanian oleh BPS yang menunjukkan bahwa 10 tahun terakhir jumlah rumah tangga petani gurem mencapai 3 juta.

Juga, Cak Imin sebut proyek food estate sebagai kebijakan yang tidak melibatkan petani setempat dan mengabaikan kearifan setempat. Cak Imin juga menegaskan bahwa krisis iklim yang terjadi hari ini harus diimbangi dengan etika lingkungan—keseimbangan antara Tuhan, manusia, dan alam.

Selain itu, ada satu poin penting lagi yang saya catat dari penyampaian Cak Imin, yakni anggaran yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menyelesaikan krisis iklim berada jauh di bawah sektor lainnya—tentu ini menjadi tolok ukur keseriusan pemerintah terhadap penanganan krisis iklim.

Berbeda dengan Cak Imin, Gibran sebagai Cawapres nomor urut 2 kembali menegaskan soal komitmennya untuk melanjutkan program hilirisasi. Menurutnya sebagai negara yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar, Indonesia harus memanfaatkan kelebihan yang dimiliki, seperti Indonesia adalah pemilik cadangan nikel terbesar di dunia dan cadangan timah nomor dua terbesar di dunia.

Gibran juga menyampaikan soal keberlanjutan agenda reforma agraria serta menjanjikan peningkatan anggaran dana desa sesuai dengan kondisi fiskal dalam negeri—hal ini dikarenakan menurutnya anggaran desa telah berhasil mengurangi jumlah desa tertinggal dan meningkatkan jumlah desa-desa berkembang.

Mahfud MD menekankan beberapa hal, seperti Indonesia memiliki berbagai kearifan lokal yang erat kaitannya dengan alam. Misalnya, Tri Hita Karana yang merupakan falsafah hidup masyarakat di Bali dan Jawa, kemudian ada Tri Tangtu yang merupakan falsafah hidup masyarakat Sunda yang pada prinsipnya menekankan pada keseimbangan hidup.

Mahfud juga menyinggung soal ironi yang terjadi di Indonesia, bagaimana Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa, namun Indonesia dari sisi pangan belum berdaulat. Ia juga menekankan soal kontradiksi yang terjadi antara petani dan lahan pertanian yang semakin sedikit, tetapi justru subsidi pupuk makin meningkat. Sama seperti halnya Cak Imin, Mahfud juga menyinggung soal kegagalan food estate di era kepemimpinan Jokowi.

Saling Serang Antar Cawapres

Pada segmen-segmen berikutnya, masyarakat Indonesia dipertontonkan saling serang narasi dan gimik oleh ketiga cawapres. Karena gimik menjadi kunci, maka tentu gagasan-gagasan tidak akan muncul dan tertimpa oleh gimik—itu sudah pasti, Hehe.

Misalnya, bagaimana Gibran menyindir Cak Imin yang dianggap menjawab pertanyaan sembari membaca catatan pada segmen dua—lantas dibalas oleh Cak Imin pada segmen tiga yang menyebutkan bahwa “saya catat sedikit, yang penting ini bukan catatan Mahkamah Konstitusi”, lantas kembali dibalas oleh Gibran yang menyebut bahwa Cak Imin sudah lebih santai tinimbang debat sebelumnya. Apakah saling serang melalui narasi dan gimik berhenti sampai di sana? Ohh, tentu tidak.

Pada momen yang lain, gimik serta saling serang narasi kembali terjadi. Misalnya bagaimana Mahfud MD menjawab pertanyaan Gibran terkait dengan greenflation yang kemudian ditanggapi oleh Gibran dengan gimik meneropong, seolah-olah mencari sesuatu yang tak terlihat dan kemudian ditambahkan dengan penjelasan, “Saya lagi nyari jawabannya, Prof. Nyari-nyari di mana ini jawabannya, kok enggak ketemu jawagannya. Saya tanya masalah inflasi hijau, kok malah menjelaskan ekonomi hijau”.

Dan tidak perlu waktu lama, Mahfud pun menjawab gimik yang dilakukan Gibran dengan pernyataan, “Ini ngarang-ngarang ndak karuan mengaitkan dengan sesuatu yang tidak ada. Oleh sebab itu, ini tidak layak dijawab menurut saya”. Tentu masih banyak lagi saling serang narasi dan gimik yang dipertontonkan pada debat kemarin yang bisa teman-teman saksikan sendiri di platform YouTube.

Penyakit Lupa dan Etika

Setelah menyaksikan debat cawapres, saya pikir seharusnya masyarakat setidaknya sudah mampu mengkerucutkan pilihan yang akan dicoblos di TPS pada Rabu, 14 Februari 2024 mendatang—setidaknya sesuai dengan sudut pandang masing-masing. Tetapi ada satu hal yang dapat kita lihat hari ini, bahwasannya politisi hari ini selalu digerogoti oleh penyakit lupa. Cak Imin lupa bahwa dirinya adalah bagian dari kekuasaan hari ini, setidaknya dua kementerian di Kabinet Indonesia Maju dipimpin oleh kader-kadernya—juga saudaranya.

Jika Cak Imin serius memperjuangkan peningkatan anggaran dana desa, seharusnya dirinya bisa melakukan itu pada pemerintahan hari ini, apalagi posisinya sebagai Wakil Ketua DPR-RI juga memberikannya keleluasaan. Ohh, iya saya lupa—kalau semua dikerjakan hari ini, lantas apa jualan politiknya ke masyarakat?

Gibran juga lupa. Lupa bahwa dirinya sejak lama membranding diri sebagai anak muda yang memiliki sopan santun. Namun pada debat kali ini, ia menghancurkan semua branding tersebut. Tanggapan yang dilakukannya kepada Mahfud MD dan Cak Imin menjadikan dirinya sebagai figur yang nihil etika. Pernyataan yang ditujukan kepada Cak Imin soal membaca catatan dan gimik yang dilakukan untuk menanggapi jawaban Mahfud MD. Saya ingin mengutip beberapa cuitan tokoh di platform sosial media X pasca pelaksanaan Debat, misalnya Alissa Wahid mengatakan:

“Menyayangkan sikap mas @gibran_tweet malam ini. Sedikit jahil berbeda dengan sikap melecehkan orang lain. Dan itu yang tadi ditunjukkan mas Gibran berulang-ulang kepada kedua kandidat lain.”

Juga disampaikan oleh Okky Madasari yang merupakan seorang sastrawan:

“Tadi malam diminta kasih nilai: Cak Imin B+ (+ krn sebut Etika Lingkungan. Etika Lingkungan Harus jadi paradigma pembangunan. Yg studi lingkungan pasti paham)_Prof Mahfud B (pasti A+ kalau di debat hukum)_Gibran C (Dosen lain akan kasih F karena dia menghina intelektualitas.”

Meski menuai banyak dukungan pada debat kemarin, Mahfud pun lupa bahwa dirinya adalah bagian dari Kabinet Indonesia Maju yang dipimpin Jokowi. Mempertanyakan kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh rezim Jokowi sama saja mempertanyakan hasil kinerja diri sendiri. Sebagai Menko Polhukam, saya pikir Mahfud harusnya bisa bicara lebih banyak dalam upaya perbaikan hukum di Indonesia di segala aspek—termasuk di dalamnya aspek-aspek yang menjadi topik debat kemarin. Tapi sekali lagi, saya lupa kalau semua itu dilakukan di rezim ini, apa yang akan dijual oleh Ganjar-Mahfud kepada publik?

Dalam era teknologi yang super maju seperti sekarang ini, para calon pemimpin bangsa harus sadar bahwa waktu yang singkat dalam debat haruslah dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menyampaikan gagasan untuk bangsa. Penggunaan gimik secara berlebih jelas akan memberi efek bias kepada konteks debat. Lihat saja hari ini, pasca debat kemarin, bukannya ide atau gagasan yang ramai diperbincangkan—gimik-gimiklah yang ramai diperbincangkan. Apakah kita mau terjebak pada lingkaran ini? Tentu tidak.

Ada beberapa hal yang mesti dilakukan, seperti:

Pertama, KPU harus membuat format baru debat—pastikan format yang baru memberikan ruang yang leluasa bagi peserta untuk mengeksplorasi gagasannya. Jadikan panelis sebagai bagian aktif dalam debat—bukan hanya sekadar pengambil tema di dalam fishbowl saja. Setidaknya format yang baru bisa diterapkan pada pelaksanaan pilkada serentak mendatang

Kedua, partai politik harus menjalankan fungsinya sebagai organisasi yang bertugas melahirkan pemimpin nasional. Kaderisasi di internal partai politik harus serius digarap, tidak hanya sekadar mengandalkan popularitas dan elektabilitas. Kemampuan dalam berpikir kritis, menyampaikan secara terstruktur, pengalaman yang mumpuni, serta etika juga menjadi hal penting yang mesti disiapkan oleh partai politik.

Ketiga, warga negara juga harus dibekali dengan pengetahuan dasar demokrasi dan kepemiluan dalam rangka meningkatkan kualitas demokrasi bangsa Indonesia.

Jadi tak sabar menyaksikan debat selanjutnya. Apa kalian sudah menentukan pilihan? [T]

  • Baca esai-esai politik TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA lainnya DI SINI
Membaca Masa Depan Koster
Gincu Politik: Manis dan Menghanyutkan
Mempertanyakan Diamnya Gibran
Ilusi Citra ‘Gemoy’ Dalam Politik Elektoral Indonesia
Sulit Membayangkan Anies Menang di Bali
Membicarakan Kekuasaan di Indonesia: Timur Apa Barat?
Partisipasi Politik Dalam Negara Demokrasi
Tags: Analisa PolitikCak IminGibranMahfud MDpemiluPemilu 2024PilpresPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Langu Budaya: Panggung Belajar Anak-Anak Sanggar Santhi Budaya

Next Post

Diskusi “Home Schooling” Bersama Mira Julia: Pendidikan Bertanggungjawab di Tengah Keluarga

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Diskusi “Home Schooling” Bersama Mira Julia: Pendidikan Bertanggungjawab di Tengah Keluarga

Diskusi “Home Schooling” Bersama Mira Julia: Pendidikan Bertanggungjawab di Tengah Keluarga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co