3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Debat Cawapres: Penyakit Lupa, Gimik, dan Etika

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
January 22, 2024
in Esai
Kekuatan Politik Baru Itu Bernama Majelis Desa Adat

Gambar ilustrasi: tatkala.co

“Bapak, Ibu harap tenang”

Saya pikir kalimat tersebut akan selalu disampaikan oleh moderator sampai debat terakhir yang akan diselenggarakan Minggu, 4 Februari 2024. Tidak masalah, karena KPU memang membutuhkan moderator yang tidak pernah bosan mengingatkan pendukung yang sulit diatur—Hehe.

Oke, kembali ke topik semula. Minggu, 21 Januari 2024 KPU telah menyelenggarakan Debat Cawapres kedua yang mengangkat topik Pembangunan Berkelanjutan dan Lingkungan Hidup, Sumber Daya Alam dan Energi, Pangan, Agraria, Masyarakat Adat, dan Desa.

Tentu tema sebanyak itu dengan waktu yang sangat sempit tidak akan berhasil mengelaborasi secara maksimal gagasan yang dimiliki oleh masing-masing calon—pada akhirnya penampilan dari masing-masing calon hanya digunakan sebagai konten bagi para pendukung di sosial media.

Pertama dan Penting

Seperti biasa, segmen pertama debat kita akan dipertontonkan aksi para calon menyampaikan gagasannya (visi dan misi) secara ringkas dalam waktu 4 (empat) menit. Waktu yang terbatas ini memiliki fungsi untuk melatih para calon untuk menyampaikan hal-hal penting yang menjadi gagasan utama dalam tema yang telah ditentukan oleh penyelenggara.

Berbeda dengan debat sebelumnya, Cak Imin memberikan penampilan yang jauh lebih baik—gimik “slepet imin” sama sekali tidak disebut. Dalam pemaparan singkatnya, Cak Imin memaparkan hasil sensus pertanian oleh BPS yang menunjukkan bahwa 10 tahun terakhir jumlah rumah tangga petani gurem mencapai 3 juta.

Juga, Cak Imin sebut proyek food estate sebagai kebijakan yang tidak melibatkan petani setempat dan mengabaikan kearifan setempat. Cak Imin juga menegaskan bahwa krisis iklim yang terjadi hari ini harus diimbangi dengan etika lingkungan—keseimbangan antara Tuhan, manusia, dan alam.

Selain itu, ada satu poin penting lagi yang saya catat dari penyampaian Cak Imin, yakni anggaran yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menyelesaikan krisis iklim berada jauh di bawah sektor lainnya—tentu ini menjadi tolok ukur keseriusan pemerintah terhadap penanganan krisis iklim.

Berbeda dengan Cak Imin, Gibran sebagai Cawapres nomor urut 2 kembali menegaskan soal komitmennya untuk melanjutkan program hilirisasi. Menurutnya sebagai negara yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar, Indonesia harus memanfaatkan kelebihan yang dimiliki, seperti Indonesia adalah pemilik cadangan nikel terbesar di dunia dan cadangan timah nomor dua terbesar di dunia.

Gibran juga menyampaikan soal keberlanjutan agenda reforma agraria serta menjanjikan peningkatan anggaran dana desa sesuai dengan kondisi fiskal dalam negeri—hal ini dikarenakan menurutnya anggaran desa telah berhasil mengurangi jumlah desa tertinggal dan meningkatkan jumlah desa-desa berkembang.

Mahfud MD menekankan beberapa hal, seperti Indonesia memiliki berbagai kearifan lokal yang erat kaitannya dengan alam. Misalnya, Tri Hita Karana yang merupakan falsafah hidup masyarakat di Bali dan Jawa, kemudian ada Tri Tangtu yang merupakan falsafah hidup masyarakat Sunda yang pada prinsipnya menekankan pada keseimbangan hidup.

Mahfud juga menyinggung soal ironi yang terjadi di Indonesia, bagaimana Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa, namun Indonesia dari sisi pangan belum berdaulat. Ia juga menekankan soal kontradiksi yang terjadi antara petani dan lahan pertanian yang semakin sedikit, tetapi justru subsidi pupuk makin meningkat. Sama seperti halnya Cak Imin, Mahfud juga menyinggung soal kegagalan food estate di era kepemimpinan Jokowi.

Saling Serang Antar Cawapres

Pada segmen-segmen berikutnya, masyarakat Indonesia dipertontonkan saling serang narasi dan gimik oleh ketiga cawapres. Karena gimik menjadi kunci, maka tentu gagasan-gagasan tidak akan muncul dan tertimpa oleh gimik—itu sudah pasti, Hehe.

Misalnya, bagaimana Gibran menyindir Cak Imin yang dianggap menjawab pertanyaan sembari membaca catatan pada segmen dua—lantas dibalas oleh Cak Imin pada segmen tiga yang menyebutkan bahwa “saya catat sedikit, yang penting ini bukan catatan Mahkamah Konstitusi”, lantas kembali dibalas oleh Gibran yang menyebut bahwa Cak Imin sudah lebih santai tinimbang debat sebelumnya. Apakah saling serang melalui narasi dan gimik berhenti sampai di sana? Ohh, tentu tidak.

Pada momen yang lain, gimik serta saling serang narasi kembali terjadi. Misalnya bagaimana Mahfud MD menjawab pertanyaan Gibran terkait dengan greenflation yang kemudian ditanggapi oleh Gibran dengan gimik meneropong, seolah-olah mencari sesuatu yang tak terlihat dan kemudian ditambahkan dengan penjelasan, “Saya lagi nyari jawabannya, Prof. Nyari-nyari di mana ini jawabannya, kok enggak ketemu jawagannya. Saya tanya masalah inflasi hijau, kok malah menjelaskan ekonomi hijau”.

Dan tidak perlu waktu lama, Mahfud pun menjawab gimik yang dilakukan Gibran dengan pernyataan, “Ini ngarang-ngarang ndak karuan mengaitkan dengan sesuatu yang tidak ada. Oleh sebab itu, ini tidak layak dijawab menurut saya”. Tentu masih banyak lagi saling serang narasi dan gimik yang dipertontonkan pada debat kemarin yang bisa teman-teman saksikan sendiri di platform YouTube.

Penyakit Lupa dan Etika

Setelah menyaksikan debat cawapres, saya pikir seharusnya masyarakat setidaknya sudah mampu mengkerucutkan pilihan yang akan dicoblos di TPS pada Rabu, 14 Februari 2024 mendatang—setidaknya sesuai dengan sudut pandang masing-masing. Tetapi ada satu hal yang dapat kita lihat hari ini, bahwasannya politisi hari ini selalu digerogoti oleh penyakit lupa. Cak Imin lupa bahwa dirinya adalah bagian dari kekuasaan hari ini, setidaknya dua kementerian di Kabinet Indonesia Maju dipimpin oleh kader-kadernya—juga saudaranya.

Jika Cak Imin serius memperjuangkan peningkatan anggaran dana desa, seharusnya dirinya bisa melakukan itu pada pemerintahan hari ini, apalagi posisinya sebagai Wakil Ketua DPR-RI juga memberikannya keleluasaan. Ohh, iya saya lupa—kalau semua dikerjakan hari ini, lantas apa jualan politiknya ke masyarakat?

Gibran juga lupa. Lupa bahwa dirinya sejak lama membranding diri sebagai anak muda yang memiliki sopan santun. Namun pada debat kali ini, ia menghancurkan semua branding tersebut. Tanggapan yang dilakukannya kepada Mahfud MD dan Cak Imin menjadikan dirinya sebagai figur yang nihil etika. Pernyataan yang ditujukan kepada Cak Imin soal membaca catatan dan gimik yang dilakukan untuk menanggapi jawaban Mahfud MD. Saya ingin mengutip beberapa cuitan tokoh di platform sosial media X pasca pelaksanaan Debat, misalnya Alissa Wahid mengatakan:

“Menyayangkan sikap mas @gibran_tweet malam ini. Sedikit jahil berbeda dengan sikap melecehkan orang lain. Dan itu yang tadi ditunjukkan mas Gibran berulang-ulang kepada kedua kandidat lain.”

Juga disampaikan oleh Okky Madasari yang merupakan seorang sastrawan:

“Tadi malam diminta kasih nilai: Cak Imin B+ (+ krn sebut Etika Lingkungan. Etika Lingkungan Harus jadi paradigma pembangunan. Yg studi lingkungan pasti paham)_Prof Mahfud B (pasti A+ kalau di debat hukum)_Gibran C (Dosen lain akan kasih F karena dia menghina intelektualitas.”

Meski menuai banyak dukungan pada debat kemarin, Mahfud pun lupa bahwa dirinya adalah bagian dari Kabinet Indonesia Maju yang dipimpin Jokowi. Mempertanyakan kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh rezim Jokowi sama saja mempertanyakan hasil kinerja diri sendiri. Sebagai Menko Polhukam, saya pikir Mahfud harusnya bisa bicara lebih banyak dalam upaya perbaikan hukum di Indonesia di segala aspek—termasuk di dalamnya aspek-aspek yang menjadi topik debat kemarin. Tapi sekali lagi, saya lupa kalau semua itu dilakukan di rezim ini, apa yang akan dijual oleh Ganjar-Mahfud kepada publik?

Dalam era teknologi yang super maju seperti sekarang ini, para calon pemimpin bangsa harus sadar bahwa waktu yang singkat dalam debat haruslah dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menyampaikan gagasan untuk bangsa. Penggunaan gimik secara berlebih jelas akan memberi efek bias kepada konteks debat. Lihat saja hari ini, pasca debat kemarin, bukannya ide atau gagasan yang ramai diperbincangkan—gimik-gimiklah yang ramai diperbincangkan. Apakah kita mau terjebak pada lingkaran ini? Tentu tidak.

Ada beberapa hal yang mesti dilakukan, seperti:

Pertama, KPU harus membuat format baru debat—pastikan format yang baru memberikan ruang yang leluasa bagi peserta untuk mengeksplorasi gagasannya. Jadikan panelis sebagai bagian aktif dalam debat—bukan hanya sekadar pengambil tema di dalam fishbowl saja. Setidaknya format yang baru bisa diterapkan pada pelaksanaan pilkada serentak mendatang

Kedua, partai politik harus menjalankan fungsinya sebagai organisasi yang bertugas melahirkan pemimpin nasional. Kaderisasi di internal partai politik harus serius digarap, tidak hanya sekadar mengandalkan popularitas dan elektabilitas. Kemampuan dalam berpikir kritis, menyampaikan secara terstruktur, pengalaman yang mumpuni, serta etika juga menjadi hal penting yang mesti disiapkan oleh partai politik.

Ketiga, warga negara juga harus dibekali dengan pengetahuan dasar demokrasi dan kepemiluan dalam rangka meningkatkan kualitas demokrasi bangsa Indonesia.

Jadi tak sabar menyaksikan debat selanjutnya. Apa kalian sudah menentukan pilihan? [T]

  • Baca esai-esai politik TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA lainnya DI SINI
Membaca Masa Depan Koster
Gincu Politik: Manis dan Menghanyutkan
Mempertanyakan Diamnya Gibran
Ilusi Citra ‘Gemoy’ Dalam Politik Elektoral Indonesia
Sulit Membayangkan Anies Menang di Bali
Membicarakan Kekuasaan di Indonesia: Timur Apa Barat?
Partisipasi Politik Dalam Negara Demokrasi
Tags: Analisa PolitikCak IminGibranMahfud MDpemiluPemilu 2024PilpresPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Langu Budaya: Panggung Belajar Anak-Anak Sanggar Santhi Budaya

Next Post

Diskusi “Home Schooling” Bersama Mira Julia: Pendidikan Bertanggungjawab di Tengah Keluarga

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Diskusi “Home Schooling” Bersama Mira Julia: Pendidikan Bertanggungjawab di Tengah Keluarga

Diskusi “Home Schooling” Bersama Mira Julia: Pendidikan Bertanggungjawab di Tengah Keluarga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co