2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pasangan Tradisional : Cinta yang Abadi dengan Tanggungan Depresi

I Putu Angga Ardi Wilyandika by I Putu Angga Ardi Wilyandika
December 25, 2023
in Esai
Pasangan Tradisional : Cinta yang Abadi dengan Tanggungan Depresi

Foto ilustrasi; Google/Internet

PERNIKAHAN menjadi salah satu tolak ukur kedewasaan di pandangan masyarakat, utamanya di Indonesia. Sepanjang tahun 2022, tercatat 1,7 juta pernikahan terlaksana di Indonesia dengan Jawa Barat sebagai provinsi yang paling banyak melancarkan pernikahan, yakni 336.912 (Databooks, 2022).

Terdapat beberapa alasan yang menjadi pertimbangan masyarakat Indoenesia untuk menikah yang diantaranya adalah keamanan dan dukungan sosial. Tak jarang masyarakat Indonesia mempercayai bahwa dengan menikah akan memperbaiki perekonomian mereka (Febriyanti,2017).

Selain itu, faktor lain yang pengaruhi keputusan menikah masyarakat Indonesia yang cukup krusial adalah pertimbangan agama dan budaya. Kita ketahui bahwa Indonesia sebagai negara dengan adat, budaya, dan tradisi yang masih kental dan merupakan negara beragama menjadikan faktor ini merupakan pertimbangan utama dalam menjalin hubungan suami-istri.

Faktor-faktor tersebut merupakan faktor yang menjadi pertimbangan dari pernikahan tradisional. Budaya dan tradisi mengharuskan dua orang laki-laki dan perempuan untuk menikah untuk menghindari sanksi sosial dan Komitmen beragama, mengikuti nilai-nilai keagamaan utamanya dalam hal pernikahan dapat menjadi pencipta kestabilan yang baik dalam mempertahankan pernikahan (Latifa, 2019). Namun bertahan dalam pernikahan bukan menjadi arti bahwa pernikahan tersebut bahagia tanpa kemunculan distress.

Pasangan tradisional atau dalam bahasa Inggrisnya disebut traditional couples merupakan tipe pasangan yang memiliki kemungkinan kecil untuk berpisah/bercerai baik dikarenakan tuntutan sosial, adat, budaya, maupun agama yang dianut (Gottman, 2017). Pasangan mengikuti pola dan norma-norma tradisional yang ada pada masyarakat.

Di Indonesia sendiri, hampir keseluruhan warganya memilih untuk menikah dengan alasan agama dan norma adat tempat tinggal mereka. Contohnya adalah masyarakat Bali, yang mana menikah adalah sebuah kewajiban dikarenakan garis keturunan sebuah keluarga di Bali yang tidak boleh putus (Bilo & Hutahaean, 2023).

Apabila tidak menjalani norma, tradisi dan budaya tersebut, maka akan ada sanksi yang utamanya berupa sanksi sosial untuk mereka yang belum atau memutuskan untuk tidak menikah. Demi menghindari sanksi sosial yang diberikan, masyarakat cenderung akan memutuskan untuk menikah meskipun belum siap ataupun dengan orang yang tidak mereka cintai.

Pasangan seperti ini akan lebih sulit dalam mengatasi konflik rumah tangganya, baik dari segi ekonomi maupun hal lain dikarenakan ketidaksiapan. Ketidaksiapan secara mental juga perlu diperhatikan disini. Individu yang belum siap mengalami perubahan-perubahan yang terjadi pasca-pernikahan akan kesulitan dan menimbulkan konflik dalam diri. Belum lagi menjalani kehidupan perkawinan tidak dengan orang yang mereka cintai. Hal-hal diatas dapat menimbulkan rasa cemas dan depresi pada pernikahan suami-istri.

Tak jarang orang tua yang masih tradisional menilai kesesuaian pasangan dari anak mereka dengan menggunakan ramalan dan astrologi. Beberapa tradisi hingga saat ini masih menggunakan metode ramalan untuk menyatakan cocok tidaknya sepasang kekasih. Masyarakat Jawa tradisional masih menggunakan metode atau pun alat-alat tradisional yang dipercaya dapat meramal kesuksesan pasangan di masa mendatang setelah menikah.

Metode yang biasanya digunakan adalah perhitungan weton. Apabila setelah diperhitungkan weton dari pasangan tersebut tidak pas, maka jika dipaksakan menikah, usia pernikahannya tidak akan bertahan lama dan dapat berujung perpisahan (Setiawan, 2022). Hal ini kerap menjadi bahan pertimbangan utama pada masyarakat tradisional. Meskipun terbilang sudah saling mencintai, sepasang kekasih harus berpisah karena ketakutan ini.

Dibandingkan dengan orang yang mereka cintai, tradisi ini fokus memandang bagaimana pasangan cocok berdasarkan perhitungan weton mereka. Individu akan merasa kehilangan jika dipisahkan dengan orang yang mereka cintai. Perasaan tersebut menjadikan timbulnya depresi (Rosnaini, 2023). Belum lagi individu diharuskan untuk menikah dengan yang memiliki perhitungan weton sesuai, yang mana hal ini biasanya dilakukan oleh orang tua semacam konsep perjodohan.

Dalam rumah tangga, konflik tidak bisa kita hindari. Namun lain halnya apabila konflik tersebut terus muncul hingga mengganggu keberfungsian individu maupun kelompok yang dalam hal ini adalah keluarga. Kasus semacam ini biasanya akan diselesaikan dengan perceraian. Namun, Indonesia adalah negara beragama, dengan memiliki 6 agama yang diakui secara resmi.

Setiap agama memandang pernikahan sebagai hal yang sakral dan merupakan sebuah hal yang sangat dianjurkan untuk mecapai tujuan-tujuan keagamaan. Tak jarang pula pemuka Agama yang mengatakan bahwa perceraian itu buruk, dan hingga saat ini orang tua masih menganut hal tersebut.

Oleh karena itu, pasangan tradisional yang dalam rumah tangganya terdapat konflik, entah itu kekerasan dalam rumah tangga atau lainnya yang tak kunjung usai sulit untuk berpisah karena satu faktor ini (Bell dkk., 2018). Mereka mempertahankan hubungan mereka demi komitmen beragama dan pemenuhan ekspektasi keluarga terhadap pernikahan anak.

Hal ini dapat terjadi karena pemikiran mengenai kebenaran moral, pengaruh relasi sosial beragama dan dilema beragama itu sendiri.  Stressor dan tekanan yang terus menerus datang akan menumpuk hingga akhirnya menyebabkan depresi pada seseorang. Begitu pula halnya jika dalam sebuah rumah tangga terdapat pihak yang tertekan, jika tidak diatasi dengan segera maka akan menumpuk. Dan apabila memang tidak dapat ditahan atau pasangan tidak bisa diajak kompromi, hal ini akan mempermudah datangnya depresi dan bila tetap bertahan akan terus memperkeruh keadaan.

Masyarakat di Indonesia sendiri memiliki pandangan terhadap peran gender, bagaimana seharusnya seorang laki-laki atau suami dan bagaimana seharusnya seorang perempuan atau istri. Pandangan ini masih melekat hingga kini pada masyarakat.

Sebagian besar daerah di Indonesia menganut asas patriarki, dimana laki-laki memiliki kuasa tunggal dan sentral, dan terdapat pula definisi yang menyatakan bahwa patriarki adalah sebuah sistem yang menganggap laki-laki ditakdirkan untuk mengatur kaum perempuan (Anto dkk., 2023). Konsep ini masih dipegang oleh orang tua baby boomer, sehingga dengan ini tidak dapat dikatakan setara antara laki-laki dan perempuan di dalam rumah tangga.

Dalam kasus ini, perempuan tidak bisa sepenuhnya mengekspresikan diri mereka, ditahan untuk hanya diam di rumah, mengurus anak, dan bersih-bersih. Tidak ada kesempatan untuk mengenyam Pendidikan lebih tinggi apalagi izin untuk bekerja meninggalkan rumah. Tak hanya perempuan,, laki-laki pun akan terkena dampak dari patriarki ini, Budaya patriarki menuntut peran laki-laki untuk tegas, dominan, dan lainnya sesuai dengan peran gender yang sudah terbentuk dalam masyarakat.

Secara tidak langsung, budaya ini mengekang individu untuk mengaktualisasikan diri mereka secara penuh. Aktualisasi diri merupakan puncak dari hierarki kebutuhan Maslow. Tanpa terpenuhinya aktualisasi diri, individu tidak akan berkembang secara utuh dan berpengaruh terhadap jati diri mereka (Effendi, 2020).

Dapat disimpulkan bahwa pasangan tradisional di Indonesia membawa aspek-aspek seperti adat istiadat, budaya, dan agama, memainkan peran sentral dalam pengambilan keputusan pernikahan. Pernikahan dianggap sebagai indikator kedewasaan, dan pasangan tradisional cenderung mengikuti norma-norma yang ada dalam masyarakat, terkadang dengan mengorbankan kebahagiaan pribadi.

Faktor-faktor seperti ramalan, astrologi, dan perhitungan weton masih memiliki pengaruh signifikan, bahkan dalam mengatasi konflik rumah tangga. Pentingnya komitmen beragama dan pemahaman nilai-nilai keagamaan menjadi pendorong utama dalam mempertahankan pernikahan, meskipun adanya tekanan sosial dan konflik yang dapat menyebabkan dampak psikologis seperti depresi.

Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pendidikan dan kesadaran, memberikan dukungan psikososial, mendorong kesetaraan gender, mengintegrasikan nilai tradisional dengan modern, dan mengembangkan keterampilan manajemen konflik untuk memperkuat keberlanjutan dan kesehatan hubungan pernikahan di masyarakat Indonesia. [T]

[Daftar Pustaka]

databoks.katadata.co.id. (2023, 02 Maret). Angka Pernikahan di Indonesia pada 2022 Terendah dalam Satu Dekade Terakhir. Diakses pada 16 Desember 2023, darihttps://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/03/02/angka-pernikahan-di-indonesia-pada-2022-terendah-dalam-satu-dekade-terakhir

Febriyanti, N. P. V., & Dewi, M. H. U. (2017). Pengaruh faktor sosial ekonomi dan demografi terhadap keputusan perempuan menikah muda di Indonesia. PIRAMIDA, 13(2), 108-117.

Latifa, R. (2019). Komitmen Beragama Islam Memprediksi Stabilitas Pernikahan. TAZKIYA: Journal of Psychology, 3(1). https://doi.org/10.15408/tazkiya.v20i1.9191

Gottman, J. M. (2017). The roles of conflict engagement, escalation, and avoidance in marital interaction: A longitudinal view of five types of couples. In Interpersonal Development (pp. 359-368). Routledge.

Bilo, D. T., & Hutahaean, H. (2023). Implementasi Pemahaman Teologi Pernikahan Umat Hindu dan Kristen Di Pintubesi Bagi Kerukunan. Jurnal Penelitian Agama Hindu, 7(2), 121-134.

Setiawan, E. (2022). Larangan Pernikahan Weton Geyeng Dalam Adat Jawa. Journal of Urban Sociology, 5(2), 81-90.

Rosnaini, L. (2023). Pengaruh Kehilangan Pasangan Hidup Terhadap Kejadian Depresi Di Desa Meunasah Meucat. Darussalam Indonesian Journal fo Nursing and Midwifery, 5(1), 74-81.

Bell, N. K., Harris, S. M., Crabtree, S. A., Allen, S. M., & Roberts, K. M. (2018). Divorce decision-making and the divine. Journal of Divorce & Remarriage, 59(1), 37-50.

Anto, R. P., Harahap, T. K., Sastrini, Y. E., Trisnawati, S. N. I., Ayu, J. D., Sariati, Y., … & Mendo, A. Y. (2023). Perempuan, Masyarakat, Dan Budaya Patriarki. Penerbit Tahta Media.

Effendi, Y. (2020). Pola Asuh dan Aktualisasi Diri: Suatu Upaya Internalisasi Konsep Humanistik dalam Pola Pengasuhan Anak. SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Dan Humaniora, 6(2), 13-24.

Tags: cintaperkawinanpernikahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

LK II HMI Cabang Singaraja: Usaha Merawat dan Meneruskan Mata Air Pengaderan

Next Post

Perbaiki Kualitas Air, Pegiat Lingkungan Tuangkan Ecoenzyme di Danau Buyan

I Putu Angga Ardi Wilyandika

I Putu Angga Ardi Wilyandika

Biasa disapa Angga. Angga merupakan mahasiswa Psikologi Universitas Merdeka Malang. Saat ini Angga sedang mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Universitas Andalas Sumatera Barat dengan program studi yang sama, yakni Psikologi. IG : @gaardika

Related Posts

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

Read moreDetails

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Perbaiki Kualitas Air, Pegiat Lingkungan Tuangkan Ecoenzyme di Danau Buyan

Perbaiki Kualitas Air, Pegiat Lingkungan Tuangkan Ecoenzyme di Danau Buyan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali
Khas

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi
Khas

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi
Khas

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co