24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pasangan Tradisional : Cinta yang Abadi dengan Tanggungan Depresi

I Putu Angga Ardi Wilyandika by I Putu Angga Ardi Wilyandika
December 25, 2023
in Esai
Pasangan Tradisional : Cinta yang Abadi dengan Tanggungan Depresi

Foto ilustrasi; Google/Internet

PERNIKAHAN menjadi salah satu tolak ukur kedewasaan di pandangan masyarakat, utamanya di Indonesia. Sepanjang tahun 2022, tercatat 1,7 juta pernikahan terlaksana di Indonesia dengan Jawa Barat sebagai provinsi yang paling banyak melancarkan pernikahan, yakni 336.912 (Databooks, 2022).

Terdapat beberapa alasan yang menjadi pertimbangan masyarakat Indoenesia untuk menikah yang diantaranya adalah keamanan dan dukungan sosial. Tak jarang masyarakat Indonesia mempercayai bahwa dengan menikah akan memperbaiki perekonomian mereka (Febriyanti,2017).

Selain itu, faktor lain yang pengaruhi keputusan menikah masyarakat Indonesia yang cukup krusial adalah pertimbangan agama dan budaya. Kita ketahui bahwa Indonesia sebagai negara dengan adat, budaya, dan tradisi yang masih kental dan merupakan negara beragama menjadikan faktor ini merupakan pertimbangan utama dalam menjalin hubungan suami-istri.

Faktor-faktor tersebut merupakan faktor yang menjadi pertimbangan dari pernikahan tradisional. Budaya dan tradisi mengharuskan dua orang laki-laki dan perempuan untuk menikah untuk menghindari sanksi sosial dan Komitmen beragama, mengikuti nilai-nilai keagamaan utamanya dalam hal pernikahan dapat menjadi pencipta kestabilan yang baik dalam mempertahankan pernikahan (Latifa, 2019). Namun bertahan dalam pernikahan bukan menjadi arti bahwa pernikahan tersebut bahagia tanpa kemunculan distress.

Pasangan tradisional atau dalam bahasa Inggrisnya disebut traditional couples merupakan tipe pasangan yang memiliki kemungkinan kecil untuk berpisah/bercerai baik dikarenakan tuntutan sosial, adat, budaya, maupun agama yang dianut (Gottman, 2017). Pasangan mengikuti pola dan norma-norma tradisional yang ada pada masyarakat.

Di Indonesia sendiri, hampir keseluruhan warganya memilih untuk menikah dengan alasan agama dan norma adat tempat tinggal mereka. Contohnya adalah masyarakat Bali, yang mana menikah adalah sebuah kewajiban dikarenakan garis keturunan sebuah keluarga di Bali yang tidak boleh putus (Bilo & Hutahaean, 2023).

Apabila tidak menjalani norma, tradisi dan budaya tersebut, maka akan ada sanksi yang utamanya berupa sanksi sosial untuk mereka yang belum atau memutuskan untuk tidak menikah. Demi menghindari sanksi sosial yang diberikan, masyarakat cenderung akan memutuskan untuk menikah meskipun belum siap ataupun dengan orang yang tidak mereka cintai.

Pasangan seperti ini akan lebih sulit dalam mengatasi konflik rumah tangganya, baik dari segi ekonomi maupun hal lain dikarenakan ketidaksiapan. Ketidaksiapan secara mental juga perlu diperhatikan disini. Individu yang belum siap mengalami perubahan-perubahan yang terjadi pasca-pernikahan akan kesulitan dan menimbulkan konflik dalam diri. Belum lagi menjalani kehidupan perkawinan tidak dengan orang yang mereka cintai. Hal-hal diatas dapat menimbulkan rasa cemas dan depresi pada pernikahan suami-istri.

Tak jarang orang tua yang masih tradisional menilai kesesuaian pasangan dari anak mereka dengan menggunakan ramalan dan astrologi. Beberapa tradisi hingga saat ini masih menggunakan metode ramalan untuk menyatakan cocok tidaknya sepasang kekasih. Masyarakat Jawa tradisional masih menggunakan metode atau pun alat-alat tradisional yang dipercaya dapat meramal kesuksesan pasangan di masa mendatang setelah menikah.

Metode yang biasanya digunakan adalah perhitungan weton. Apabila setelah diperhitungkan weton dari pasangan tersebut tidak pas, maka jika dipaksakan menikah, usia pernikahannya tidak akan bertahan lama dan dapat berujung perpisahan (Setiawan, 2022). Hal ini kerap menjadi bahan pertimbangan utama pada masyarakat tradisional. Meskipun terbilang sudah saling mencintai, sepasang kekasih harus berpisah karena ketakutan ini.

Dibandingkan dengan orang yang mereka cintai, tradisi ini fokus memandang bagaimana pasangan cocok berdasarkan perhitungan weton mereka. Individu akan merasa kehilangan jika dipisahkan dengan orang yang mereka cintai. Perasaan tersebut menjadikan timbulnya depresi (Rosnaini, 2023). Belum lagi individu diharuskan untuk menikah dengan yang memiliki perhitungan weton sesuai, yang mana hal ini biasanya dilakukan oleh orang tua semacam konsep perjodohan.

Dalam rumah tangga, konflik tidak bisa kita hindari. Namun lain halnya apabila konflik tersebut terus muncul hingga mengganggu keberfungsian individu maupun kelompok yang dalam hal ini adalah keluarga. Kasus semacam ini biasanya akan diselesaikan dengan perceraian. Namun, Indonesia adalah negara beragama, dengan memiliki 6 agama yang diakui secara resmi.

Setiap agama memandang pernikahan sebagai hal yang sakral dan merupakan sebuah hal yang sangat dianjurkan untuk mecapai tujuan-tujuan keagamaan. Tak jarang pula pemuka Agama yang mengatakan bahwa perceraian itu buruk, dan hingga saat ini orang tua masih menganut hal tersebut.

Oleh karena itu, pasangan tradisional yang dalam rumah tangganya terdapat konflik, entah itu kekerasan dalam rumah tangga atau lainnya yang tak kunjung usai sulit untuk berpisah karena satu faktor ini (Bell dkk., 2018). Mereka mempertahankan hubungan mereka demi komitmen beragama dan pemenuhan ekspektasi keluarga terhadap pernikahan anak.

Hal ini dapat terjadi karena pemikiran mengenai kebenaran moral, pengaruh relasi sosial beragama dan dilema beragama itu sendiri.  Stressor dan tekanan yang terus menerus datang akan menumpuk hingga akhirnya menyebabkan depresi pada seseorang. Begitu pula halnya jika dalam sebuah rumah tangga terdapat pihak yang tertekan, jika tidak diatasi dengan segera maka akan menumpuk. Dan apabila memang tidak dapat ditahan atau pasangan tidak bisa diajak kompromi, hal ini akan mempermudah datangnya depresi dan bila tetap bertahan akan terus memperkeruh keadaan.

Masyarakat di Indonesia sendiri memiliki pandangan terhadap peran gender, bagaimana seharusnya seorang laki-laki atau suami dan bagaimana seharusnya seorang perempuan atau istri. Pandangan ini masih melekat hingga kini pada masyarakat.

Sebagian besar daerah di Indonesia menganut asas patriarki, dimana laki-laki memiliki kuasa tunggal dan sentral, dan terdapat pula definisi yang menyatakan bahwa patriarki adalah sebuah sistem yang menganggap laki-laki ditakdirkan untuk mengatur kaum perempuan (Anto dkk., 2023). Konsep ini masih dipegang oleh orang tua baby boomer, sehingga dengan ini tidak dapat dikatakan setara antara laki-laki dan perempuan di dalam rumah tangga.

Dalam kasus ini, perempuan tidak bisa sepenuhnya mengekspresikan diri mereka, ditahan untuk hanya diam di rumah, mengurus anak, dan bersih-bersih. Tidak ada kesempatan untuk mengenyam Pendidikan lebih tinggi apalagi izin untuk bekerja meninggalkan rumah. Tak hanya perempuan,, laki-laki pun akan terkena dampak dari patriarki ini, Budaya patriarki menuntut peran laki-laki untuk tegas, dominan, dan lainnya sesuai dengan peran gender yang sudah terbentuk dalam masyarakat.

Secara tidak langsung, budaya ini mengekang individu untuk mengaktualisasikan diri mereka secara penuh. Aktualisasi diri merupakan puncak dari hierarki kebutuhan Maslow. Tanpa terpenuhinya aktualisasi diri, individu tidak akan berkembang secara utuh dan berpengaruh terhadap jati diri mereka (Effendi, 2020).

Dapat disimpulkan bahwa pasangan tradisional di Indonesia membawa aspek-aspek seperti adat istiadat, budaya, dan agama, memainkan peran sentral dalam pengambilan keputusan pernikahan. Pernikahan dianggap sebagai indikator kedewasaan, dan pasangan tradisional cenderung mengikuti norma-norma yang ada dalam masyarakat, terkadang dengan mengorbankan kebahagiaan pribadi.

Faktor-faktor seperti ramalan, astrologi, dan perhitungan weton masih memiliki pengaruh signifikan, bahkan dalam mengatasi konflik rumah tangga. Pentingnya komitmen beragama dan pemahaman nilai-nilai keagamaan menjadi pendorong utama dalam mempertahankan pernikahan, meskipun adanya tekanan sosial dan konflik yang dapat menyebabkan dampak psikologis seperti depresi.

Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pendidikan dan kesadaran, memberikan dukungan psikososial, mendorong kesetaraan gender, mengintegrasikan nilai tradisional dengan modern, dan mengembangkan keterampilan manajemen konflik untuk memperkuat keberlanjutan dan kesehatan hubungan pernikahan di masyarakat Indonesia. [T]

[Daftar Pustaka]

databoks.katadata.co.id. (2023, 02 Maret). Angka Pernikahan di Indonesia pada 2022 Terendah dalam Satu Dekade Terakhir. Diakses pada 16 Desember 2023, darihttps://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/03/02/angka-pernikahan-di-indonesia-pada-2022-terendah-dalam-satu-dekade-terakhir

Febriyanti, N. P. V., & Dewi, M. H. U. (2017). Pengaruh faktor sosial ekonomi dan demografi terhadap keputusan perempuan menikah muda di Indonesia. PIRAMIDA, 13(2), 108-117.

Latifa, R. (2019). Komitmen Beragama Islam Memprediksi Stabilitas Pernikahan. TAZKIYA: Journal of Psychology, 3(1). https://doi.org/10.15408/tazkiya.v20i1.9191

Gottman, J. M. (2017). The roles of conflict engagement, escalation, and avoidance in marital interaction: A longitudinal view of five types of couples. In Interpersonal Development (pp. 359-368). Routledge.

Bilo, D. T., & Hutahaean, H. (2023). Implementasi Pemahaman Teologi Pernikahan Umat Hindu dan Kristen Di Pintubesi Bagi Kerukunan. Jurnal Penelitian Agama Hindu, 7(2), 121-134.

Setiawan, E. (2022). Larangan Pernikahan Weton Geyeng Dalam Adat Jawa. Journal of Urban Sociology, 5(2), 81-90.

Rosnaini, L. (2023). Pengaruh Kehilangan Pasangan Hidup Terhadap Kejadian Depresi Di Desa Meunasah Meucat. Darussalam Indonesian Journal fo Nursing and Midwifery, 5(1), 74-81.

Bell, N. K., Harris, S. M., Crabtree, S. A., Allen, S. M., & Roberts, K. M. (2018). Divorce decision-making and the divine. Journal of Divorce & Remarriage, 59(1), 37-50.

Anto, R. P., Harahap, T. K., Sastrini, Y. E., Trisnawati, S. N. I., Ayu, J. D., Sariati, Y., … & Mendo, A. Y. (2023). Perempuan, Masyarakat, Dan Budaya Patriarki. Penerbit Tahta Media.

Effendi, Y. (2020). Pola Asuh dan Aktualisasi Diri: Suatu Upaya Internalisasi Konsep Humanistik dalam Pola Pengasuhan Anak. SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Dan Humaniora, 6(2), 13-24.

Tags: cintaperkawinanpernikahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

LK II HMI Cabang Singaraja: Usaha Merawat dan Meneruskan Mata Air Pengaderan

Next Post

Perbaiki Kualitas Air, Pegiat Lingkungan Tuangkan Ecoenzyme di Danau Buyan

I Putu Angga Ardi Wilyandika

I Putu Angga Ardi Wilyandika

Biasa disapa Angga. Angga merupakan mahasiswa Psikologi Universitas Merdeka Malang. Saat ini Angga sedang mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Universitas Andalas Sumatera Barat dengan program studi yang sama, yakni Psikologi. IG : @gaardika

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Perbaiki Kualitas Air, Pegiat Lingkungan Tuangkan Ecoenzyme di Danau Buyan

Perbaiki Kualitas Air, Pegiat Lingkungan Tuangkan Ecoenzyme di Danau Buyan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co