2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketidakadilan Perayaan Hari Ibu

I Wayan Artika by I Wayan Artika
December 23, 2023
in Esai
Ketidakadilan Perayaan Hari Ibu

I Wayan Artika

BALI memiliki sejumlah kategori perempuan sebagai ibu (melahirkan). Di antaranya terjadi kontradiksi. Di ujung adalah Men Brayut, ibu dengan 18 anak. Di ujung yang berlawanan ada Men Bekung, perempuan yang menikah dan tidak memiliki keturunan. Di antara kedua kutub tersebut mungkin Men Tuung Kuning, ibu yang terancam oleh suaminya sendiri karena melahirkan anak perempuan.

Memiliki anak dan tidak memiliki anak masih diperjelas dengan konsep anak yang diidealkan, yakni anak laki-laki. Bisa menjadi ibu bagi perempuan Bali, seperti Men Brayut, masih belum cukup jika hanya melahirkan anak perempuan. Perempuan harus bisa melahirkan anak laki-laki.

Kutub Men Bekung adalah siksaan sosial sepanjang hidup perempuan Bali yang tidak beruntung karena tidak subur. Derita Men Bekung adalah narasi patriarki bahwa yang tidak subur itu identik dengan perempuan. Jika pasangan suami istri tidak memiliki keturunan, vonisnya dijatuhkan dengan telak pada istri.

Derita perempuan ini tidak hanya sebatas si tertuduh tidak subur dan karena inilah si suami boleh menikah lagi sebagai pernyataan bahwa dirinya tidak ada masalah soal kesuburan. Laki-laki Bali dibela oleh kuasa purusa bahwa dirinya tidak mandul!

Derita Men Bekung hingga ke alam kematian. Roh-roh mereka yang semasa hidupnya menyandang pungkusan Men Bekung akan menyusui ulat-ulat raksasa (sedagul). Pandangan kuno di Bali dengan terus terang menyalahkan perempuan yang malang tersebut. Mereka dihukum secara sosial semasa hidup dan kelak di alam kematian harus menyusui ulat-ulat raksasa.

Pandangan kuno adat yang antisains sama sekali tidak bisa menjelaskan perkara-perkara reproduksi yang tidak subur. Hal ini juga tampak pada ketimpangan bahwa biang kerok tidak subur itu hanya perempuan. Kelak, ilmu kedokteran mulai mengimbangi pandangan kuno itu. Sains atau kedokteran  menjadi pembela perempuan dengan permasalahan kesuburan.

Kutub lain adalah keluarga Brayut. Men Brayut memiliki 18 anak. Memang tidak ada persoalan apa-apa dengan jumlah anak yang banyak. Cerita ini menyampaikan pesan bahwa perempuan Bali harus menyerahkan tubuh dan seluruh hidupnya kepada anak-anak mereka.  Kelak, Men Brayut yang menyimpan ideologi kesuburan berhadapan dengan alam medis modern yang diwujudkan dengan program keluarga berencana (KB) untuk menekan jumlah penduduk.

Sebagai program baru, apalagi bergesekan dengan wilayah mitologi atau keyakinan, tentu KB di Bali tidak langsung diterima. Telah terjadi pemaksaan semboyan KB “dua anak cukup, laki perempuan sama saja”. Hal ini bertentangan dengan ideologi purusa di Bali. Nilai anak laki-laki lebih utama ketimbang anak perempuan. Men Tuung Kuning misalnya menerima pesan ”anak perempuan harus kau cincang bersama ari-arinya untuk dijadikan santapan ayam jago”.

KB tidak hanya mengguncang ideologi patriarki tetapi juga menimbulkan konflik batin pada diri orang Bali, yaitu tepatnya pada sistem kepercayaan kelahiran kembali. Program ini dipandang sebagai penutup pintu kelahiran para leluhur kembali.

Men Brayut adalah ”jalan tol” bagi para leluhur untuk lahir kembali karena seorang perempuan akan melahirkan 18 kali. Sejalan dengan Men Brayut, peluang leluhur lahir kembali sangat tinggi. Lantas, KB membatasi secara drastis: hanya dua kelahiran. Seorang penulis asing menyatakan KB telah membunuh Men Brayut.

Dalam masa hampir setengah abad kemudian sejak KB digelontorkan di Bali dan ternyata telah memberi rasa nyaman dengan dua anak, menjadi indikator utama kesuksesan, baru disadari KB menimbulkan persoalan kependudukan.

Politik demografi Gubernur Wayan Koster dengan tegas menolak semboyan KB ”dua anak cukup”. Ini dinilai sebagai ancaman demografi. KB yang sukses di Bali tidak serta-merta mengurangi kepadatan penduduk. Jumlah penduduk tidak terbendung karena pada satu sisi jumlah kelhiran berhasil ditekan dan pada sisi lain pendatang tidak terkendali masuk. Gubernur Wayan Koster mendekonstruksi “dua anak cukup” menjadi empat anak atau lebih.

Terlepas dari kedua kutub demografik: Men Brayut dan Men Bekung dan di antara keduanya terjadi garis mediasi: Men Tuung Kuning; adalah nasib Ni Nyoman Pollok. Ia seorang penari legong dari Desa Kelandis. Nasibnya malang dalam pernikahannya dengan Le Mayeur.

Perkawinan itu hanya menguntungkan Le Mayeur. Ni Pollok digunakan sebagai model. Dari sudut pandang Le Mayeur atau dengan menggunakan perspektif berkesenian modern-barat, perkawinan pelukis dengan modelnya, tentu tidak mengandung persoalan. Mereka bahagia.

Namun bagi Ni Pollok, perkawinannya tidak membahagiakan dirinya. Hal ini disampaikan Ni Pollok kepada penulis biografinya Yati Mariyati Wiharja dalam buku Ni Pollok, Model dari Desa Kelandis (1976). Sumbernya adalah satu hal: Le Mayeur mengkolonialisasi Ni Pollok dengan cara tidak mengizinkannya mengandung. Jika ia sampai mengandung, melahirkan dan menyusui, seperti Men Brayut maka keindahan tubuh Ni Pollok akan hilang sehingga tidak menarik dijadikan model lukisan.

Melalui perspektif patiarki atau kuasa purusa seperti pada cerita Men Tuung Kuning, Ni Nyoman Pollok pun bergeming. Le Mayeur tetap pada prinsipnya dalam mengkolonialisasi dengan menggerus seluruh keindahan alam Bali pada tubuh istrinya (?), modelnya.

Sebagai suami memang ia mencoba ”membayar” Ni Pollok dengan uang, kain batik, kompor, lukisan. Mungkin semua pemberian suaminya diterima walaupun tidak sepenuhnya karena sebagai model profesional ia layak menerima bayaran. Anak tidak pernah digantikan dengan lukisan mahal, uang, dan museum.

Ketika kehidupan modern merayakan peringatan hari ibu, sebagai apresiasi atas perjuangan kaum perempuan Indonesia, yang kala itu ruang yang dijadikan ajang mengkonstruksi kiprah perempuan Indonesia adalah bangsa namun kelak, dan sebagaimana akhir-akhir ini, hari ibu mengalami domestifikasi atau penyempitan makna.

Makna perayaan hari ibu, sebagaimana dapat dibaca di media sosial tanggl 22 Desember 2023, adalah perempuan yang menjadi ibu. Momen perayaan ini menunjukkan hubungan mesra antara ibu dan anak. Pola perayaan hari ibu yang direkam media sosial adalah rasa bakti anak kepada ibunya, ucapan terima kasih atas jasa ibu, atau ucapan membayar janji seorang anak kepada ibunya.

Dalam situasi ini, perayaan hari ibu mengandung rasa tidak adil. Perempuan yang tidak memiliki anak, seperti Ni Nyoman Pollok, tidak bisa mendapat perayaan hari ibu. Karena itu, perayaan hari ibu juga harus direvitalisasi maknanya. Yang dirayakan adalah jasa para perempuan. Dengan revitalisasi makna ini, perayaan hari ibu terasa lebih adil. Di sini, Ni Nyoman Pollok berhak mendapat ucapan hari ibu karena ia rela memilih hidup terkolonialisasi sebagai pilihan perempuan Bali di jalan kuasa purusa.

Ni Pollok memang tidak melahirkan anak-anak; tetapi tubuhnya telah melahirkan hampir seluruh karya Le Mayeur. Lukisan-lukisan itu semua adalah anak-anak Ni Nyoman Pollok.[T]

  • BACA artikel lain dari penulis I WAYAN ARTIKA
Lagu dan Meme Tentang Ibu di Hari Ibu : Kehebatan Emak-Emak yang Diabadikan
Doa Ibu Tidak Sepanjang Jalan

Dari Iwan Fals  Hingga A.A. Raka Sidan:  Catatan Kegagalan Pendidikan Tinggi
Literasi Dasar: Hubungan Abadi Antara Manusia dan Pengetahuan, Konstruksi dan Konsumsi
Tags: Hari IbuNi PollokPerempuan Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pentas Suun: Percakapan Tubuh dengan Kursi-Kursi

Next Post

Puisi-puisi Rony Fernandez | Pemakaman, Senja, Persiapan Perang

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Rony Fernandez | Pemakaman, Senja, Persiapan Perang

Puisi-puisi Rony Fernandez | Pemakaman, Senja, Persiapan Perang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co