23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketidakadilan Perayaan Hari Ibu

I Wayan Artika by I Wayan Artika
December 23, 2023
in Esai
Ketidakadilan Perayaan Hari Ibu

I Wayan Artika

BALI memiliki sejumlah kategori perempuan sebagai ibu (melahirkan). Di antaranya terjadi kontradiksi. Di ujung adalah Men Brayut, ibu dengan 18 anak. Di ujung yang berlawanan ada Men Bekung, perempuan yang menikah dan tidak memiliki keturunan. Di antara kedua kutub tersebut mungkin Men Tuung Kuning, ibu yang terancam oleh suaminya sendiri karena melahirkan anak perempuan.

Memiliki anak dan tidak memiliki anak masih diperjelas dengan konsep anak yang diidealkan, yakni anak laki-laki. Bisa menjadi ibu bagi perempuan Bali, seperti Men Brayut, masih belum cukup jika hanya melahirkan anak perempuan. Perempuan harus bisa melahirkan anak laki-laki.

Kutub Men Bekung adalah siksaan sosial sepanjang hidup perempuan Bali yang tidak beruntung karena tidak subur. Derita Men Bekung adalah narasi patriarki bahwa yang tidak subur itu identik dengan perempuan. Jika pasangan suami istri tidak memiliki keturunan, vonisnya dijatuhkan dengan telak pada istri.

Derita perempuan ini tidak hanya sebatas si tertuduh tidak subur dan karena inilah si suami boleh menikah lagi sebagai pernyataan bahwa dirinya tidak ada masalah soal kesuburan. Laki-laki Bali dibela oleh kuasa purusa bahwa dirinya tidak mandul!

Derita Men Bekung hingga ke alam kematian. Roh-roh mereka yang semasa hidupnya menyandang pungkusan Men Bekung akan menyusui ulat-ulat raksasa (sedagul). Pandangan kuno di Bali dengan terus terang menyalahkan perempuan yang malang tersebut. Mereka dihukum secara sosial semasa hidup dan kelak di alam kematian harus menyusui ulat-ulat raksasa.

Pandangan kuno adat yang antisains sama sekali tidak bisa menjelaskan perkara-perkara reproduksi yang tidak subur. Hal ini juga tampak pada ketimpangan bahwa biang kerok tidak subur itu hanya perempuan. Kelak, ilmu kedokteran mulai mengimbangi pandangan kuno itu. Sains atau kedokteran  menjadi pembela perempuan dengan permasalahan kesuburan.

Kutub lain adalah keluarga Brayut. Men Brayut memiliki 18 anak. Memang tidak ada persoalan apa-apa dengan jumlah anak yang banyak. Cerita ini menyampaikan pesan bahwa perempuan Bali harus menyerahkan tubuh dan seluruh hidupnya kepada anak-anak mereka.  Kelak, Men Brayut yang menyimpan ideologi kesuburan berhadapan dengan alam medis modern yang diwujudkan dengan program keluarga berencana (KB) untuk menekan jumlah penduduk.

Sebagai program baru, apalagi bergesekan dengan wilayah mitologi atau keyakinan, tentu KB di Bali tidak langsung diterima. Telah terjadi pemaksaan semboyan KB “dua anak cukup, laki perempuan sama saja”. Hal ini bertentangan dengan ideologi purusa di Bali. Nilai anak laki-laki lebih utama ketimbang anak perempuan. Men Tuung Kuning misalnya menerima pesan ”anak perempuan harus kau cincang bersama ari-arinya untuk dijadikan santapan ayam jago”.

KB tidak hanya mengguncang ideologi patriarki tetapi juga menimbulkan konflik batin pada diri orang Bali, yaitu tepatnya pada sistem kepercayaan kelahiran kembali. Program ini dipandang sebagai penutup pintu kelahiran para leluhur kembali.

Men Brayut adalah ”jalan tol” bagi para leluhur untuk lahir kembali karena seorang perempuan akan melahirkan 18 kali. Sejalan dengan Men Brayut, peluang leluhur lahir kembali sangat tinggi. Lantas, KB membatasi secara drastis: hanya dua kelahiran. Seorang penulis asing menyatakan KB telah membunuh Men Brayut.

Dalam masa hampir setengah abad kemudian sejak KB digelontorkan di Bali dan ternyata telah memberi rasa nyaman dengan dua anak, menjadi indikator utama kesuksesan, baru disadari KB menimbulkan persoalan kependudukan.

Politik demografi Gubernur Wayan Koster dengan tegas menolak semboyan KB ”dua anak cukup”. Ini dinilai sebagai ancaman demografi. KB yang sukses di Bali tidak serta-merta mengurangi kepadatan penduduk. Jumlah penduduk tidak terbendung karena pada satu sisi jumlah kelhiran berhasil ditekan dan pada sisi lain pendatang tidak terkendali masuk. Gubernur Wayan Koster mendekonstruksi “dua anak cukup” menjadi empat anak atau lebih.

Terlepas dari kedua kutub demografik: Men Brayut dan Men Bekung dan di antara keduanya terjadi garis mediasi: Men Tuung Kuning; adalah nasib Ni Nyoman Pollok. Ia seorang penari legong dari Desa Kelandis. Nasibnya malang dalam pernikahannya dengan Le Mayeur.

Perkawinan itu hanya menguntungkan Le Mayeur. Ni Pollok digunakan sebagai model. Dari sudut pandang Le Mayeur atau dengan menggunakan perspektif berkesenian modern-barat, perkawinan pelukis dengan modelnya, tentu tidak mengandung persoalan. Mereka bahagia.

Namun bagi Ni Pollok, perkawinannya tidak membahagiakan dirinya. Hal ini disampaikan Ni Pollok kepada penulis biografinya Yati Mariyati Wiharja dalam buku Ni Pollok, Model dari Desa Kelandis (1976). Sumbernya adalah satu hal: Le Mayeur mengkolonialisasi Ni Pollok dengan cara tidak mengizinkannya mengandung. Jika ia sampai mengandung, melahirkan dan menyusui, seperti Men Brayut maka keindahan tubuh Ni Pollok akan hilang sehingga tidak menarik dijadikan model lukisan.

Melalui perspektif patiarki atau kuasa purusa seperti pada cerita Men Tuung Kuning, Ni Nyoman Pollok pun bergeming. Le Mayeur tetap pada prinsipnya dalam mengkolonialisasi dengan menggerus seluruh keindahan alam Bali pada tubuh istrinya (?), modelnya.

Sebagai suami memang ia mencoba ”membayar” Ni Pollok dengan uang, kain batik, kompor, lukisan. Mungkin semua pemberian suaminya diterima walaupun tidak sepenuhnya karena sebagai model profesional ia layak menerima bayaran. Anak tidak pernah digantikan dengan lukisan mahal, uang, dan museum.

Ketika kehidupan modern merayakan peringatan hari ibu, sebagai apresiasi atas perjuangan kaum perempuan Indonesia, yang kala itu ruang yang dijadikan ajang mengkonstruksi kiprah perempuan Indonesia adalah bangsa namun kelak, dan sebagaimana akhir-akhir ini, hari ibu mengalami domestifikasi atau penyempitan makna.

Makna perayaan hari ibu, sebagaimana dapat dibaca di media sosial tanggl 22 Desember 2023, adalah perempuan yang menjadi ibu. Momen perayaan ini menunjukkan hubungan mesra antara ibu dan anak. Pola perayaan hari ibu yang direkam media sosial adalah rasa bakti anak kepada ibunya, ucapan terima kasih atas jasa ibu, atau ucapan membayar janji seorang anak kepada ibunya.

Dalam situasi ini, perayaan hari ibu mengandung rasa tidak adil. Perempuan yang tidak memiliki anak, seperti Ni Nyoman Pollok, tidak bisa mendapat perayaan hari ibu. Karena itu, perayaan hari ibu juga harus direvitalisasi maknanya. Yang dirayakan adalah jasa para perempuan. Dengan revitalisasi makna ini, perayaan hari ibu terasa lebih adil. Di sini, Ni Nyoman Pollok berhak mendapat ucapan hari ibu karena ia rela memilih hidup terkolonialisasi sebagai pilihan perempuan Bali di jalan kuasa purusa.

Ni Pollok memang tidak melahirkan anak-anak; tetapi tubuhnya telah melahirkan hampir seluruh karya Le Mayeur. Lukisan-lukisan itu semua adalah anak-anak Ni Nyoman Pollok.[T]

  • BACA artikel lain dari penulis I WAYAN ARTIKA
Lagu dan Meme Tentang Ibu di Hari Ibu : Kehebatan Emak-Emak yang Diabadikan
Doa Ibu Tidak Sepanjang Jalan

Dari Iwan Fals  Hingga A.A. Raka Sidan:  Catatan Kegagalan Pendidikan Tinggi
Literasi Dasar: Hubungan Abadi Antara Manusia dan Pengetahuan, Konstruksi dan Konsumsi
Tags: Hari IbuNi PollokPerempuan Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pentas Suun: Percakapan Tubuh dengan Kursi-Kursi

Next Post

Puisi-puisi Rony Fernandez | Pemakaman, Senja, Persiapan Perang

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Rony Fernandez | Pemakaman, Senja, Persiapan Perang

Puisi-puisi Rony Fernandez | Pemakaman, Senja, Persiapan Perang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co