24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sajak-Sajak Angga Wijaya | Logika Duka

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 2, 2023
in Puisi
Sajak-Sajak Angga Wijaya | Logika Duka

LOGIKA DUKA

Sudah di mana air matamu, kekasih?
Kota yang kejam menghujam cinta

Hingga tiada tersisa barang sedikitpun
Engkau menjadi begitu keras bak batu

Cintaku akan menghancurkan keras itu
Hingga engkau kembali bersinar juga

Masa lalu membawamu tidak pulang
Bertahan di pulau ini bersama diriku

Kita akan pulang lagi ke kotamu dulu
Maafkan apa yang terjadi waktu dulu

Aku ingin engkau memeluk ibumu
Dari rahimnya engkau ada di sini

Jangan membawa duri di hatimu
Nanti engkau tertusuk diri sendiri

Peluklah aku dalam hening pagi
Sebelum deru kota mengepung

Kita akan bersama waktu lama
Jutaan tahun kerinduan kita jua

2023

KABAR DARI KOTA

Langit kota temaram, membuat mendung
pada hati kita yang buram oleh keadaan.

Doa-doa terus bergema, suaranya amat tenang
seperti obat penenang bagi jiwa-jiwa tertekan

Kopi di gelas tinggal setengah, memberi
Semangat makin hilang pada senja hari.

Uang dicari susah payah, lalu dihabiskan
membeli barang tak perlu, demi gengsi diri
sebagai manusia kota. Bayar belakangan,
kita semua diajari berhutang sedari muda.

Anjing lapar, kucing lapar, sapi-sapi kulihat
berkumpul di tempat sampah bukan pada
padang rumput yang kini menjadi hotel.

O, perubahan pasti terjadi! Keabadian itu
hanya dongeng orang tua zaman dahulu!

Aku ingin pergi meninggalkan kemegahan
yang tampak penuh kepalsuan. Gambar
di tembok kota seperti protes dalam hening.
Ada yang salah dengan kita, entah apa itu!

Bus berjalan dengan penumpang gamang
dengan nasib mereka. Meninggalkan desa
demi janji manis masa depan tertinggal
di kotak pesan kekasih mengajak pergi.

Puisi ingin aku baca di taman kota, pasar,
kantor pemerintahan–pada mereka
yang kehilangan diri juga nurani.
Didengar atau tidak bukan urusanku.
Suara hati kita kini hilang oleh hidup.

2023

SEORANG TUA MENULIS DI KAFE

Kutemui dia di kafe tengah kota, kami bicara puisi. Ia penulis tua yang sejak muda suntuk dengan aksara. Kami berteman di media sosial—dari sana ia membaca puisi-puisi yang kutulis dan kusebarluaskan. Hampir setiap hari ia bekerja dari kafe itu, dari pagi hingga tengah hari tiba.

“Puisi-puisimu mengingatkanku pada Georg Trakl, penyair Austria yang mati muda–bunuh diri,”kata lelaki tua itu padaku,

“Aku tahu dia, dari buku puisi terjemahan,” jawabku.

Kawanku belum tahu, kami punya duka dan luka sama. Aku dan penyair yang ia sebut. Bahkan, kejadian kelam masa kecil juga pernah aku alami.

Bedanya, aku tidak bunuh diri, meski pernah terlintas. Luka itu membuat penyakit jiwa puluhan tahun lamanya. Dirawat di rumah sakit jiwa, bolak-balik ke psikiater, mengharuskan minum obat dalam waktu tidak sebentar. Jatuh-bangun, akhirnya kini bisa pulih—kembali merasakan hidup.

Puisi menyelamatkanku dari kegilaan.

Aku mulai dikenal banyak orang. Itu sedikit banyak membuat keberadaanku diakui. Kubayangkan, jika diberi umur panjang, aku akan terus menulis hingga tua—seperti kawanku.

Kelam jiwa berganti terang. Matahari kurasakan berbeda; cahayanya kini tidak menyakitkan.

Kawanku mengingatkan aku pada penyair itu. Penyair dengan luka pada puisi-puisinya.
Menulis luka dan menulis suka, itu yang kulakukan sekarang.

2023

GELOMBANG GUNUNG

Diombang-ambing kehidupan, ombak
pernah menyeret diriku ke samudera.

Mencoba naik dengan susah-payah,
amat sulit kurasakan. Tangan-Mu lah
kutemui, mengangkat tubuh ini kembali.

Kini aku berada di gunung. Jauh sekali
dari keramaian kota. Ketenangan hati.

Adakalanya aku turun ke kota, menyapa
orang-orang dan keluarga baru kukenal.

Di gunung, aku merasa kecil. Tak ada
kesombongan seperti saat masa dahulu.

Gulung-gemulung, gelombang tetap ada.
Hanya saja kini kuhadapi dengan tenang.

Naiknya diri ini tak lepas dari hidayah
Biarlah aku tenang lepas dari ketakutan.

2023

ANGIN RIBUT

Di luar hujan turun. Hampir sepanjang
malam. Disertai angin ribut. Siapa ribut?
Angin. Mereka ribut di saat orang-orang
tertidur, dalam buaian mimpi juga selimut.

Kucing di kamar berkejaran. Ribut juga.
Tak apa, itu sifat alami binatang; terjaga
di malam hari. Bagaimana jika kita seperti
mereka? Psikiater bilang itu skizofrenia.

Ada keributan yang berbahaya: pikiran.
Hanya dalam tidur dia diam. Itu pun jika
tidak bermimpi, atau mengigau tak jelas.
Ah, pikiran, tidak pernah mati. Aneh.

Meditasi bisa membuat kita sadar akan
gerak-gerik pikiran. Seperti menonton film,
adegan silih-berganti. Jangan terpengaruh,
tetap perhatikan keluar-masuknya nafas.

Dalam hening, ada yang teramat ribut,
di lubuk sanubari: keinginan. Ingin ini,
ingin itu. Tak habis-habis, sepanjang usia,
tak pernah terpuaskan. Seperti birahi kita.

Angin mereda. Juga rasa gelisah di hati.
Puisi kadang seperti permainan kata-kata.
Tangan seperti digerakkan sesuatu.
Entah apa. Tapi jangan merasa hebat.
Itu biasa. Kepolosan kian sulit dicari.

2022

KUCING-KUCING LAPAR

Di beranda, aku melihat langit terang
oleh sinar rembulan. Lukisan semesta.
Ini hari menjelang purnama, biasanya
aku sulit tidur. Entah apa sebabnya.

Kukira aku banyak pikiran. Ternyata tidak.
Ada bahasa sunyi, dalam diam malam.
Ia seperti mengajakku bicara. Lapar
yang dirasakan tiga kucing peliharaan

Saat kubuka pintu, mereka amat senang.
Piring kosong segera aku isi dry food. Aha!
Mereka makan dengan lahap. Aku senang.

Ternyata mereka bisa bicara. Aku teringat
cerita masa kecil, tentang nabi mencintai
binatang, bisa bercakap-cakap dan mengerti
bahasa mereka. Kepekaan sungguh ajaib,
kurasa. Bising dunia menelan segala niskala.

2022

PENYAIR MERINDUKAN KOTA-KOTA

Melukis kota-kota dunia, penyair itu tidak tidur semalaman.
Ia selalu berpesan, “aku baru bisa dihubungi siang hari,
saat itu aku terbangun.” Sudah lama ia mengidap insomnia.

Praha, begitu ingin ia kunjungi. Kebetulan ada perempuan
penyair di Eropa. Imajinasi kini tak hanya dimiliki lelaki.
Keliaran tak mengenal jenis kelamin. Karya perempuan itu
lebih liar. Puisi-puisinya banyak disukai di negeri ini.

Tubuh perempuan menyeruak di ingatannya.
Ribuan puisi ia tulis bersama mereka. “O, cintaku!
Dimanakah kalian kini? Bolehkah kutelepon
sebentar, aku merindukan saat kita menyusuri
kota, mampir ke cafe dan berdendang
puisi. “O, para kekasih sejati!”

Kematian juga sering kali ia tulis. Sentimentil, seakan manusia
tak boleh mati. Mungkin memang begitu. Semua ia tumpahkan
dalam lukisan, juga puisi-puisi. Kota-kota ia genggam erat,
ia simpan dengan doa; entah kapan, pasti ia akan berkelana
jauh, menemui mimpi-mimpi dan kerinduan penyair kelana.

2022

SERENADE PAGI

Di toko modern, penyair itu memesan kopi.
Dia bangun dini hari, ingin menikmati pagi.

Jalanan gelap, lampu-lampu dipadamkan.
Pengemudi memacu kencang kendaraan.

Tadi dia sempat merapikan buku-bukunya.
Hendak dijual semua untuk penuhi hidup.

Istrinya tak suka ia mencintai buku-buku.
Tak mendatangkan uang tidak berguna.

Dia suka kalau penyair itu banyak menulis.
Perlu membaca jika ingin mewujudkan itu.

Logika sering memusuhi perasaan penyair.
Membuat mereka sering berselisih paham.

Penyair itu ingin berpisah dengan istrinya.
Istrinya menolak tidak mau meninggalkan.

Ada yang mesti diperjuangkan selama ini.
Pergi bukan jawaban yang bijaksana kini.

Mereka hanya perlu memperbaiki cintanya
Memahami bahwa semua akan baik saja.

Di meja ia teringat istrinya masih terlelap.
Dibelinya roti coklat juga susu lalu pulang.

2023

MUSIK MEDITASI

Ketenangan itu hanya sesaat, sebelum
akhirnya suara-suara ramai kembali.

Dini hari aku kerap terbangun. Di beranda
kamar duduk sendiri. Sunyi sekali kurasa.

Jalanan kian ramai di pagi hari. Kendaraan
lalu-lalang entah kemana. Mereka yang tahu.

Musik kamar sebelah dimulai sore hari.
Hiburan bagi para perantau di kota ini.

Meditasi sudah lama tidak lagi kulakukan.
Kecemasan kerap kali datang tiba-tiba.

Dari komputer, musik meditasi mengalun.
Pikiranku tetap kesana-kesini bagai kera.

Dulu kota-kota adalah hutan sangat luas
Mataku terpejam mencari keheningan itu.

2022

  • BACA puisi-puisi lainnya
Puisi-puisi GM Sukawidana | Narasi Imajiner Memasuki Ruang Kosong Snerayuza
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pinjam Dulu Seratus!

Next Post

Hadiah Ole | Cerpen Nurjaya PM

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Hadiah Ole | Cerpen Nurjaya PM

Hadiah Ole | Cerpen Nurjaya PM

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co