14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sajak-Sajak Angga Wijaya | Logika Duka

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 2, 2023
in Puisi
Sajak-Sajak Angga Wijaya | Logika Duka

LOGIKA DUKA

Sudah di mana air matamu, kekasih?
Kota yang kejam menghujam cinta

Hingga tiada tersisa barang sedikitpun
Engkau menjadi begitu keras bak batu

Cintaku akan menghancurkan keras itu
Hingga engkau kembali bersinar juga

Masa lalu membawamu tidak pulang
Bertahan di pulau ini bersama diriku

Kita akan pulang lagi ke kotamu dulu
Maafkan apa yang terjadi waktu dulu

Aku ingin engkau memeluk ibumu
Dari rahimnya engkau ada di sini

Jangan membawa duri di hatimu
Nanti engkau tertusuk diri sendiri

Peluklah aku dalam hening pagi
Sebelum deru kota mengepung

Kita akan bersama waktu lama
Jutaan tahun kerinduan kita jua

2023

KABAR DARI KOTA

Langit kota temaram, membuat mendung
pada hati kita yang buram oleh keadaan.

Doa-doa terus bergema, suaranya amat tenang
seperti obat penenang bagi jiwa-jiwa tertekan

Kopi di gelas tinggal setengah, memberi
Semangat makin hilang pada senja hari.

Uang dicari susah payah, lalu dihabiskan
membeli barang tak perlu, demi gengsi diri
sebagai manusia kota. Bayar belakangan,
kita semua diajari berhutang sedari muda.

Anjing lapar, kucing lapar, sapi-sapi kulihat
berkumpul di tempat sampah bukan pada
padang rumput yang kini menjadi hotel.

O, perubahan pasti terjadi! Keabadian itu
hanya dongeng orang tua zaman dahulu!

Aku ingin pergi meninggalkan kemegahan
yang tampak penuh kepalsuan. Gambar
di tembok kota seperti protes dalam hening.
Ada yang salah dengan kita, entah apa itu!

Bus berjalan dengan penumpang gamang
dengan nasib mereka. Meninggalkan desa
demi janji manis masa depan tertinggal
di kotak pesan kekasih mengajak pergi.

Puisi ingin aku baca di taman kota, pasar,
kantor pemerintahan–pada mereka
yang kehilangan diri juga nurani.
Didengar atau tidak bukan urusanku.
Suara hati kita kini hilang oleh hidup.

2023

SEORANG TUA MENULIS DI KAFE

Kutemui dia di kafe tengah kota, kami bicara puisi. Ia penulis tua yang sejak muda suntuk dengan aksara. Kami berteman di media sosial—dari sana ia membaca puisi-puisi yang kutulis dan kusebarluaskan. Hampir setiap hari ia bekerja dari kafe itu, dari pagi hingga tengah hari tiba.

“Puisi-puisimu mengingatkanku pada Georg Trakl, penyair Austria yang mati muda–bunuh diri,”kata lelaki tua itu padaku,

“Aku tahu dia, dari buku puisi terjemahan,” jawabku.

Kawanku belum tahu, kami punya duka dan luka sama. Aku dan penyair yang ia sebut. Bahkan, kejadian kelam masa kecil juga pernah aku alami.

Bedanya, aku tidak bunuh diri, meski pernah terlintas. Luka itu membuat penyakit jiwa puluhan tahun lamanya. Dirawat di rumah sakit jiwa, bolak-balik ke psikiater, mengharuskan minum obat dalam waktu tidak sebentar. Jatuh-bangun, akhirnya kini bisa pulih—kembali merasakan hidup.

Puisi menyelamatkanku dari kegilaan.

Aku mulai dikenal banyak orang. Itu sedikit banyak membuat keberadaanku diakui. Kubayangkan, jika diberi umur panjang, aku akan terus menulis hingga tua—seperti kawanku.

Kelam jiwa berganti terang. Matahari kurasakan berbeda; cahayanya kini tidak menyakitkan.

Kawanku mengingatkan aku pada penyair itu. Penyair dengan luka pada puisi-puisinya.
Menulis luka dan menulis suka, itu yang kulakukan sekarang.

2023

GELOMBANG GUNUNG

Diombang-ambing kehidupan, ombak
pernah menyeret diriku ke samudera.

Mencoba naik dengan susah-payah,
amat sulit kurasakan. Tangan-Mu lah
kutemui, mengangkat tubuh ini kembali.

Kini aku berada di gunung. Jauh sekali
dari keramaian kota. Ketenangan hati.

Adakalanya aku turun ke kota, menyapa
orang-orang dan keluarga baru kukenal.

Di gunung, aku merasa kecil. Tak ada
kesombongan seperti saat masa dahulu.

Gulung-gemulung, gelombang tetap ada.
Hanya saja kini kuhadapi dengan tenang.

Naiknya diri ini tak lepas dari hidayah
Biarlah aku tenang lepas dari ketakutan.

2023

ANGIN RIBUT

Di luar hujan turun. Hampir sepanjang
malam. Disertai angin ribut. Siapa ribut?
Angin. Mereka ribut di saat orang-orang
tertidur, dalam buaian mimpi juga selimut.

Kucing di kamar berkejaran. Ribut juga.
Tak apa, itu sifat alami binatang; terjaga
di malam hari. Bagaimana jika kita seperti
mereka? Psikiater bilang itu skizofrenia.

Ada keributan yang berbahaya: pikiran.
Hanya dalam tidur dia diam. Itu pun jika
tidak bermimpi, atau mengigau tak jelas.
Ah, pikiran, tidak pernah mati. Aneh.

Meditasi bisa membuat kita sadar akan
gerak-gerik pikiran. Seperti menonton film,
adegan silih-berganti. Jangan terpengaruh,
tetap perhatikan keluar-masuknya nafas.

Dalam hening, ada yang teramat ribut,
di lubuk sanubari: keinginan. Ingin ini,
ingin itu. Tak habis-habis, sepanjang usia,
tak pernah terpuaskan. Seperti birahi kita.

Angin mereda. Juga rasa gelisah di hati.
Puisi kadang seperti permainan kata-kata.
Tangan seperti digerakkan sesuatu.
Entah apa. Tapi jangan merasa hebat.
Itu biasa. Kepolosan kian sulit dicari.

2022

KUCING-KUCING LAPAR

Di beranda, aku melihat langit terang
oleh sinar rembulan. Lukisan semesta.
Ini hari menjelang purnama, biasanya
aku sulit tidur. Entah apa sebabnya.

Kukira aku banyak pikiran. Ternyata tidak.
Ada bahasa sunyi, dalam diam malam.
Ia seperti mengajakku bicara. Lapar
yang dirasakan tiga kucing peliharaan

Saat kubuka pintu, mereka amat senang.
Piring kosong segera aku isi dry food. Aha!
Mereka makan dengan lahap. Aku senang.

Ternyata mereka bisa bicara. Aku teringat
cerita masa kecil, tentang nabi mencintai
binatang, bisa bercakap-cakap dan mengerti
bahasa mereka. Kepekaan sungguh ajaib,
kurasa. Bising dunia menelan segala niskala.

2022

PENYAIR MERINDUKAN KOTA-KOTA

Melukis kota-kota dunia, penyair itu tidak tidur semalaman.
Ia selalu berpesan, “aku baru bisa dihubungi siang hari,
saat itu aku terbangun.” Sudah lama ia mengidap insomnia.

Praha, begitu ingin ia kunjungi. Kebetulan ada perempuan
penyair di Eropa. Imajinasi kini tak hanya dimiliki lelaki.
Keliaran tak mengenal jenis kelamin. Karya perempuan itu
lebih liar. Puisi-puisinya banyak disukai di negeri ini.

Tubuh perempuan menyeruak di ingatannya.
Ribuan puisi ia tulis bersama mereka. “O, cintaku!
Dimanakah kalian kini? Bolehkah kutelepon
sebentar, aku merindukan saat kita menyusuri
kota, mampir ke cafe dan berdendang
puisi. “O, para kekasih sejati!”

Kematian juga sering kali ia tulis. Sentimentil, seakan manusia
tak boleh mati. Mungkin memang begitu. Semua ia tumpahkan
dalam lukisan, juga puisi-puisi. Kota-kota ia genggam erat,
ia simpan dengan doa; entah kapan, pasti ia akan berkelana
jauh, menemui mimpi-mimpi dan kerinduan penyair kelana.

2022

SERENADE PAGI

Di toko modern, penyair itu memesan kopi.
Dia bangun dini hari, ingin menikmati pagi.

Jalanan gelap, lampu-lampu dipadamkan.
Pengemudi memacu kencang kendaraan.

Tadi dia sempat merapikan buku-bukunya.
Hendak dijual semua untuk penuhi hidup.

Istrinya tak suka ia mencintai buku-buku.
Tak mendatangkan uang tidak berguna.

Dia suka kalau penyair itu banyak menulis.
Perlu membaca jika ingin mewujudkan itu.

Logika sering memusuhi perasaan penyair.
Membuat mereka sering berselisih paham.

Penyair itu ingin berpisah dengan istrinya.
Istrinya menolak tidak mau meninggalkan.

Ada yang mesti diperjuangkan selama ini.
Pergi bukan jawaban yang bijaksana kini.

Mereka hanya perlu memperbaiki cintanya
Memahami bahwa semua akan baik saja.

Di meja ia teringat istrinya masih terlelap.
Dibelinya roti coklat juga susu lalu pulang.

2023

MUSIK MEDITASI

Ketenangan itu hanya sesaat, sebelum
akhirnya suara-suara ramai kembali.

Dini hari aku kerap terbangun. Di beranda
kamar duduk sendiri. Sunyi sekali kurasa.

Jalanan kian ramai di pagi hari. Kendaraan
lalu-lalang entah kemana. Mereka yang tahu.

Musik kamar sebelah dimulai sore hari.
Hiburan bagi para perantau di kota ini.

Meditasi sudah lama tidak lagi kulakukan.
Kecemasan kerap kali datang tiba-tiba.

Dari komputer, musik meditasi mengalun.
Pikiranku tetap kesana-kesini bagai kera.

Dulu kota-kota adalah hutan sangat luas
Mataku terpejam mencari keheningan itu.

2022

  • BACA puisi-puisi lainnya
Puisi-puisi GM Sukawidana | Narasi Imajiner Memasuki Ruang Kosong Snerayuza
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pinjam Dulu Seratus!

Next Post

Hadiah Ole | Cerpen Nurjaya PM

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

by IBW Widiasa Keniten
April 5, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

by Made Bryan Mahararta
April 4, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Perang Teluk Peristiwa penting dalam babak sejarah duniaGeopolitik modern yang tersirat krisis internasionalKonflik regional yang penuh ambisi dan amarahNegara kawasan...

Read moreDetails
Next Post
Hadiah Ole | Cerpen Nurjaya PM

Hadiah Ole | Cerpen Nurjaya PM

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co