3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sajak-Sajak Angga Wijaya | Logika Duka

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 2, 2023
in Puisi
Sajak-Sajak Angga Wijaya | Logika Duka

LOGIKA DUKA

Sudah di mana air matamu, kekasih?
Kota yang kejam menghujam cinta

Hingga tiada tersisa barang sedikitpun
Engkau menjadi begitu keras bak batu

Cintaku akan menghancurkan keras itu
Hingga engkau kembali bersinar juga

Masa lalu membawamu tidak pulang
Bertahan di pulau ini bersama diriku

Kita akan pulang lagi ke kotamu dulu
Maafkan apa yang terjadi waktu dulu

Aku ingin engkau memeluk ibumu
Dari rahimnya engkau ada di sini

Jangan membawa duri di hatimu
Nanti engkau tertusuk diri sendiri

Peluklah aku dalam hening pagi
Sebelum deru kota mengepung

Kita akan bersama waktu lama
Jutaan tahun kerinduan kita jua

2023

KABAR DARI KOTA

Langit kota temaram, membuat mendung
pada hati kita yang buram oleh keadaan.

Doa-doa terus bergema, suaranya amat tenang
seperti obat penenang bagi jiwa-jiwa tertekan

Kopi di gelas tinggal setengah, memberi
Semangat makin hilang pada senja hari.

Uang dicari susah payah, lalu dihabiskan
membeli barang tak perlu, demi gengsi diri
sebagai manusia kota. Bayar belakangan,
kita semua diajari berhutang sedari muda.

Anjing lapar, kucing lapar, sapi-sapi kulihat
berkumpul di tempat sampah bukan pada
padang rumput yang kini menjadi hotel.

O, perubahan pasti terjadi! Keabadian itu
hanya dongeng orang tua zaman dahulu!

Aku ingin pergi meninggalkan kemegahan
yang tampak penuh kepalsuan. Gambar
di tembok kota seperti protes dalam hening.
Ada yang salah dengan kita, entah apa itu!

Bus berjalan dengan penumpang gamang
dengan nasib mereka. Meninggalkan desa
demi janji manis masa depan tertinggal
di kotak pesan kekasih mengajak pergi.

Puisi ingin aku baca di taman kota, pasar,
kantor pemerintahan–pada mereka
yang kehilangan diri juga nurani.
Didengar atau tidak bukan urusanku.
Suara hati kita kini hilang oleh hidup.

2023

SEORANG TUA MENULIS DI KAFE

Kutemui dia di kafe tengah kota, kami bicara puisi. Ia penulis tua yang sejak muda suntuk dengan aksara. Kami berteman di media sosial—dari sana ia membaca puisi-puisi yang kutulis dan kusebarluaskan. Hampir setiap hari ia bekerja dari kafe itu, dari pagi hingga tengah hari tiba.

“Puisi-puisimu mengingatkanku pada Georg Trakl, penyair Austria yang mati muda–bunuh diri,”kata lelaki tua itu padaku,

“Aku tahu dia, dari buku puisi terjemahan,” jawabku.

Kawanku belum tahu, kami punya duka dan luka sama. Aku dan penyair yang ia sebut. Bahkan, kejadian kelam masa kecil juga pernah aku alami.

Bedanya, aku tidak bunuh diri, meski pernah terlintas. Luka itu membuat penyakit jiwa puluhan tahun lamanya. Dirawat di rumah sakit jiwa, bolak-balik ke psikiater, mengharuskan minum obat dalam waktu tidak sebentar. Jatuh-bangun, akhirnya kini bisa pulih—kembali merasakan hidup.

Puisi menyelamatkanku dari kegilaan.

Aku mulai dikenal banyak orang. Itu sedikit banyak membuat keberadaanku diakui. Kubayangkan, jika diberi umur panjang, aku akan terus menulis hingga tua—seperti kawanku.

Kelam jiwa berganti terang. Matahari kurasakan berbeda; cahayanya kini tidak menyakitkan.

Kawanku mengingatkan aku pada penyair itu. Penyair dengan luka pada puisi-puisinya.
Menulis luka dan menulis suka, itu yang kulakukan sekarang.

2023

GELOMBANG GUNUNG

Diombang-ambing kehidupan, ombak
pernah menyeret diriku ke samudera.

Mencoba naik dengan susah-payah,
amat sulit kurasakan. Tangan-Mu lah
kutemui, mengangkat tubuh ini kembali.

Kini aku berada di gunung. Jauh sekali
dari keramaian kota. Ketenangan hati.

Adakalanya aku turun ke kota, menyapa
orang-orang dan keluarga baru kukenal.

Di gunung, aku merasa kecil. Tak ada
kesombongan seperti saat masa dahulu.

Gulung-gemulung, gelombang tetap ada.
Hanya saja kini kuhadapi dengan tenang.

Naiknya diri ini tak lepas dari hidayah
Biarlah aku tenang lepas dari ketakutan.

2023

ANGIN RIBUT

Di luar hujan turun. Hampir sepanjang
malam. Disertai angin ribut. Siapa ribut?
Angin. Mereka ribut di saat orang-orang
tertidur, dalam buaian mimpi juga selimut.

Kucing di kamar berkejaran. Ribut juga.
Tak apa, itu sifat alami binatang; terjaga
di malam hari. Bagaimana jika kita seperti
mereka? Psikiater bilang itu skizofrenia.

Ada keributan yang berbahaya: pikiran.
Hanya dalam tidur dia diam. Itu pun jika
tidak bermimpi, atau mengigau tak jelas.
Ah, pikiran, tidak pernah mati. Aneh.

Meditasi bisa membuat kita sadar akan
gerak-gerik pikiran. Seperti menonton film,
adegan silih-berganti. Jangan terpengaruh,
tetap perhatikan keluar-masuknya nafas.

Dalam hening, ada yang teramat ribut,
di lubuk sanubari: keinginan. Ingin ini,
ingin itu. Tak habis-habis, sepanjang usia,
tak pernah terpuaskan. Seperti birahi kita.

Angin mereda. Juga rasa gelisah di hati.
Puisi kadang seperti permainan kata-kata.
Tangan seperti digerakkan sesuatu.
Entah apa. Tapi jangan merasa hebat.
Itu biasa. Kepolosan kian sulit dicari.

2022

KUCING-KUCING LAPAR

Di beranda, aku melihat langit terang
oleh sinar rembulan. Lukisan semesta.
Ini hari menjelang purnama, biasanya
aku sulit tidur. Entah apa sebabnya.

Kukira aku banyak pikiran. Ternyata tidak.
Ada bahasa sunyi, dalam diam malam.
Ia seperti mengajakku bicara. Lapar
yang dirasakan tiga kucing peliharaan

Saat kubuka pintu, mereka amat senang.
Piring kosong segera aku isi dry food. Aha!
Mereka makan dengan lahap. Aku senang.

Ternyata mereka bisa bicara. Aku teringat
cerita masa kecil, tentang nabi mencintai
binatang, bisa bercakap-cakap dan mengerti
bahasa mereka. Kepekaan sungguh ajaib,
kurasa. Bising dunia menelan segala niskala.

2022

PENYAIR MERINDUKAN KOTA-KOTA

Melukis kota-kota dunia, penyair itu tidak tidur semalaman.
Ia selalu berpesan, “aku baru bisa dihubungi siang hari,
saat itu aku terbangun.” Sudah lama ia mengidap insomnia.

Praha, begitu ingin ia kunjungi. Kebetulan ada perempuan
penyair di Eropa. Imajinasi kini tak hanya dimiliki lelaki.
Keliaran tak mengenal jenis kelamin. Karya perempuan itu
lebih liar. Puisi-puisinya banyak disukai di negeri ini.

Tubuh perempuan menyeruak di ingatannya.
Ribuan puisi ia tulis bersama mereka. “O, cintaku!
Dimanakah kalian kini? Bolehkah kutelepon
sebentar, aku merindukan saat kita menyusuri
kota, mampir ke cafe dan berdendang
puisi. “O, para kekasih sejati!”

Kematian juga sering kali ia tulis. Sentimentil, seakan manusia
tak boleh mati. Mungkin memang begitu. Semua ia tumpahkan
dalam lukisan, juga puisi-puisi. Kota-kota ia genggam erat,
ia simpan dengan doa; entah kapan, pasti ia akan berkelana
jauh, menemui mimpi-mimpi dan kerinduan penyair kelana.

2022

SERENADE PAGI

Di toko modern, penyair itu memesan kopi.
Dia bangun dini hari, ingin menikmati pagi.

Jalanan gelap, lampu-lampu dipadamkan.
Pengemudi memacu kencang kendaraan.

Tadi dia sempat merapikan buku-bukunya.
Hendak dijual semua untuk penuhi hidup.

Istrinya tak suka ia mencintai buku-buku.
Tak mendatangkan uang tidak berguna.

Dia suka kalau penyair itu banyak menulis.
Perlu membaca jika ingin mewujudkan itu.

Logika sering memusuhi perasaan penyair.
Membuat mereka sering berselisih paham.

Penyair itu ingin berpisah dengan istrinya.
Istrinya menolak tidak mau meninggalkan.

Ada yang mesti diperjuangkan selama ini.
Pergi bukan jawaban yang bijaksana kini.

Mereka hanya perlu memperbaiki cintanya
Memahami bahwa semua akan baik saja.

Di meja ia teringat istrinya masih terlelap.
Dibelinya roti coklat juga susu lalu pulang.

2023

MUSIK MEDITASI

Ketenangan itu hanya sesaat, sebelum
akhirnya suara-suara ramai kembali.

Dini hari aku kerap terbangun. Di beranda
kamar duduk sendiri. Sunyi sekali kurasa.

Jalanan kian ramai di pagi hari. Kendaraan
lalu-lalang entah kemana. Mereka yang tahu.

Musik kamar sebelah dimulai sore hari.
Hiburan bagi para perantau di kota ini.

Meditasi sudah lama tidak lagi kulakukan.
Kecemasan kerap kali datang tiba-tiba.

Dari komputer, musik meditasi mengalun.
Pikiranku tetap kesana-kesini bagai kera.

Dulu kota-kota adalah hutan sangat luas
Mataku terpejam mencari keheningan itu.

2022

  • BACA puisi-puisi lainnya
Puisi-puisi GM Sukawidana | Narasi Imajiner Memasuki Ruang Kosong Snerayuza
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pinjam Dulu Seratus!

Next Post

Hadiah Ole | Cerpen Nurjaya PM

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Hadiah Ole | Cerpen Nurjaya PM

Hadiah Ole | Cerpen Nurjaya PM

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co